Minggu, 13 Agustus 2017

Konsep Dasar dan Prinsip PARTICIPATORY RURAL APPRAISAL

KONSEP DASAR PRA

PRA terdiri dari sekumpulan teknik atau alat yang dapat dipakai untuk mengkaji keadaan pedesaan. Teknik ini berupa visual (gambar, tabel, bentuk) yang dibuat oleh masyarakat sendiri dan dipergunakan sebagai media diskusi masyarakat tentang keadaan mereka sendiri serta lingkungannya. Beberapa teknik yang terkenal meliputi Pemetaan desa, Kalender musim, Transek (penelusuran desa), Diagram Venn (bagan hubungan kelembagaan), Bagan perubahan dan kecenderungan, Diagram alur, dan Diagram kegiatan harian (daily routine). Dalam kajian informasi tidak semua sumber informasi senantiasa bisa dipercaya ketepatannya. Untuk mendapatkan informasi yang benar bisa diandalkan dengan menggunakan prinsip “triangulasi” informasi, yaitu pemeriksaan dan periksa ulang, melalui:

1.Keragaman Teknik PRA
Setiap teknik PRA punya kelebihan dan kekurangan. Tidak semua informasi yang dikumpulkan dan dikaji dalam satu teknik PRA dapat dipercaya. Melalui teknik-teknik lain, informasi tersebut dapat dikaji ulang untuk melihat apakah benar dan tepat. Karenanya kita perlu melihat bagaimana teknik-teknik PRA dapat saling melengkapi, sesuai proses belajar yang diinginkan dan cakupan informasi yang dibutuhkan.   
     
2.Keragaman Sumber Informasi
Masyarakat selalu memiliki bentuk hubungan yang kompleks dan memiliki berbagai kepentingan yang sering berbeda bahkan bertentangan. Informasi yang berasal dari sumber tunggal atau terbatas tidak jarang diwarnai oleh kepentingan pribadi. Karena itu sangat perlu mengkaji silang informasi dari sumber informasi yang berbeda. Dalam melaksanakan PRA perlu diperhatikan bahwa tidak didominasi oleh beberapa orang atau elit desa saja tetapi melibatkan semua pihak, termasuk yang termiskin dan wanita. Sumber Informasi lain juga dapat dimanfaatkan seperti sumber sekunder yang berada di desa.       
                                                 
3.Keragaman Latar belakang Tim Fasilitator
Fasilitator PRA biasanya punya latar belakang atau keahlian khusus. Selalu ada resiko bahwa dia mengutamakan ‘keahlian’ dia sendiri (bias), walaupun sering kali kami tidak sadar. Untuk menghindari bahwa kepentingan fasilitator akan menentukan temuan PRA, lebih baik membentuk Tim ‘multi-disiplin’ atau ‘Polivalen’, yaitu suatu tim yang terdiri dari orang dengan latar belakang, keahlian, jenis kelamin yang berbeda.

PRINSIP-PRINSIP PRA
Adapun prinsip-prinsip yang diperlukan dalam mengkaji Keadaan Pedesaan Secara Partisipatif adalah Prinsip mengutamakan yang terabaikan (keberpihakan), Prinsip pemberdayaan (penguatan) masyarakat, Prinsip masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator, Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan, Prinsip santai dan informal, Prinsip triangulasi, Prinsip mengoptimalkan hasil, Prinsip orientasi praktis, Prinsip keberlanjutan dan selang waktu, Prinsip belajar dari kesalahan, dan Prinsip terbuka. Peran orang atau tim luar, yang berasal dari lembaga atau instansi, terbatas sebagai fasilitator proses PRA. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena masih sering ada anggapan bahwa masyarakat miskin bodoh dan perlu digurui. Untuk itu perlu sikap rendah hati serta kesediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga masyarakat sebagai pelaksana dan narasumber utama dalam memahami keadaannya.

TAHAPAN DALAM PRA
Tahapan dalam proses kajian keadaan pedesaan partisipatif meliputi:
A. Persiapan desa bersama wakil masyarakat (pimpinan, tokoh-tokoh dan / atau koordinator setempat):
  1. Menentukan tempat;
  2. Menentukan waktu;
  3. Mengumumkan kepada masyarakat;
  4. Persiapan akomodasi dan konsumsi serta dana yang diperlu;
B. Persiapan dalam Tim:
  1. Menentukan informasi yang akan dikaji;
  2. Menentukan teknik PRA yang ingin dipakai;
  3. Menentukan dan menyediakan bahan pendukung dan media;
  4. Membagi peran dalam Tim PM;
C. Melakukan Kajian Keadaan Kegiatan PRA:
  1. Ulang menjelaskan maksud dan tujuan PRA
  2. Menyepakati waktu dan kegiatan / teknik yang akan dilakukan
  3. Membina suasana
  4. Menjelaskan teknik PRA dalam sub kelompok
  5. Melalukan teknik PRA
  6. Diskusi umum (pembahasan keadaan)
  7. Pembuatan gambar (visualisasi)
  8. Diskusi lebih lanjut (analisa masalah dan potensi)
  9. Presentasi dan diskusi
D. Perumusan hasil PRA melalui Lokakarya / Musyawarah Masyarakat:
  1. Mempresentasi semua hasil PRA;
  2. Mendiskusikan kembali dengan masyarakat untuk mempertajam temuan;
  3. Penyusunan hasil akhir analisa kajian potensi, kesempatan, masalah dan kemungkinan pengembangan program oleh masyarakat

Save Coral Reef

Telah kita ketahui bersama bahwa ekosistem terumbu karang di Indonesia terus mengalami kerusakan parah akibat aktivitas penangkapan yang tidak ramah lingkungan, terutama pemakaian alat tangkap ilegal dan perubahan suhu air akibat pemanasan global. Kerusakan ekosistem terumbu karang diakibatkan aktivitas pembangunan yang dilakukan dikawasan pesisir dan lautan seperti pertanian, industri, kegiatan perikanan yang tidak bertanggung jawab terhadap kelestarian (penangkapan menggunakan bom, alat tangkap yang dilarang dan marikultur), pariwisata, penggundulan hutan, pencemaran, dan perubahan iklim. Terumbu karang memainkan peranan ekologi yang selalu kalah dengan kepentingan ekonomi. Padahal terumbu karang merupakan organisme yang amat penting bagi keberlanjutan sumberdaya yang ada di kawasan pesisir dan lautan dengan banyak peranan ekologi antara lain tempat hidup, tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), pembesaran (rearing ground), dan mencari makan (feeding ground). Terumbu karang juga berperan sebagai pelindung pantai dari terpaan gelombang laut besar (tsunami).

