Minggu, 06 November 2016

Mengenal Mangrove Lebih Dekat...

Sekilas mangrove
Tumbuhan Mangrove ini memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh tumbuhan lain. Karna tumbuhan ini dapat hidup pada daerah yang sangat extrim, seperti kondisi tanah yang tergenang, kadar garam yang tinggi, serta kondisi tanah yang kurang stabil. Dengan lingkungan seperti itu maka mangrove mengembangkan adaptasi seperti mekanisme metabolisme yang sangat aktif untuk mengeluarkan kadar garam dari dalam jaringan tubuh, Sistem akar nafas untuk mendapatkan Oksigen, Akar yang kuat untuk menahan hantaman gelombang pasang, dan lain sebagainya.


Ekosistem Mangrove

Hutan mangrove adalah sebutan untuk sekelompok tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut pantai. Hutan mangrove dikenal juga dengan istilah tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, atau juga hutan payau. Kita sering menyebut hutan di pinggir pantai tersebut sebagai hutan bakau. Sebenarnya, hutan tersebut lebih tepat dinamakan hutan mangrove. Istilah 'mangrove' digunakan sebagai pengganti istilah bakau untuk menghindarkan kemungkinan salah pengertian dengan hutan yang terdiri atas pohon bakau Rhizophora spp. Karena bukan hanya pohon bakau yang tumbuh di sana. Selain bakau, terdapat banyak jenis tumbuhan lain yang hidup di dalamnya.
Ciri-ciri terpenting dari Ekosistem hutan mangrove, terlepas dari habitatnya yang unik, adalah :
  • memiliki jenis pohon yang relatif sedikit;
  • memiliki akar tidak beraturan (pneumatofora) misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau Rhizophora spp., serta akar yang mencuat vertikal seperti pensil pada pidada Sonneratia spp. dan pada api-api Avicennia spp.;
  • memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau dapat berkecambah di pohonnya, khususnya pada Rhizophora;
  • memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon.
Sedangkan tempat hidup hutan mangrove merupakan habitat yang unik dan memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya adalah :
  • tanahnya tergenang air laut secara berkala, baik setiap hari atau hanya tergenang pada saat pasang pertama;
  • tempat tersebut menerima pasokan air tawar yang cukup dari darat;
  • daerahnya terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat;
  • airnya berkadar garam (bersalinitas) payau (2 - 22 o/oo) hingga asin. 

  • Ciri Fisik Mangrove

  • Hutan mangrove mempunyai tajuk yang rata dan rapat serta memiliki jenis pohon yang selalu berdaun. Keadaan lingkungan di mana hutan mangrove tumbuh, mempunyai faktor-faktor yang ekstrim seperti salinitas air tanah dan tanahnya tergenang air terus menerus. Meskipun mangrove toleran terhadap tanah bergaram (halophytes), namun mangrove lebih bersifat facultative daripada bersifat obligative karena dapat tumbuh dengan baik di air tawar. Hal ini terlihat pada jenis Bruguiera sexangula, Bruguiera gymnorrhiza, dan Sonneratia caseolaris yang tumbuh, berbuah dan berkecambah di Kebun Raya Bogor dan hadirnya mangrove di sepanjang tepian sungai Kapuas, sampai ke pedalaman sejauh lebih 200 km, di Kalimantan Barat. Mangrove juga berbeda dari hutan darat, dalam hal ini jenis-jenis mangrove tertentu tumbuh menggerombol di tempat yang sangat luas. Disamping Rhizophora spp., jenis penyusun utama mangrove lainnya dapat tumbuh secara "coppice”. Asosiasi hutan mangrove selain terdiri dari sejumlah jenis yang toleran terhadap air asin dan lingkungan lumpur, bahkan juga dapat berasosiasi dengan hutan air payau di bagian hulunya yang hampir seluruhnya terdiri atas tegakan nipah Nypa fruticans.


    Type Vegetasi

    Secara Umum mangrove terbagi menjadi 4 zona, yaitu

    1. Zona Mangrove terbuka : Mangrove yang berada didaerah yang beradapan dengan laut.
    2. Zona Mangrove Menengah : Zona ini berada di belakan zona mangrove terbuka.
    3. Zona Mangrove Payau :pa Mangrove yang berada didaerah sungai yang berair payau hingga hampir mendekati air tawar.
    4. Zona Mangrove Daratan : MAngrove yang berada di perairan panyau atau hampir tawar dibelakang jalur hijau mangrove yang sebenarnya.

    Manfaat Magrove  
    Secara Fisik
  • Penahan abrasi pantai.
  • Penahan intrusi (peresapan) air laut.
  • Penahan angin.
  • Menurunkan kandungan gas karbon dioksida (CO2) di udara, dan bahan-bahan pencemar di perairan rawa pantai.
Secara Biologi
  • Tempat hidup (berlindung, mencari makan, pemijahan dan asuhan) biota laut seperti ikan dan udang).
  • Sumber bahan organik sebagai sumber pakan konsumen pertama (pakan cacing, kepiting dan golongan kerang/keong), yang selanjutnya menjadi sumber makanan bagi konsumen di atasnya dalam siklus rantai makanan dalam suatu ekosistem.
  • Tempat hidup berbagai satwa liar, seperti monyet, buaya muara, biawak dan burung.
Secara Sosial Ekonomi
  • Tempat kegiatan wisata alam (rekreasi, pendidikan dan penelitian).
  • Penghasil kayu untuk kayu bangunan, kayu bakar, arang dan bahan baku kertas, serta daun nipah untuk pembuatan atap rumah.
  • Penghasil tannin untuk pembuatan tinta, plastik, lem, pengawet net dan penyamakan kulit.
  • Penghasil bahan pangan (ikan/udang/kepiting, dan gula nira nipah), dan obat-obatan (daun Bruguiera sexangula untuk obat penghambat tumor, Ceriops tagal dan Xylocarpus mollucensis untuk obat sakit gigi, dan lain-lain).
  • Tempat sumber mata pencaharian masyarakat nelayan tangkap dan petambak., dan pengrajin atap dan gula nipah.

Daerah penyebaran mangrove dan jenis mangrove di Indonesia.

