Daging ikan tersusun oleh zat-zat makanan yang sangat berguna untuk
pertumbuhan dan kehidupan makhluk hidup. Zat-zat makanan tersebut yaitu
protein, lemak, karbohidrat, garam mineral, vitamin, dan air.
Pada umumnya ikan dan hasil perikanan lainnya mengandung protein,
relatif jumlahnya tidak banyak bervariasi tetapi kandungan lemaknya
dapat bervariasi besar sekali. Air merupakan komponen terbanyak di dalam
daging ikan. Apabila dibandingkan dengan hasil-hasil hewani lainnya,
ikan juga merupakan sumber protein yang baik.
Walaupun dikatakan bahwa daging ikan merupakan sumber protein dan
lemak, tetapi komposisinya sangat bervariasi antara yang satu dengan
yang lainnya. Adanya variasi dalam komposisi baik jumlah maupun komponen
penyusunnya disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya.
Faktor-faktor ini dapat berasal dari ikannya sendiri (faktor intrinsik)
tetapi juga dapat berasal dari luar (faktor ekstrinsik) (Hadiwiyoto,
1993).
Winarno (2004) mengatakan bahwa komposisi ikan yang sangat
bervariasi merupakan refleksi dari perbedaan kandungan lemaknya. Ikan
yang mengandung lemak lebih dari 5% biasanya dagingnya lebih banyak
mengandung pigmen (zat warna) kuning, merah muda atau abu-abu. Ikan
dengan kadar lemak rendah biasanya dagingnya berwarna putih. Tingginya
kadar protein sering mencerminkan tingginya kualitas produk pangan
tersebut. Sebaliknya, semakin tinggi kadar lemaknya menjadikan produk
pangan tersebut lebih cepat mengalami ketengikan dan ditolak oleh
konsumen.
1. Air
Menurut Winarno (1997), air merupakan bahan yang sangat penting bagi
kehidupan manusia. Air pada bahan makanan merupakan komponen penting
yang dapat mempengaruhi penampakan, tekstur, serta cita rasa makanan
kita. Semua bahan makanan mengandung air dalam jumlah yang berbeda-beda,
baik itu bahan makanan hewani maupun nabati. Air berperan sebagai
pembawa zat-zat makanan dan sisa-sisa metabolisme, sebagai media reaksi
yang menstabilkan pembentukan biopolymer, dan sebagainya.
Kandungan air dalam bahan makanan mempengaruhi daya tahan bahan
makanan terhadap serangan mikroba yang dinyatakan dengan aw yaitu jumlah
air bebas yang dapat digunakan oleh mikroorganisme untuk
pertumbuhannya. Oleh karena itu, untuk memperpanjang daya tahan suatu
bahan, sebagian air dalam bahan harus dihilangkan dengan beberapa cara
tergantung dari jenis bahan. Umumnya yang dilakukan adalah pengeringan.
2. Abu
Sebagian besar bahan makanan, yaitu terdiri dari sekitar 96% bahan
organik dan air. Sisanya terdiri dari dari unsur-unsur mineral. Unsur
mineral juga dikenal sebagai zat anorganik atau kadar abu. Dalam proses
pembakaran, bahan-bahan organik terbakar tetapi zat anorganiknya tidak,
karena itulah disebut abu.
Sampai sekarang telah diketahui ada empat belas unsur mineral yang
berbeda jenisnya diperlukan manusia agar memiliki kesehatan dan
pertumbuhan yang baik. Beberapa yang pasti adalah natrium, klor,
kalsium, fosfor, magnesium, dan belerang. Unsur-unsur ini terdapat dalam
tubuh dalam jumlah yang besar dan karenanya disebut unsur mineral
makro. Sedangkan unsur mineral mikro atau trace element adalah besi,
iodium, mangan, tembaga, zink, kobalt, dan flour (Winarno, 1997).
Mineral ada yang larut dan ada pula yang tidak larut. Mineral yang
tidak larut berasosiasi dengan protein. Karena mineral terutama
berasosiasi dengan bagian daging non lemak, daging tidak berlemak
biasanya kadungan mineral atau kandungan abunya tinggi. Selama proses
pemasakan, natrium dapat hilang tetapi mineral lain ditahan. Pemrosesan
biasanya tidak mengurangi kandungan mineral daging (de Man, 1997).
3. Protein
Kandungan protein erat sekali kaitannya dengan kandungan lemak dan
airnya. Ikan yang mengandung lemak rendah umumnya memiliki protein dalam
jumlah besar, sedangkan pada ikan gemuk sebaliknya. Kandungan protein
ikan umunya lebih tinggi jika dibandingkan dengan hewan darat yang akan
menghasilkan kalori lebih tinggi dan protein memegang peranan penting
dalam pembentukan jaringan. protein stroma atau protein jaringan ikat
1-3 % pada elasmobranchii (ikan bertulang rawan).
4. Lemak
Lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia. Lemak
dalam pangan berguna untuk memperbaiki rupa dan struktur fisik bahan
pangan, mempercepat proses penghantaran panas, menambah nilai gizi dan
kalori serta memberikan cita rasa yang gurih dari bahan pangan.