Indonesia diperkirakan memiliki luas ekosistem terumbu karang sekitar 85.707 km persegi yang mencakup 18% total luas terumbu karang di dunia. Namun menurut para peneliti di Tim Climate Change dari Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL), taksiran terumbu karang yang masih dalam kondisi baik hanya 6,2 persen dari total 60.000 km persegi. Kondisi ini membuat para peneliti Indonesia berupaya untuk merehabilitasi ekosistem terumbu karang, agar kembali menjadi surga tempat tinggal bagi ikan-ikan yang menjadi salah satu sumber pangan manusia.

Walaupun telah banyak metode penanggulangan terumbu karang yang rusak, kita tetap harus mengacu pada “mencegah lebih baik daripada mengobati”, sebab tidak butuh waktu lama untuk merusak terumbu karang, tapi perlu bertahun-tahun untuk mengembalikan ekosistem terumbu karang yang sehat. Setiap tahun pertumbuhan terumbu karang rata-rata satu centimeter. Terumbu karang yang kekurangan populasi ikan dapat “sembuh” dalam waktu kurang lebih 39 tahun, sementara yang benar-benar hancur (akibat polusi, pengeboman, dan lain sebagainya) butuh waktu pulih selama 59 tahun. Metode transplantasi dinilai cukup efektif, namun membutuhkan modal besar. Karena itu semua pihak harus sadar untuk melindungi terumbu karang, karena keberlanjutan ekosistem bawah laut bergantung pada kelestarian terumbu karang.

Beberapa hal sederhana yang dapat kita lakukan yaitu belajar lebih banyak tentang terumbu karang dan menyebarkan pengetahuan ini pada teman atau keluarga, tidak membuang sampah sembarangan ke laut karena itu dapat mencemari habitat di dalamnya, tidak memegang, menginjak atau mengambil karang waktu menyelam di laut, sebab menurut beberapa sumber, jika menyentuh sedikit saja  terumbu karang, mereka akan langsung mati. Selain itu bila kita ke pantai, mintalah penjaga/ pengelola pantai agar dapat menyediakan tong sampah (bila tidak ada), menghormati peraturan dan panduan lokal saat mengunjungi lokasi terumbu karang, mengadakan bakti sosial membersihkan pantai, tidak menggunakan terumbu karang dalam akuarium air laut,tidak  memakai batu karang sebagai bahan bangunan, mengingatkan awak kapal untuk hati-hati dalam membuang jangkar, agar tidak merusak terumbu karang, melaporkan kegiatan yang dapat merusak terumbu karang (seperti penangkapan ikan secara illegal dan polusi) pada yang berwenang atau media massa, bergabung dengan kelompok yang bergerak di bidang lingkungan hidup serta mendukung kegiatan yang terkait penyelamatan terumbu karang dengan berbagai metode.

Bioreeftek Method

Selama ini telah terdapat berbagai macam metode yang digunakan untuk memulihkan ekosistem terumbu karang. Di antaranya ReefBall (terbuat dari rangka semen), Hexadome (dari rangka besi dan semen), Biorock (dari Besi/ Stainless yg dialiri listrik searah, menggunakan tenaga surya), dan Coral Rubble (yang dikumpul dan dimasukkan dalam jaring sebagai media). Dan saat ini mulai terdengar lagi salah satu metode yang murah dan efisien namun memiliki manfaat besar dalam upaya penyelamatan terumbu karang. Metode tersebut dikenal dengan Bioreeftek yang mulai dikembangkan sejak tahun 2008 oleh penemunya, Eghbert E. A, M.Sc dan para peneliti di Tim Climate Change dari Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) yang hak cipta penemuannya sudah dipatenkan.

Pengertian Bioreeftek secara etimologis yaitu bio= hidup, reef= terumbu, dan tek= teknologi. Bioreeftek menjadi tempat menempel hewan/ larva planula. Setelah larva planula menempel, bioreeftek direlokasi ke ekosistem terumbu karang yang kondisinya kurang baik. Proses relokasi bioreeftek dilakukan dengan menampungnya secara utuh di wadah dan membawanya menggunakan kapal ke lokasi tujuan dengan menurunkan tali kedalam air laut. Bioreeftek memanfaatkan potensi tempurung kelapa sebagai bahan utama perekrutan hewan karang. Biaya pembuatan bioreeftek lebih murah dan mudah daripada teknik lain yang dikembangkan serta merupakan pilihan yang sangat strategis. Hal ini disebabkan karena tempurung kelapa sangat melimpah di Indonesia dan biaya penerapan teknologinya jauh lebih murah daripada berbagai teknik lain yang pernah dikembangkan.