Vegetasi Mangrove di Indonesia
Berikut adalah vegetasi mangrove yang ada di beberapa provinsi, yang termasuk dalam wilayah kerja Balai Pengelolaan Hutan Mangrove Wilayah I.
Vegetasi Mangrove Provinsi Banten
Terdapat 6 (enam) jenis mangrove sejati antara lain dari famili Avicenniaceae (Avicennia alba, Avicennia marina), Rhizophoraceae (Bruguiera gymnorrhyza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata) dan Sonneratiaceae (Sonneratia alba).
Vegetasi Mangrove Provinsi DKI Jakarta


No
Jenis
Famili
Komponen
1
Avicennia marina
AVICENNIACEAE
Mayor
2
Baringtonia asiatica
LECYTHIDACEAE
Asosiasi
3
Casuarina equisetifolia
-
-
4
Excoecaria agalocha
EUPHORBIACEAE
Minor
5
Pemphis acidula
LYTRHACEAE
Minor
6
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
7
Rhizophora stylosa
RHIZOPHORACEAE
Mayor
8
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
9
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
10
Thespesia populnea
MALVACEAE
Minor
11
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
Vegetasi Mangrove Provinsi Gorontalo
Jenis mangrove yang ditemukan antara lain dari famili Rhizophoraceae (Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Ceriops tagal, Bruguiera gymnorrhyza), Avicenniaceae (Avicennia marina, Avicennia lanata), Sonneratiaceae (Sonneratia alba), Palmae (Nypa fruticans), Malvaceae (Thespesia populnea) dan Aizoaceae (Sesuvium portuculastrum)
Vegetasi Mangrove Provinsi Papua Barat
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Acanthus illicifolius
ACHANTACEAE
Asosiasi
2
Acrostichum aureum
PTERIDACEAE
Minor
3
Aegiceras corniculatum
MYRSINACEAE
Minor
4
Avicennia alba
AVICENNIACEAE
Mayor
5
Avicennia lanata
AVICENNIACEAE
Mayor
6
Avicennia marina
AVICENNIACEAE
Mayor
7
Avicennia officinalis
AVICENNIACEAE
Mayor
8
Bruguiera cylindrica
RHIZOPHORACEAE
Mayor
9
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
10
Bruguiera parviflora
RHIZOPHORACEAE
Mayor
11
Bruguiera sexangula
RHIZOPHORACEAE
Mayor
12
Ceriops decandra
RHIZOPHORACEAE
Mayor
13
Ceriops tagal
RHIZOPHORACEAE
Mayor
14
Heritiera littolaris
STERCULIACEAE
Minor
15
Lumnitzera littorea
COMBRETACEAE
Mayor
16
Lumnitzera racemosa
COMBRETACEAE
Mayor
17
Nypa fruticans
PALMAE
Mayor
18
Pandanus tectorius
PANDANACEAE
Asosiasi
19
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
20
Rhizophora lamarckii
RHIZOPHORACEAE
Minor
21
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
Vegetasi Mangrove Provinsi Papua Barat lanjutan
No
Jenis
Famili
Komponen
22
Rhizophora stylosa
RHIZOPHORACEAE
Mayor
23
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
24
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
25
Terminalia catappa
COMBRETACEAE
Asosiasi
26
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
27
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Minor












Vegetasi Mangrove Provinsi Jawa Tengah
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Avicennia alba
AVICENNIACEAE
Mayor
2
Avicennia marina
AVICENNIACEAE
Mayor
3
Bruguiera cylindrica
RHIZOPHORACEAE
Mayor
4
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
5
Bruguiera sexangula
RHIZOPHORACEAE
Mayor
6
Ceriops decandra
RHIZOPHORACEAE
Mayor
7
Ceriops tagal
RHIZOPHORACEAE
Mayor
8
Lumnitzera littorea
COMBRETACEAE
Mayor
9
Lumnitzera racemosa
COMBRETACEAE
Mayor
10
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
11
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
12
Rhizophora stylosa
RHIZOPHORACEAE
Mayor
13
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
14
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
15
Sonneratia ovata
SONNERATIACEAE
Mayor
16
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
17
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Minor

Vegetasi Mangrove Provinsi Jawa Timur
Vegetasi mangrove yang ada hanya sebatas jenis-jenis mangrove yang digunakan dalam kegiatan rehabilitasi lahan mangrove saja. Jenis-jenis yang digunakan dalam kegiatan rehabilitasi tersebut antara lain dari famili Rhizophoraceae (Bruguiera gymnorrhyza, Rhizophora mucronata) dan famili Avicenniaceae (Avicennia marina).

Vegetasi Mangrove Provinsi Jawa Barat
Jenis vegetasi mangrove yang teridentifikasi antara lain dari famili Avicenniaceae (Avicennia marina), famili Rhizophoraceae (Bruguiera gymnorrhyza, Rhizophora stylosa), famili Sonneratiaceae (Sonneratia alba) dan famili Meliaceae (Xylocarpus granatum), famili Rhizophoraceae (Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorrhyza), famili Avicenniaceae (Avicennia alba, Avicennia marina), famili Sonneratiaceae (Sonneratia alba), famili Meliaceae (Xylocarpus granatum) dan famili Myrsinaceae (Aegiceras corniculatum)

