Minggu, 13 Agustus 2017

“Penyakit Non Infeksi Pada Ikan”

PENYAKIT AKIBAT PENGARUH LINGKUNGAN

Penyakit pada ikan merupakan gangguan pada fungsi atau struktur organ atau bagian tubuh ikan. Penyakit pada ikan dapat muncul akibat adanya faktor-faktor yang tidak sesuai dengan syarat hidup ikan. Umumnya, serangan penyakit pada ikan terjadi akibat kelalaian manusia yang membiarkan kondisi yang tidak seimbang atau tidak harmonis dalam hubungan mata rantai kehidupan ikan, parasit dan lingkungan. Jika keadaan ini tidak mendapat perhatian serius maka akan mengganggu kesehatan ikan. Ikan akan mudah terserang penyakit dan mengakibatkan kematian. Kerugian yang timbul akibat serangan suatu penyakit dapat berbentuk kematian, pertumbuhan yang lambat bahkan tidak normal, atau produksi benih yang menurun.

Dengan demikian, kegagalan usaha budidaya ikan akibat penyakit tidak hanya disebabkan oleh faktor tunggal saja, tetapi merupakan hasil interaksi yang sangat kompleks antara ikan budidaya (kualitas, stadia rawan), lingkungan budidaya (intern dan ekstern) dan organisme penyebab penyakit serta kemampuan dari pelaksana atau budidayawan itu sendiri. Pada intinya, kesehatan ikan dapat menjadi terkontrol jika semua aspek lingkungan telah terkontrol pula. Ikan yang pernah terserang penyakit dapat pula menjadi sumber penyakit karena fungsinya menjadi agen (perantara) terhadap timbulnya penyakit baru di kemudian hari jika tidak segera ditangani atau diobati secara tuntas.

Salah satu kelompok penyebab penyakit pada ikan yang juga harus diwaspadai oleh pembudidaya ikan dan hobiis (kolektor) ikan adalah kelompok non-infeksi. Kelompok ini adalah kelompok penyakit yang disebabkan oleh bukan jasad hidup, antara lain disebabkan oleh perubahan lingkungan seperti kepadatan ikan terlalu tinggi, variasi lingkungan (oksigen, suhu, ph, salinitas, dsb), biotoksin (toksin alga, toksin zooplankton, dsb), pollutan, rendahnya mutu pakan dan lain-lain. Penyakit akibat lingkungan pada ikan sering terjadi. Berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi 3 golongan yaitu akibat faktor abiotik, faktor biotik dan faktor penanganan (handling).
  1. Faktor Abiotik (Suhu, Oksigen Terlarut, pH, dan Kesadahan)
  • Suhu/ Temperatur
Ikan mempunyai tahap toleransi yang maksimal dan minimal terhadap perubahan suhu. Jika terjadi perubahan suhu melebihi 5oC secara mendadak, akan mempengaruhi keseimbangan regulasi sistem saraf dan hormonal badan ikan yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan terhadap sistem imunisasi.

Suhu yang tinggi di daerah tropis merupakan masalah yang sering ditemukan, karena menyebabkan kurangnya kelarutan oksigen dan meningkatnya pertambahan mikroorganisme di dalam sistem akuatik. Suhu rendah menyebabkan kecepatan metabolisme turun dan nafsu makan ikan menurun. Suhu dingin di bawah suhu optimum akan berpengaruh pada tingkat kekebalan tubuh ikan, sementara itu sedangkan suhu optimum berbeda-beda bagi masing-masing jenis ikan. ’Heat stress’ menyebabkan kadar metabolisme badan ikan meningkat, akibatnya ikan mengalami penurunan selera makan dan mudah terjangkit penyakit akibat kurangnya ketahanan melawan penyakit.
  • Cahaya dan Kelarutan Oksigen
Cahaya diperlukan untuk proses fotosintesis dan fotosintesis akan meningkatkan kelarutan oksigen di dalam sistem akuatik. Banyak faktor yang berpengaruh dalam proses ini akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen di dalam air.
CO2 + 2 H2X ———– tenaga cahaya ———– [CH2O] + H2O + 2X
6CO2 + 6H2O ———– tenaga cahaya ———– C6H12O6 + 6O2
Tahap kebutuhan oksigen terlarut untuk ikan adalah antara 4 – 10 ppm. Ikan dapat hidup di bawah 4 ppm, tetapi kadar oksigen yang rendah akan mempengaruhi kadar tumbuh besar ikan secara keseluruhan.
  • pH
Bagi ikan, pH air yang dibutuhkan akan bervariasi tergantung jenisnya. Pada umumnya ikan akan toleran terhadap range pH tertentu misalnya untuk ikan hias jenis Mas Koi dan Mas koki antara 6,2 – 9,2. Keberadaan pH air yang ekstrim dibawah atau diatas pH optimum akan mengakibatkan gangguan pada kesehatan ikan. Efek langsung dari pH rendah dan yang terlalu tinggi adalah berupa kerusakan sel epitel baik kulit maupun insang, karena akan mengganggu pada proses penyerapan oksigen terutama bagi ikan yang bernafas menggunakan insang.
  • Kesadahan
Kesadahan pada lingkungan pembudidaya ikan dikenal dengan istilah air lunak dan air yang keras. Nilai kesadahan pada air biasanya ditentukan dengan kandungan kalsium karbonat atau magnesium. Tingkatan nilai kesadahan untuk air dapat dibedakan menjadi air yang lunak (air dengan kesadahan rendah), air yang sedang dan air yang keras (kesadahan tinggi) dan sangat keras. Pada tabel  dibawah ini dapat dilihat tingkat kesadahan air berdasarkan jumlah kandungan kalsium karbonat.
Tingkat kesadahan
Kandungan kalsium karbonat
Nilai kesadahan
(dCHo)
Lunak (rendah) Sedang
Keras (tinggi)
Sangat keras
0 – 50 50 – 150
150 – 100
> 300
0 – 3,5 3,5 – 10
10,5 – 21
> 21
  • Pencemaran
Bahan cemaran berasal dari sumber air pada usaha budidaya ikan, yang menggunakan sumber air dari sungai atau perairan umum lainnya. Bahan cemaran berasal dari limbah domestik, aliran darat yang dibawa oleh hujan maupun limbah industri berupa bahan beracun dan logam berat. Bahan cemaran tersebut secara langsung dapat mematikan atau bisa juga melemahkan ikan.