Metode ini diawali dengan memotong tempurung kelapa menggunakan gurinda kemudian dilubangi kedua ujungnya agar bisa dimasukkan batang alumunium. Tempurung yang telah dipotong kemudian diisi dengan semen agar tempurung lebih kuat. Lalu cetak semen menjadi bentuk balok dengan ukuran 45 x 35 x 3 cm atau fleksibel sesuai kebutuhan. Letakkan pipa alumunium sedemikian rupa sehingga pipa tegak lurus dengan cetakan semen. Setelah cetakan semen siap dan kuat, masukkan tempurung kelapa ke dalam pipa alumunium secara teratur. Ikat bagian atas pipa dengan menggunakan kabel agar tempurung tidak lepas dari pipa. Media Bioreeftek yang telah siap kemudian diletakkan di perairan yang kondisi terumbu karangnya baik, agar larva planula karang cepat menempel pada media tempurung kelapa dengan kedalaman 5 – 10 meter.

Metode bioreeftek telah mampu memulihkan ekosistem terumbu karang dengan lebih efisien sehingga telah diterapkan untuk kegiatan rehabilitasi di Pemuteran – Bali, Pulau Mandiangin – Madura, Nusa Penida, dan Tanahbumbu – Kalimantan Selatan. Kemudian metode ini juga diterapkan di Taman Nasional Bunaken – Sulawesi Utara, Tablolong-Nusa Tenggara Timur, Londa Lima – Sumba Timur, lalu kegiatan KRPN HIMAPIKANI di Pulau Buton.

Nelayan dan masyarakat pesisir pantai perlu disarankan untuk menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, tidak melakukan penebangan liar hutan/ hutan bakau yang dapat menyebabkan erosi/ abrasi, ikut serta merehabilitasi terumbu karang yang ditransplantasi atau dicangkok dengan didampingi oleh komunitas penyelam dari berbagai lembaga pemerhati lingkungan perairan. Kontribusi pemerintah dalam upaya pencegahan terumbu karang yakni dengan memperbaiki taraf hidup masyarakat pesisir, meningkatkan pengetahuan dan penyadaran kepada masyarakat tentang penegakan hukum, memberikan hukuman yang tegas bagi para industri yang membuah limbahnya ke laut, membuat cagar laut, memanfaatkan kapal-kapal bekas sebagai habitat baru terumbu karang dan juga memfasilitasi perkembangbiakan terumbu karang. Selain itu secara global turut memperkuat kerja sama dengan negara-negara Coral Triangle tentang pentingnya mengelola, menjaga, dan melestarikan laut secara berkelanjutan (sustainable) serta bersama masyarakat dunia mencegah dampak perubahan iklim.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, pengelolaan ekosistem terumbu karang di Indonesia perlu mempertimbangkan pendekatan secara ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Banyaknya ancaman yang mengganggu keberlangsungan hidup ekosistem pesisir, memerlukan peran aktif masyarakat sekitar ekosistem dan para generasi muda. Sehingga, penyelamatan lingkungan ekosistem bukan hanya wacana kemudian terhenti, melainkan terus beregenerasi. Menyelamatkan terumbu karang adalah menyelamatkan kehidupan. Kita boleh bangga memiliki terumbu karang terluas dan terlengkap di dunia. Namun apa artinya jika 33 persen terumbu karang Indonesia ternyata telah rusak berat dan hanya tersisa 6 persen saja yang kondisinya masih bagus? Kita harus ikut menyelamatkan terumbu karang. Kelak dimasa depan, kita akan merasakan manfaat akan perubahan yang dilakukan mulai saat ini. Salam Coral !!!.

