Minggu, 06 November 2016

Ekosistem Mangrove

Ekosistem Mangrove
A. Definisi Mangrove
mengenal ekosistem mangrove, hutan mangrove, vegetasi mangrove, zonasi mangrove, fungsi mangrove, flora mangrove, baliKata ‘mangrove’ merupakan kombinasi antara bahasa Portugis mangue dan bahasa Inggris grove . Dalam bahasa Inggris, kata mangrove digunakan untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut dan untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedang dalam bahasa Portugis kata ’mangrove’ digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata ’mangal’ digunakan untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. Sedangkan menurut FAO, kata mangrove sebaiknya digunakan untuk individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut.
Menurut Snedaker (1978) dalam Kusmana (2003), hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Sedangkan menurut Tomlinson (1986), kata mangrove berarti tanaman tropis dan komunitasnya yang tumbuh pada daerah intertidal. Daerah intertidal adalah wilayah dibawah pengaruh pasang surut sepanjang garis pantai, seperti laguna, estuarin, pantai dan river banks. Mangrove merupakan ekosistem yang spesifik karena pada umumnya hanya dijumpai pada pantai yang berombak relatif kecil atau bahkan terlindung dari ombak, di sepanjang delta dan estuarin yang dipengaruhi oleh masukan air dan lumpur dari daratan.
Dengan demikian secara ringkas dapat didefinisikan bahwa hutan mangrove adalah tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama pada pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Sedangkan ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (hewan dan tumbuhan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove.
Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyebut hutan mangrove. Antara lain tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, hutan payau dan hutan bakau. Khusus untuk penyebutan hutan bakau, sebenarnya istilah ini kurang sesuai untuk menggambarkan mangrove sebagai komunitas berbagai tumbuhan yang berasosiasi dengan lingkungan mangrove. Di Indonesia, istilah bakau digunakan untuk menyebut salah satu genus vegetasi mangrove, yaitu Rhizopora. Sedangkan kenyataannya mangrove terdiri dari banyak genus dan berbagai jenis, sehingga penyebutan hutan mangrove dengan istilah hutan bakau sebaiknya dihindari.
Secara ringkas ekosistem mangrove terbentuk dari unsur-unsur sebagai berikut :
a. spesies pohon dan semak yang benar-benar memiliki habitat terbatas di lingkungan mangrove (exclusive mangrove)
b. spesies pohon dan semak yang mampu hidup di lingkungan mangrove dan di luar lingkungan mangrove (non-exclusive mangrove)
c. berbagai biota yang hidupnya berasosiasi dengan lingkungan mangrove, baik biota yang keberadaannya bersifat menetap, sekedar singgah mencari makan maupun biota yang keberadaannya jarang ditemukan di lingkungan mangrove
d. berbagai proses yang terjadi di ekosistem mangrove untuk mempertahankan keberadaan ekosistem mangrove itu sendiri
e. hamparan lumpur yang berada di batas hutan sebenarnya dengan laut
f. sumber daya manusia yang berada di sekitar ekosistem mangrove
Hutan mangrove dapat ditemukan di pesisir pantai wilayah tropis sampai sub tropis, terutama pada pantai yang landai, dangkal, terlindung dari gelombang besar dan muara sungai. Secara umum hutan mangrove dapat berkembang dengan baik pada habitat dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. jenis tanah berlumpur, berlempung atau berpasir, dengan bahan bentukan berasal dari lumpur, pasir atau pecahan karang/koral
b. habitat tergenang air laut secara berkala, dengan frekuensi sering (harian) atau hanya saat pasang purnama saja. Frekuensi genangan ini akan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove
c. menerima pasokan air tawar yang cukup, baik berasal dari sungai, mata air maupun air tanah yang berguna untuk menurunkan kadar garam dan menambah pasokan unsur hara dan lumpur
d. berair payau (2-22 ‰) sampai dengan asin yang bisa mencapai salinitas 38 ‰
Secara umum hutan mangrove memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Tidak dipengaruhi oleh iklim, tetapi dipengaruhi oleh pasang surut air laut (tergenang air laut pada saat pasang dan bebas genangan air laut pada saat surut)
b. Tumbuh membentuk jalur sepanjang garis pantai atau sungai dengan substrat anaerob berupa lempung (firm clay soil), gambut (peat), berpasir (sandy soil) dan tanah koral
c. Struktur tajuk tegakan hanya memiliki satu lapisan tajuk (berstratum tunggal). Komposisi jenis dapat homogen (hanya satu jenis) atau heterogen (lebih dari satu jenis). Jenis-jenis kayu yang terdapat pada areal yang masih berhutan dapat berbeda antara satu tempat dengan lainnya, tergantung pada kondisi tanahnya, intensitas genangan pasang surut air laut dan tingkat salinitas
d. Penyebaran jenis membentuk zonasi. Zona paling luar berhadapan langsung dengan laut pada umumnya ditumbuhi oleh jenis-jenis Avicennia spp dan Sonneratia spp (tumbuh pada lumpur yang dalam, kaya bahan organik). Zona pertengahan antara laut dan daratan pada umumnya didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora spp. Sedangkan zona terluar dekat dengan daratan pada umumnya didominasi oleh jenis-jenis Brugiera spp.
B. Diversitas Flora Mangrove
mengenal ekosistem mangrove, hutan mangrove, vegetasi mangrove, zonasi mangrove, fungsi mangrove, flora mangrove, baliTomlinson (1986) membagi flora mangrove menjadi 3 elemen, yaitu elemen mangrove mayor, elemen mangrove minor dan elemen mangrove asosiasi. Tomlinson mengklasifikasi ketiga macam elemen flora mangrove ini sebagai berikut : 9 genus dan 34 jenis untuk elemen mangrove mayor, 11 genus dan 20 jenis untuk elemen mangrove minor serta 46 genus dan 60 jenis untuk elemen mangrove asosiasi.
Flora elemen mangrove mayor pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Hanya hidup pada daerah mangrove, secara alami hanya terdapat pada ekosistem mangrove dan tidak ditemukan di komunitas teresterial/darat
2. Memiliki peran utama dalam struktur komunitas vegetasi mangrove dan memiliki kemampuan untuk membentuk tegakan murni (pure stand)
3. Membentuk morfologi khusus untuk beradaptasi dengan lingkungannya, misalnya dengan adanya akar napas (aerial root), berasosiasi dengan pertukaran gas, vivipari dan kriptovivipari embrio
4. Mekanisme fisiologis untuk pengeluaran garam sehingga beberapa jenis vegetasi mangrove dapat tumbuh pada tempat dengan kadar garam rendah sampai tinggi
5. Isolasi taksonomi dari kelompok teresterial, mangrove sejati terpisahkan dari kelompoknya paling sedikit pada tingkat genus dan terkadang pada tingkatan sub-famili atau famili.
Contoh dari elemen mayor adalah Avicennia marina (api-api), Sonneratia alba (pidada, prapat), Rhizopora mucronata (bakau), Ceriops tagal (mentingi), Bruguiera gymnorrhyza (lindur) dan Nypa frutican (nipah).
Elemen flora mangrove minor biasanya tidak membentuk elemen vegetasi yang mencolok, tetapi hanya dijumpai di tepian habitat tersebut dan hampir tidak pernah membentuk suatu tegakan murni. Contoh dari elemen minor adalah Pemphis acidula (centigi), Aegiceras corniculatum, Excoecaria agalocha (buta-buta) dan Xylocarpus granatum (nyirih).