Sumber :
Asih, Riri. 2011. Pengolahan Ikan Cucut. Materi Penyuluhan KP. Badan Pengembangan SDM KP. Jakarta
Budidaya Ikan, Penangkapan Ikan, Pengolahan Ikan, Peraturan Hukum Perikanan
Minggu, 19 Maret 2017
Mengenal Prinsip Penanganan Ikan Dengan Suhu Rendah
Ikan segar merupakan produk yang cepat turun kualitasnya. Hal
yang perlu diperhatikan untuk mempertahankan kesegaran antara lain:
Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C. Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak.
Pengawetan ikan dengan suhu rendah merupakan suatu proses pengambilan/pemindahan panas dari tubuh ikan ke tubuh lain. Adapula yang mengatakan, pendinginan adalah proses pengambilan panas dari suatu ruangan yang terbatas untuk menurunkan dan mempertahankan suhu di ruangan tersebut bersama isinya agar selalu lebih rendah daripada suhu di luar ruangan.
Sumber :
Siregar, Resmi Rumenta. 2011. Pengolahan Ikan Kembung. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM KP. Jakarta
- Penangkapan harus dilakukan hati-hati agar ikan tidak luka.
- Sebelum dikemas, ikan harus dicuci agar bersih dan lendir.
- Wadah pengangkut harus bersih dan tertutup.
- Segera setelah ikan ditangkap, langsung diturunkan suhunya.
Kapasitas kotak maksimum 50 kg dengan tinggi kotak maksimum 50 cm. Ikan diletakkan di dalam wadah yang diberi es dengan suhu 6-7 derajat C. Gunakan es berupa potongan kecil-kecil (es curai) dengan perbandingan jumlah es dan ikan=1:1. Dasar kotak dilapisi es setebal 4-5 cm. Kemudian ikan disusun di atas lapisan es ini setebal 5-10 cm, lalu disusul lapisan es lagi dan seterusnya. Antara ikan dengan dinding kotak diberi es, demikian juga antara ikan dengan penutup kotak.
Pengawetan ikan dengan suhu rendah merupakan suatu proses pengambilan/pemindahan panas dari tubuh ikan ke tubuh lain. Adapula yang mengatakan, pendinginan adalah proses pengambilan panas dari suatu ruangan yang terbatas untuk menurunkan dan mempertahankan suhu di ruangan tersebut bersama isinya agar selalu lebih rendah daripada suhu di luar ruangan.
Sumber :
Siregar, Resmi Rumenta. 2011. Pengolahan Ikan Kembung. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM KP. Jakarta
Mengenal Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mutu Ikan Segar
Kali ini kita akan mengenal dan mempelajari faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi mutu kan segar, yaitu :
1. Jenis dan ukuran ikan
Menurut Murniyati dan Sunarman (2000), kecepatan pembusukan berbeda pada tiap jenis karena perbedaan komposisi kimianya. Ikan – ikan yang kecil lebih cepat membusuknya lebih cepat daripada ikan yang lebih besar.
2. Suhu ikan
Menurut Ilyas (1983), suhu air saat ikan ditangkap mempengaruhi kemunduran mutu ikan terutama pada air yang bersuhu tinggi dan ikan berada lebih lama didalam air sebelum diangkat, hal ini yang dapat mempercepat proses kemunduran mutu ikan.
Suhu ikan adalah faktor yang paling besar peranannya adalam menentukan waktu yang diperlukan ikan memasuki, memulai, dan melewati rigor. Semakin rendah suhu penanganan ikan segera setelah ditangkap semakin lambat ikan memasuki tahap rigor dan semakin panjang waktu rigor itu berakhir ( Ilyas, 1983).
3. Cara kematian dan penangkapan
Menurut Moelyanto (1992), ikan yang tidak banyak berontak ketika ditangkap atau sebelum mati, kesegarannya akan lebih tahan lama daripada ikan yang lama berontak.
Ikan yang ditangkap dengan payang, trawl, pole and line dan sebagainya, akan lebih baik keadaannya apabila dibandingkan dengan yang ditangkap melalui giil net, long line dan sebagainya. Ikan yang tertangkap dan mati dibiarkan agak lam terendam di dalam air sehingga keadaannya sudah kurang baik sewaktu dinaikkan keatas dek (Adawyah, 2007).
4. Kondisi biologis ikan
Ikan yang sangat kenyang akan makanan saat ditangkap (disebut “feedy fish”), perut dan dinding perutnya segera diurai oleh enzim isi perut yang mengakibatkan perubahan warna “perut gosong” (belly burn) yang mengarah perut terbusai ( torn bellies atau belly burst) / ikan pelagik, sardin, dan kembung yang perutnya kenyang, dapat mengalami pembusaan perut jauh sebelum tanda – tanda pembusukan mulai terlihat (Ilyas, 1983).