Konversi Pakan Budidaya Perikanan

Budidaya ikan secara intensif mutlak membutuhkan pakan buatan, karena kepadatan penebaran yang tinggi. Pakan alami yang mendukung hidup dan pertumbuhan ikan dalam sistem ini nyaris tidak tersedia. Benih-benih ikan yang diproduksi saat ini memang memiliki sifat yang responsif dan bergantung kepada pakan buatan. Cukup tidaknya pakan yang disediakan sangat nyata menentukan pertumbuhan atau produksinya.
Komponen biaya yang tertinggi dalam usaha budidaya adalah untuk memenuhi kebutuhan pakan. Pemborosan atau penghematan dalam penggunaan pakan sangat menentukan tingkat keuntungan. Oleh karena itu kiat menekan biaya operasional dari penyediaan pakan harus dikuasai. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi besar kecilnya konversi pakan selain kualitas pakan itu sendiri adalah kecermatan pembudidaya dalam menentukan jumlah optimal pemberian; kepekaan pembudidaya dalam memahami kondisi pakan dan kondisi ikan; kedisiplinan dalam melayani kebutuhan biologis ikan.
  1. Kecermatan
Pembudidaya yang cermat akan melakukan pnebaran benih dalam jumlah yang optimal sesuai ketersediaan biaya pakan. Perhitungan terhadap penyedian pakan selama siklus produksi didasarkan pada asumsi-asumsi sintasan, pertambahan bobot biomassa, dan fase perkembangan ikan. Pada fase awal pertumbuhan kebutuhan pakan dari segi kuantitas kecil tetapi kualitas tinggi. Pemberian pakan ad libitum dilakukan dengan memperhatikan kewajaran maksimum.  Pada fase akselerasi pertimbangan pemberian pakan dengan laju maksimal sambil memperhatikan taksiran konversi pakan, yaitu membandingkan antara jumlah pakan yang diberikan dengan pertambahan bobot.  Apabila cermat menghitung dengan pendekatan kewajaran FCR, maka pemborosan pakan sudah dapat diantisipasi. Pemborosan pakan dapat dikarenakan faktor internal ikan seperti benih yang tidak unggul, atau faktor eksternal seperti padat tebar ikan yang tidak seimbang dengan debit air, atau mungkin pemberian pakan yang melebihi daya cerna. Pengendalian yang dapat dilaku-kan adalah mengurangi kepadatan, mengurangi porsi pemberian dan meningkatkan frekuensi pemberian dengan porsi yang lebih sedikit. Dengan demikian kerugian yang lebih besar dapat dihindari.
  1. Kepekaan
Pembudidaya yang telah berpengalaman biasa-nya memiliki kepekaan terhadap faktor-faktor yang dapat menekan pemborosan pakan. Secara biologis ikan memiliki bioritme tertentu dalam merespon pakan. Siklus harian (diurnal), cuaca (suhu air), fase perkem-bangan, kondisi air senantiasa mempengaruhi nafsu makan ikan selain kesukaan ikan terhadap aroma tertentu.
Ikan-ikan yang biasa tidak aktif di malam hari seperti ikan nila, tidak begitu responsif terhadap pakan pada pagi hari dan sore menjelang malam. Pemberian pakan terlalu pagi mengakibatkan banyak pakan yang tidak termakan. Untuk pellet yang mudah hancur di air akan luput dari ikan. Selera makan ikan meningkat setelah intensitas cahaya matahari meningkat. Untuk ikan mas suhu air sangat menentukan jumlah pakan yang efektif diberikan, sehingga ada ketentuan menurut Satoh (1990) jumlah pemberian pakan pakan per hari adalah 0,13 x suhu air (°C).
Secara anatomi ikan mas maupun ikan nila tidak memiliki lambung yang cukup besar sehingga pakan yang sudah ditelan sering dimuntahkan kembali apabila diberikan berlebih walau nafsu makannya tinggi. Pada beberapa kasus ikan mas mati mendadak setelah diberikan pakan berlebih. Kelenjar yang menghasilkan enzim untuk mencerna pakan dalam lambung yang kecil belum siap. Pakan buatan (pellet) kering yang masuk ke dalam lambung mengalami pengembangan volume dan berat setelah menyerap air, yang berlangsung setelah pellet tertelan. Pemberian pakan terlalu cepat dapat berakibat fatal.
Dalam pemberian pakan secara manual gejala kenyang tidaknya ikan dapat dilihat dari kenampakan bagian ventral ikan yang membulat. Tanda yang mudah dilihat untuk menghentikan pemberian pakan. Namun adakalanya ikan kurang bernafsu makan walau belum terlihat gejala tersebut. Daya tarik ikan terhadap pakan boleh jadi menurun akibat bau pakan di air yang menimbulkan kejenuhan. Pembudidaya yang peka akan menghentikan sejenak pemberian pakan, dan melanjutkan setelah air kolam mengalami sirkulasi yang cukup.
Secara fisiologis ikan yang menelan pakan banyak mengkonsumsi oksigen lebih banyak. Konsumsi oksigen yang tinggi setelah kenyang mengakibatkan kadar oksigen di air turun sehingga ikan cenderung megap-megap di permukaan air (kecuali ikan yang memiliki labirin seperti gurame atau lele). Pada kondisi air kolam kurang sirkulasi, pemberian pakan harus dibatasi setengah kenyang, sambil menunggu debit sirkulasi lebih besar.
  1. Kedisiplinan
Ikan yang dipelihara dengan pemberian pakan teratur memungkinkan metabolismenya mencapai efisiensi maksimum.  Perilaku ikan dilatih agar tidak sering kaget karena kelaparan atau kekenyangan. Produksi enzim pencernaanpun mengikuti irama pemberian pakan secara teratur. Pembudidaya dituntut disiplin memenuhi kebutuhan akan keteraturan waktu dan ke-butuhan biologis ikan yang dipelihara untuk mencapai efisiensi maksimal.

Selasa, 18 Juli 2017

Sejahterakah Nelayan Kita?

Sejahterakah Nelayan Kita?

Nenek moyangku seorang pelaut..

Sepenggal bait lagu tersebut rasanya sudah tidak asing lagi di telinga kita. Banyak pula yang mengamini bahwa nenek moyang kita, adalah seorang pelaut yang tangguh dan pemberani.

Dilihat dari bentuknya pun negara kita ini, Indonesia, adalah negara maritim yang berada dalam kawasan atau teritorial laut yang sangat luas dan terdiri dari banyaknya pulau-pulau. Potensi bawah laut yang dimiliki oleh Indonesia pun sangat luar biasa indahnya.

Namun, sudahkah kita menjaga laut di negara kita ini dengan sebaik mungkin?

Jika lirik lagu nenek moyangku seorang pelaut tersebut tidak asing lagi di telinga kalian, siapakah tokoh yang pantas untuk dijadikan pahlawan seperti nenek moyang yang ada di dalam lirik lagu tersebut yang cocok pada masa kini? Sebagian dari kalian mungkin menjawab “Susi Pudjiastutilah.”

Saya sebenarnya setuju juga sih dengan jawaban tersebut. Tetapi, apakah ada yang ingat dengan para pekerja yang sehari-harinya bekerja menangkap ikan atau biota yang ada di laut yang disebut dengan nelayan? Mereka juga tak kalah penting dan menurut saya pantas disebut sebagai penurus nenek moyang yang ada dalam lirik lagu tersebut.

Tanggal 6 April merupakan Hari Nelayan Nasional dan di setiap daerah memiliki tradisi sendiri yang berbeda untuk merayakan hari tersebut. Misalnya adalah perayaan Hari Nelayan Nasional di Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Mereka mengadakan upacara yang meriah sebagai bentuk syukur mereka.

Bila di Sukabumi dilakukan perayaan yang meriah, berbeda dengan yang dilakukan oleh mahasiswa BEM KEMA FPIK Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Forum Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan dan Kajian Sains (Fortifikasi) dalam acara Aksi Hari Nelayan pada Hari Nelayan Nasional 6 April 2017, yang diselenggarakan di Brooklyn Barat Gerbang Lama, Unpad.

Mereka melakukan aksi orasi dan membagikan makanan gratis berupa shrimp roll dan siomay ikan kepada rekan-rekan mahasiswa yang sudah mengisi atau menuliskan aspirasi mereka pada tempat yang disediakan. “Acara aksi hari nelayan ini merupakan gerakan aksi dan inisiatif yang muncul sebagai bentuk respon mahasiswa dalam menanggapi permasalahan kekayaan laut Indonesia dan kesejahteraan nelayan dengan cara yang akomodatif, kolaboratif dan kreatif,” ujar Rizmi Danurahman (20), selaku Project Supervisor.