Sedangkan elemen flora mangrove asosiasi pada umumnya tidak memiliki ciri morfologi yang biasanya dimiliki oleh elemen mayor dan elemen minor (tidak memiliki akar napas, tipe buah dan biji yang normal, tidak memiliki mekanisme untuk pengeluaran garam) dan sering kali hanya dijumpai pada tepi mangrove lebih dekat ke daratan. Contoh dari elemen asosiasi adalah Terminalia catapa (ketapang), Thespesia populnea, Barringtonia asiatica dan Cerberra manghas (bintaro).
Sedangkan Giesen ( - ) menyebutkan bahwa vegetasi mangrove di Indonesia mencapai 202 jenis, yang terdiri dari 89 spesies pohon, 5 spesies palem, 19 jenis liana, 44 jenis herba tanah, 44 jenis epifit dan 1 jenis sikas.
Berdasarkan peran vegetasi terhadap habitat mangrove, Chapman dalam Kusmana (2003) membagi flora mangrove menjadi dua kategori, yaitu :
1. Flora Mangrove Inti, yaitu flora mangrove yang memiliki peran ekologi utama dalam formasi mangrove. Contohnya adalah genus Rhizopora, Bruguiera, Ceriops, Kandelia, Sonneratia, Avicennia, Nypa, Xylocarpus, Derris, Acanthus, Lumnitzera, Schypipora dan Dolichandrone
2. Flora Mangrove Peripheral (pinggiran), yaitu flora mangrove yang secara ekologi berperan dalam formasi mangrove, tetapi flora tersebut juga berperan penting dalam formasi hutan lain. Contohnya adalah Excoecaria agalocha, Acrostichum aureum, Cerbera manghas, Heritiera litoralis dan Hibiscus tilliaceus.
Vegetasi mangrove di dunia dapat dijumpai pada sepanjang pantai tropis sampai sub tropis dengan kondisi lingkungan yang sesuai (pada pantai terlindung, bebas dari ombak besar, teluk, laguna, estuarin). Sedangkan penyebarannya dapat dijumpai dari 32° LU sampai dengan 38° LS. Menurut Chapman dalam Kusmana (2003), berdasarkan keragaman penyebaran vegetasi di dunia, vegetasi mangrove dibagi menjadi dua yaitu :
1. The Old World Mangrove, penyebarannya meliputi Afrika Timur, Laut Merah, India, Asia Tenggara, Jepang, Filipina, Australia, New Zealand, Kepulauan Pasifik dan Samoa (disebut juga dengan Grup Timur)
2. The New World Mangrove, penyebarannya meliputi pantai Atlantik dari Afrika dan Amerika, Meksiko, pantai Pasifik Amerika dan Kepulauan Galapagos (disebut juga dengan Grup Barat). Keragaman jenis Grup Barat relatif lebih sedikit dibanding dengan keragaman di Grup Barat
C. Zonasi Mangrove
Vegetasi mangrove biasanya tumbuh di habitat mangrove membentuk zonasi mulai dari daerah yang paling dekat dengan laut sampai dengan daerah yang dekat dengan daratan. Pada kawasan delta atau muara sungai, biasanya vegetasi mangrove tumbuh subur pada areal yang luas dan membentuk zonasi vegetasi yang jelas. Sedangkan pada daerah pantai yang lurus, biasanya vegetasi mangrove tumbuh membentuk sabuk hijau/green belt dengan komposisi yang hampir seragam (Nirarita, dkk, 1996).
Identifikasi zonasi didasarkan pada jenis mangrove atau kelompok jenis mangrove dan dinamakan sesuai dengan jenis vegetasi yang dominan, yang tumbuh pada areal tertentu. Beberapa faktor penting yang dianggap paling berperan dalam pembentukan zonasi mangrove antara lain sebagai berikut :
a. pasang surut air laut yang secara langsung mengontrol ketinggian muka air dan salinitas air serta tanah
b. tipe tanah yang berkorelasi langsung dengan aerase, draenase dan tinggi muka air
c. kadar garam air dan tanah
d. cahaya yang berkorelasi langsung dengan daya tumbuh semaian
e. pasokan dan aliran air tawar
Secara umum, zona yang paling dekat dengan laut (berhadapan langsung dengan laut) didominasi oleh jenis-jenis Avicennia dan Sonneratia. Sedangkan zona pertengahan biasanya didominasi oleh jenis-jenis Rhizopora dan kadang juga ditemui jenis Bruguiera. Zona yang paling dekat dengan daratan biasanya didominasi oleh jenis-jenis Bruguiera, Ceriops, Xylocarpus dan Lumnitzera.
Menurut Giesen dkk ( - ), zonasi yang paling umum dijumpai ada empat macam, yaitu :
a. The Exposed Mangrove (zona terluar, paling dekat dengan laut). Secara umum zona ini didominasi oleh Sonneratia alba, Avicennia alba dan Avicennia marina
b. Central Mangrove (zona pertengahan antara lat dan darat). Secara umum zona ini didominasi oleh jenis-jenis Rhizopora, kadang juga ditemui jenis-jenis Bruguiera
c. The Rear Mangrove (back mangrove, landward mangrove, areal yang paling dekat dengan daratan). Zona ini biasanya tergenangi oleh pasang tinggi saja. Seringkali didominasi oleh jenis-jenis Bruguiera, Lumnitzera, Xylocarpus dan Pandanus sp
d. Brackish Stream Mangrove (aliran sungai dekat mangrove yang berair payau). Pada zona ini sering dijumpai komunitas Nypa frutican dan kadang dijumpai Sonneratia caseolaris serta Xylocarpus granatum.
D. Adaptasi Flora Mangrove
Secara sederhana, tipe adaptasi flora mangrove terhadap habitatnya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu adaptasi terhadap konsentrasi kadar garam, adaptasi terhadap substrat lumpur dan kondisi tergenang serta adaptasi reproduktif.
Adaptasi flora mangrove terhadap kadar garam antara lain sebagai berikut :
1. Sekresi garam (salt extrusion/salt secretion). Flora mangrove menyerap air dengan kadar garam tinggi kemudian mengekskresikan garam dengan kelenjar garam yang terdapat pada daun. Mekanisme ini biasanya dilakukan oleh Avicennia, Sonneratia, Aegiceras, Aegialitis, Acanthus, Laguncularia dan Rhizopora (melalui unsur-unsur gabus pada daun)
2. Mencegah masuknya garam (salt exclusion). Flora mangrove menyerap air tetapi mencegah masuknya garam melalui saringan / ultra filter yang terdapat pada akar. Mekanisme ini dilakukan oleh Rhizopora, Ceriops, Sonneratia, Avicennia, Osbornia, Bruguiera, Excoecaria, Aegiceras, Aegialitis dan Acrostichum
3. Akumulasi garam (salt accumulation). Flora mangrove sering menyimpan natrium dan khlorida pada bagian kulit kayu, akar dan daun yang sudah tua. Daun penyimpan garam umumnya sukulen dan pengguguran daun sukulen ini diperkirakan merupakan mekanisme pengeluaran kelebihan garam yang dapat menghambat pertumbuhan dan pembentukan buah. Mekanisme ini dilakukan oleh Excoecaria, Lumnitzera, Avicennia, Osbornia, Rhizopora, Sonneratia dan Xylocarpus.