5. Cara penanganan dan penyimpanan
Menurut Adawyah (2007), jika ikan yang dalam keadaan rigor diperlakukan dengan kasar, misalnya ditumpuk terlalu banyak, terlempar, terkena benturan, terinjak, terlipat, dibengkokkan atau diluruskan dan sebagainya, maka pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Pembusukan dapat diperlambat jika ikan disiangi dan disimpan pada suhu yang rendah.
Sumber :
Siregar, Resmi Rumenta. 2011. Pengolahan Ikan Kembung. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM KP. Jakarta
1. Jenis dan ukuran ikan
Menurut Murniyati dan Sunarman (2000), kecepatan pembusukan berbeda pada tiap jenis karena perbedaan komposisi kimianya. Ikan – ikan yang kecil lebih cepat membusuknya lebih cepat daripada ikan yang lebih besar.
2. Suhu ikan
Menurut Ilyas (1983), suhu air saat ikan ditangkap mempengaruhi kemunduran mutu ikan terutama pada air yang bersuhu tinggi dan ikan berada lebih lama didalam air sebelum diangkat, hal ini yang dapat mempercepat proses kemunduran mutu ikan.
Suhu ikan adalah faktor yang paling besar peranannya adalam menentukan waktu yang diperlukan ikan memasuki, memulai, dan melewati rigor. Semakin rendah suhu penanganan ikan segera setelah ditangkap semakin lambat ikan memasuki tahap rigor dan semakin panjang waktu rigor itu berakhir ( Ilyas, 1983).
3. Cara kematian dan penangkapan
Menurut Moelyanto (1992), ikan yang tidak banyak berontak ketika ditangkap atau sebelum mati, kesegarannya akan lebih tahan lama daripada ikan yang lama berontak.
Ikan yang ditangkap dengan payang, trawl, pole and line dan sebagainya, akan lebih baik keadaannya apabila dibandingkan dengan yang ditangkap melalui giil net, long line dan sebagainya. Ikan yang tertangkap dan mati dibiarkan agak lam terendam di dalam air sehingga keadaannya sudah kurang baik sewaktu dinaikkan keatas dek (Adawyah, 2007).
4. Kondisi biologis ikan
Ikan yang sangat kenyang akan makanan saat ditangkap (disebut “feedy fish”), perut dan dinding perutnya segera diurai oleh enzim isi perut yang mengakibatkan perubahan warna “perut gosong” (belly burn) yang mengarah perut terbusai ( torn bellies atau belly burst) / ikan pelagik, sardin, dan kembung yang perutnya kenyang, dapat mengalami pembusaan perut jauh sebelum tanda – tanda pembusukan mulai terlihat (Ilyas, 1983).
5. Cara penanganan dan penyimpanan
Menurut Adawyah (2007), jika ikan yang dalam keadaan rigor diperlakukan dengan kasar, misalnya ditumpuk terlalu banyak, terlempar, terkena benturan, terinjak, terlipat, dibengkokkan atau diluruskan dan sebagainya, maka pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Pembusukan dapat diperlambat jika ikan disiangi dan disimpan pada suhu yang rendah.
Sumber :
Siregar, Resmi Rumenta. 2011. Pengolahan Ikan Kembung. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM KP. Jakarta
Teknik - Teknik Penyimpanan Ikan Di Dalam Palka
Tujuan penyimpanan atau penyimpanan ikan dengan suhu dingin
(1°C sampai -5°C) adalah untuk menghambat kegiatan mikroorganisme dan
proses-proses kimia serta fisik lainnya yang dapat
mempengaruhi/menurunkan kesegaran (mutu) ikan (Ditjen P2HP, 2007).
Prosedur pendinginan dan penyimpanan ikan dalam ruang palka yang menggunakan es sebagai media pendingin dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu bulking, shelving, dan boxing (Junianto, 2003).
a. Bulking
Pada cara bulking, ikan langsung diberi es diruang penyimpanan (palka). Prosedur pengerjaannya dilakukan sebagai berikut :
b. Shelving
Cara shelving hampir sama dengan bulking, yaitu ruang palka sebagai tempat penyimpanan sekaligus dijadikan untuk pengesan ikan. Prosedur dengan cara shelving adalah sebagai berikut :
Pendinginan dan penyimpanan ikan cara boxing sangat berbeda dengan cara bulking maupun shelving. Pada cara boxing, ikan diberi es dalam wadah tersendiri. Prosedur cara boxing adalah sebagai berikut.
Ikan diberi es dalam suatu wadah berbentuk kotak atau tong dengan ukuran yang bervariasi dan memenuhi persyaratan seperti yang diuraikan sebelumnya.Cara pengesan ikan dalam wadah dilakukan sebagai berikut :
Siregar, Resmi Rumenta. 2011. Pengolahan Ikan Kembung. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM KP. Jakarta
Prosedur pendinginan dan penyimpanan ikan dalam ruang palka yang menggunakan es sebagai media pendingin dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu bulking, shelving, dan boxing (Junianto, 2003).
a. Bulking
Pada cara bulking, ikan langsung diberi es diruang penyimpanan (palka). Prosedur pengerjaannya dilakukan sebagai berikut :
- Sekat ruang palka menjadi beberapa bagian sesuai keinginan. Penyekatan ruang yang paling sering dilakukan adalah menjadi 4 bagian. Penyekatan dapat menggunakan papan kayu yang dilapisi plastik, papan aluminium, atau papan dari jenis material lainnya yang tidak mengkontaminasi ikan. Agar menjadi kokoh dan kuat, sekat diberi penyangga sehingga dapat menahan campuran es dan ikan.