Vegetasi Mangrove Provinsi Maluku
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Achrosticum aureum
PTERIDACEAE
Minor
2
Aegiceras corniculatum
MYRSINACEAE
Minor
3
Ageratum conicoides
-
-
4
Avicennia sp
AVICENNIACEAE
Mayor
5
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
6
Bruguiera parviflora
RHIZOPHORACEAE
Mayor
7
Callophyllum inophyllum
GUTTIFERAE
Asosiasi
8
Cananga ordorata
APOCYNACEAE
-
9
Cerbera manghas
APOCYNACEAE
Asosiasi
10
Ceriops decandra
RHIZOPHORACEAE
Mayor
11
Ceriops tagal
RHIZOPHORACEAE
Mayor
12
Excoecaria agalocha
EUPHORBIACEAE
Minor
13
Ficus benyamina
MORACEAE
-
14
Hibiscus tilliaceus
MALVACEAE
Asosiasi
15
Intsia bijuga
LEGUMINOSAE
-
16
Ipomea pes-caprae
CONVOLVULACEAE
Asosiasi
17
Lumnitzera littorea
COMBREATCEAE
Mayor
18
Melalueca leucadendron
MYRTACEAE
-
19
Metroxilon sago
PALMAE
-
20
Nypa fruticans
PALMAE
Mayor
21
Osbornia octodonta
MYRTACEAE
Minor
22
Palaqium sp
-
-
23
Pandanus sp
PANDANACEAE
Asosiasi
24
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
25
Rhizophora lamarckii
RHIZOPHORACEAE
Minor
26
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
27
Rhizophora stylosa
RHIZOPHORACEAE
Mayor
28
Schypiphora hydrophylacea
RUBIACEAE
Minor
29
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
30
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
31
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
32
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Minor
Vegetasi Mangrove Provinsi Maluku Utara
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Achrosticum aureum
PTERIDACEAE
Minor
2
Aegiceras corniculatum
MYRSINACEAE
Minor
3
Ageratum conicoides
-
-
4
Avicennia sp
AVICENNIACEAE
Mayor
5
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
6
Bruguiera parviflora
RHIZOPHORACEAE
Mayor
7
Callophyllum inophyllum
GUTTIFERAE
Asosiasi
8
Cananga ordorata
APOCYNACEAE
-
9
Cerbera manghas
APOCYNACEAE
Asosiasi
10
Ceriops decandra
RHIZOPHORACEAE
Mayor
11
Ceriops tagal
RHIZOPHORACEAE
Mayor
12
Excoecaria agalocha
EUPHORBIACEAE
Minor
13
Ficus benyamina
MORACEAE
-
14
Hibiscus tilliaceus
MALVACEAE
Asosiasi
15
Intsia bijuga
LEGUMINOSAE
-
16
Ipomea pes-caprae
CONVOLVULACEAE
Asosiasi
17
Lumnitzera littorea
COMBREATCEAE
Mayor
18
Melalueca leucadendron
MYRTACEAE
-
19
Metroxilon sago
PALMAE
-
20
Nypa fruticans
PALMAE
Mayor
21
Osbornia octodonta
MYRTACEAE
Minor
22
Palaqium sp
-
-
23
Pandanus sp
PANDANACEAE
Asosiasi
24
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
25
Rhizophora lamarckii
RHIZOPHORACEAE
Minor
26
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
27
Rhizophora stylosa
RHIZOPHORACEAE
Mayor
28
Schypiphora hydrophylacea
RUBIACEAE
Minor
29
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
30
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
31
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
32
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Minor
Vegetasi Mangrove Provinsi NTB
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Avicennia alba
Avicenniaceae
Mayor
2
Avicennia lanata
Avicenniaceae
Mayor
3
Avicennia marina
Avicenniaceae
Mayor
4
Avicennia officinalis
Avicenniaceae
Mayor
5
Bruguiera cylindrical
Rhizophoraceae
Mayor
6
Bruguiera gymnorrhyza
Rhizophoraceae
Mayor
7
Ceriops decandra
Rhizophoraceae
Mayor
8
Ceriops tagal
Rhizophoraceae
Mayor
9
Excoecaria agalocha
Euphorbiaceae
Minor
10
Lumnitzera racemosa
Combretaceae
Mayor
11
Nypa fruticans
Palmae
Mayor
12
Rhizophora apiculata
Rhizophoraceae
Mayor
13
Rhizophora mucronata
Rhizophoraceae
Mayor
14
Rhizophora stylosa
Rhizophoraceae
Mayor
15
Sonneratia alba
Sonneratiaceae
Mayor
16
Sonneratia caseolaris
Sonneratiaceae
Mayor
17
Xylocarpus granatum
Meliaceae
Minor
Vegetasi Mangrove Provinsi NTT
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Aegialitis annulata
-
Minor
2
Aegiceras corniculatum
MYRSINACEAE
Minor
3
Avicennia alba
AVICENNIACEAE
Mayor
4
Avicennia lanata
AVICENNIACEAE
Mayor
5
Avicennia marina
AVICENNIACEAE
Mayor
6
Excoecaria agalocha
EUPHORBIACEAE
Minor
7
Heritiera littolaris
STERCULIACEAE
Minor
8
Hibiscus tilliaceus
MALVACEAE
Asosiasi
9
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
10
Scyphiphora hydrophyllacea
RUBIACEAE
Minor
11
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
12
Terminalia catapa
COMBRETACEAE
Asosiasi
13
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
14
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Minor
Vegetasi Mangrove Provinsi Papua
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Acanthus illicifolius
ACHANTACEAE
Asosiasi
2
Acrostichum aureum
PTERIDACEAE
Minor
3
Aegiceras corniculatum
MYRSINACEAE
Minor
4
Avicennia alba
AVICENNIACEAE
Mayor
5
Avicennia lanata
AVICENNIACEAE
Mayor
6
Avicennia marina
AVICENNIACEAE
Mayor
7
Barringtonia asiatica
LECYTHIDACEAE
Asosiasi
8
Bruguiera cylindrica
RHIZOPHORACEAE
Mayor
9
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
10
Bruguiera sexangula
RHIZOPHORACEAE
Mayor
11
Ceriops decandra
RHIZOPHORACEAE
Mayor
12
Heritiera littolaris
STERCULIACEAE
Minor
13
Hibiscus tilliaceus
MALVACEAE
Asosiasi
14
Ipomea pes-caprae
CONVOLVULACEAE
Asosiasi
15
Lumnitzera racemosa
COMBRETACEAE
Mayor
16
Nypa fruticans
PALMAE
Mayor
17
Pandanus tectorius
PANDANACEAE
Asosiasi
18
Pongamia pinnata
LEGUMINOSAE
Asosiasi
19
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
20
Rhizophora lamarckii
RHIZOPHORACEAE
Minor
21
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
22
Rhizophora stylosa
RHIZOPHORACEAE
Mayor
23
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
24
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
25
Terminalia catapa
COMBRETACEAE
Asosiasi
26
Vitex ovata
VERBENACEAE
Asosiasi
27
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
28
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Mino
Vegetasi Mangrove Provinsi Sulawesi Barat
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Avicennia alba
AVICENNIACEAE
Mayor
2
Avicennia marina
AVICENNIACEAE
Mayor
3
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
4
Ceriops tagal
RHIZOPHORACEAE
Mayor
5
Rhizophora stylosa
RHIZOPHORACEAE
Mayor
6
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
7
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
8
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
9
Nypa fruticans
PALMAE
Mayor

Vegetasi Mangrove Provinsi Sulawesi Selatan
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Avicennia alba
AVICENNIACEAE
Mayor
2
Avicennia officinalis
AVICENNIACEAE
Mayor
3
Avicennia marina
AVICENNIACEAE
Mayor
4
Avicennia lanata
AVICENNIACEAE
Mayor
5
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
6
Ceriops tagal
RHIZOPHORACEAE
Mayor
7
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
8
Rhizophora stylosa
RHIZOPHORACEAE
Mayor
9
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
10
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
11
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
12
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
13
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Minor
Vegetasi Mangrove Provinsi Sulawesi Tengah
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Avicennia alba
AVICENNIACEAE
Mayor
2
Avicennia officinalis
AVICENNIACEAE
Mayor
3
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
4
Ceriops tagal
RHIZOPHORACEAE
Mayor
5
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
6
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
7
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
8
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
9
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
10
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Minor
Vegetasi Mangrove Provinsi Sulawesi Tenggara
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Avicennia alba
AVICENNIACEAE
Mayor
2
Avicennia officinalis
AVICENNIACEAE
Mayor
3
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
4
Ceriops tagal
RHIZOPHORACEAE
Mayor
5
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
6
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
7
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
8
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
9
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
10
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Minor
Vegetasi Mangrove Provinsi Sulawesi Utara
No
Jenis
Famili
Komponen
1
Achantus illicifolius
ACHANTACEAE
Minor
2
Aegiceras floridum
MYRSINACEAE
Minor
3
Avicennia lanata
AVICENNIACEAE
Mayor
4
Avicennia marina
AVICENNIACEAE
Mayor
5
Bruguiera cylindrica
RHIZOPHORACEAE
Mayor
6
Bruguiera gymnorrhyza
RHIZOPHORACEAE
Mayor
7
Bruguiera hainesii
RHIZOPHORACEAE
Mayor
8
Bruguiera parviflora
RHIZOPHORACEAE
Mayor
9
Ceriops tagal
RHIZOPHORACEAE
Mayor
10
Excoecaria agalocha
EUPHORBIACEAE
Minor
11
Nypa fruticans
PALMAE
Mayor
12
Rhizophora apiculata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
13
Rhizophora mucronata
RHIZOPHORACEAE
Mayor
14
Rhizophora stylosa
RHIZOPHORACEAE
Mayor
15
Sonneratia alba
SONNERATIACEAE
Mayor
16
Sonneratia caseolaris
SONNERATIACEAE
Mayor
17
Sonneratia ovata
SONNERATIACEAE
Mayor
18
Terminalia catapa
COMBRETACEAE
Asosiasi
19
Xylocarpus granatum
MELIACEAE
Minor
20
Xylocarpus mollucensis
MELIACEAE
Minor