Adaptasi flora mangrove terhadap substrat lumpur dan kondisi tergenang antara lain sebagai berikut :
1. Akar pensil (pneumathophores). Akar berbentuk seperti tonggak/pensil yang muncul dari sistem akar kabel dan memanjang secara vertikal ke udara, misalnya pada Avicennia dan Sonneratia
2. Akar lutut (knee root). Akar lutut merupakan modifikasi dari akar kabel yang pada awalnya tumbuh ke arah permukaan kemudian melengkung menuju substrat lagi, misalnya pada Bruguiera
3. Akar tunjang (stilt root). Akar tunjang merupakan akar yang keluar dari batang pohon dan menancap ke dalam substrat, misalnya pada Rhizopora dan Ceriops
4. Akar papan (buttres root). Akar ini mirip dengan banir, melebar menjadi bentuk lempeng, misalnya pada Heritiera
5. Akar gantung (aerial root). Akar gantung merupakan akar yang tidak bercabang yang muncul dari batang atau cabang bagian bawah tetapi biasanya tidak mencapai substrat, misalnya pada Rhizopora, Avicennia dan Acanthus.
Adaptasi flora mangrove terhadap mekanisme reproduksi antara lain sebagai berikut :
1. Pembungaan dan polinasi. Polen yang berukuran kecil dan tidak bertangkai memungkinkan polinasi dengan bantuan angin, serangga dan burung. Polen bertangkai polinasi dibantu dengan serangga tertentu. Bunga Sonneratia mekar pada malam hari sehingga polinasi dibantu oleh serangga yang aktif di malam hari
2. Produksi propagul. Kebanyakan mangrove di daerah sub-tropis menghasilkan propagul masak pada musim panas. Sedang pada daerah tropis mangrove berbunga dan berbuah umumnya pada awal musim kemarau
3. Vivipari dan kriptovivipari. Vivipari adalah biji sudah berkecambah ketika masih diatas pohon dan embrio telah keluar dari pericarp, misalnya pada Rhizopora, Bruguiera, Ceriops dan Kandelia. Sedangkan Kriptovivipari adalah biji sudah berkecambah ketika masih diatas pohon (embrio berkembang di dalam buah) tetapi tidak cukup kuat menembus pericarp
4. Penyebaran propagul dan pembentukannya. Propagul pohon-pohon mangrove biasanya memiliki kemampuan mengapung sehingga dapat beradaptasi dengan penyebaran oleh air. Misal pada Rhizopora, selama proses vivipari buah memanjang dan distribusi beratnya berubah sehingga menjadi lebih berat pada bagian ujung bawah serta akhirnya terlepas. Kemudian propagul ini mengapung di air (atau langsung menancap di substrat ketika air surut), tumbuh dimulai dari akar yang muncul dari ujung propagul dan bertahap akan menjadi individu baru.
E. Fungsi Mangrove
Fungsi mangrove secara umum dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Fungsi Fisik
a. menjaga garis pantai dan tebing sungai dari erosi/abrasi agar tetap stabil
b. mempercepat perluasan lahan
c. mengendalikan intrusi air laut
d. melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan gelombang dan angin kencang
e. menguraikan/mengolah limbah organik
2. Fungsi Biologis/Ekologis
  1. tempat mencari makan (feeding ground), tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) berbagai jenis ikan, udang, kerang dan biota laut lainnya
  2. tempat bersarang berbagai satwa liar, terutama burung
  3. sumber plasma nutfah
3. Fungsi Ekonomis
a. hasil hutan berupa kayu
b. hasil hutan bukan kayu, seperti madu, bahan obat-obatan, minuman, makanan, tanin
c. lahan untuk kegiatan produksi pangan dan tujuan lain (pemukiman, pertambangan, industri, infrastruktur, transportasi, rekreasi)
F. Penutup
1. Mangrove merupakan salah satu tipe hutan dengan karakter yang spesifik dan memiliki beberapa fungsi, antara fungsi fisik, biologis dan ekonomis dimana ketiganya harus bisa berfungsi secara integral dan tidak tersegmentasi
2. Perencanaan pembangunan nasional, utamanya di wilayah pesisir yang memiliki ekosistem mangrove, harus bisa menyeimbangkan antara kebutuhan pembangunan di satu sisi dan upaya penyelamatan kelestarian lingkungan mangrove di sisi yang lain
DAFTAR PUSTAKA
  • Giesen, dkk, - , A Field Guide of Indonesian Mangrove , Bogor : Wetlands International-Indonesian Programme
  • Hachinoe, dkk , 1998 , Manual Persemaian Mangrove – di Bali , Denpasar : PT. Indografika Utama
  • Kitamura, dkk , 1997 , Handbook of Mangrove in Indonesia – Bali & Lombok , - : ISME & JICA
  • Kusmana, dkk , 2003 , Teknik Rehabilitasi Mangrove , Bogor : Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
  • Nirarita, dkk , 1996 , Ekosistem Lahan Basah – Indonesia , Bogor : Wetlands International-Indonesia Programme
  • Taniguchi, dkk , 1999 , Manual Silvikultur Mangrove – Untuk Bali & Lombok , Denpasar : PT. Khrisna Inter Visi Media
  • Tomlinson, 1986 , The Botany of Mangrove , New York : Cambridge University Press

Rehabilitasi Mangrove

Rehabilitasi Mangrove


Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut dan pantai berlumpur. Hutan mangrove banyak ditemui di pantai, teluk yang dangkal, estuaria, delta dan daerah pantai yang terlindung. Ekosistem mangrove di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tertinggi di dunia dengan jumlah total kurang lebih 89 spesies yang terdiri dari 35 spesies tanaman, 9 spesies perdu, 9 spesies liana, 29 spesies epifit dan 2 spesies parasit (Nontji, 1987).
Hutan mangrove di Indonesia sangat banyak dan hampir di setiap kawasan pesisir ataupun daerah estuaria terdapat mangrove. Hutan mangrove merupakan jenis atau tipe hutan yang masih dipengaruhi oleh pasang surut karena pada saat pasang akan tergenang dan pada saat surut akan bebas dari genangan.
Hutan mangrove  membawa dampak yang baik bagi daerah estuaria maupun bagi manusia yang bermukim di sekitar pesisir. Manfaat dari hutan mangrove adalah melindungi pantai dari abrasi, sebagai tempat mencari makan dan berlindung bagi organisme laut maupun darat. Adapun manfaat hutan mangrove bagi manusia adalah sebagai bahan baku untuk bahan bakar, sebagai bahan makanan alternatif, dan sebagainya
Namun seiring berkembangnya zaman dan banyaknya orang yang bermukim di daerah pesisir maka sebagian orang memanfaatkan lahan mangrove sebagai lahan pemukiman dengan cara menebang hutan mangrove dan juga mereka mengekploitasi secara besar-besaran sehingga hutan mangrove semakin berkurang. Oleh karena itu perlu diadakan upaya perbaikan dan pemulihan sehingga mangrove yang ada sekarang tidak semakin berkurang demi masa depan generasi selanjutnya. Pengenalan rehabilitasi mangrove akan memberi motivasi masyarakat dalam menghijaukan kembali pesisir dan pantai.
Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No.03/MENHUT-V/2004 rehabilitasi hutan mangrove adalah upaya mengembalikan fungsi hutan mangrove yang mengalami degradasi, kepada kondisi yang dianggap baik dan mampu mengemban fungsi ekologis dan ekonomis.
Dalam kerangka pengelolaan dan pelestarian mangrove, terdapat dua konsep utama yang dapat diterapkan. Kedua konsep ini pada dasarnya memberikan legitimasi dan pengertian bahwa mangrove sangat memerlukan pengelolaan dan perlindungan agar dapat tetap lestari. Kedua konsep tersebut adalah perlindungan hutan mangrove dan rehabilitasi hutan mangrove.