Tujuan dari orasi pada acara ini menurut penuturan Rizmi, berusaha untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat bagaimana kehidupan dan kesejahteraan yang nelayan alami sekarang ini. “Karena mereka merupakan pionir-pionir penting untuk mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang notabennya akan membawa negara Indonesia menuju kemakmuran bagi sosial, politik, ekonomi, maupun teknologi kedepannya nanti, dan dari acara Aksi Hari Nelayan ini, output-nya adalah masyarakat menjadi suka makan ikan. Karena sekarang ini kita melihat banyak masyarakat banyak yang lebih memilih ayam ketimbang ikan. Padahal, ikan merupakan sumber protein yang banyak dan bisa menjadi salah satu alternatif makanan pokok di Indonesia,” kata Rizmi dengan semangat.

Memang kebanyakan dari kita masih lebih memilih ayam dan malas untuk makan ikan dengan alasan malas karena banyak tulangnya dan ayam lebih praktis untuk dimakan. Ada juga yang beralasan tidak bisa untuk memakan ikan karena baunya yang amis.

Dengan jawaban Rizmi yang seperti itu saya pun bertanya mengenai Jatinangor yang jauh dari laut ini, bagaimana menurutnya agar khususnya mahasiswa dan masyarakat sekitar jadi gemar makan ikan? Sedangkan dapat diketahui bahwa kebanyakan di Jatinangor itu yang dijual adalah ayam.

Jika ada warung seafood pun biasanya tidak segar lagi. Rizmi pun merespons, “Dengan jauhnya Unpad atau Jatinangor dari laut bisa diakali dengan adanya distribusi pakan. Bisa pula diadakan penyuluhan bagaimana cara yang benarnya dalam mengirim ikan kemudian bagaiamana cara mengolahnya,” jelas Rizmi.

Terlepas dari acara-acara tersebut, faktanya nelayan di Indonesia masih banyak yang belum sejahtera dan miskin. Nelayan saat ini masih kurang diperhatikan baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Padahal dengan adanya nelayan negara kita menjadi maju, masa kita tidak mau untuk memajukan kesejahteraan nelayan?

Berikut adalah salah satu jawaban dari Sekertaris Departemen Sosial Ekonomi Perikanan, Dr. Atikah Nurhayati, SP., MP. . Dia mengatakan pnilaian pemerintah sudah baik atau tidak dalam memperlakukan nelayan Indonesia dapat dilihat dari indikator sosial ekonomi nelayan yang masih rentan dalam siklus kemiskinan secara struktural dibandingkan dengan kultural.

Atikah melanjutkan, kebijakan pemerintah belum mampu mengatur sistem bagi hasil yang berlaku di nelayan, sehingga masih menimbulkan “gap” antara pihak yang diuntungkan dengan yang dirugikan, sehingga diperlukan sosialisasi mengenai undang-undang bagi hasil bagi nelayan dengan melibatkan ketua adat atau tokoh masyarakat.

Kebijakan pemerintah, kata dia, belum berpihak kepada nelayan dalam aspek permodalan, masih sulitnya akses nelayan kepada lembaga keuangan formal, sehingga nelayan lebih memilih kepada lembaga keuangan non formal denga tingkat bunga diatas rata-rata lembaga keuangan formal, sehingga diperlukan regulasi lembaga keuangan khusus untuk nelayan. Kebijakan pemerintah belum sepenuhnya memberikan jaminan sosial dan keselamatan melaut bagi nelayan, masih banyak kasus nelayan yang melintasi batas wilayah NKRI akibat ketidaktahuan nelayan terhadap batas wilayah.

Sedangkan untuk alat tangkap dan jenis kapal yang dimiliki oleh nelayan di Indonesia masih relatif terbatas. Berikut adalah tanggapan dari Noir P. Purba, M.Sc, Dosen Ilmu Kelautan dan Peneliti di KOMITMEN Research Group.

“Melihat luasnya perairan Indonesia (70 % lautan) dan heteroginitas ikan di Indonesia, tentu alat dan kapasitas kapal perlu dikembangkan," kata Noir.

Bantuan kapal pada tahun 2017 sekitar 2000 kapal, ujar Noir, masih belum mampu memenuhi mengeksploitasi perairan baik di Hindia maupun Pasifik. Demikian juga dengan alat tangkap yang harus dimodifikasi atau diperbaharui dikarenakan kondisi perairan Indonesia yang kompleks dan merupakan alur migrasi ikan.

"Nelayan Indonesia membutuhkan teknologi yang lebih mumpuni dalam menangkap ikan. Nelayan Indonesia sangat kurang dalam penangkapan ikan di zona eksklusif dikarenakan ketiadaan alat tangkap dan kapal yang baik. Walaupun zona upwelling di Indonesia sangat banyak, namun ikan yang didapat tidak lebih banyak karena pada saat upwelling, angin muson tenggara juga berhembus kuat yang mengakibatkan gelombang tinggi,” ujar Noir.

Dengan melihat potensi laut yang besar di Indonesia ini, menurut Atikah, potensi yang harus dikembangkan oleh nelayan adalah peningkatan kemampuan dalam menentukan zonasi tangkapan yang aman dan tidak melewati batas wilayah NKRI, kemampuan dalam menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan, kemampuan dalam penangangan hasil tangkapan (post harvest strategy) sehingga memiliki nilai tambah (added value) produk perikanan tangkap.

Dapat disimpulkan bahwa edukasi perlu diberikan kepada nelayan agar semakin makmur dan peralatan untuk menangkap ikan di Indonesia harus diperbaharui lagi. Jangan lupa pula untuk mengonsumsi makan ikan. “Smooth sea never made a skillful sailor. Quotes ini sangat cocok untuk nelayan Indonesia yang pantang menyerah,” ujar Noir.