Oksigen terlarut akan berkurang dikarenakan proses pembongkaran bahan organik dari bahan cemaran oleh bakteria. Proses ini juga akan meningkatkan populasi bakteri disamping meningkatkan kandungan sistem akuatik. Bahan cemaran dengan konsentrasi rendah yang berlangsung dalam jangka waktu lama akan menimbulkan efek yang tidak mematikan ikan tetapi mengganggu proses kehidupan ikan (sublethal) dan hal ini akan mengganggu kesehatan ikan. Pada kondisi demikian ikan akan mudah terinfeksi oleh segala macam penyakit misalnya penyakit akibat infeksi jamur dan bakteri.
  1. Faktor Biotik
Adanya nutrien yang tinggi dari kondisi di atas akan mengakibatkan ‘alga bloom’, yang akan menurunkan kandungan oksigen, meingkatkan karbondioksida dan pH air melalui proses dekomposisi. Algae yang menutupi permukaan air, menghalangi cahaya yang masuk dan akan mengganggu proses pernafasan ikan. Sementara itu algae yang tumbuh di dalam air berpengaruh terhadap pergerakan ikan karena akan terperangkap oleh algae. Selain itu algae sel tunggal berupa filament, dapat masuk ke dalam lembar insang dan mengganggu proses pernafasan ikan, sehingga ikan lama kelamaan akan mengalami kekurangan oksigen.
Beberapa alga yang biasanya tumbuh berlebih (blooming) akan berpengaruh pada pengurangan kandungan oksigen dalam air baik dari aktivitas fotosintesa terutama pada waktu malam hari. Akibat dari aktivitas pembusukan algae akan menimbulkan bahan beracun seperti ammoniak. Selain itu beberapa algae akan bersifat racun bagi ikan misalnya dari jenis Mycrocystis aeruginosa.
  1. Faktor Penanganan (Handling)
Beberapa faktor penanganan ikan perlu diperhatikan adalah: pemberian pakan yang tidak seimbang, penanganan ikan secara kasar dan jumlah padat tebar terlalu tinggi. Pemberian pakan yang tidak seimbang. Pemberian pakan secara berlebihan perlu dihindari, karena pakan yang berlebih akan jatuh ke dasar perairan menjadi substrat pertumbuhan bakteri. Selain dari itu, bahan organik menyebabkan proses perombakan dan selanjutnya akan meningkatkan persaingan terhadap penggunaan oksigen.
  • Penanganan ikan secara kasar
Pada saat ikan dijadikan sampel pemeriksaan penyakit, tindakan penanganan ikan secara kasar dapat menyebabkan cidera pada ikan. Masalah penyakit akibat bakteri dan jamur merupakan masalah utama yang sering dihadapi akibat penanganan ikan secara kasar.
  • Jumlah padat tebar terlalu tinggi
Kepadatan ikan yang terlalu tinggi menyebabkan ikan saling berebut oksigen. Kekurangan oksigen akan menyebabkan ikan stres dan daya tahan tubuhnya menurun sehingga mudah dihinggapi penyakit. Bagi ikan berduri, badannya akan mudah mendapat luka sehingga penyakit akan mudah menular dari satu ikan ke ikan lainnya. Kondisi padat juga akan menyebabkan terjadi ‘krisis sosial’ di mana ikan yang besar akan mendominasi ikan kecil, akibatnya proses tumbuhbesar ikan akan terhambat sehingga ukuran ikan menjadi tidak seragam.

PENYAKIT KEKURANGAN NUTRISI
Seperti halnya manusia, ikan memerlukan nutrisi yang baik, agar bisa hidup dengan sehat. Oleh karena itu ikan perlu diberi makan dengan makanan yang mengandung kadar nutrisi yang memadai. Nutrisi yang harus ada pada ikan adalah protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin. Pakan ikan harus mengandung cukup protein, karena protein yang dibutuhkan oleh ikan relatif tinggi. Kekurangan protein akan menurunkan daya tahan tubuh ikan terhadap penyakit dan pertumbuhan ikanpun akan terganggu.

Kekurangan vitamin pada ikan mengakibatkan kelainan-kelainan pada tubuh ikan baik kelainan bentuk tubuh ataupun kelainan fungsi faal (fisiologi). Contohnya:
  1. Kekurangan vitamin A mengakibatkan pada pertumbuhan yang lambat, kornea mata menjadi lunak, mata menonjol dan mengakibatkan kebutaan, pendarahan pada kulit dan ginjal.
  2. Ikan yang kekurangan vitamin B1 (Thiamin) menunjukkan gejala : ikan lemah dan kehilangan nafsu makan, timbulnya pendarahan atau penyumbatan pembuluh darah, abnormalitas gerakan seperti kehilangan keseimbangan, dan warna kulit ikan menjadi pucat.
  3. Kekurangan vitamin B2 (Riboflavin) menunjukkan gejala: mata ikan keruh dan pendarahan pada okuler mata, akibatnya ikan lama kelamaan akan mengalami kebutaan, kulit berwarna gelap, nafsu makan hilang, pertumbuhan lamban dan timbulnya pendarahan pada kulit dan sirip.
  4. Ikan yang mengalami kekurangan vitamin B6 (Pyridoxine) akan menyebabkan frekuensi pernafasan meningkat, ikan kehilangan nafsu makan, ikan lama kelamaan akan mengalami kekurangan darah.
  5. Vitamin C sangat berperan di dalam pembentukan kekebalan tubuh, karena itu kekurangan vitamin C yang berlangsung dalam periode lama akan mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh. Kekurangan vitamin C pada ikan akan menunjukkan gejala ikan berwarna lebih gelap, pendarahan terjadi pada kulit, hati dan ginjal. Kekurangan vitamin C juga akan menyebabkan terjadinya kelainan pada tulang belakang yaitu bengkok arah samping (Scoliosis) dan bengkok arah atas dan bawah (Lordosis). Pada tabel dibawah ini dapat dilihat beberapa contoh kelainan pada tubuh ikan akibat dari kekurangan nutrisi tertentu.
Gejala Kekurangan
Nutrisi
Anemia Folic Acid, Inositol, Niacin, Pyrodoxine, Rancid Fat, Riboflavin, Vitamin B12, Vitamin C, Vitamin E, Vitamin K.
Anorexia Biotin, Folic Acid, Inositol, Niacin, panthothenic Acid, Pyrodoxine, Riboflavin, Thiamin, Vitamin A, Vitamin B12, Vitamin C
Acites Vitamin A, Vitamin C, Vitamin E,
Ataxia Pyrodoxine, Pantothenic acid, Riboflavin
Atrophy of Gills Panthothenic Acid
Atrophy of Muscle Biotin, Thiamin
Caclinosis: renal Magnesium
Cartilage abnormality Vitamin C, Tryptophan
Cataracts Methionine, Riboflavin, Thiamin, Zinc
Ceroid liver Rancid Fat, Vitamin E
Cloudy lens Methionine, Riboflavin, Zinc
Clubbed gills Pantothenic Acid
Clotting blood; slow Vitamin K
Colouration: dark skin Biotin, Folic Acid, Pyrodoxine Riboflavin
Convulsions Biotin, Pyrodoxine, Thiamin
Discolouration of skin Fatty Acids, Thiamin
Deformations ; bone Phosphorous
Deformations ; lenss Vitamin A
Degenerations of gills Biotin
Dermatitis Pantothenis Acid
Diathesis, exudative Selenium
Distended stomach Inositol
Distended swimblandder Pantothenis Acid
Dystrophy, muscular Selenium, Vitamin E
Untuk menanggulangi akibat kekurangan vitamin maka tentu saja kita harus melengkapi atau menambahkan beberapa vitamin pada pakan ikan.