Kegiatan penghijauan yang dilakukan terhadap utan-hutan yang telah gundul, merupakan salah satu upaya rehabilitasi yang bertujuan bukan saja untuk mengembalikan nilai estetika, namun yang paling utama adalah untuk mengembalikan fungsi ekologis kawasan hutan mangrove tersebut. Kegiatan seperti ini menjadi salah satu andalan kegiatan rehabilitasi di beberapa kawasan hutan mangrove yang telah ditebas dan dialihkan fungsinya kepada kegiatan lain. Kegiatan rehabilitasi hutan mangrove sendiri telah dirintis sejak tahun 1960 di kawasan pantai utara Pulau Jawa.
Sekitar 20.000 ha hutan mangrove yang rusak di pantai utara Pulau Jawa dilaporkan telah berhasil direhabilitasi dengan menggunakan tanaman utama Rhizophora spp dan Avicennia spp dengan persentumbuh hasil penanaman berkisar antara 60-70%.
Fungsi dan Peranan Rehabilitasi Mangrove
Rehabilitasi hutan mangrove dilaksanakan untuk memulihkan dan meningkatkan fungsi lindung, fungsi pelestarian dan fungsi produksi (Kementrian Lingkungan Hidup, 1994).
Program rehabilitasi dan konservasi dimaksudkan untuk memulihkan atau memperbaiki kualitas tegakan yang sudah rusak serta mempertahankannya. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga fungsi hutan baik sebagai penghasil kayu, penjaga intrusi air laut, abrasi, serta sebagai penyangga kehidupan tetap terjaga (Aqsa, 2010).
Rehabilitasi hutan mangrove merupakan bagian dari sistem pengelolaan hutan mangrove yang merupakan bagian integral dari pengelolaan kawasan pesisir secara terpadu yang ditempatkan pada kerangka Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai unit manajemen. Penyelenggaraan rehabilitasi hutan mangrove yang dimaksud ditujukan untuk memulihkan sumberdaya hutan yang rusak sehingga berfungsi optimal dalam memberikan manfaat kepada seluruh pihak yang berkepentingan, menjamin keseimbangan lingkungan dan tata air Daerah Aliran Sungai (DAS) dan kawasan pesisir, mendukung kelangsungan industri berbasis sumberdaya mangrove. Tujuan tersebut dapat dicapai jika penanganan kawasan dilakukan secara tepat, adanya kelembagaan yang kuat, dan teknologi rehabilitasi yang tepat guna berorientasi pada pemanfaatan yang jelas (DKP, 2010).
Lokasi penanaman mangrove dapat dilakukan di kawasan hutan lindung, hutan produksi, kawasan budidaya, dan di luar kawasan hutan pada daerah :
  1. Pantai, dengan lebar sebesar 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan yang diukur dari garis air surut terendah ke arah darat.
  2. Tepian sungai, selebar 50 m ke arah kiri dan kanan tepian sungai yang masih terpengaruh air laut.
  3. Tanggul, pelataran dan pinggiran saluran air ke tambak.
Pemilihan jenis mangrove juga harus disesuaikan dengan lahan yang akan direhabilitasi. Beberapa jenis mangrove yang cocok untuk kondisi lahan tertentu menurut Bengen (2006) adalah sebagai berikut :
  1. Bakau (Rhizophora spp.) dapat tumbuh dengan baik pada substrat (tanah) yang berlumpur, dan dapat mentoleransi tanah lumpur-berpasir, dipantai yang agak berombak dengan frekuensi genangan 20-40 kali/bulan. Bakau merah (Rhizophora stylosa) dapat ditanam pada substrat pasir berkoral.
  2. Api-api (Avicennia spp.) lebih cocok ditanam pada substrat pasir berlumpur terutama di bagian terdepan pantai, dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan.
  3. Bogem/Prapat (Sonneratia spp.) dapat tumbuh baik dilolasi bersubstrat lumpur atau lumpur berpasir dari pinggir pantai ke arah darat, dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan.
  4. Tancang (Bruguiera gymnorrhiza) dapat tumbuh dengan baik pada substrat yang lebih keras yang terletak ke arah darat dari garis pantai dengan frekuensi genangan 30-40 kali/bulan.
Menurut Bengen (2006) dalam proses pembibitan bibit mangrove diusahakan berasal dari lokasi setempat atau lokasi terdekat, disesuaikan dengan kondisi tanahnya. Persemaian dilakukan dilakukan di lokasi tanam untuk penyesuaian dengan lingkungan setempat.
Menurut Bengen (2006), untuk mengatasi hama pada tanaman mangrove sebaiknya dilakukan beberapa cara sebagai berikut :
  • Buah Rhizophora spp. atau Bruguiera spp. yang akan digunakan sebagai bibit, dipilih yang telah cukup matang. Tanda-tanda kematangan buah ditunjukkan oleh keluarnya buah dari tangakai.
  • Buah kemudian disimpan ditempat yang teduh, ditutupi dengan karung goni yang setengah basah selama 5-7 hari. Penyimpanan ini dimaksudkan untuk menghilangkan bau/aroma buah segar yang dimiliki buah mangrove yang sangat disenangi oleh serangga.
Setelah itu buah mangrove siap untuk disemai pada kantong plastik/botol air mineral bekas atau ditanam langsung ke lokasi tanam.
Penanaman mangrove dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan menanam langsung buahnya atau melalui persemaian bibit. Penanaman langsung tingkat keberhasilan tumbuhnya rendah (sekitar 20-30%), sedangkan penanaman dengan melalui persemaian bibit tingkat keberhasilan tumbuhnya relatif tinggi (sekitar 60-80%). Untuk memperoleh bibit mangrove yang baik, pengumpulan buah (propagule) dapat dilakukan antara bulan September sampai dengan bulan Maret, dengan karak teristik sebagai berikut :
Bakau/Bakau-bakau (Rhizophora spp.)
  • Buah sebaiknya dipilih dari pohon mangrove yang berusia di atas 10 tahun.
  • Buah yang baik dicirikan oleh hampir lepasnya bongkol dari batang buah.
  • Buah yang sudah matang dari Bakau Besar (R. mucronata) dicirikan oleh warna buah hijau tua atau kecoklatan dengan kotiledon (cincin) yang berwarna kuning; buah Bakau Kecil (R. apiculata) matang ditandai dengan warna buah hijau kecoklatan dan warna kotiledon merah.
Tancang (Bruguiera spp.)
  • Buah dipilih dari pohon yang berumur antara 5-10 tahun.
  • Buahnya dipilih yang sudah matang, dicirikan oleh hampir lepasnya bongkol buah dari batangnya.
Api-api (Avicennia spp.), Bogem (Sonneratia spp), dan Nyirih (Xilocarpus granatum)
  • Buah sebaiknya diambil yang sudah matang, dicirikan oleh warna kecoklatan, agak keras dan bebas dari hama penggerek.
  • Buah lebih baik diambil yang sudah jatuh dari pohon.
Buah disemaikan langsung ke kantong-kantong plastik atau ke dalam botol air mineral bekas yang yang sudah berisi media tanah. Sebelum diisi tanah, bagian bawah kantong plastik atau botol air mineral bekas diberi lubang agar air yang berlebihan dapat keluar. Khusus untuk buah bakau (Rhizophora spp.) dan Tancang (Bruguiera spp.) sebelum disemaikan sebaiknya disimpan dulu di tempat yang teduh dan ditutupi dengan karung basah selama 5-7 hari. Ini bermanfaat untuk menghindari batang bibit dimakan oleh serangga atau ketan pada saat ditanam nanti (Bengen, 2006).