Gambaran Mangrove di indonesia

Luas areal mangrove di dunia sekitar 15 juta hektar menurut penelitian Ogino dan Chihara ,1988. Sedangkan luas mangrove di indonesia sekitar 4,5 juta hektar menurut Spalding, dkk,1997. Luas areal mangrove di indonesia sangat banyak cakupanya menyebar dari Irian jaya, Kalimantan, Sumatra. Areal tersebut merupakan areal yang terluas habitat mangrovenya.

Dalam hal struktur mangrove di indonesia lebih bervariasi dibandingkan mangrove dinegara lain. Sejauh ini telah di temukan setidaknya 202 jenis tumbuhan magrove diindonesia. Yang meliputi 89 jenis pohon, 5 jenis jenis palem, 19 jenis pemanjat, 44 herba tanah, 44 jenis epifit, 1 jenis paku. Akan tetapai dari 202 jenis ditemukan juga 33 jenis type mangrove sejati, di dunia hanya memiliki 60 jenis mangrove sejati ( Saenger, dkk 1983). Bearti dapat disimpulkan Indonesia adalahnya salah satu surganya mangrove karna setengah jenis mangrove sejati terdapat di indonesia.

Sehingga sangat disayangkan jika habitat mangrove di Indonesia mulai menurun. Adapun penyebab penurunan areal mangrove di Indonesia adalah :
  1. Perkembangan Penduduk yang sangat cepat sehingga perluasan permukiman yang juga tinggi menyebabkan penebangan wilayah mangrove.
  2. Pemanfaatan Hutan mangrove oleh masyarakat yang sangat besar, tanpa memperhatikan kaidah kaidah konservasi alam.
  3. Pencemaran lingkungan yang sangat besar oleh pabrik pabrik di sekitar lingkungan mangrove.
  4. Perkembangan Tambak yang sangat luas sehingga areal mangrove dibuka untuk tambak.

Kondisi Mangrove Saat ini di Indonesia

Berbagai laporan dan publikasi ilmiah menunjukkan bahwa hutan mangrove ditemukan hampir disetiap propinsi di Indonesia. Walaupun di daerah pantai Propinsi D.I. Yogyakarta dilaporkan beberapa jenis vegetasi mangrove tumbuh, namun mungkin karena luasan yang kecil atau karena tidak membentuk tegakan yang kompak sehingga tidak dikategorikan sebagai hutan, maka luasan hutan mangrove di Propinsi D.I. Yogyakarta tersebut sampai saat ini belum dilaporkan. Meskipun secara umum lokasi mangrove diketahui, namun terdapat variasi yang nyata dari luas total hutan mangrove Indonesia, yakni berkisar antara 2,5 juta – 4,25 juta ha. Beranjak dari perkiraan luas hutan mangrove yang berstatus kawasan hutan di Indonesia pada tahun 1993 seluas 3.765.250 ha, total luas areal berhutan mangrove berkurang sekitar 1,3 % dalam kurun waktu 6 tahun (1993 sampai 1999). Angka penurunan luas hutan mangrove dalam kurun waktu antara tahun 1993 – 1999 ini jauh lebih kecil dibandingkan dalam kurun waktu 1982 – 1983. Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan Kusmana (1995) diketahui bahwa dalam kurun waktu antara tahun 1982 – 1993 (11 tahun), luas hutan mangrove turun sebesar 11,3 % (4,25 juta ha pada tahun 1982 menjadi 3,7 juta ha pada tahun 1993) atau 1 % per tahun.
Ditjen RLPS, Departemen Kehutanan pada tahun 1999/2000 menginformasikan bahwa potensi mangrove di Indonesia adalah 9,2 juta ha, dan 5,3 juta ha di antaranya atau sekitar 57,6 % dari luas hutan mangrove di Indonesia dalam kondisi rusak, dimana sebagian besar, yakni sekitar 69,8 % atau 3,7 juta ha terdapat di luar kawasan hutan dan sisanya sekitar 30,2 % atau 1,6 juta ha terdapat di dalam kawasan hutan. Sedangkan rehabilitasi hutan mangrove melalui pembangunan plot-plot percontohan penanaman mangrove yang sudah dilaksanakan oleh Ditjen RLPS sampai tahun 2001 hanya sekitar 21.130 ha.
Pelestarian Mangrove di indonesia
Bentuk tekanan terhadap kawasan mangrove yang paling besar adalah pengalih-fungsian (konversi) lahan mangrove menjadi tambak udang/ikan, sekaligus pemanfaatan kayunya untuk diperdagangkan. Selain itu, juga tumbuhnya berbagai konflik akibat berbagai kepentingan antar lintas instansi sektoral maupun antar lintas wilayah administratif.
Secara ideal, pemanfaatan kawasan mangrove harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat tetapi tidak sampai mengakibatkan kerusakan terhadap keberadaan mangrove. Selain itu, yang menjadi pertimbangan paling mendasar adalah pengembangan kegiatan yang menguntungkan bagi masyarakat dengan tetap mempertimbangkan kelestarian fungsi mangrove secara ekologis (fisik-kimia dan biologis). Perlu juga mengembangkan matapencaharian alternatif bagi masyarakat sekitar mangrove dengan mengandalkan bahan baku non-kayu dan diversifikasi bahan baku industri kehutanan dan arang seperti yang terjadi di Nipah Panjang, Batu Ampar, Pontianak. Masyarakat merubah pola konsumsi bahan bakar dari minyak tanah dan arang bakau menjadi arang leban dan tempurung kelapa dan menggunakan tungku hemat energi atau anglo.
Selain hal tersebut diatas di bentuk pula organisasi serta lembaga lembaga konservasi mangrove diantarnya :
1. Subdit Perairan, Ditjen Perlindungan dan Konservasi Alam ( PKA ), Departemen Kehutanan.
Alamat : Gdg. Mandala Wanabhakti, Blok VII, Lt 7. Jln. Gatot Subroto, Jakarta.
2. Yauasan Mangrove
alamat : Jl. Pancoran indah, A III/4, Liga Mas Indah, Jakarta.
3. SEAMEO - BIOTROP (Southeast Asia Regional Center for Tropical Biology)
Alamat : Jl. Raya Tajur, Km 6/P.O. Box 17, Bogor.
4.P3O - LIPI
Alamat : Jl. Pasir Putih No 1, Ancol Timur, Jakarta Utara.
Ada pula Organisasi international, diantaranya :
1. Wetlands International - Indonesia Programe
Alamat : Jl. Arzimar III No . 17, Bogor 16152, P.O Box 254/BOO, Bogor 16002.
2. International society for Mangrove Ecosystems ( IMSE )
Alamat : College of Agriculture, Univ. of the Ryukyus Nishihara, Okinawa 903-01, Japan.
Sumber :
1. http://www.imred.org/?q=content/ekosistem-mangrove-di-indonesia.
2. Noor, Yus Rusila. DKK. " Panduan Pengenalan Mangrove Di Indonesia". Bogor. Desember 1999.
3. www.baligreen.org/vegetasi-mangrove-di-indonesia.html