PENYAKIT KELAINAN GENETIK

Faktor genetik berpengaruh langsung pada bentuk fisik ikan dan keadaan ini tidak akan bisa diobati dengan menggunakan obat antibiotik ataupun jenis yang lainnya. Perkawinan kekerabatan pada ikan akan dapat menimbulkan masalah pada penurunan daya tahan tubuh ikan tersebut terhadap infeksi suatu penyakit, karena perkawinan kekerabatan akan mengakibatkan miskinnya variasi genetik dalam tubuh ikan itu sendiri. Kelainan lain yang sering ditemukan pada ikan hasil perkawinan kekerabatan adalah tutup insang tidak tertutup dengan sempurna. Hal tersebut akan mengganggu proses pernafasan ikan sehingga lama kelamaan ikan akan mengalami kekurangan darah. Ini disebabkan rusaknya sistem pembuat darah akibat dari minimnya oksigen yang dipasok pada jaringan pembuat darah. Pencegahan penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit non infeksi adalah sebagai berikut:
  1. Lingkungan, terutama sifat fisika, kimia dan biologi perairan akan sangat mempengaruhi keseimbangan antara ikan sebagai inang dan organisme penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan ikan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah stress dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit non parasit.
  2. Kepadatan ikan yang seimbang karena jika kepadatan ikan melebihi daya dukung perairan (carrying capacity) akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti amoniak akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stress dan merupakan penyebab timbulnya penyakit.
Pakan yang seimbang karena pemberian pakan yang kurang bermutu dapat menyebabkan kekurangan vitamin sehingga akan diikuti oleh pertumbuhan yang lambat atau menurunnya daya tahan ikan dan memudahkannya untuk diserang penyakit. Disamping itu juga tingkat pemberian pakan dan kualitas pakan juga akan mempengaruhi sistem kekebalan. Untuk tindakan pengobatan penyakit non infeksi dapat dilakukan dengan vaksinasi.

Sumber:
Afriantono, E dan Evi Liviawaty. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius, Yogyakarta.
Dailami. D, A.S. 2002. Agar Ikan Sehat. Swadaya. Jakarta.
Lesmana, Darti. S, 2003. Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Ikan Hias. Penebar Swadaya.

Kajian Keadaan Pedesaan Secara Partisipatif

Kajian Keadaan Pedesaan secara Partisipatif adalah salah satu tahap dalam meningkatkan kemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Proses pemandirian atau Pemberdayaan Masyarakat terdiri dari beberapa tahapan yaitu, Kajian Keadaan Pedesaan oleh Masyarakat, Pengembangan Kelompok, Perencanaan dan Pelaksanaan Kegiatan dan Monitoring dan Evaluasi. Kajian Keadaan Pedesaan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan percaya diri masyarakat dalam mengidentifikasi serta menganalisa situasinya, baik potensi maupun permasalahannya. Ini sangat berbeda dengan pendekatan “top-down” . Dalam pendekatan ini, lembaga menentukan apa yang akan dikerjakan dalam suatu wilayah. Masyarakat diikutkan tanpa diberikan pilihan. Dalam Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif justru masyarakat memanfaatkan informasi dan hasil kajian mereka sendiri untuk mengembangkan rencana kerja mereka agar lebih maju dan mandiri.

Keluaran Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif adalah gambaran tentang masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, potensi serta peluang pengembangan. Hasil ini merupakan dasar untuk tahapan proses Pemberdayaan Masyarakat berikut, yaitu pembentukan dan pengembangan kelompok serta penyusunan dan pelaksanaan rencana kegiatan oleh masyarakat. Hasil Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif juga dapat digunakan oleh  instansi yang berkepentingan untuk mengembangkan pelayanan serta program yang lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif dilakukan oleh masyarakat dan difasilitasi atau didampingi oleh Tim Pemberdayaan Masyarakat. Dalam Kajian Partisipatif diberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dan pengetahuannya.

Pendekatan yang dipakai untuk mengkaji keadaan pedesaan sacara partisipatif, adalah “Participatory Rural Appraisal” atau “PRA”. PRA ini adalah “sekumpulan teknik dan alat yang mendorong masyarakat Pedesaan untuk turut serta meningkatkan dan menganalisa pengetahuannya mengenai hidup dan kondisi mereka sendiri, agar mereka dapat membuat rencana dan tindakan”. PRA mengutamakan masyarakat yang terabaikan agar memperoleh kesempatan untuk memiliki peran dan mendapat manfaat dalam kegiatan program pengembangan.

Teknik dan alat PRA berupa visual (gambar, tabel, bentuk) yang dibuat oleh masyarakat sendiri dan dipergunakan sebagai media diskusi masyarakat tentang keadaan mereka sendiri serta lingkungannya. Kualitas informasi yang digali dengan PRA biasanya tinggi, namun kuantitatif kadang-kadang kurang tepat. Walaupun kita tidak tahu apakah informasi seratus persen benar, yang penting bahwa informasi itu cenderung mendekati kebenaran. Tahapan-tahapan dalam proses kajian keadaan pedesaan partisipatif meliputi:

1.Persiapan desa bersama wakil masyarakat
  1. Menentukan tempat dan waktu;
  2. Koordinasi dengan pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat
  3. Mengumumkan kepada mayarakat;
  4. Persiapan akomodasi dan konsumsi serta dana yang diperlukan;
2.Persiapan dalam tim
  1. Menentukan bahan pendukung dan media;
  2. Menentukan informasi yang akan dikaji;
  3. Menentukan teknik PRA yang ingin dipakai;
  4. Membagi peran dalam Tim PM;
3.Melakukan kajian keadaan kegiatan PRA
  1. Berbagi pengalaman dan pengetahuan
  2. Analisa pengalaman dan pengetahuan
  3. Menyimpulkan
4.Pengumpulan dan perumusan hasil PRA (pelaporan) Lokakarya/ Musyawarah Masyarakat
  1. Mempresentasi semua hasil PRA;
  2. Mendiskusikan kembali dengan masyarakat untuk mempertajam temuan;
  3. Penyusunan hasil akhir analisa kajian potensi, kesempatan, masalah dan kemungkinan pengembangan program oleh masyarakat.
Waktu pelaksanaan disesuaikan dengan keadaan setempat dan keinginan masyarakat. PRA dapat dilaksanakan dalam bentuk “Lokakarya” (misalnya selama 5 hari terus menerus) atau dalam beberapa tahap (misalnya satu hari seminggu selama 2 bulan). PRA tidak mudah untuk dilakukan karena masih sering ada anggapan bahwa masyarakat miskin bodoh dan perlu digurui. Untuk itu fasilitator perlu sikap hati rendah serta kesediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga masyarakat sebagai pelaksana dan nara sumber utama dalam memahami keadaannya. Kegiatan Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif adalah dasar untuk Pembentukan Kelompok serta Penyusunan Rencana Kegiatan Kelompok.