Persemaian bibit mangrove menurut Bengen (2006) dilakukan pada lahan yang lapang dan datar, dekat dengan lokasi tanam. Terendam dengan air pasang, dengan frekuensi lebih kurang 20-40 kali/bulan, sehingga tidak memerlukan penyiraman
Pembuatan bedeng persemian
  1. Ukuran disesuaikan dengan kebutuhan, umumnya berukuran 1x5 m atau 1x10 m dengan tinggi 1 m
  2. Bedeng diberi naungan ringan dari daun nipah atau sejenis.
  3. Media bedengan berasal dari tanah lumpur sekitarnya.
  4. Bedeng berukuran 1x5 m dapat menampung bibit dalam kantong plastik (10x50 cm) atau dalam botol air mineral bekas (500 ml) sebanyak 1200 unit, atau sebanyak 2250 unit untuk bedeng berukuran 1x10 m.
Cara pembibitan mangrove adalah dengan cara buah disemaikan langsung ke kantong-kantong plastik atau ke dalam botol air mineral bekas yang sudah berisi media tanah. Sebelum diisi tanah, bagian bawah kantong plastik atau botol air mineral bekas diberi lubang agar air yang berlebihan dapat keluar. Khusus untuk buah Bakau (Rizophora spp.) dan Tancang (Bruguiera spp.) sebelum disemaikan sebaiknya disimpan dulu di tempat yang teduh dan ditutupi karung basah selam 5-7 hari. Daun muncul setelah 20 hari, setelah berumur 2-3 bulan bibit sudah bisa ditanam di lokasi.
Menurut Bengen (2006) penanaman mangrove dapat dilakukan melalui dua sistem, yaitu : (1) sistem banjar harian, dan (2) sistem tumpang sari, atau lebih dikenal dengan sistem wanamina (silvofishery).
(1) Sistem banjar harian
a. Menggunakan benih
  • Didekat ajir, buat lubang tanam pada saat air surut, dengan kedalaman lubang disesuaikan dengan benih yang akan ditanam. Penanaman benih sebaiknya dilakukan sedalam kurang lebih sepertiga dari panjang benih.
  • Benih ditanam secara tegak, dengan bakal kecambah menghadap ke atas.
b. Menggunakan bibit
  • Buat lubang didekat ajir pada saat air surut, dengan ukuran lebih besar dari ukuran kantong plastik atau botol air mineral bekas.
  • Bibit ditanam secara tegak ke dalam lubang yang telah di buat, dengan melepaskan bibit dari kantong plastik atau botol air mineral secara hati-hati agar tidak merusak akarnya.
  • Sela-sela lubang disekeliling bibit ditimbun dengan tanah sebatas leher akar
c. Jarak tanam tergantung pada tujuan penanaman mangrove, bila untuk perlindungan pantai bibit ditanam ada jarak 1x1 m, tetapi bil untuk produksi digunakan jarak 2x2 m.
d. Jenis tanaman mangrove yang ditanam disesuaikan dengan zonasi ataupun tujuan dari penanaman mangrove di lokasi tersebut. Bila untuk penahan abrasi gunakann jenis bakau (Rhizophora spp.), namun bila untuk penghjauan saja cukup ditanam jenis api-api (Avicennia spp.)
(2) Sistem wanamina (Silvofishery)
Pada prinsipnya penanaman benih atau bibit mangrove dengan sistem wanamina sama seperti pada sistem banjar harian. Perbedaannya adalah pada penanaman mangrove dengan sistem wanamina dibuatkan tambak/kolam dan saluran air untuk membudidayakan sumber daya ikan (ikan, udang, dsb), sehingga terdapat perpaduan antara tanaman mangrove (wana) dan budidaya sumberdaya ikan (mina).
Secara umum terdapat tiga pola dalam sistem wanamina (Menurut Bengen, 2006), , yaitu;
  • Wanamina dengan pola empang parit, pada pola empang parit lahan untuk hutan mangrove dengan empang masih menjadi satu hamparan yang diatur oleh satu pintu air.
  • Wamina dengan pola empang parit yang disenpurnakan. Lahan untuk hutan mangrove dan empang diatur oleh saluran air yang terpisah.
  • Wamina dengan pola komplangan. Lahan untuk hutan mangrove dan hutan mangrove terpisah dalam dua hamparan ynag diatur oleh saluran air dengan dua pintu yang terpisah untuk hutan mangrove dan empang.
Langkah-langkah pemeliharaan mangrove menurut Bengen (2006) adalah sebagai berikut :
Penyiangan dan Penyulaman
Tiga bulan setelah penanaman dilaksanakan pemeriksaan lapangan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan tanaman. Apabila ada tanaman yang mati, harus segera dilaksanakan penyulaman dengan tanaman yang baru.
Pada lokasi penanaman yang agak tinggi atau frekuensi genangan air pasang kurang, perlu mendapat perhatian lebih intensif dalam pemeliharaannya. Hal ini disebabkan pad alokasi tersebut cepat ditumbuhi kembali oleh sejenis pakisan atau Piyai (Acrosthicum aureumi). Jadi apabila kelihatan tumbuhan Piyai mengganggu tumbuhan anakan, perlu segera dilakukan penebasan kembali. Kegiatan penyiangan dan penyulaman ini dilakukan samapai tanaman berumur lima tahun.
Penjarangan
Kegiatan penjarangan diperlukan untuk memberi ruang tumbuh yang ideal bagi tanaman, yaitu agar pertumbuhan tanaman dapat meningkat dan pohon-pohon yang tumbuh sehat dan baik. Hasil penjarangan ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku arang, industri kertas, kayu bakar, bahkan untuk makanan kambing.
Perlindungan tanaman
Mangrove dalam pertumbuhannya mempunyai masa-masa kritis. Oleh karena itu perlindungan tanaman mangrove dari hama yang merusak, mulai dari pembibitan hingga mencapai anakan, perlu dilakukan agar pertumbuhannya dapat berlangsung dengan baik.
Sejak usia pertumbuhan satu tahun, batang mangrove sangat disukai oleh serangga atau ketam/kepiting. Menurut pengalaman 60-70% mangrove akan mati sebelum berusia satu tahun karena digerogoti oleh seranggga atau ketam/kepiting.
Hama lain yang sering menyerang tanaman mangrove pada usia muda adalah kutu lompat (mealy bug). Serangan pleh hama ini dicirikan oleh warna daun tanaman menjadi kuning, kemudian rontok dan tanaman mati. Bila serangan hama ini terjadi sebaiknya tanaman yang terserang dimusnahkan saja agar menghambat penyebarannya pada tanaman lain.
Sumber Rujukan:
  • Aqsa, Muhammad . 2010.Rehabilitasi Dan Konservasi Mangrove Dalam Menunjang Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Selat Tiworo Http://Mimpi22.Wordpress.Com/2010/10/12/Rehabilitasi-Dan-Konservasi-Mangrove-Dalam-Menunjang-Kawasan-Konservasi-Laut-Daerah-Kkld-Selat-Tiworo/ [Diakses tanggal 12 Oktober 2010]
  • Bengen, Dietriech G. 2006. Pedoman Teknis PENGENALAN DAN PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE. PKSPL-IPB (Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut Institut Pertanian Bogor). Bogor
  • DKP, 2010. Rehabilitasi Di Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil http://diskanlut-jateng.go.id/index.php/read/news/detail/62 [Diakses tanggal 12 Oktober 2010]
  • Kementrian Lingkungan Hidup.1994.Pengelolaan Ekosistem Pesisir Dan Lautan (Jalur Hijau Pantai). http://www.menlh.go.id/i/PAPER/HUTAN_MANGROVE. PDF [Diakses tanggal 12 Oktober 2010]
  • Kesemat. 2008. Tahapan Rehabilitasi Mangrove. http://kesemat.blogspot.com/2008/03/tahapanrehabilitasimangrove.html [Diakses tanggal 1 November 2010]
  • Peraturan Menteri Kehutanan No.03/MENHUT-V/2004. Pedoman Pembuatan Tanaman Rehabilitasi Mangrove Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan.