 

Bukan Obat Kuat, Daging Penyu Justru Berbahaya Buat Kesehatan

Daging penyu diyakini sebagai penambah vitalitas. Namun, hasil survei terbaru yang dilakukan Pusat Penelitian Sumberdaya Perairan Pasifik (P2SP2) dan Universitas Papua mematahkan anggapan tersebut.

Hasil survei yang didukung Conservation International (CI) Indonesia tersebut justru menegaskan mengkonsumsi daging penyu tidak menambah vitalitas, dan justru berpotensi membawa berbagai penyakit kronis bagi mereka yang secara rutin memakannya.

Hasil penelitian itu disampaikan Ricardo Tapilatu, Dosen Biologi Kelautan dan Konservasi, Universitas Papua di Papua Barat, beberapa waktu lalu

Survei sumberdaya penyu laut di Kabupaten Kaimana tersebut dilakukan P2SP2 pada bulan Maret 2016 sampai Oktober 2016. Survei itu menyatakan terdapat 7 jenis penyu di dunia, 6 jenis penyu di antaranya berada di Indonesia dan 4 jenis penyu dapat ditemukan di Papua Barat, antara lain penyu hijau, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu belimbing yang pergerakannya menyebar ke Aru, Kei, Kaimana, dan Fakfak.

Daerah survei yang dilakukan di Kaimana berada Teluk Etna (Lakahia dan Ombanariki) dan Pulau Venu dengan menggunakan metode wawancara kepada tokoh masyarakat, nelayan setempat dan pemutaran film tentang penyu.

Ricardo menyatakan, “Terjadi penurunan jumlah penyu secara drastis. Salah satu contoh adalah penyu belimbing yang pada tahun 2008 ada sekitar 15.000 sarang per tahun, menurun jadi 2.000 sarang per tahun di tahun 2011. Tahun lalu tercatat hanya ada 1.500 sarang per tahun.”

Penurunan jumlah penyu terjadi karena beberapa faktor. Selain predator seperti babi, biawak, elang dan hiu, kondisi lingkungan juga sangat mempengaruhi, seperti suhu pasir yang tinggi dan air pasang.

Ricardo menegaskan, ancaman terbesar bagi penyu adalah perilaku manusia. Penggunaan alat kerja nelayan yang dapat mengancam kelangsungan hidup penyu seperti penggunaan kail pancing yang tertelan penyu dan tersangkut jaring nelayan. Fakta lain juga membuktikan bahwa sampah plastik banyak menyebabkan kematian pada penyu yang tidak sengaja mengkonsumsi sampah plastik.

Berbahaya bagi kesehatan

Hasil penelitian menemukan bahwa kandungan logam berat pada telur penyu hijau dan penyu sisik dari Pulau Venu melebihi batas aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Terdapat paling tidak 8 kandungan zat berbahaya pada telur penyu tersebut antara lain: merkuri, kadmium, arsen, timah, seng, mangaan, besi dan tembaga. Mengkonsumsi telur penyu berbahaya bagi kesehatan karena berdampak pada gangguan syaraf, penyakit ginjal, kanker hati, serta pengaruh pada kehamilan dan janin.

Pada presentasi tersebut Ricardo menampilkan tabel yang menggambarkan jumlah kandungan logam berat tersebut. Baik pada penyu hijau maupun penyu sisik, kandungan merkuri, kadmium dan arsen sudah melebihi ambang batas untuk dikomsumsi oleh manusia.

Hal ini terjadi karena penyu merupakan binatang yang berumur panjang, dan hidupnya berpindah-pindah. Karena penyu melakukan kontak dengan laut tercemar untuk jangka waktu yang lama, makanan yang tercemar dan terkontaminasi dikonsumsi oleh penyu sehingga binatang ini pun terkontaminasi unsur-unsur logam berat dan terakumulasi dalam tubuhnya. Daging, organ, darah, dan telurnya terindikasi mengandung parasit, bakteria, termasuk biotoksin dan zat pencemar seperti logam berat.

Ricardo menambahkan, “Memang penyu bisa kawin sampai 6 jam, tetapi itu bukan berarti bahwa memakan mereka juga membuat kita menjadi kuat.” Semakin banyak daging penyu yang dikonsumsi, semakin tinggi kandungan logam berat yang masuk ke dalam tubuh kita. Sebuah kasus kematian mendadak belum lama ini dialami oleh satu keluarga di Raja Ampat yang ternyata secara rutin mengkonsumsi penyu.

Wakil Bupati Kabupaten Kaimana, Ismail Sirfefa menegaskan, perlu ada sosialisasi masalah ini kepada masyarakat sekaligus mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan dan menjaga spesies penyu di kabupaten ini. "Masyarakat harus berhenti mengkonsumsi penyu,” paparnya.

Penyu berperan cukup penting bagi konservasi lingkungan laut. Sebagai contoh penyu hijau merupakan spesies kunci yang memakan lamun sehingga kesuburan lamun meningkat. Sedangkan penyu sisik mengkonsumsi sponges dan ikut menjaga kesuburan sponges.

“Kedatangan penyu untuk melepaskan telurnya di pantai berpasir bisa merupakan indikator baik-buruknya lingkungan pantai itu. Hanya perairan dan pantai yang tidak tercemar serta tidak rusak ekosistemnya yang menjadi tujuan kedatangan penyu,” demikian ditambahkan oleh Victor Nikijuluw, Marine Program Director Conservation International Indonesia.

Salah satu komitmen yang disepakati bersama dalam diskusi ini adalah pentingnya menjaga lingkungan dan perairan di wilayah Kabupaten Kaimana serta mengembangkan wisata yang ramah penyu untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. 