Berdasarkan masalah dan kebutuhan yang dihadapi oleh masyarakat, dapat dikembangkan kegiatan untuk memecahkan masalah tersebut. Sering kali, dibentuk kelompok yang memudahkan pencapaian tujuan bersama. Kelompok juga berfungsi sebagai kelompok belajar.Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif atau PRA sering memanfaatkan teknik-teknik visualisasi (pembuatan gambar) untuk mendukung analisa masyarakat terhadap keadaan mereka. Diharapkan bahwa Tim Fasilitator menyesuaikan pilihan teknik yang akan digunakan dengan keadaan dan dinamika setempat. Kalau ada pengalaman tentang teknik-teknik lain yang berguna, silahkan memanfaatkannya. Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan percaya diri masyarakat dalam mengidentifikasi serta menganalisa situasinya, baik potensi maupun permasalahannya. Masyarakat memanfaatkan informasi dan hasil analisa sendiri untuk mengembangkan rencana kerja mereka agar lebih maju dan mandiri. Dalam hal ini juga diharapkan masyarakat mampu menyampaikan hasil perencanaannya kepada instansi terkait yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif adalah tahap pertama dalam siklus pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Setelah kajian, masyarakat akan masuk tahap perencanaan kemudian pelaksanaan dan monitoring dan evaluasi. Setelah itu, mereka lanjutkan dengan mengkaji ulang sebagai dasar untuk rencana baru. Keluaran Kajian Keadaan Pedesaan adalah gambaran tentang:
  1. Potensi sumber daya alam yang dimiliki masyarakat, termasuk sistem usaha;
  2. Potensi sosial masyarakat;
  3. Potensi perekonomian masyarakat;
  4. Potensi lembaga atau kelompok kegiatan yang ada, latar belakangnya, strukturnya, kegiatannya dan lain-lain (termasuk lembaga pelayanan, baik pemerintah maupun non-pemerintah);
  5. Masalah-masalah masyarakat;
  6. Prioritas dan penyebab masalah;
  7. Peluang-peluang pengembangan.
Hasil ini merupakan dasar untuk tahapan proses Pemberdayaan Masyarakat berikut yaitu pembentukan dan pengembangan kelompok dan penyusunan dan pelaksanaan rencana kegiatan oleh masyarakat.

Teknologi Budidaya Ikan Ramah Lingkungan

Seiring berkembangnya kebutuhan industri budidaya ikan atau udang yang dituntut ramah lingkungan, beragam teknologi yang dapat digunakan untuk meminimalisir limbah budidaya mulai bermunculan. Banyak upaya yang dapat dilakukan oleh pembudidaya ikan atau udang untuk meminimalisir limbah sisa pakan atau mengolahnya.
  1. Teknologi Sistem Resirkulasi
Sistem ini memanfaatkan proses nitrifikasi dari bakteri. Dengan sistem ini limbah dari sisa pakan maupun hasil metabolisme berupa Amoniun dikonversi menjadi komponen yang lebih dapat ditoleransi oleh ikan yaitu nitrat.  Selanjutnya nitrat dapat digunakan untuk bahan pupuk.
Sistem tersebut sudah dikembangkan untuk pembesaran ikan lele di STP Serang. Tidak hanya meminimalisir limbah namun mampu meningkatkan produksi lele mencapai 400 kg/m3 air atau sekitar 4 kali lipat dari hasil rata-rata yang biasa dicapai.
  1. Teknologi Busmetik atau Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik
Model budidaya ini diterapkan dengan memperkecil petakan tambaknya dari ukuran biasanya (1/5  hingga 1/4 dari ukuran tampak pada umumnya). Dengan memperkecil petakan, maka pengontrolan lebih mudah dan efisiensi penggunaan pakan menjadi lebih maksimal.
Teknologi ini sudah diselaraskan dengan penanaman vegetasi mangrove yang sangat berguna untuk mendukung tambak itu sendiri. Air dari tambak tidak dibuang ke perairan bebas namun diarahkan ke vegetasi mangrove, yang kemudian dimanfaatkan untuk budidaya bandeng atau kepiting.
  1. Teknologi Probiotik
Teknologi ini  diyakini mampu membantu meminimalisir limbah (terutama pada budidaya udang). Bakteri dari genus Bacillus, banyak membantu dalam proses perbaikan mutu air tambak karena mampu menkonversi bahan organik menjadi komponen terurai lainnya yang lebih ramah.
Probiotik ini merupakan salah satu upaya budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan karena probiotik bertugas mengurai  H2S, amoniak, nitrit, dan nitrat yang terdapat pada limbah.
  1. Teknologi Bioflok
Teknologi yang menerapkan keseimbangan unsur organik dalam air ini ini sudah banyak diterapkan, baik pada ikan air tawar maupun pada udang di tambak. Teknologi ini dapat menekan konversi pakan ikan atau udang sehingga akan mengurangi buangan ke lingkungan.
  1. Teknologi Akuaponik
Teknologi ini juga mulai banyak dikembangkan, karena dinilai mampu meminimalisir limbah hasil budidaya. Unsur hara (biasanya didominasi unsur Nitrogen) akan diserap oleh tanaman melalui akarnya. Jenis tanaman yang digunakan diantaranya adalah tanaman air seperti kangkung.
  1. Teknologi Yumina (sayur dan ikan) dan Bumina (buah dan ikan)
Teknologi ini dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan kelautan dan Perikanan. Prinsip dasar dari teknologi tersebut hampir sama dengan teknologi akuaponik. Teknologi ini bahkan sudah diadopsi oleh FAO sebagai teknologi rekomended untuk dikembangkan.
  1. Teknologi 90% Satiation Feeding
Teknologi ini dikembangkan oleh ASA (American Soybean Association). Teknologi tersebut diambil dari negeri Tiongkok. Logikanya adalah ikan tidak diberikan pakan kenyang setiap hari, namun hanya pada level 90 % saja. Sehingga tidak ada makanan yang tersisa karena tidak dimakan, kemudian metabolisme ikan lebih baik. Teknologi ini pernah dicoba di Indonesia sekitar 2004 – 2006 pada ikan yang dipelihara di kolam arus deras dan karamba jaring apung (mas dan nila).
  1. Teknologi Pakan Terapung
Dengan menggunakan pakan ikan terapung, maka dapat lebih mudah mengontrol jumlah pakan yang diberikan kepada ikan. Hal ini karena pakannya terapung sehingga dapat dilihat dengan mata. Namun teknologi ini hanya untuk ikan-ikan yang makan di permukaan saja, tidak cocok untuk tipe demersal seperti udang.
  1. Teknologi Protein Sparring
Teknologi ini menggantikan sumber energi utama untuk pakan dengan menggunakan karbohidrat bukan dari protein. Gagasan tersebut muncul karena adanya imbauan untuk menekan pengggunaan tepung ikan sebagai bahan baku utama untuk pabrik pakan.
  1. Teknologi Bioremediasi
Teknologi ini digunakan untuk memperbaiki kualitas suatu lingkungan dengan menggunakan mikroorganisme. Prinsipnya, ada banyak jenis dan jumlah mikroba di alam yang masing-masing memiliki kemampuan adaptasi dan fungsi yang spesifik yang dapat kita manfaatkan untuk pemulihan lingkungan