vegetasi hutan mangrove

Mangrove merupakan kombinasi antara kata Mangue (bahasa Portugis) yang berarti tumbuhan dan Grove (bahasa Ingris) yang berarti belukar (Arief, 2003), selanjutnya menurut Mastaller (dalam Noor, 2006) bahwa “Kata mangrove berasal dari bahasa Melayu kuno yaitu  mangi-mangi yang digunakan untuk menerangkan marga Avecennia”.
Berdasarkan SK Dirjen Kehutanan No.60/Kpts/Dj./1/1978 (dalam Arief, 2003) bahwa “Mangrove dikatakan sebagai hutan yang terdapat disepanjang pantai dan muara sungai yang masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut, yakni tergenang pada saat pasang dan bebas genangan pada saat surut”. Selanjutnya menurut Kitamura (2003) menyatakan bahwa “Mangrove merupakan tumbuhan tropis dan komunitasnya di daerah pasang surut”. Daearah pasang surut merupakan daerah yang mendapat pengaruh pasang surut dan terletak disepanjang garis pantai, termasuk tepi laut, muara sungai dan teri sungai. 
Berdasarkan uraian tersebut, hutan mangrove dapat dikatakan sebagai  vegetasi pantai tropis dan sub-tropis yang didominasi oleh beberapa spesies mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut, lumpur dan berpasir. Namun demikian tidak semua pantai ditumbuhi mangrove, karena untuk pertumbuhannya memiliki persyaratan, antara lain adalah kondisi pantainya terlindung dan relatif tenang, landai dan mendapat sedimen dari muara sungai.
Wilayah pesisir adalah daerah pertemuan antara darat dan laut dimana bagian daratnya masih dipengaruhi oleh sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan perembesan air asin, sedangkan air lautnya masih dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi aliran air tawar dan semua kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan, pencemaran dan sebagainya.
Hutan mangrove sering kali disebut hutan bakau. Bakau sebenarnya hanya salah satu spesies tumbuhan yang menyusun hutan mangrove, yaitu spesies Rhizophora sp yang merupakan spesies yang mendominasi hutan mangrove. Meskipun demikian penggunaan istilah hutan bakau untuk menggambarkan hutan mangrove kurang tepat karena dalam kawasan hutan mangrove terdapat beberapa spesies yang berasosiasi di dalamnya.
              Terdapat beberapa spesies mangrove yang menyusun vegetasi mangrove termasuk dalam genus Rhizophora, Sonneratia, Xylocarpus, Avicennia dan dari suku palma seperti Nypa fructicans (Arief, 2003). Berikut ini beberapa ciri morfologi dari setiap spesies tumbuhan mangrove dengan melihat karakteristik morfologi akar, daun, bunga dan buah yaitu:
1.      Rhizophora mucronata Lamk
        Bakau/Bakau Besar (Black Mangrove). Merupakan salah satu spesies mangrove yang banyak digunakan masyarakat untuk mengambil kayunya sebagai bahan keperluan rumah tangga. Untuk daerah Gorontalo lebih mengenal spesies tumbuhan ini dengan nama Wuwaata Hutihu.
        Bakau merupakan spesies mangrove yang umum dijumpai karena penyebaranya yang luas. Spesies ini dapat tumbuh mencapai 25 meter dan berakar tunjang. Bentuk daunnya lebar dengan panjang mencapai 15-20 cm, berwarna hijau kekuningan, terdapat bercak hitam kecil yang menyebar pada permukaan bawah daun.
        Bunga berwarna putih dengan rangkaian bunga 4-8 kelopak bunga yang terletak diketiak daun dan berukuran kecil. Buahnya berbentuk memanjang dengan ukuran mencapai 50-70 cm dan meruncing pada bagian ujungnya. Kulit batang berwarna coklat sampai abu-abu gelap dengan permukaan yang kasar. Akar berbentuk tongkat yang keluar dari batang dan memiliki lentisel untuk pernapasan (Noor, 2006).
2.      Rhizophora apiculata Blume
        Bakau (Tall Stilted Mangrove), daerah Gorontalo mengenal spesies tanaman ini dengan istilah Wuwaata Boyuhu. Spesies ini dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 15 m pada habitat yang baik dengan sistim perakaran berupa akar tunjang.
        Daun sebelah atas berwarna hijau sampai kuning kehijauan, bagian bawahnya hijau kekuningan dan memiliki bintik-bintik hitam kecil yang menyebar diseluruh permukaan bawah daun. Panjang daun antara 9-18 cm dan berbentuk elips. Bunganya selalu kembar dengan panjang kelopak antara 12-14 mm, lebarnya antara 9-10 mm, berwarna orens kekuningan. Panjang buahnya berkisar antara 20-25 cm berdiameter 1,3-1,7 cm, buah berwarna hijau sampai kecoklatan dan kulit buah kasar (Kitamura, 2003).
3.      Sonneratia alba J.E.Smith./S. Caseolaris (L.) Eng
        Pedada/Bogem (Mangrove Apple). Spesies tanaman ini dalam bahasa daerah Gorontalo dikenal dengan istilah Tamentao. Tumbuhan mangrove spesies ini yang paling banyak dijumpai adalah Sonneratia alba. Spesies ini biasanya tumbuh bersama dengan Sonneratia caseolaris, sehingga sulit untuk membedakan kedua spesies ini. Salah satu cara yang sering dilakukan adalah dengan melihat bunganya. Spesies Sonneratia alba dan Sonneratia caseolaris dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 16 meter. Sonneratia caseolaris memiliki akar napas dengan kulit kayu halus dan Sonneratia alba berakar banir dan akar papan dengan kulit kayu halus dan berwarna coklat.
        Susunan daun tunggal bersilang dengan bentuk daun bulat telur sungsang untuk spesies Sonneratia alba dan panjang 10-15 cm sedangkan spesies Sonneratia caseolaris bentuk daunnya jorong dan pajang 4-8 cm.
        Bungan spesies  Sonneratia alba berwarna putih sedangkan Sonneratia caseolaris berwarna merah. Buahnya agak besar dengan lebar 4 cm dan berwarna hijau dengan bentuk seperti bintang dan keras. Kulit batang halus,   berwarna krem sampai coklat dan nampak agak retak-retak dengan berbentuk akar napas, berbentuk kerucut (Kitamura, 2003).
4.      Avicennia marina (Forssk) Vierh
        Api-api (Grey mangrove), dalam bahasa Gorontalo dikenal dengan nama yapi-yapi putih. Spesies mangrove ini umumnya hidup pada sustrat berpasir atau berlumpur tipis. Bertoleransi baik pada salinitas tinggi (salinitas laut), tinggi pohon dapat mencapai 12 meter dengan bentuk akar berupa akar napas.
        Daun bersusun tunggal dan bersilang, bentuk elips dengan ujung daun runcing hingga membulat. Daun pada sisi sebelah atas berwarna hijau sedangkan sisi sebelah bawah berwarna abu-abu keperakan atau putih. Panjang daun berkisar antara 5-11 cm.
        Rangkai bunga 8-11 yang terletak diketiak daun pada pucuk. Bunganya biasanya berwarna kuning hingga orens dengan diameter antara 0,4-0,5 cm. Bentuk buah membulat dengan permukaan halus. Panjang buah 1,5-2,5 cm dan berwarna hijau hingga kuning. Kulit batang halus, berwarna keabu-abuan hingga hijau, (Kitamura, 2003).