Mengenal Kitosan di Cangkang Rajungan

Mengenal Kitosan di Cangkang Rajungan

Sehabis makan rajungan, biasanya cangkangnya akan dibuang. Tapi tahukah kamu bahwa cangkang rajungan ini mengandung senyawa bernama kitosan, yang ternyata sangat bermanfaat? Cangkang rajungan yang mengandung kitosan bisa diolah menjadi minuman pencegah kanker.

Sebagai negara maritim, perairan Indonesia banyak mengahasilkan hasil laut yang melimpah, salah satunya ialah rajungan. Biasanya, nelayan akan memisahkan daging dan cangkang rajungan. Daging rajungan akan mereka jual dan cangkang langsung dibuang tanpa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Saat Dr. Emma Rochima, SPi., M.Si dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjadjaran melakukan survei ke daerah Cirebon, di sana banyak limbah rajungan yang tidak termanfaatkan. Emma pun mengolah limbah rajungan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat, selain untuk mengatasi permasalahan limbah dan menambah penghasilan nelayan, ia juga memanfaatkan limbah tersebut menjadi minuman kesehatan.

Limbah cangkang rajungan diolah menjadi kitosan. Kitosan adalah suatu senyawa polikationik bermuatan positif yang terdiri dari gugus asetil glukosa dan gugus tamin. Rantai gula yang bisa mengikat muatan-muatan negatif, sehingga muatan-muatan negatif tersebut bisa diikat dan akhirnya melemah.
“Sebetulnya kitosan bukan hanya dari rajungan tetapi ada juga pada udang, jamur, dan lain-lain,” ujarnya.

Kitosan bisa dimanfaatkan dalam berbagai bidang yaitu untuk bidang kedokteran yang bermanfaat sebagai penyalut luka atau menjadi benang jahit. Sedang di bidang pertanian bermanfaat sebagai biopestisida, pengawetan ikan fillet agar tetap segar, suplemen diet, penurun lemak, penjernih air karena kitosan bisa mengikat logam-logam, bisa menjadi daya imunitas seseorang.

Dr. Emma adalah ahli di bidang ilmu pangan sehingga limbah cangkang rajungan yang diteliti bisa ia aplikasikan pada makanan. Karena selama ini kitosan biasa digunakan pada bidang kedokteran dan pertanian. “Saya membuat kitosan dalam bentuk minuman agar seseorang yang mengkonsumsinya tidak merasa sedang meminum obat. Minuman tersebut berfungsi untuk mecegah penyakin kanker payudara,” ungkapnya.

Dr. Emma melakukan uji coba in vitro dan in vivo minuman itu pada tikus. Ketika seekor tikus diberi minuman kitosan, ternyata tikus tersebut memiliki volume kanker yang lebih kecil. “Melihat penelitian itu, akan memiliki prospek yang bagus di kemudian hari,” ungkap perempuan berkerudung ini.

Saat ini Dr. Emma tengah membuat ukuran kitosan menjadi lebih kecil atau disebut ukuran nano. Sebelumnya kitosan tersebut berukuran makro. Ada macam-macam bentuk dari kitosan yaitu tepung, plek, dan teh, lembaran.

Cara mengolah kitosan menjadi minuman adalah dengan membuat formulasi kemudian kitosan dibuat menjadi jelly dan dimasukan ke dalam formulasi teh, vitamin c, dan lain-lain. Banyaknya kitosan dalam cangkang rajungan sekitar 30 persen. Misalnya cangkang rajungan seberat 1 kg maka kitosan yang didapat sekitar 300 gram.

Ccara mengonsumsi minuman kesehatan tersebut janganlah terlalu banyak karena kitosan meresap atau mengikat muatan-muatan yang negatif dalam tubuh. Ketika seseorang meminum kitosan terlalu banyak, bukannya sehat malahan zat-zat yang lain juga bisa terikat oleh kitosannya. “Jangan minum lebih dari 250 ml per hari,” kata dia.

Namun, minuman kesehatan tersebut belum dipasarkan karena masih di dalam tahapan uji laboratorium. Dr. Emma akan megadakan uji konsumen, efek yang dirasakan pada manusia tidak langsung terasa berbeda halnya dengan yang terjadi pada tikus. Pada tikus langsung terlihat efeknya tetapi jika pada manusia membutuhkan waktu yang cukup lama, juga tergantung pada tubuh seseorang, reaksinya ada yang cepat dan lambat.

Berbagai kendalanya yang dihadapi oleh Dr. Emma yaitu pengolahan menjadi kitosan membutuhkan instalasi yang cukup lengkap, pengelolaan air limbahnya, jadi terkadang dari mulai cangkang basah, kering, membuat kitosan membutuhkan waktu yang panjang. Pengolahan cangkang menjadi kitosan tidak meninggalkan limbah (zero waste) karena buangan dari proses-proses menjadi kitosan dimanfaatkan kembali menjadi hal yang berguna kembali.

Penelitiannya dilakukan bekerja sama dengan Dikti, nelayan di Cirebon, Pusat Penelitian Nano Teknologi. Ke depannya ia akan bekerjasama dengan industri.

Dengan adanya penelitan ini diharapkan bisa menjadi bagian dari upaya menyehatkan masyarakat, mencari solusi permasalahan dengan minuman antikanker. “Siapa tahu orang-orang yang memiliki penyakit kanker payudara bisa sembuh dengan mengkonsumsi minuman ini,” ujarnya.

 

Senin, 17 Juli 2017

KKP Gagalkan Penyelundupan Insang Pari Manta

KKP Gagalkan Penyelundupan Insang Pari Manta


Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) berhasil melaksanakan operasi tangkap tangan atas pemanfaatan bagian tubuh dari spesies ikan dilindungi berupa insang kering pari manta senilai Rp156 miliar di Lamongan, Jawa Timur, pada Rabu (5/7). Demikian disampaikan Direktur Jenderal PSDKP, Eko Djalmo Asmadi, di Jakarta, Jumat (7/7).