Teknik dan Alat PRA

Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif atau PRA sering memanfaatkan teknik-teknik visualisasi (pembuatan gambar) untuk mendukung analisa masyarakat terhadap keadaan mereka.  Pada umumnya, ada beberapa metode visualisasi, yaitu gambaran, tabel dan bagan. Berdasarkan metode-metode ini, banyak teknik telah dikembangkan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa teknik yang dapat dipilih dalam Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif. Dalam bab ini teknik-teknik tersebut dijelaskan baik pengertian, tujuan serta bagaimana pelaksanaannya. Teknik-teknik tersebut adalah Pemetaan desa, Kalender musim, Transek (penelusuran desa), Diagram Venn (bagan hubungan kelembagaan), Bagan perubahan dan kecenderungan, Ranking kesejahteraan, Diagram alur, Analisa Kehidupan, dan Penentuan angka dan ranking. Diharapkan bahwa Tim Fasilitator menyesuaikan pilihan teknik dengan keadaan dan dinamika setempat.
  1. Pemetaan Desa
Pemetaan desa adalah teknik PRA untuk memfasilitasi masyarakat untuk mengungkapkan keadaan wilayah desa tersebut beserta lingkungannya sendiri. Hasilnya adalah peta atau sketsa keadaan sumberdaya umum desa atau peta dengan topik tertentu (peta topikal), sesuai kesepakatan dan tujuannya, misalnya ‘peta Kolam air tawar, peta pengolah ikan, dan peta penyebaran penduduk.  Teknik ini banyak digunakan dan mengarah kepada teknik-teknik lain. Pemetaan dapat dilakukan di atas tanah atau di atas kertas. Sering kali dipakai simbol-simbol dan peralatan yang sederhana seperti tongkat, batu-batuan dan biji-bijian. Kalau dibuat di tanah, luasnya peta tidak terbatas, supaya banyak orang dapat berperan aktif dalam pelaksanaannya. Kalau digambar di tanah, hasilnya harus digambar kembali di atas kertas agar hasilnya tidak hilang. Tahapan dalam pelaksanaan meliputi:
  1. Sepakatilah tentang topik peta (umum atau topikal) serta wilayah yang akan digambar;
  2. Sepakatilah tentang simbol-simbol yang akan digunakan
  3. Menyiapkan bahan yang dibutuhkan
  4. Gambarlah (masyarakat!!) batas-batasan wilayah dan beberapa titik tertentu (misalnya jalan, sungai, rumah ibadah, sekolah, pasar, kantor desa)
  5. Melengkapi peta dengan detail-detail sesuai topik peta (umum atau topikal)
  6. Diskusilah lebih lanjut tentang keadaan, masalah-masalah, sebabnya serta akibatnya
  7. Menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  8. Pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan kalau pembuatan peta dan diskusi sudah selesai, peta digambar kembali atas kertas (secara lengkap dan sesuai peta masyarakat).

  1. Kalender Musim
Kegiatan-kegiatan dalam daur kehidupan masyarakat desa sangat dipengaruhi siklus musim. Kalender musim menunjukkan perubahan dan perulangan keadaan-keadaan seperti cuaca, musim ikan, pembagian tenaga kerja, keberadaan hama dan penyakit dan lain-lain, dalam satu kurun waktu tertentu (musiman). Hasilnya, yang digambar dalam suatu ‘kalender’ dengan bentuk matriks, merupakan informasi penting sebagai dasar pengembangan rencana program. Kalender musim dapat dibuat di atas kertas atau di tanah. Sering kali dipakai simbol-simbol. Untuk simbol tersebut dapat dimanfaatkan biji-bijian, daun-daunan, batu-batuan dan lain-lain. Kalau digambar di tanah, hasilnya harus digambar kembali di atas kertas. Tahapan dalam pelaksanaan meliputi:
  1. Gambarlah (masyarakat) sebuah kalender dengan 12 bulan (atau 18 bulan) sesuai kebutuhan. Tidak perlu mengikuti kalender tahunan, bisa mulai pada bulan lain, misalnya sesuai musim tanam.
  2. Diskusi umum tentang jenis-jenis kegiatan serta keadaan apa yang paling sering terjadi pada bulan-bulan tertentu dan apakah kegiatan itu selalu terulang dari tahun ke tahun.
  3. Gambarlah kegiatan-kegiatan utama serta keadaan-keadaan kritis yang berakibat besar bagi masyarakat dalam kalender (menyepakati tentang simbol-simbol dulu).
  4. Mendiskusikan lebih lanjut tentang keadaan, masalah-masalah, sebabnya serta akibatnya.
  5. Menyesuaikan gambaran dengan hasil diskusi.
  6. Menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi.
  7. Pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan kalau pembuatan kalender dan diskusi sudah selesai, kalender digambar kembali di atas kertas (secara lengkap dan sesuai gambar masyarakat).