  •  

Mengenal Mangrove

Mengenal Mangrove


Pengertian Mangrove

Menurut Macnae (1968), mangrove berasal dari Bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggrisgrove. Selanjutnya, menurut Tomlinson (1986) dan Wightman (1989), mangrove adalah tumbuhan yang terdapat di daerah pasang surut maupun sebagai komunitas.

Kita sering menyebut hutan di pinggir pantai tersebut sebagai hutan bakau, walaupun ini tidak tepat, karena bakau adalah nama lokal untuk menyebut salah satu jenis mangrove, yaitu Rhizophora.

Habitat Mangrove

1. Pesisir pantai teluk yang terlindung.

2. Pulau di lepas pantai.

3. Laguna.

4. Muara sungai.

5. Delta.

6. Rawa.

Ciri Ekosistem Mangrove

1. Memiliki jenis pohon yang relatif sedikit.

2. Memiliki akar tidak beraturan misalnya seperti jangkar melengkung dan menjulang pada bakau (Rhizophora spp), serta akar yang mencuat ke atas (vertikal) seperti pensil pada Pidada (Sonneratia spp) dan pada Api-api (Avicennia spp).

3. Memiliki biji (propagul) yang bersifat vivipar atau telah berkecambah di pohonnya, khususnya pada Rhizophora.

4. Memiliki banyak lentisel pada bagian kulit pohon.

Karakteristik Unik Mangrove 

1. Buah.

2. Kelenjar garam.

3. Sistem perakaran.

Syarat Hidup Mangrove

1. Tropis dan subtropis 32° LU – 38° LS.

2. Tropis, penyinaran matahari penuh.

3. Suhu diatas 22°C.

4. Curah hujan tinggi (2500 – 3000 mm/th).

5. Di daerah terlindung.

6. Dataran lumpur/Mud-flat luas dan jauh.

7. Deltaic.

8. Perbedaan pasang tertinggi dan surut terendah jauh.
Faktor Yang Mempengaruhi Mangrove

1. Iklim.

a. Tropis, penyinaran matahari penuh.

b. Suhu diatas 22°C.

c. Curah hujan tinggi (2500 – 3000 mm/th).

2. Bentuk Pantai

a. Terlindung.

b. Daratan lumpur luas.

c. Delta.

3. Gradien Fisika dan Kimia

a. Perbedaan pasang tertinggi dan surut terendah jauh.

b. Salinitas.

c. Unsur hara tanah (ketebalan lumpur).

4. Penyebaran Propagul

a. Melalui air

b. Kaitannya dengan pasang-surut

c. Ukuran propagul diduga juga berpengaruh

Penyebaran Mangrove Dipengaruhi

1. Salinitas.

2. Unsur hara tanah melalui air.

3. Kaitannya dengan pasang-surut.

4. Ukuran propagul.

5. Predispersal biasanya oleh serangga.

6. Postdispersal oleh kepiting.

7. Kompetisi antar jenis, individu, zonasi.

Jenis-jenis Mangrove

1. Komponen Utama (Mangrove Mayor)

a. Secara taksonomi terisolasi dari “saudaranya” yang hidup di darat.

b. Secara alami hanya hidup di hutan mangrove.

c. Sering membentuk tegakan murni (bergerombol).

2. Komponen Tambahan (Mangrove Minor)

a. Bukan elemen nyata ekosistem mangrove.

b. Biasanya ditemui di bagian tepi/ perbatasan habitat mangrove.

c. Jarang membentuk tegakan murni (bergerombol).

3. Asosiasi Mangrove

a. Tidak dijumpai tumbuh di komunitas mangrove sesungguhnya.

b. Sering dijumpai sebagai tumbuhan darat.
Akar-akar Mangrove

1. Akar Pasak (pneumatophore)

2. Akar Lutut (knee root)

3. Akar Tunjang (stilt root)

4. Akar Papan (buttress root)

5. Akar Gantung (aerial root)

Flora dan Fauna Mangrove

Biota di mangrove bisa dibagi menjadi tiga bagian, yaitu di bagian bawah substrat, di substrat dan di atas substrat (arboreal).

Contoh flora mangrove, diantaranya Rhizophora mucronata, Aegiceras corniculatum, Avicennia alba, Avicennia marina dan lain-lain.

Mangrove merupakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar seperti primata, reptil dan burung.

Selain sebagai tempat berlindung dan mencari makan, mangrove juga merupakan tempat berkembang biak bagi burung air.

Bagi berbagai jenis ikan dan udang, perairan mangrove merupakan tempat ideal sebagai daerah asuhan, tempat mencari makan dan tempat pembesaran anak.

Mangrove juga merupakan habitat penting bagi berbagai jenis krustasea (kepiting) termasuk berbagai jenis udang-udang lainnya yang mempunyai nilai ekonomis.
Mengapa Ekosistem Mangrove Harus Dilindungi?

1. Karena adaptasi tumbuhnya yang tidak dapat ditiru oleh vegetasi lain.

2. Karena fungsi kompleksnya yang tidak dapat tergantikan oleh ekosistem lainnya.

3. Keberadaannya terancam.

Fungsi Mangrove

A. Fungsi Fisik Mencegah Erosi Pantai

1. Menahan badai/gelombang tsunami.

2. Mencegah masuknya air laut ke daratan (intrusi air laut).

B. Fungsi Ekologis

1. Tempat mencari makan binatang mangrove (Feeding Ground/Shelter).

2. Tempat pemijahan/beranak pinak dan pengasuhan binatang mangrove (Spawning/Nursery ground).

3. Pemindahan/pertukaran nutrisi (Export Nutrien).

4. Produktivitas primer.

5. Penghasil unsur hara/pupuk.

6. Penangkap bahan pencemar.

7. Perangkap karbon.

C. Fungsi Sumberdaya dan Jasa Kayu bakar/arang.

1. Bahan baku industri.

2. Makanan dan obat.

3. Pariwisata.

4. Perubahan/konversi lahan.
Apakah Anda Sadar?

1. Asap motor dan mobil Anda yang beracun itu, telah diserap dengan baik oleh dedaunan mangrove sehingga udara di kota kita menjadi bersih dan sehat?