- Beri lapisan es pada setiap dasar ruang sekatan dengan tebal minimum 5 cm. Ketebalan lapisan hendaknya disesuaikan dengan keadaan palka dan lama penyimpanan yang diperkirakan.
- Masukan campuran es setebal minimum 5 cm diatas lapisan campuran ikan dan es.
- Tutup lapisan ikan dengan papan plastik atau material lainnya. Jika diatasnya masih terdapat ruang kosong untuk menyimpan ikan maka di atas papan tadi diberi lapisan es. Pengisian berikutnya sama seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
b. Shelving
Cara shelving hampir sama dengan bulking, yaitu ruang palka sebagai tempat penyimpanan sekaligus dijadikan untuk pengesan ikan. Prosedur dengan cara shelving adalah sebagai berikut :
- Sekat ruang palka dengan bentuk penyekatan yang berbeda dibandingkan cara bulking. Penyekatan cara shelving ini dibentuk bersusun atau dalam bentuk rak. Tinggi ruangan antar rak maksimum 23 cm. Sekatan antar ruangan rak terbuat dari papan plastik atau papan kayu yang dilapisi. Papan ini harus mudah dipasang dan dibongkar.
- Beri lapisan es setebal minimum 5 cm di dasar ruangan rak yang paling bawah.
- Masukan ikan yang disusun secara berlapis di atas lapisan es.
- Beri lapisan es di atas papan sekatan rak kemudian masukan ikan dan dilanjutkan dengan lapisan es. Lalu diatasnya ditutup dengan papan. Begitu seterusnya pengisian ruang rak dilakukan seperti urutan di atas.
Pendinginan dan penyimpanan ikan cara boxing sangat berbeda dengan cara bulking maupun shelving. Pada cara boxing, ikan diberi es dalam wadah tersendiri. Prosedur cara boxing adalah sebagai berikut.
Ikan diberi es dalam suatu wadah berbentuk kotak atau tong dengan ukuran yang bervariasi dan memenuhi persyaratan seperti yang diuraikan sebelumnya.Cara pengesan ikan dalam wadah dilakukan sebagai berikut :
- Beri lapisan es dasar wadah.
- Masukan es ke dalam wadah secara berlapis.
- Beri lapisan es lagi diatas lapisan ikan. Demikian seterusnya penyusunan ikan dilakukan sampai wadah terisi penuh. Lapisan paling atas sebelum wadah ditutup adalah lapisan es.
- Angkut wadah-wadah tersebut keruang palka untuk disimpan.
Siregar, Resmi Rumenta. 2011. Pengolahan Ikan Kembung. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM KP. Jakarta
Pendinginan Ikan
Kelebihan pengawetan ikan dengan pendinginan adalah sifat-sifat asli
ikan tidak mengalami perubahan tekstur, rasa, dan bau. Efisiensi
pengawetan dengan pendinginan sangat tergantung pada tingkat kesegaran
ikan sebelum didinginkan. Pendinginan yang dilakukan sebelum rigor
mortis berlalu merupakan cara yang paling efektif jika disertai dengan
teknik yang benar. Sedangkan pendinginan setelah proses autolisis
berlangsung tidak akan banyak membantu. Pendinginan dapat dilakukan
dengan teknik seperti di bawah ini atau dengan pengombinasian :
a. Cara pendinginan ikan dengan es
Suhu rendah sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri “psychrophilic” (bakteri) yang senang pada suhu rendah dan hidup pada suhu 0°C-30°C, dengan suhu optimum 15°C). Jenis bakteri inilah yang bertanggung jawab terhadap pembusukan ikan berlemak sedikit (lean fish). Sebagai contoh, self life ikan-ikan dasar jenis tertentu (cod and haddock)meningkat dua kali lebih lama bila setiap kali diturunkan 10°F pada batas-batas suhu 70°F-30°F (21,1°C-1,1°C).
Cara penanganan pendinginan ikan dengan es sangat beragam tergantung pada tempat ikan, jenis ikan, dan tujuan pendinginan. Pada prinsipnya, es harus dicampurkan dengan ikan sedemikian rupa sehingga permukaan ikan bersinggungan dengan es, maka pendinginan ikan akan berlangsung lebih cepat sehingga pembusukan dapat segera dihambat.
Faktor yang juga penting dalam proses pendinginan ikan adalah kecepatan. Semua pekerjaan harus dilakukan secara cepat agar suhu ikan cepat turun. Es yang digunakan harus berukuran kecil, makin kecil ukuran es maka makin banyak permukaan yang bersinggungan dengan es sehingga proses pendinginan akan berlangsung lebih cepat.