  1. Transek (Penelusuran Desa)
Transek (Penelusuran Desa) merupakan teknik untuk memfasilitasi masyarakat dalam pengamatan langsung lingkungan dan keadaan sumber-sumberdaya dengan cara berjalan menelusuri wilayah desa mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati. Dengan teknik transek, diperoleh gambaran keadaan sumber daya alam masyarakat beserta masalah-masalah, perubahan-perubahan keadaan dan potensi-potensi yang ada. Hasilnya digambar dalam diagram transek atau “gambaran irisan muka bumi”. Jenis-jenis transek meliputi “Transek sumber daya desa umum, Transek sumber daya alam, Transek Topik Tertentu, misalnya “transek mengamati sumber pakan ternak” atau transek pengelolaan tanah”.
Transek biasanya terdiri dari dua tahapan utama yaitu:
a. Perjalanan dan observasi
Melalui pembuatan gambar transek. Hasilnya biasanya langsung digambar atas flipchart (kertas lebar). Sebelum melakukan Transek perlu disiapkan bahan dan alat seperti kertas flipchart, kartu warna-warni, spidol, makanan dan minuman. Kegiatan transek biasanya makan waktu yang cukup lama.
b. Perjalanan
Sepakatilah tentang lokasi-lokasi penting yang akan dikunjungi serta topik-topik kajian yang akan dilakukan (misalnya penggunaan lahan, jenis tanah, pengairan, ketersediaan pakan ikan, masalah, potensi dan lain-lain), sepakatilah lintasan penelusuran serta titik awal dan titik akhir (bisa memanfaatkan hasil Pemetaan Desa), lakukan perjalanan dan mengamati keadaan, sesuai topik-topik yang disepakati, dan buatlah catatan-catatan hasil diskusi di setiap lokasi (tugas pencatat).
c. Pembuatan gambaran transek
Sepakatilah simbol yang akan dipergunakan dan mencatat simbol dan artinya, gambarlah bagan transek berdasarkan hasil lintasan (buatlah dengan bahan yang mudah diperbaiki/ dihapus agar masih dapat dibuat perbaikan), untuk memfasilitasi penggambaran, masyarakat diarahkan untuk menganalisa mengenai: perkiraan ketinggian, perkirakan jarak antara satu lokasi dengan lokasi lain, mengisi hasil diskusi tentang topik-topik dalam bentuk bagan/matriks (lihat contoh), kalau gambar sudah selesai, mendiskusikan kembali hasil dan buat perbaikan jika diperlukan, mendiskusikan permasalahan dan potensi masing-masing lokasi, menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi, dan pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi.
  1. Diagram Venn dalam PRA
Diagram Venn dapat dibuat  di kertas atau di tanah. Sering kali dipakai kertas (yang digunting dalam bentuk lingkaran) dan spidol. Tahapan dalam pelaksanaan Diagram Venn meliputi:
  1. Bahaslah dengan masyarakat lembaga-lembaga yang terdapat di desa (lembaga-lembaga yang terkait dengan topik yang akan dibahas)
  2. Catatlah daftar lembaga-lembaga pada flipchart
  3. Guntinglah sebuah lingkaran kertas yang menunjukkan masyarakat
  4. Sepakatilah mengenai simbol-simbol yang dipergunakan, misalnya:
  5. Besarnya lingkaran: menunjukkan pentingnya lembaga-lembaga tersebut menurut pemahaman masyarakat. Semakin penting suatu lembaga maka semakin besar lingkaran
  6. Jarak dari tingkatan masyarakat: menunjukkan manfaat lembaga tersebut menurut pemahaman masyarakat. Semakin dekat dengan lingkaran masyarakat maka lembaga tersebut semakin
  7. Tulislah kesepakatan simbol-simbol tersebut pada flipchart agar mudah diingat oleh masyarakat
  8. Bahaslah apakah lembaga-lembaga tersebut ‘penting’ menurut pemahaman masyarakat dan menyepakati besarnya lingkaran yang mewakili lembaga tersebut
  9. Guntinglah kertas-kertas yang berbentuk lingkaran yang besarnya sesuai dengan kesepakatan, tulislah nama lembaga tersebut pada lingkaran itu
  10. Letakkanlah lingkaran masyarakat di atas lantai
  11. Bahaslah bagaimana manfaat lembaga tersebut terhadap masyarakat yang ditunjukkan oleh jaraknya dari lingkaran masyarakat
Yang perlu diperhatikan pentingnya suatu lembaga terhadap masyarakat (yang ditunjukkan oleh besarnya lingkaran) belum tentu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat (yang ditunjukkan oleh jarak dari lingkaran masyarakat).
  1. Kalau semua lembaga telah ditempatkan, periksalah kembali dan diskusikan kebenaran informasi tersebut
  2. Buatlah perubahan kalau memang diperlukan
  3. Mendiskusikan permasalahan dan potensi masing-masing lembaga
  4. Menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  5. Pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan kalau pembuatan diagram venn dan diskusi sudah selesai, diagram digambar kembali atas kertas (secara lengkap dan sesuai hasil masyarakat).

  1. Bagan Perubahan dan Kecenderungan
Bagan Perubahan dan Kecenderungan merupakan teknik PRA yang memfasilitasi masyarakat dalam mengenali perubahan dan kecenderungan berbagai keadaan, kejadiaan serta kegiatan masyarakat dari waktu ke waktu. Hasilnya digambar dalam suatu matriks. Dari besarnya perubahan hal-hal yang diamati dapat diperoleh gambaran adanya kecenderungan umum perubahan yang akan berlanjut di masa depan. Demikian Bagan Perubahan memfasilitasi masyarakat untuk memperkirakan arah kecenderungan umum dalam jangka panjang serta mengantisipasi kecenderungan tersebut. Hasilnya adalah bagan/matriks perubahan dan kecenderungan yang umum desa atau yang berkaitan dengan topik tertentu, misalnya hasil panen, jumlah penebaran ikan, cuaca dan lain-lain. Hasil Bagan Perubahan dan Kecenderungan digambar atas kertas, papan tulis atau di tanah. Tahapan pembuatan Bagan Perubahan meliputi:
  1. mendiskusikan perubahan-perubahan penting yang terjadi di desa serta sebab-sebabnya
  2. sepakatilah topik-topik utama yang akan dicantumkan ke dalam bagan
  3. sepakatilah simbol-simbol yang akan dipakai, baik untuk topik (gambar-gambar sederhana) maupun untuk nilai (biji-bijian, kerikil dan lain-lain)
  4. selang waktu yang akan dicantumkan
  5. buatlah bagan di kertas, papan tulis atau tanah
  6. mendiskusikan perubahan-perubahan, sebab-sebab, akibat-akibatnya, apakah perubahan akan berlanjut pada masa depan (kecenderungan)
  7. menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  8. pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan kalau pembuatan bagan dan diskusi sudah selesai, bagan digambar kembali atas kertas (secara lengkap dan sesuai hasil masyarakat).