2. Lalu, apakah Anda juga tidak ingat bahwa daun-daun mangrove yang lebat, berguna sekali dalam menyerap karbon untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang saat ini menjadi ancaman serius bagi umat manusia, yaitu pemanasan global.

3. Mangrove yang baik, telah menetralisirnya sehingga laut kita menjadi sangat bersih dan tak tercemar lagi.

Mangrove Proteksi Garis Pantai dari Hempasan Gelombang

1. K = 3.000 pohon/ha, d = 15 cm, lebar hutan = 200 m, mampu mengurangi tinggi gelombang tsunami 50-60 % dan kecepatan tsunami 40-60 % (Harada dan Kawata, 2004).

2. Tegakan Kandelia candel 6 th dalam jalur lebar 1,5 km, mampu mengurangi tinggi gelombang setinggi 1 m menjadi 0,05 m (Harada dan Kawata, 2004).

Mangrove Berguna Bagi Manusia

Nypa fruticans (Nipah). Tangkai buah Nipah disadap, diolah kemudian dijual sebagai gula nipah. Nelayan di Pematang Siantar sudah lama membuat gula nipah ini.

Rhizophora apiculata (Bakau). Di Rembang, Kelompok Tani Mangrove Sidodadi Maju telah berhasil membibitkannnya dan menjualnya untuk keperluan konservasi.

Sonneratia alba (Pedada). Ibu-ibu dari Muara Angke Jakarta, berhasil membuat dan menjual panganan dari buah Sonneratia sp. Permen Pedada adalah contohnya.

Kajian Manfaat Sumberdaya Mangrove

1. Kajian senyawa bioaktif mangrove sebagai bahan makanan, anti bakteri, anti jamur, anti kanker dan anti oksidan.

2. Kajian ekowisata sebagai alternatif upaya konservasi ekosistem mangrove.

Ancaman Mangrove

1. Pengambilan kayu.

2. Pembukaan tambak.

3. Reklamasi lahan.

4. Sampah.

5. Aktifitas merugikan lainnya.

Bagaimana Keberadaan Ekosistem Mangrove Bisa Terancam?

1. Pemanfaatan yang salah dan berlebihan.

2. Pengambilan kayu.

3. Alih fungsi lahan.

4. Reklamasi.

5. Aktivitas Merugikan lainnya.

Konservasi Ekosistem Mangrove 

Rehabilitasi perlindungan rehabilitasi mangrove harus dilakukan dengan “baik dan benar” dengan memikirkan

1. Aspek ekologis dan fisik lahan.

2. Aspek sosial ekonomi dan budaya.

3. Aspek finansial.

4. Aspek teknis kegiatan/teknik silvikultur.

5. Aspek ketenagakerjaan.

Langkah Rehabilitasi Mangrove

1. Perencanaan pengkajian prakondisi masyarakat.

2. Pelaksanaan rehabilitasi pemantauan dan evaluasi.

3. Publikasi.

Dalam rehabilitasi mangrove, tidak harus selalu menggunakan mangrove (mangrove mayor dan minor) untuk ditanam. Bila kondisi pantai adalah berpasir, maka kita bisa mempergunakan jenis mangrove asosiasi.

Gambar

 
Perlindungan Ekosistem mangrove

1. Penetapan suatu kawasan mangrove menjadi kawasan perlindungan/konservasi

2. Taman Nasional, Taman Hutan Raya, Cagar Alam, Suaka Margasatwa Hutan Lindung, dan lain-lain.

Teknik Rehabilitasi Mangrove

1. Melakukan perencanaan dan persiapan (fisik, biologi dan sosial ekonomi).

2. Melakukan kajian batimetri, arus, gelombang, dan pasang surut di lokasi.

3. Melakukan pembuatan APO jika diperlukan.

4. Memilih spesies yang sesuai dengan kondisi lokal.


eknik Pembibitan Mangrove

1. Lahan pembibitan lapang dan datar, dekat dengan lokasi penanaman, terendam saat air pasang dengan frekuensi 20-40 kali/bulan sehingga tidak memerlukan penyiraman.

2. Buah disemaikan langsung ke kantong plastik atau ke dalam botol air mineral bekas (bagian bawah dilubangi) yang berisi media tanah.

3. Khusus untuk bakau dan tancang sebaiknya disimpan di tempat teduh dan ditutup dengan karung basah selama 5 – 7 hari.

4. Daun muncul setelah 20 hari, setelah berumur 2 – 3 bulan bibit sudah siap ditanam.

Perlakuan Propagul Buah (Propagul)

1. Mangrove berasal dari daerah setempat, telah matang dan berkualitas bagus.

2. Tempat terlindung dari sinar matahari.

3. Lama penyimpanan maksimal adalah 10 hari.

4. Untuk penyemaian benih, maka lokasi dan perendaman kurang lebih 20 – 40 kali/bulan.

5. Siap dibibitkan di bedeng persemaian.

Pembibitan Mangrove

1. Bedeng dibuat dari bambu yang kuat.

2. Ukuran bedeng disesuaikan dengan kebutuhan.

3. Umumnya berukuran 1×5 m atau 1×10 m dengan tinggi 1,5 – 2 m.

4. Bedeng diberi naungan ringan dari daun nipah, kelapa, ijuk, rumbia, alang-alang atau sejenisnya.

Pemilihan Propagul

1. Matang (tua).

2. Sehat, tidak terserang penyakit.

3. Lebih baik berasal dari pohon yang sudah tua.

Penanaman Mangrove

Lokasi penanaman biasanya dilakukan tepi pantai bersubstrat lumpur, tepian sungai yang masih terpengaruh air laut, tanggul saluran air tambak, tambak, tanah timbul, lahan kosong, pemukiman, dan lain-lain.

Alat Pemecah Ombak (APO)

Di sebuah lokasi yang memiliki gelombang tinggi, pemecah gelombang (baca: Apo-apo), bila diperlukan, wajib dibangun sebelum penanaman mangrove dilaksanakan, untuk melindungi bibit mangrove dari gerusan gelombang laut.

Ingat, mangrove baru bisa “berfungsi”, setelah kurang lebih lima tahun.