Cara ideal mencampur ikan dengan es yaitu dengan membuat lapisan es pada dasar, kemudian di atasnya selapis ikan, dilanjutkan dengan lapisan es lagi, demikian seterusnya dan tanda derajat pada bagian lapisan atas ditutup dengan es.Fungsi es dalam hal ini adalah :
b. Pendinginan dengan Es Kering
Es kering adalah gas CO2 sebagai hasil sampingan dari pupuk urea, berupa gas yang tidak berwarna, berasa asam, sedikit berbau lunak dan menghasilkan gas panas bertekanan tinggi. Gas panas tersebut kemudian didinginkan hingga mengembun menjadi cairan CO2 yang bertekanan tinggi. Kemudian, cairan itu diturunkan tekanannya menjadi 1 atm melalui alat penyemprot sehingga menghasilkan “salju”, dan salju itu kemudian dimampatkan menjadi kristal-kristal es kering yang siap pakai.
Daya pendingin es kering jauh lebih besar dari es biasa dalam berat yag sama. Jika es yang cair (pada 0 C) hanya menyerap panas 80 kkkal/kilogram, maka es kering yang menyublim (pada suhu -78,5C) menyerap 136,6 kkal/kilogram.
CO2 padat tidak mencair seperti es , melainkan lamngsung menyublin menjadi gas sehingga tidak membasahi produk yang didinginkn. Karena harganya sanagta mahal, maka penggunaanya dibatai hanya untuk ikan-ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, dan jika penggunaan es biasa menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan.
Salah satu contoh penggunaan CO2 padat seperti mendinginkan ikan tuna untuk pembutan sashimi, tetapi hal ini hanya terbatas pada pengangkutannya. Ikan tuna segar bahan sasimi diangkut dengan pesawat terbang ke Jepang. Penggunaan es biasa dalam pengangkutan dapat mengebabkan pengepak ikan menjadi basah, dan hal tersebut tidak disukai oleh perusahaan penerbang.
Istilah “mendinginkan ikan” harus dibatasi pada pengertian “mempertahankan suhu ikan”. Pendinginan ikan pada tahap awal masih dilakukan dengan cara konvensional yang lebih mudah dan murah, yaitu dengan es aiatu air dingin.
Es kering tidak boleh menempel langsung pada ikan yang didinginkan karena suhu yang sangat rendah (-78C) dapat merusak kulit dan daging ikan. Di dalam kemasan ikan tuna sashimi, es kering dipisahkan dari ikan dengan menempatkannya di dalam wadah berlubang yang terbuat dari stereoform. Es kering pertama-tama akan mengeringkan udara di dalam pak, kemudian udara dingin itu akan mendinginkan ikan.
c. Pendinginan dengan air dingin
Air dingin dapat mendinginkan ikan dengan cepat karena persinggungan yang lebiih baik dari pada pendinginan dengan es.Namun demikian perlu diwaspadai bahwa suhu akhir yang diperoleh tidaklah serendah yang dihasilkan dengan pengesan. Berbeda dari es yang tidak naik suhunya ketika mendinginkan, jika air dingin dicampur dengan ikan, maka suhu air akan naik secara drastis. Di dalam mengatasi kenaikan suhu air perlu ditambahkan sedikit es ke dalam air, tergantung pada jumlah ikan yang dimasukkan, dan berapa lama ikan akan disimpan.
Pendinginan dengan air dingin banyak dilakukan dipabrik-pabrik pengolahan ikan. Jika ikan yang didinginkan jumlahnya sangat banyak, maka dapat digunakan mesin pendingin untuk mendinginkan air dan mempertahankan agar suhu air tidak lebih dari 5oC. Pengadukan air ada kalanya diperlukan agar suhu di dalam bak merata dan pendinginan berlangsung lebih cepat.
Kelebihan pendinginan dengan air dingin jika dibandingkan dengan pengesan sebagai berikut :
Sumber :
Siregar, Resmi Rumenta. 2011. Pengolahan Ikan Kembung. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM KP. Jakarta
- Pendinginan dengan es;
- Pendinginan dengan es kering;
- Pendinginan dengan udara dingin.
a. Cara pendinginan ikan dengan es
Suhu rendah sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan bakteri “psychrophilic” (bakteri) yang senang pada suhu rendah dan hidup pada suhu 0°C-30°C, dengan suhu optimum 15°C). Jenis bakteri inilah yang bertanggung jawab terhadap pembusukan ikan berlemak sedikit (lean fish). Sebagai contoh, self life ikan-ikan dasar jenis tertentu (cod and haddock)meningkat dua kali lebih lama bila setiap kali diturunkan 10°F pada batas-batas suhu 70°F-30°F (21,1°C-1,1°C).
Cara penanganan pendinginan ikan dengan es sangat beragam tergantung pada tempat ikan, jenis ikan, dan tujuan pendinginan. Pada prinsipnya, es harus dicampurkan dengan ikan sedemikian rupa sehingga permukaan ikan bersinggungan dengan es, maka pendinginan ikan akan berlangsung lebih cepat sehingga pembusukan dapat segera dihambat.