  1. Ranking Kesejahteraan
Ranking Kesejahteraan merupakan suatu teknik PRA yang sangat berguna dalam mengidentifikasi tingkatan kesejahteraan dalam satu wilayah (dusun/ desa). Ranking Kesejahteraan memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan kriteria-kriteria terhadap kesejahteraan masyarakat serta menilai perbedaan-perbedaan dalam kesejahteraan di wilayah mereka. Melalui metode ini dapat diperoleh suatu gambaran tentang perbedaan-perbedaan kesejahteraan masyarakat dan dapat membantu lembaga untuk mengidentifikasi kelompok sasaran suatu program. Untuk melakukan Ranking Kesejahteraan diperlukan daftar semua Kepala Keluarga (KK) dalam suatu wilayah yang akan dikaji. Setiap nama ditulis atas satu kartu kecil (dengan jelas). Sebaiknya jumlah KK yang termasuk proses ranking tidak lebih dari pada 100. Ranking kesejahteraan dapat dilakukan dengan kelompok kecil (misalnya 5 – 8 orang) dan diulangi beberapa kali untuk periksa ulang. Langkah-langkah penerapan meliputi:
  1. Mintalah masyarakat untuk membagi semua kartu dalam sejumlah kelompok menurut tingkat kesejahteraan masing-masing KK
  2. Jumlah kelompok tergantung masyarakat
  3. Setelah selesai, mintalah masyarakat untuk periksa kembali apakah hasil sudah benar
  4. Buatlah perubahan kalau memang diperlukan
  5. Kalau masih ada kelompok besar (misalnya dengan 20 KK), mintalah masyarakat untuk membagi kelompok tersebut menurut tingkat kesejahteraan lagi, bila mungkin
  6. Tanyakan masyarakat mengapa KK dibagi dalam kelompok tersebut dan apa kriteria mereka
  7. Menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  8. Pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi
  9. Ulang proses di atas dengan beberapa kelompok dan lihat di mana ada perbedaan dalam ranking dan kriteria-kriteria yang dipakai
  10. mendiskusikan perbedaan-perbedaan secara pleno dengan masyarakat
  11. pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi

  1. Diagram Alur
Diagram Alur menggambarkan arus dan hubungan di antara semua pihak dan komoditas yang terlibat dalam suatu sistem. Diagram ini dapat digunakan untuk menganalisa pemasaran ternak, alur hasil pertanian, atau komoditas lain. Pembuatan diagram alur memfasilitasi masyarakat dalam menganalisa dan mengkaji suatu sistem, fungsi masing-masing pihak dalam sistem serta bagaimana hubungan antara pihak-pihak dalam sistem itu, termasuk ketergantungan. Diagram alur pemasaran dapat dibuat atas kertas atau di tanah/ lantai. Setelah sudah disepakati alur pemasaran untuk komoditi apa akan dibuat, tahap-tahapan pembuatan meliputi:
  1. Diskusi umum tentang semua pembeli komoditi tersebut di desa dan dari luar desa
  2. Menggambar alur: mulai dengan produsen (petani/masyarakat) di tengah dan buat garis ke setiap pihak pembeli
  3. Membahas harga pemasaran dan perbedaan harga yang dibayar oleh masing-masing pembeli
  4. Membahas ke mana pembeli jual komoditi dan gambar
  5. Membahas prioritas masyarakat untuk membeli apa
  6. Menyimpulkan dan menggambar kembali atas kertas

  1. Analisa Kehidupan dan Mata Pencaharian
Analisis mata pencaharian memfasilitasi masyarakat dalam analisa tingkah- laku, keputusan- keputusan dan strategi- strategi pemenuhan kebutuhan rumah tangga pada karakteristik sosial- ekonomi yang berbeda- beda. Yang termasuk variabel-variabel analisis mata pencaharian meliputi: komposisi dan ukuran rumah tangga, kepemilikan kolam/ lahan, kepemilikan alat/ sarana pengolahan, Kepemilikan alat tangkap/ perahu, sumber pendapatan, pengeluaran- pengeluaran, dan penggunaan waktu. Analisa mata pencaharian dilakukan atas kertas, pada lantai dengan kapur tulis atau ditanah. Analisa mata pencaharian dapat dilakukan per kelompok (satu diagram yang memberikan gambaran umum pada desa) atau per individu (satu diagram per orang atau per keluarga). Langkah-langkahnya meliputi:
  1. identifikasi topik-topik yang termasuk ‘mata pencaharian’
  2. menggambarkan satu buah bundaran per orang (atau satu yang umum)
  3. menganalisa topik dan mengidentifikasi bagian-bagiannya
  4. menentukan berapa besarnya masing-masing bagian dalam seluruhnya
  5. membagi bundaran sesuai besarnya bagian masing-masing
  6. kalau semua peserta sudah selesai, diskusikan hasil dan kebenaran informasi tersebut
  7. buatlah perubahan kalau memang diperlukan
  8. mendiskusikan permasalahan dan potensi masing-masing yang muncul
  9. menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  10. pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan diagram pie
  11. melanjutkan dengan topik berikutnya
Untuk Analisa Penggunaan Waktu, kita membagi bundaran dalam 24 bagian (sesuai jumlah jam per hari), untuk anggota keluarga masing-masing (bapak, ibu, anak laki-laki, anak perempuan) membahas kegiatannya pada setiap jam per hari (mulai pada jam bangun, kemudian melakukan apa, selama berapa waktu dan seterusnya), lalu menggambarkan dalam hasil diskusi dalam lingkaran.

Konsep Dasar dan Prinsip PARTICIPATORY RURAL APPRAISAL

KONSEP DASAR PRA

PRA terdiri dari sekumpulan teknik atau alat yang dapat dipakai untuk mengkaji keadaan pedesaan. Teknik ini berupa visual (gambar, tabel, bentuk) yang dibuat oleh masyarakat sendiri dan dipergunakan sebagai media diskusi masyarakat tentang keadaan mereka sendiri serta lingkungannya. Beberapa teknik yang terkenal meliputi Pemetaan desa, Kalender musim, Transek (penelusuran desa), Diagram Venn (bagan hubungan kelembagaan), Bagan perubahan dan kecenderungan, Diagram alur, dan Diagram kegiatan harian (daily routine). Dalam kajian informasi tidak semua sumber informasi senantiasa bisa dipercaya ketepatannya. Untuk mendapatkan informasi yang benar bisa diandalkan dengan menggunakan prinsip “triangulasi” informasi, yaitu pemeriksaan dan periksa ulang, melalui:

1.Keragaman Teknik PRA
Setiap teknik PRA punya kelebihan dan kekurangan. Tidak semua informasi yang dikumpulkan dan dikaji dalam satu teknik PRA dapat dipercaya. Melalui teknik-teknik lain, informasi tersebut dapat dikaji ulang untuk melihat apakah benar dan tepat. Karenanya kita perlu melihat bagaimana teknik-teknik PRA dapat saling melengkapi, sesuai proses belajar yang diinginkan dan cakupan informasi yang dibutuhkan.   
     