“Sebagai aksi nyata melindungi sumber daya kelautan dan perikanan, kami berhasil menggagalkan perdagangan spesies yang dilindungi yang merupakan salah satu kekayaan laut, spesies langka, yang juga sekaligus menjadi warisan alam di Indonesia,” ungkap Eko.

Eko menambahkan, dalam operasi tangkap tangan yang juga didukung oleh lembaga konservasi Wildlife Crime Unit – Wildlife Conservation Society (WCU-WCS) tersebut, Tim Direktorat Jenderal PSDKP berhasil mengamankan barang bukti berupa 80 (delapan puluh) tapis insang pari manta atau dapat disetarakan dengan 16 ekor ikan pari manta.

Selanjutnya, Eko menjelaskan bahwa dalam proses pemeriksaan di lokasi kejadian, tim juga telah melakukan pengembangan pemeriksaan di tempat pengolahan ikan serta tempat-tempat penyimpanan lainnya yang diduga terdapat bagian-bagian ikan pari manta atau ikan yang dilindungi lainnya. Dalam pengembangan tersebut, tim berhasil menemukan tulang ikan campuran (diduga pari manta dan hiu) sebanyak 53 karung dan tulang yang masih dalam proses pengeringan sekitar 7 karung. Total berat tulang ikan tersebut sekitar 2.170 kilogram. Tim kemudian mengambil sampel tulang ikan untuk dilakukan uji DNA guna memastikan apakah tulang tersebut merupakan bagian dari ikan yang termasuk dilindungi.

Menurut Eko, pari manta telah ditetapkan sebagai jenis ikan yang dilindungi oleh negara melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 4/KEPMEN-KP/2014. Artinya, sejak tahun 2014 penangkapan dan perdagangan pari manta dan bagian-bagian tubuhnya merupakan kegiatan yang dilarang dan dapat dikenakan sanksi hukum.

Pasalnya, keberadaan pari manta memiliki manfaat ekonomi yang besar, sebab keelokan dan keindahan pari manta mampu menarik perhatian para wisatawan mancanegara dan lokal. Berdasarkan hasil kajian, wisata penyelaman pari manta di Nusa Penida, Komodo, Raja Ampat, dan Sangalaki memiliki nilai ekonomi sekitar Rp245 miliar per tahun. Dengan demikian dapat dikatakan pari manta telah menjadi aset jasa kelautan lewat kegiatan pariwisata bahari. Contohnya, untuk daerah tujuan wisata bahari yang sudah berkembang seperti di Nusa Penida-Bali, 1 ekor pari manta dapat menyumbangkan nilai ekonomi sebesar Rp9,75 miliar selama hidupnya. Angka ini jauh lebih besar bila dibandingkan jika pari manta dijual dalam bentuk insang kering yang nilainya sekitar Rp2 Juta per kg.

Setidaknya sejak ditetapkannya peraturan menteri pada tahun 2014, Ditjen PSDKP telah menangani 14 kasus serupa di beberapa daerah, antara lain Indramayu, Jawa Barat; Lombok, Timur Nusa Tenggara Barat; Banten; Surabaya, Jawa Timur; Banyuwangi, Jawa Timur; Lembata, Nusa Tenggara Timur; dan Bali.



Dihubungi terpisah via telepon, Kasubag Humas Polres Flores Timur Iptu Erna Romakia, membenarkan penangkapan HS saat transaksi tengah malam di Hotel Lestari, Larantuka tersebut. Menurut Erna, total barang bukti yang diamankan dari pelaku sekitar 25 kg, hanya setelah dipilah, insang pari manta yang disita sekitar 13 kg. Selebihnya jenis biasa yang dicampur. “Penangkapan tersebut dilakukan setelah pihaknya mendapat informasi adanya transaksi mencurigakan. Saat ini, tersangka beserta barang bukti diamankan di Polres Flores Timur, NTT.”

Erna menjelaskan, pelaku mengaku memiliki jaringan di luar NTT. Penangkapan ini, merupakan pengembangan dari kasus di Surabaya. “Kasus pertama ini ditangani Unit II Krimsus yang dipimpin Aiptu Nyoman Karwadi. Setelah masa penyidikan 30 hari, akan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Larantuka dan selanjutnya disidang di Pengadilan Negeri Larantuka.”

Menurut Erna, umumnya, masyarakat di Lamakera adalah nelayan. Dari wilayah ini pari manta yang dibawa pelaku berasal. Lemahnya sosialisasi membuat nelayan masih menangkap jenis yang sebenarnya sudah dilindungi ini. Karena, sebelum aturan perlindungan pari manta ada, masyarakat sudah biasa menangkapnya. “Kedepan, kami akan bekerja sama dengan Dinas Perikanan Larantuka untuk mengadakan sosialisasi dan bila masih ada pelanggaran akan dilakukan penindakan hukum.”
Pari manta merupakan spesies ikan pari yang lebar tubuhnya dari ujung sirip dada hingga ke ujung sirip lainnya dapat mencapai 6 – 8 meter. Beratnya ada yang mencapai tiga ton dan dapat hidup hingga usia 20 tahun. Meski begitu, reproduksinya rendah, ikan ini hanya dapat melahirkan satu anak dalam rentang waktu dua tahun.

Di Indonesia, terdapat dua jenis pari manta yang dilindungi yaitu pari manta karang (Manta alfredi) dan pari manta oseanik (Manta birostris). Perburuan pari manta yang terus meningkat dengan pasar tujuannya Tiongkok, membuat IUCN (International Union for Conservation of Nature) menetapkan kedua jenis ini dalam kategori Rentan.

Berdasarkan catatan WCU, unit kerja anti perdagangan satwa liar WCS, penangkap ini merupakan kasus ke-13. Dari semua kasus, hanya kasus di Serang saja yang tidak diproses hukum meski ada barang bukti 3 kg insang pari manta.