Faktor yang juga penting dalam proses pendinginan ikan adalah kecepatan. Semua pekerjaan harus dilakukan secara cepat agar suhu ikan cepat turun. Es yang digunakan harus berukuran kecil, makin kecil ukuran es maka makin banyak permukaan yang bersinggungan dengan es sehingga proses pendinginan akan berlangsung lebih cepat.
Cara ideal mencampur ikan dengan es yaitu dengan membuat lapisan es pada dasar, kemudian di atasnya selapis ikan, dilanjutkan dengan lapisan es lagi, demikian seterusnya dan tanda derajat pada bagian lapisan atas ditutup dengan es.Fungsi es dalam hal ini adalah :
- Menurunkan suhu daging sampai mendekati O°C;
- Mempertahankan suhu ikan tetap dingin;
- Menyediakan air es untuk mencuci lendir, sisa-sisa darah, dan bakteri dari permukaan badan ikan;
- Mempertahankan keadaan berudara (aerobik) pada ikan, selama disimpan di dalam palkah.
b. Pendinginan dengan Es Kering
Es kering adalah gas CO2 sebagai hasil sampingan dari pupuk urea, berupa gas yang tidak berwarna, berasa asam, sedikit berbau lunak dan menghasilkan gas panas bertekanan tinggi. Gas panas tersebut kemudian didinginkan hingga mengembun menjadi cairan CO2 yang bertekanan tinggi. Kemudian, cairan itu diturunkan tekanannya menjadi 1 atm melalui alat penyemprot sehingga menghasilkan “salju”, dan salju itu kemudian dimampatkan menjadi kristal-kristal es kering yang siap pakai.
Daya pendingin es kering jauh lebih besar dari es biasa dalam berat yag sama. Jika es yang cair (pada 0 C) hanya menyerap panas 80 kkkal/kilogram, maka es kering yang menyublim (pada suhu -78,5C) menyerap 136,6 kkal/kilogram.
CO2 padat tidak mencair seperti es , melainkan lamngsung menyublin menjadi gas sehingga tidak membasahi produk yang didinginkn. Karena harganya sanagta mahal, maka penggunaanya dibatai hanya untuk ikan-ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, dan jika penggunaan es biasa menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan.
Salah satu contoh penggunaan CO2 padat seperti mendinginkan ikan tuna untuk pembutan sashimi, tetapi hal ini hanya terbatas pada pengangkutannya. Ikan tuna segar bahan sasimi diangkut dengan pesawat terbang ke Jepang. Penggunaan es biasa dalam pengangkutan dapat mengebabkan pengepak ikan menjadi basah, dan hal tersebut tidak disukai oleh perusahaan penerbang.
Istilah “mendinginkan ikan” harus dibatasi pada pengertian “mempertahankan suhu ikan”. Pendinginan ikan pada tahap awal masih dilakukan dengan cara konvensional yang lebih mudah dan murah, yaitu dengan es aiatu air dingin.
Es kering tidak boleh menempel langsung pada ikan yang didinginkan karena suhu yang sangat rendah (-78C) dapat merusak kulit dan daging ikan. Di dalam kemasan ikan tuna sashimi, es kering dipisahkan dari ikan dengan menempatkannya di dalam wadah berlubang yang terbuat dari stereoform. Es kering pertama-tama akan mengeringkan udara di dalam pak, kemudian udara dingin itu akan mendinginkan ikan.
c. Pendinginan dengan air dingin
Air dingin dapat mendinginkan ikan dengan cepat karena persinggungan yang lebiih baik dari pada pendinginan dengan es.Namun demikian perlu diwaspadai bahwa suhu akhir yang diperoleh tidaklah serendah yang dihasilkan dengan pengesan. Berbeda dari es yang tidak naik suhunya ketika mendinginkan, jika air dingin dicampur dengan ikan, maka suhu air akan naik secara drastis. Di dalam mengatasi kenaikan suhu air perlu ditambahkan sedikit es ke dalam air, tergantung pada jumlah ikan yang dimasukkan, dan berapa lama ikan akan disimpan.
Pendinginan dengan air dingin banyak dilakukan dipabrik-pabrik pengolahan ikan. Jika ikan yang didinginkan jumlahnya sangat banyak, maka dapat digunakan mesin pendingin untuk mendinginkan air dan mempertahankan agar suhu air tidak lebih dari 5oC. Pengadukan air ada kalanya diperlukan agar suhu di dalam bak merata dan pendinginan berlangsung lebih cepat.
Kelebihan pendinginan dengan air dingin jika dibandingkan dengan pengesan sebagai berikut :
- Ikan dapat didinginkan lebih cepat
- Ikan tidak mendapat tekanan dari ikan di atasnya, sehingga terhin dar dari kerusakan akibat tekanan
- Ikan menjadi bersih tercucu, darah dan lendir hilang
- Penanganan dalam jumlah besar lebih mudah dari pada pendinginan dengan menggunaakan es.