Teknik Penanaman Mangrove

1. Langsung Menggunakan benih/buah, tingkat keberhasilan 20%.

2. Tidak Langsung Menggunakan bibit dari bedeng persemaian, tingkat keberhasilan 80%.
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Rehabilitasi Mangrove

1. Perencanaan

2. Pelaksanaan

a. Sosialisasi.

b. Pelatihan dan penyuluhan.

c. Pendidikan lingkungan

d. Pengembangan mata pencaharian alternatif.

e. Penanaman mangrove.

f. Pemeliharaan.

g. Wisata mangrove (ecotourism).

3. Monitoring dan Evaluasi

a. Penyiangan dan penyulaman.

b. Penjarangan.

c. Perlindungan Tanaman

Hama Mangrove

1. 3W

a. Wideng (Kepiting).

b. Wedhus (Kambing).

c. Wong (Orang).

2. Hama Lain

Lumut, ganggang laut, serangga, gastropoda, teritip, scale insect, dan ulat daun.

3. Gangguan lain

Bencana alam, gelombang besar, tumpahan minyak, tsunami, dan sebagainya.



Sumber : http://kesemat.undip.ac.id


 

Mangrove, Manfaat dan Fungsi

Mangrove, Manfaat dan Fungsi


Mangrove merupakan jenis tumbuhan yang umumnya hidup di perairan dekat pantai, pohon ini juga dapat beradaptasi sedemikian rupa sehingga akan mampu untuk hidup di lingkungan berkadar garam tinggi seperti lingkungan laut. Sedangkan hutan mangrove atau hutan bakau adalah komunitas vegetasi pantai tropis dan subtropis yang didominasi beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang di air payau dan dipengaruhi pasang surut air laut. Mangrove juga merupakan flora yang tumbuh di kawasan pantai dan memiliki toleransi terhadap kandungan garam. Mangrove diketahui memiliki manfaat dalam proses daur nutrien dimana mangrove merupakan penghasil nutrien bagi ekosistem di sekitarnya.
Mangrove biasanya tumbuh di tempat-tempat terjadinya pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Mangrove juga biasa dijumpai di teluk-teluk yang terlindungi dari gempuran ombak, maupun disekitar muara sungai dimana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawa dari hulu. Mangrove juga bisa tumbuh pada pantai-pantai yang terlindung atau pada pantai-pantai yang datar. Mangrove biasanya tumbuh secaran meluas. Mangrove tidak tumbuh di pantai yang terjal dan berombak besar dengan arus pasang surut yang kuat, karena hal ini tidak memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur dari pasir, sebagai substrat yang diperlukan untuk pertumbuhannya. Ekosistem bakau sifatnya khas, karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya abrasi tanah, salinitas tanahnya tinggi, mengalami daur penggenangan oleh air pasang surut air laut.
Dikawasan Indonesia hutan mangrove dapat kita jumpai keberadaanya di Dangkalan Sunda, yang relative tenang, bermuara di sungai besar. Mangrove juga terdapat dipulau lain yakni di pantai timur sumatera dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Dipantai utara jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduk terhadap lahan. 
Luas hutan mangrove di Indonesia mencapai 2,5 hingga 4,5 juta hektar, angka ini menyatakan bahwa mangrove di Indonesia adalah mangrove terluas di dunia, karena mencapai 25 persen dari total luas mangrove di dunia. Di bagian timur Indonesia, di tepi dangkalan sahul, hutan mangrove yang masih baik terdapat di barat daya Papua, terutama di sekitar teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.
Dari sekian banyak wilayah di Indonesia yang terkenal dengan hutan mangrovenya marilah kita menjelajah lebih dalam ke daerah Kalimantan Timur. Kawasan hutan bakau di daerah Tarakan ini berkisar di angka 21 Hektar, dimana begitu banyak ragam jenis tanaman mangrove yang bisa dinikmati. Fungsi hutan bakau Tarakan ini juga sebagai paru – paru kota Tarakan yang memang menggunakan hutan ini sebagai kawasan penghasil udara bersih untuk masyarakat.
Kegiatan penelitian sering dilakukan oleh para peneliti di kawasan hutan bakau ini dimana memang dilakukan untuk menjaga dan mengembangkan potensi hutan bakau Tarakan secara lebih optimal. Keberadaan hewan monyet berhidung panjang yang sering disebut oleh masyarakat setempat sebagai monyet Belanda adalah sajian pemandangan yang menarik. Monyet ini dalam bahasa ilmiahnya adalah monyet Bekantan yang merupakan penghuni asli hutan bakau Tarakan. Ikan Gelodok yang sering terlihat pada saat air laut surut membuat sebuah pemandangan yang unik karena kumpulan ikan ini akan meloncat – loncat mencari tempat perlindungan karena adanya proses surut air laut.
Hutan Mangrove Margomulyo terletak di Kelurahan Margomulyo, Kecamatan Balikpapan Barat, kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. Kawasan mangrove ini merupakan hasil pembebasan lahan yang dilakukan oleh kota Balikpapan untuk dijadikan kawasan konservasi tumbuhan bakau.
Beberapa jenis vegetasi yang tumbuh dikawasan ini diantaranya  jenis Rhizophora (bakau), Avicennia alba (api-api hitam), Nypa fruticans (nipah,  Sonneratia caseolaris (pidada), dan Cerbera spp.( bintaro). Selain ditumbuhi tanaman bakau kawasan ini merupakan tempat tinggal beberapa satwa liar seperti bekatan dan beberapa jenis burung.
Untuk menelusuri kawasan ini sudah disediakan jalur tracking yang terbuat dari kayu ulin. Selain itu ada juga menara pengawas dan beberapa gazebo sehingga membuat tempat ini sangat cocok untuk kegiatan wisata. Sesekali pengunjung dapat bertemu dengan penduduk lokal yang sedang mencari kijing (sejenis siput), atau yang sedang mencari kepiting
Hutan Mangrove Center Kariangau terletak di Graha Indah, Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Propinsi Kalimantan Timur. Mangrove centre ini mempunyai luas sekitar 150 hektare.\
Ada 40 jenis mangrove tumbuh di Mangrove Center. Bakau atau Rhyzopora mucronata menjadi tumbuhan dominan. Dilokasi mangrove centre ini juga terdapat tidak kurang dari 400 ekor bekantan (Nasalis larvatus, atauproboscis monkey, kera berhidung mancung dan berbulu oranye). Bekantan ini dapat dijumpai terutama pada saat menjelang sore ketika mereka mencari makan.  Pemandangan ini dapat dijumpai pengunjung sambil menelusuri sungai dengan menggunakan kelotok didalam kawasan mangrove centre.
Ada pula Hutan mangrove yang berada di Bontang yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Hutan mangrove ini berada di perumahan BSD (Bukit Sekatup Damai). Dari awal dibuka untuk umum di setiap weekend selalu ramai pengunjung. Tetapi semakin ramainya pengunjung maka semakin parah pula sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung. Dan hal itu membuat kawasan mangrove BSD menjadi kotor.