5.      Bruguiera gymnorrhiza (L) Lamk.
        Tancang (Large-Leafed Orange Mangrove) dalam bahasa daerah Gorontalo dikenal dengan nama Songge. Pada kondisi yang baik spesies mangrove ini dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 20-31 meter dengan bentuk akar berupa akar lutut dan banir kecil berasal dari bentukan seperti akar tunjang.
        Daun memiliki panjang antara 8-15 cm, dan lebarnya antara 5-8 cm, daun biasanya berbentuk elips, mengumpul pada ujung tangkai batang, denga warna daun bagian atas hijau kekuningan dengan ujung daun runcing.
        Bunga pada umumnya berwarna merah dan menempel pada buahnya ketika jatuh. Buahnya berwarna hijau dan berbentuk memanjang ramping, dengan panjang berkisar antara 20-31 cm. Kulit kayu berwarna abu-abu tua sampai coklat dengan permukaan kasar, (Noor, 2006).
6.      Crips decandra (Griff) Ding Hou
        Tinggi (Yellow Mangrove), dalam bahasa daerah Gorontalo dikenal dengan nama Molingkapoto. Spesies mangrove ini apabila berada pada habitat yang cocok/baik dapat tumbuh hingga mencapai ketinggian 3-15 meter dengan bentuk akar berupa akar banir yang berasal dari akar tunjang.
        Bentuk daun bulat telur sungsang dengan panjang 3-6 cm. Daun berwarna hijau mengkilap dengan ujung daun membundar dan letak berlawanan. Bunga berwarna putih hingga coklat berdiametet 0,8-1,2 cm, dengan sepasang benang sari yang terlindung oleh daun bunga. Buah biasanya berwarna hijau hingga hijau kecoklatan dengan bentuk memanjang berdiameter 0,8-0,12 cm dan panjang buah mencapai 15 cm. Kulit kayu berwarna coklat dengan permukaan halus, (Noor, 2006).
7.      Xylocarpus granatum Koen
              Nyirih/siri (Cedar mangrove), dalam bahasa gorontalo tumbuhan ini dikenal dengan nama Antai. Spesies ini dapat tumbuh mencapai lebih dari 8-20 meter dengan bentuk akar berupa akar papan. Daunnya berwarna hijau gelap, bentuk daun elips sampai bulat sungsang (Noor, 2006).
              Susunan daun berpasangan, letak berlawanan dengan ujung membulat. Bunga mempunyai ukuran yang kecil dan berwarna putih susu hingga putih kehijauan. Buah berbentuk bulat dengan diameter berkisar antara 15-20 cm, berwarna coklat kekuningan. Kulit batang agak licin dan berwarna merah kecoklatan dengan permukaan halus (Kitamura, 2003).
              Sebagai ekosistem pantai, hutan mangrove merupakan suatu kawasan yang rumit karena terkait dengan ekosistem darat dan ekosistem pantai di luarnya  sehingga hutan mangrove dapat dikatakan sebagai interface ecosistem, yang menghubungkan daratan ke arah pedalaman serta dalam pesisir muara (Nybakken dalam Arief, 2003).
Banyak spesies hewan dan jasad renik yang berasosiasi dengan hutan mangrove baik yang terdapat pada lantai hutan maupun yang menempel pada tanaman. Keberadaan spesies hewan dan jasad renik pada ekosistem mangrove yang akan menimbulkan terjadinya proses pertukaran dan asimilasi energi namun hal ini dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Hutan mangrove merupakan sumber  bahan organik yang dibutuhkan bagi hewan atau biota yang hidup di ekosistem mangrove. Kawasan mangrove secara nyata menjadi penyedia bahan makanan dan energi bagi kehidupan di pantai tropis, serupa dengan peranan fitoplankton dan berbagai spesies alga di laut (Fortes dalam Arief, 2003).
Hutan mangrove dapat berfungsi secara fisika, kimia, biologi dan ekonomi serta dapat berfungsi sebagai kawasan wisata dan tempat penelitian, pendidikan dan konservasi (Noor, 2006). Fungsi ekonomi dari hutan mangrove adalah kayunya dapat dijadikan sebagai bahan bangunan, bahan bakar, penambakan ikan dan udang. Kulit dijadikan sebagai bahan penyamak, obat-obatan dan sebagai bahan makanan.
Fungsi biologi hutan mangrove sebagai habitat dari berbagai macam kepiting, udang,  ikan, selain itu sebagai tempat bersarangnya burung-burung serta sebagai pemasok bahan organik, sehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yang hidup pada perairan sekitarnya (Man dalam Noor, 2006). Fungsi fisik hutan mangrove yaitu sebagai pelindung pantai dan wilayah pesisir dari hempasan gelombang, angin dan badai, sedangkan fungsi hutan mangrove dalam bidang industri, yaitu sebagai penghasil arang berkualitas tinggi disamping sebagai penghasil kayu bakar dan bahan penyamak kulit (Pramudji, 2003).
2.2  Struktur Vegetasi Mangrove
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa spesies yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu sistem yang hidup serta dinamis (Marsono dalam Irwanto, 2007).
Vegetasi, tanah dan iklim berhubungan erat dan pada tiap-tiap tempat mempunyai keseimbangan yang spesifik. Vegetasi di suatu tempat akan berbeda dengan vegetasi di tempat lain karena berbeda pula faktor lingkungannya. Vegetasi hutan merupakan suatu sistem yang selalu berkembang sesuai dengan keadaan habitatnya.
Vegetasi mangrove secara spesifik memperlihatkan adanya pola zonasi. Hal tersebut berkaitan erat dengan tipe tanah (lumpur, pasir, atau gambut), keterbukaan (terhadap hempasan gelombang), salinitas serta pengaruh pasang surut air laut (Champman, Bunt dan Williams dalam Noor 2006).
Hutan mangrove terdiri atas berbagai spesies vegetasi. Beberapa spesies mangrove yang dikenal antara lain Tanang Waduk (Rhizophora apicalata BL.) atau bakau putih atau bakau gede, Tanjang Lanang (Rhizophora   mucronata LMK).
Istilah tanjang sebutan khusus untuk Brugiera yang digolongkan dalam famili yang sama dengan Rhizophoraceae, namun dalam lingkungan masyarakat pesisir terjadi salah pengertian karena bercampur dengan istilah daerah atau bahasa daerah. Famili Rhizophoraceae terdiri atas berbagai spesies, yaitu Bruguiera gymnorrhiza (L.), Bruguiera parviflora (L.), Bruguiera sexangula (Lour), Bruguiera hainesii, Bruguiera exsaristata Ding Hou, Ceriops decandra (Griff) Ding Hou dan Ceriop  tagal (Perr.) CB. Robin, (Arief, 2003).
Beberapa spesies yang masih satu famili, khususnya spesies Rhizophora spp., berbeda dalam hal pertumbuhan akar. Rhizophora mucronata dan Rhizophora apiculata tumbuh tegak, sedangkan Rhizophora stylosa perakaran memanjang, rebah dan sedikit menjangkar. Buah Rhizophora apiculata agak pendek dan lurus, yang hampir sama dengan spesies Rhizophora stylosa hanya buah Rhizophora stylosa kurus dan kecil.
            Spesies vegetasi lain adalah dari famili Sonneratiaceae dan dari famili Verbenaceae, yakni Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris,  Sonneratia ovata, Avicenia alba, Avicenia marina, dan Avicenia officinali L.