- Jika air didinginkan dengan es, permukaan es relatif lebih banyak
- Beberapa ikan tertentu cepat membusuk jika direndam di dalam air
- Beberapa jenis ikan yang berkadar lemak rendah termasuk udang menyerap air selama direndam
- Beberapa jenis ikan akam mengalami perubahan warna
- Air yang dipakai berulang-ulang dalam bak besar konsentrasi kotoran dan bakteri kana semakin meningkat.
Sumber :
Siregar, Resmi Rumenta. 2011. Pengolahan Ikan Kembung. Materi Penyuluhan Kelautan dan Perikanan. Badan Pengembangan SDM KP. Jakarta
persyaratan bahan baku pakan
Dalam membuat pakan buatan untuk ikan/udang, hal pertama yang harus dipertimbangkan ádalah persyaratan bahan baku pakan yaitu :
Pakan untuk hewan air (ikan/udang), dapat dikategorikan menjadi :
- Bahan baku tidak mengandung racun. Bahan baku yang mengandung racun dapat menghambat pertumbuhan, ikan mabuk dan strtess bahkan dapat menyebabkan kematian ikan/udang yang diperihara secara masal.
- Bahan baku pakan tidak boleh bersaing dengan bahan makanan manusia.
- Bahan baku harus tersedia dalam waktu lama, atau tersedia secara kontinyu.
- Harga bahan baku, walaupun dapat digunakan tetapi harganya mahal. Sebenarnya murah atau mahalnya bahan baku harus dinilai dari manfaat bahan baku tersebut. Sebagai contoh tepung ikan harganya memang mahal tetapi bila dibandingkan dengan nilai kegunaannya terutama kandungan proteinnya yang tinggi dan kelengkapan asam aminonya maka penggunaan tepung ikan menjadi murah.
- Kualitas gizi bahan baku, menjadi persyaratan penting, walaupun harganya murah, dan tersedia cukup melimpah tetapi kandungan gizinya buruk, maka bahan baku seperti ini tidak dapat digunakan.
Pakan untuk hewan air (ikan/udang), dapat dikategorikan menjadi :
- Pakan alami, merupakan kelompok pakan yang tersedia secara alami maupun dari hasil kultur yaqng dikumpulkan. Contoh artemia, dapnia, cacing sutera. Pakan alami yang berasal dari tumbuhan lumut sutera, plankton, dan daun talas untuk ikan gurami.
- Pakan segar, yaitu berupa cincangan ikan rucah dan langsung diberikan pada ikan, pakan segar ini ketahanannya sangat rendah oleh karena itu perlu disimpan dalam freezer.
- Pakan buatan, merupakan pakan berbentuk pelet, fleke dan crumble, pakan ini dalam kondisi kering sehingga daya tahannya antara > 4 bulan, kandungan gizinya lengkap karena dibuat sesuai dengan kebutuhan. Jenis pakan inilah yang akan dikupas lebih mendalam.
Selasa, 07 Maret 2017
Navigasi
A.
Definisi Navigasi
Menurut Supriyono (2000), Navigasi berasal
dari bahasa latin Navis yang berarti kapal atau kendaraan
atau vehicle dan agere yang berarti
mengarahkan atau menjalankan atau membawa. Kenavigasian adalah kegiatan yang
meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana bantu navigasi pelayaran,
telekomunikasi pelayaran, hidrografi, alur dan perlintasan, penanganan kerangka
kapal, salvage, dan pekerjaan bawah air, untuk kepentingan keselamatan
pelayaran.
Kegiatan kenavigasian mempunyai peranan penting dalam mengupayakan
keselamatan berlayar guna mendukung angkutan laut yang merupakan penunjang dan
pendorong pertumbuhan ekonomi Nasional. Untuk itu kegiatan kenavigasian
diupayakan agar mampu mencakup seluruh perairan Indonesia yang dinilai riskan
terhadap keselamatan berlayar sesuai kondisi dan situasi pada masing-masing
perairan, serta untuk memenuhi persyaratan Internasional (Djunarsjah, 2005).
Sarana bantu navigasi pelayaran adalah sarana yang dibangun atau terbentuk
secara alami yang berada di luar kapal yang berfungsi membantu navigator dalam
menentukan posisi dan/atau haluan kapal serta memberitahukan bahaya dan/atau
rintangan pelayaran untuk kepentingan keselamatan berlayar. Telekomunikasi
pelayaran adalah setiap pemancaran, pengiriman atau penerimaan tiap jenis
tanda, gambar, suara, dan informasi dalam bentuk apapun melalui sistem kawat,
optik, radio atau sistem elektromagnetik lainnya dalam dinas bergerak pelayaran
yang merupakan bagian dari keselamatan pelayaran. Buku petunjuk pelayaran adalah
buku kepanduan bahari yang berisi petunjuk atau keterangan-keterangan yang
dipergunakan bagi para pelaut agar navigasi dapat dilakukan dengan selamat
(Djunarsjah, 2005).
Menurut Supriyono (2000), ditinjau dari cara dan alat yang digunakan,
navigasi dibedakan menjadi dua bagian yaitu:
1.