Selain untuk tempat wisata Hutam mangrove mempunyai fungsi lain. Fungsi hutam mangrove dapat memberi banyak manfaat baik secara tidak langsung (non economic value) maupun secara langsung kepada kehidupan manusia (economic vallues). Beberapa manfaat mangrove antara lain:
·         Menumbuhkan pulau dan menstabilkan pantai.
Salah satu peran dan sekaligus manfaat ekosistem mangrove, adalah adanya sistem perakaran mangrove yang kompleks dan rapat, lebat dapat memerangkap sisa-sia bahan organik dan endapan yang terbawa air laut dari bagian daratan. Proses ini menyebabkan air laut terjaga kebersihannya dan dengan demikian memelihara kehidupan padang lamun (seagrass) dan terumbu karang. Karena proses ini maka mangrove seringkali dikatakan pembentuk daratan karena endapan dan tanah yang ditahannya menumbuhkan perkembangan garis pantai dari waktu ke waktu. Pertumbuhan mangrove memperluas batas pantai dan memberikan kesempatan bagi tumbuhan terestrial hidup dan berkembang di wilayah daratan. Akar pohon mangrove juga menjaga pinggiran pantai dari bahaya erosi. Buah vivipar yang dapat berkelana terbawa air hingga menetap di dasar yang dangkal dapat berkembang dan menjadi kumpulan mangrove di habitat yang baru. Dalam kurun waktu yang panjang habitat baru ini dapat meluas menjadi pulau sendiri.
·         Menjernihkan air.
Akar pernafasan (akar pasak) dari api-api dan tancang bukan hanya berfungsi untuk pernafasan tanaman saja, tetapi berperan juga dalam menangkap endapan dan bisa membersihkan kandungan zat-zat kimia dari air yang datang dari daratan dan mengalir ke laut. Air sungai yang mengalir dari daratan seringkali membawa zat-zat kimia atau polutan. Bila air sungai melewati akar-akar pasak pohon api-api, zat-zat kimia tersebut dapat dilepaskan dan air yang terus mengalir ke laut menjadi bersih. 
·         Mengawali rantai makanan.
Daun mangrove yang jatuh dan masuk ke dalam air. Setelah mencapai dasar teruraikan oleh mikro organisme (bakteri dan jamur). Hasil penguraian ini merupakan makanan bagi larva dan hewan kecil air yang pada gilirannya menjadi mangsa hewan yang lebih besar serta hewan darat yang bermukim atau berkunjung di habitat mangrove.
·         Melindungi dan memberi nutrisi.
Akar tongkat pohon mangrove memberi zat makanan dan menjadi daerah nursery bagi hewan ikan dan invertebrata yang hidup di sekitarnya. Ikan dan udang yang ditangkap di laut dan di daerah terumbu karang sebelum dewasa memerlukan perlindungan dari predator dan suplai nutrisi yang cukup di daerah mangrove ini. Berbagai jenis hewan darat berlindung atau singgah bertengger dan mencari makan di habitat mangrove.
·       Manfaat bagi manusia.
Masyarakat daerah pantai umumnya mengetahui bahwa hutan mangrove sangat berguna dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pohon mangrove adalah pohon berkayu yang kuat dan berdaun lebat. Mulai dari bagian akar, kulit kayu, batang pohon, daun dan bunganya semua dapat dimanfaatkan manusia. 
Adapun beberapa kegunaan pohon mangrove yang langsung dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari antara lain adalah:
·         Tempat tambat kapal.
Daerah teluk yang terlidung seringkali dijadikan tempat berlabuh dan bertambatnya perahu. Dalam keadaan cuaca buruk pohon mangrove dapat dijadikan perlindungan dengan bagi perahu dan kapal dengan mengikatkannya pada batang pohon mangrove.
·         Obat-obatan.
Kulit batang pohonnya dapat dipakai untuk bahan pengawet dan obat-obatan. Macam-macam obat dapat dihasilkan dari tanaman mangrove. Campuran kulit batang beberapa species mangrove tertentu dapat dijadikan obat penyakit gatal atau peradangan pada kulit. Secara tradisional tanaman mangrove dipakai sebagai obat penawar gigitan ular, rematik, gangguan alat pencernaan dan lain-lain. 
·         Pakan dan makanan.
Daunnya banyak mengandung protein. Daun muda pohon api-api dapat dimakan sebagai sayur atau lalapan. Daun-daun ini dapat dijadikan tambahan untuk pakan ternak. Bunga mangrove jenis api-api mengandung banyak nectar atau cairan yang oleh tawon dapat dikonversi menjadi madu yang berkualitas tinggi. Buahnya pahit tetapi bila memasaknya hati - hati dapat pula dimakan.
·         Bahan mangrove dan bangunan.
Batang pohon mangrove banyak dijadikan bahan bakar baik sebagai kayu bakar atau dibuat dalam bentuk arang untuk kebutuhan rumah tangga dan industri kecil. Batang pohonnya berguna sebagai bahan bangunan. Bila pohon mangrove mencapai umur dan ukuran batang yang cukup tinggi, dapat dijadikan tiang utama atau lunas kapal layar dan dapat digunakan untuk balok konstruksi rumah tinggal. Batang kayunya yang kuat dan tahan air dipakai untuk bahan bangunan dan cerocok penguat tanah. Batang jenis tancang yang besar dan keras dapat dijadikan pilar, pile, tiang telepon atau bantalan jalan kereta api. Bagi nelayan kayu mangrove bisa juga untuk joran pancing. Kulit pohonnya dapat dibuat tali atau bahan jaring.
Selain mempunyai manfaat mangrove juga mempunyai fungsi seperti Fungsi Fisik, Fungsi Biologis dan Fungsi Ekonomis. Fungsi Fisik dari mangrove yaitu dapat dijadikan untuk menjaga agar garis pantai tetap stabil,  melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi, menahan badai atau angin kencang dari laut, menahan hasil proses penimbunan lumpur, sehingga memungkinkan terbentuknya lahan baru, menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar, mengolah limbah beracun, penghasil O2 dan penyerap CO2. Fungsi Biologis dari mangrove yaitu menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton, sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan, tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang, tempat berlindung, bersarang dan berkembang biak dari burung dan satwa lain, serta sebagai sumber plasma nutfah & sumber genetic dan merupakan habitat alami bagi berbagai jenis biota. Selain kedua fungsi tersebut mangrove juga punya fungsi ekonomis yang dapat di manfaatkan untuk pendapatan daerah seperti penghasil kayu yang digunakan untuk kayu bakar, arang, bahan bangunan, penghasil bahan baku industri seperti pulp, tanin, kertas, tekstil, makanan, obat-obatan, kosmetik, dan lain-lain, dan penghasil bibit ikan, nener, kerang, kepiting, bandeng melalui pola tambak silvofishery serta sebagai tempat wisata, penelitian & pendidikan.(DIPS, FO)