Vegetasi hutan mangrove tumbuh di muara sungai, daerah pasang surut air laut yang banyak mengandung lumpur dan pasir. Vegetasi ini mampu hidup dalam genangan air laut dan tanah yang berawa dan mengandung sedikit oksigen. Oleh karena itu vegetasi mangrove dapat menyesuaikan diri dengan genangan air laut dan lumpur dengan cara sebagai berikut :
a.       Untuk mencegah kelebihan kadar garam maka vegetasi mangrove dapat membentuk pori-pori khusus pada daun, batang dan akarnya, sehingga dapat mengeluarkan partikel garam pada saat surut.
b.      Dengan membentuk akar napas vegetasi mangrove dapat bernapas dalam lumpur.
c.       Akar-akar yang menegakan dan menopang tumbuhan pada habitat lumpur.
d.      Mempunyai cara berkecambah yang khas yaitu kecambah terbentuk sewaktu buah masak masih tergantung didahan atau pohon, kemudian jatuh dan tertancap di lumpur secara tegakan lurus pada waktu surut dan dapat terbawa oleh arus laut keberbagai lokasi yang cocok untuk berkecambah pada waktu air pasang.
Kemampuan adaptasi mangrove terhadap lingkungan menunjukan adanya perbedaan vegetasi. Noor (2006) membagi vegetasi mangrove dalam empat zona yakni:
a.       Mangrove terbuka
Mangve ini berada pada bagian yang berhadapan dengan laut. Pada zona ini didominasi oleh Sonnertatia alba, Avecennia marina dan Rhizophora yang merupakan spesies yang mendominansi daerah lumpur bercampur pasir.
b.      Mangrove tengah
Mangrove dibagian ini terletak di belakang mangrove zona terbuka. Dizona ini didominasi oleh spesies Rhizophora.  Namun Samingan menemukan spesies-spesies yang lain Di Karang Agung adalah B.erioptela, B.gymnorrhiza, excoeceria aggalocha, R. Mucronata, Xylocarpus granatum, dan X. mollucensis.
c.       Mangrove payau
Mangrove ini berada disepanjang aliran sungai yang berair payau dan hampir tawar. Di zona ini didominasi oleh spesies Nypa atau Sonneratia.
d.      Mangrove daratan
Mangrove ini berada dizona perairan payau atau hampir tawar dibelakang mangrove hijau yang sebenarnya. Spesies-spesies yang mendominasi zona ini adalah Ficus microcapus, Intsia bijuga, N. fritucans. Lumnitzera racemosa, Pandanus sp., dan Xylocarpus molucensis.
Struktur suatu vegetasi terdiri dari individu-individu yang membentuk tegakan di dalam suatu ruang (Danserau dalam Lover, 2009). Struktur vegetasi merupakan dasar yang harus diketahui guna mencapai pengolahan hutan yang lestari. Menurut Kershaw (dalam Onrizal, 2006)  bahwa “Struktur vegetasi merupakan dasar utama kajian ekologi”.
Struktur vegetasi dinyatakan dalam tiga komponen, yaitu  (a) Struktur vegetasi berupa vegetasi secara vertikal yang merupakan lapisan tumbuhan bawah, herba, semak, dan pohon penyusun vegetasi dalam suatu komunitas, (b) Sebaran horisotal spesies-spesies penyusun yang menggambarkan letak dari suatu individu dan (c) Kelimpahan setiap jenis dalam suatu komunitas (Kershaw dalam Onriza, 2006).
Menurut Ewusie (dalam Utami, 2010) bahwa “Vegetasi suatu komunitas dapat diukur secara kualitatif maupun secara kuantitatif”. Selanjutnya menurut Gopal dan Bhardwaj (dalam Indriyanto, 2006) bahwa “Struktur vegetasi tumbuhan memiliki sifat kualitatif  dan kuantitatif”. Ciri kualitatif  yang terpenting pada komunitas antara lain adalah susunan flora dan fauna serta pelapisan berbagai unsur dalam komunitas. Ciri kuantitatifnya meliputi beberapa parameter yang dapat diukur seperti densitas, dominansi dan Frekuensi.
Menurut Indriyanto (2006) bahwa “Parameter kuantitatif yang digunakan untuk analisis vegetasi anatara lain; densitas, frekuensi, luas penutupan,indeks nilai penting, perbandingan nilai penting, indeks dominansi, indeks keanekaragaman, indeks kesamaan, dan homogenitas suatu komunitas”.
Kerapatan/densitas adalah jumlah individu suatu spesies tumbuhan dalam suatu luasan tertentu (Idriyanto, 2006). Kerapatan dari suatu jenis merupakan nilai yang menunjukan jumlah atau banyaknya suatu jenis per satuan luas. Makin besar kerapatan suatu jenis, makin banyak individu jenis tersebut per satuan luas.
Frekuensi suatu jenis menunjukan penyebaran suatu jenis dalam suatu areal. Jenis yang menyebar secara merata mempunyai nilai frekuensi yang besar, sebaliknya jenis-jenis yang mempunyai nilai frekuensi yang kecil mempunyai daerah sebaran yang kurang luas (Fachrul, 2007). Dengan kata lain makin banyak ditemukannya suatu spesies dalam sejumlah petak contoh yang dibuat berarti makin besar frekuensi spesies tersebut, sebaliknya makin kecil ditemukannya suatu spesies dalam sejumlah petak contoh maka semakin kecil frekuensi spesies tersebut.
Dominasi merupakan nilai yang menunjukan peguasaan suatu jenis terhadap komunitas  (Indriyanto, 2006). Dominansi dapat dinyatakan dengan menggunakan luas penutupan tajuk atau luas basal area. Untuk menentukan dominansi spesies-spesies dalam suatu komunitas yang bersifat heterogen, yakni dengan menggunakan rumus Indeks Nilai Penting (INP).  Penggunaan indeks nilai penting dalam menentukan dominansi spesies-spesies dalam suatu komunitas karena kerapatan/densitas, dominansi dan frekuensi tidak dapat digunakan satu demi satu untuk menunjukkan kedudukan relatif spesies dalam suatu komunitas tumbuhan. Menurut Soegianto (dalam Indriyanto, 2006) bahwa “Indeks Nilai Penting (INP) atau Inpontant Value Index merupakan indeks kepentingan yang digunakan untuk menyatakan tingkat dominansi spesies-spesies dalam suatu komunitas tumbuhan”.
Indeks Nilai Penting merupakan penjumlahan dari seluruh nilai Frekuensi Relatif (FR), Kerapatan Relatif (KR) dan Dominansi Relatif (DR) setiap spesies. Menurut Indriyanto (2006) bahwa “ Suatu daerah yang hanya didominasi oleh jenis-jenis tertentu, maka daerah tersebut dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah”. Daerah yang hanya didominansi oleh spesies-spesies tertentu, memiliki pengaruh terhadap tingkat keanekaragaman spesies.
Keanekaragaman jenis menyatakan suatu ukuran yang menggambarkan variasi jenis tumbuhan dari suatu komunitas yang dipengaruhi oleh jumlah jenis dan kelimpahan relatif dari setiap jenis.
Parameter kuantitatif yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan vegetasi tumbuhan, baik dari segi vegetasi maupun tingkat kesamaannya dengan vegetasi lain yakni dengan menghitung indeks keanekaragaman spesies (Soegianto dalam Indriyanto, 2006). Untuk mengetahui keanekaragaman spesies yakni dengan menggunakan rumus Shannon_Wienner (H).
Berdasarkan uraian tersebut, maka parameter yang digunakan untuk analisis struktur vegetasi mangrove di Desa Hutamonu adalah kerapatan/densitas, frekuensi, dominansi, indeks nilai penting dan indeks diversitas.