Navigasi
Konvensional, yaitu bernavigasi dengan menggunakan alat-alat yang konvensional
seperti: pedoman, alat / pesawat baring, topdal, perum, sextant dan kronometer. Konvensional menurut SOLAS 1974, diartikan sebagai alat yang tidak
menggunakan kelistrikan kapal, sehingga apabila listrik kapal padam, alat
tersebut masih dapat digunakan secara normal.
2.
Navigasi
Elektronika (Modern), yaitu bernavigasi dengan menggunakan
peralatan-peralatan elektronik seperti: LORAN, DECCA, RADAR, Radio Penentu Arah
(Radio Direction Finder / RDF), GPS (Global Positioning System).
B.
Macam-Macam Navigasi
a.
Navigasi
Darat
Navigasi darat adalah bagian dari ilmu untuk menentukan posisi suatu objek
dan arah perjalanan baik pada medan sebenarnya maupun pada peta. Navigasi darat
di fokuskan pada kemampuan membaca dan memahami peta serta kompas. Peta dan
kompas adalah alat vital bagi navigasi darat. Navigasi Terestrial (Terrestrial
Navigation), yaitu bernavigasi dengan menggunakan bantuan alat konvensional dan
dengan benda-benda daratan seperti gunung, pulau, tanjung, suar, bangunan yang
mencolok terlihat dari laut, dsb. Sebagai benda bantunya, dengan menentukan
arah dan jarak serta hitungan-hitungan secara goneometrik untuk menentukan posisi
kapal (Azha, 2006).
Menggunakan alat navigasi untuk menentukan posisi serta menganalisa dan
memberikan asumsi awal terhadap medan yang dilalui merupakan salah satu dari
keahlian dasar. Hal tersebut merupakan bakal awal dalam merencanakan dan
melakukan kegiatan di alam terbuka maupun dalam usaha pencarian atau
penyelamatan korban kecelakaan atau tersesat. (Azha, 2006).
Sesuai dengan LOP (Line of Posistion : Garis Tempat Kedudukan) yang
diperoleh, sistem penentuan posisi secara radio dibagi menjadi (3) jenis yaitu:
a.
Sistem
hyperbola dimana garis-garis posisi berbentuk lengkungan atau lengkung
hiperbola.
b.
Sistem
radial dimana garis-garis posisi berbentuk radial (asumuthal) misalnya:
directional dan non directional atau OMNI directional radio becons, serta penetapan
baringan suatu target oleh radar.
c.
Sistem range
measurement dimana garis-garis posisi berbentuk lingkaran kecil di peta
misalnya pengukuran jarak pada Radar atau GPS (Global Positioning System)
c. Navigasi Laut
Navigasi laut adalah ilmu yang mempelajari tentang cara atau
bagaimana menganalisa, menentukan juga mempetakan suatu daerah di wilayah
perairan. Navigasi laut menggunakan alat seperti gps, peta laut, radar, echo
sounder, electronic chart, serta kompas. Dimana alat bantu tersebut mempunyai
fungsi dan kegunaan yang berbeda-beda. Untuk dapat mencapai tujuan
selamat, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti : manusianya, alat yang
digunakan untuk bernavigasi, dan kapalnya itu sendiri, serta dengan
memperhatikan keadaan alam yang mempengaruhinya. Untuk mencapai efficiency yang
tinggi, seorang navigator harus memperhatikan semua sarana yang ada dan mampu
menggunakannya secara maksimal sesuai dengan keadaan yang ada serta
harus memperhatikan jarak yang ditempuh yang sependek mungkin, denagan memperhatikan
keselamatan kapal. (Arso, 1992)
Lalu
lintas pelayaran dewasa ini dipenuhi oleh kapal-kapal tradisional dan modern
yang dilengkapi dengan bermacam-macam sistem navigasi antara lain navigasi
elektronik. Sejalan dengan pesatnya kemajuan teknologi bidang pelayaran dari
tahun ke tahun sistem navigasi elektronik harus dikembangkan dan instrument
model terbaru diperkenalkan agar sepenuhnya dapat menunjang keselamatan
pelayaran. Pada gilirannya tuntutan kualitas profesional terhadap kemampuan
para perwira navigator juga semakin tinggi. Peranan sistem navigasi elektronik
dalam penentuan posisi sangat potensial dan merupakan bagian dari kegiatan
tugas jaga seorang perwira di anjungan. Pengunaan alat-alat seperti gps, peta laut, radar, echo sounder, electronic
chart, serta kompas sangat penting dalam dunia pelayaran. Dalam dunia
penangkapan ikan, alat tersebut sangat besar perannya disamping menggunakan
alat bantu pencari(Arso, 1992).
d.
Navigasi
Elektronik (Electronic Navigation)
Menurut Yoyok (2002), Ilmu
pelayaran yang menggunakan alat-alat elektronika sebagi pedoman pelaksanaan.
Dimanan penentuan posisi kapal pada peta laut ditentukan berdasarkan
penilikan-penilikan dengan menggunakan alat-alat elektronika, misalnya: Radar, Omega, Decca, Consul, radio dan satelit.
Langganan:
Postingan (Atom)