2.Keragaman Sumber Informasi
Masyarakat selalu memiliki bentuk hubungan yang kompleks dan memiliki berbagai kepentingan yang sering berbeda bahkan bertentangan. Informasi yang berasal dari sumber tunggal atau terbatas tidak jarang diwarnai oleh kepentingan pribadi. Karena itu sangat perlu mengkaji silang informasi dari sumber informasi yang berbeda. Dalam melaksanakan PRA perlu diperhatikan bahwa tidak didominasi oleh beberapa orang atau elit desa saja tetapi melibatkan semua pihak, termasuk yang termiskin dan wanita. Sumber Informasi lain juga dapat dimanfaatkan seperti sumber sekunder yang berada di desa.       
                                                 
3.Keragaman Latar belakang Tim Fasilitator
Fasilitator PRA biasanya punya latar belakang atau keahlian khusus. Selalu ada resiko bahwa dia mengutamakan ‘keahlian’ dia sendiri (bias), walaupun sering kali kami tidak sadar. Untuk menghindari bahwa kepentingan fasilitator akan menentukan temuan PRA, lebih baik membentuk Tim ‘multi-disiplin’ atau ‘Polivalen’, yaitu suatu tim yang terdiri dari orang dengan latar belakang, keahlian, jenis kelamin yang berbeda.

PRINSIP-PRINSIP PRA
Adapun prinsip-prinsip yang diperlukan dalam mengkaji Keadaan Pedesaan Secara Partisipatif adalah Prinsip mengutamakan yang terabaikan (keberpihakan), Prinsip pemberdayaan (penguatan) masyarakat, Prinsip masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator, Prinsip saling belajar dan menghargai perbedaan, Prinsip santai dan informal, Prinsip triangulasi, Prinsip mengoptimalkan hasil, Prinsip orientasi praktis, Prinsip keberlanjutan dan selang waktu, Prinsip belajar dari kesalahan, dan Prinsip terbuka. Peran orang atau tim luar, yang berasal dari lembaga atau instansi, terbatas sebagai fasilitator proses PRA. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan karena masih sering ada anggapan bahwa masyarakat miskin bodoh dan perlu digurui. Untuk itu perlu sikap rendah hati serta kesediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga masyarakat sebagai pelaksana dan narasumber utama dalam memahami keadaannya.

TAHAPAN DALAM PRA
Tahapan dalam proses kajian keadaan pedesaan partisipatif meliputi:
A. Persiapan desa bersama wakil masyarakat (pimpinan, tokoh-tokoh dan / atau koordinator setempat):
  1. Menentukan tempat;
  2. Menentukan waktu;
  3. Mengumumkan kepada masyarakat;
  4. Persiapan akomodasi dan konsumsi serta dana yang diperlu;
B. Persiapan dalam Tim:
  1. Menentukan informasi yang akan dikaji;
  2. Menentukan teknik PRA yang ingin dipakai;
  3. Menentukan dan menyediakan bahan pendukung dan media;
  4. Membagi peran dalam Tim PM;
C. Melakukan Kajian Keadaan Kegiatan PRA:
  1. Ulang menjelaskan maksud dan tujuan PRA
  2. Menyepakati waktu dan kegiatan / teknik yang akan dilakukan
  3. Membina suasana
  4. Menjelaskan teknik PRA dalam sub kelompok
  5. Melalukan teknik PRA
  6. Diskusi umum (pembahasan keadaan)
  7. Pembuatan gambar (visualisasi)
  8. Diskusi lebih lanjut (analisa masalah dan potensi)
  9. Presentasi dan diskusi
D. Perumusan hasil PRA melalui Lokakarya / Musyawarah Masyarakat:
  1. Mempresentasi semua hasil PRA;
  2. Mendiskusikan kembali dengan masyarakat untuk mempertajam temuan;
  3. Penyusunan hasil akhir analisa kajian potensi, kesempatan, masalah dan kemungkinan pengembangan program oleh masyarakat

Save Coral Reef

Telah kita ketahui bersama bahwa ekosistem terumbu karang di Indonesia terus mengalami kerusakan parah akibat aktivitas penangkapan yang tidak ramah lingkungan, terutama pemakaian alat tangkap ilegal dan perubahan suhu air akibat pemanasan global. Kerusakan ekosistem terumbu karang diakibatkan aktivitas pembangunan yang dilakukan dikawasan pesisir dan lautan seperti pertanian, industri, kegiatan perikanan yang tidak bertanggung jawab terhadap kelestarian (penangkapan menggunakan bom, alat tangkap yang dilarang dan marikultur), pariwisata, penggundulan hutan, pencemaran, dan perubahan iklim. Terumbu karang memainkan peranan ekologi yang selalu kalah dengan kepentingan ekonomi. Padahal terumbu karang merupakan organisme yang amat penting bagi keberlanjutan sumberdaya yang ada di kawasan pesisir dan lautan dengan banyak peranan ekologi antara lain tempat hidup, tempat pemijahan (spawning ground), pengasuhan (nursery ground), pembesaran (rearing ground), dan mencari makan (feeding ground). Terumbu karang juga berperan sebagai pelindung pantai dari terpaan gelombang laut besar (tsunami).

Indonesia diperkirakan memiliki luas ekosistem terumbu karang sekitar 85.707 km persegi yang mencakup 18% total luas terumbu karang di dunia. Namun menurut para peneliti di Tim Climate Change dari Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL), taksiran terumbu karang yang masih dalam kondisi baik hanya 6,2 persen dari total 60.000 km persegi. Kondisi ini membuat para peneliti Indonesia berupaya untuk merehabilitasi ekosistem terumbu karang, agar kembali menjadi surga tempat tinggal bagi ikan-ikan yang menjadi salah satu sumber pangan manusia.

Walaupun telah banyak metode penanggulangan terumbu karang yang rusak, kita tetap harus mengacu pada “mencegah lebih baik daripada mengobati”, sebab tidak butuh waktu lama untuk merusak terumbu karang, tapi perlu bertahun-tahun untuk mengembalikan ekosistem terumbu karang yang sehat. Setiap tahun pertumbuhan terumbu karang rata-rata satu centimeter. Terumbu karang yang kekurangan populasi ikan dapat “sembuh” dalam waktu kurang lebih 39 tahun, sementara yang benar-benar hancur (akibat polusi, pengeboman, dan lain sebagainya) butuh waktu pulih selama 59 tahun. Metode transplantasi dinilai cukup efektif, namun membutuhkan modal besar. Karena itu semua pihak harus sadar untuk melindungi terumbu karang, karena keberlanjutan ekosistem bawah laut bergantung pada kelestarian terumbu karang.

Beberapa hal sederhana yang dapat kita lakukan yaitu belajar lebih banyak tentang terumbu karang dan menyebarkan pengetahuan ini pada teman atau keluarga, tidak membuang sampah sembarangan ke laut karena itu dapat mencemari habitat di dalamnya, tidak memegang, menginjak atau mengambil karang waktu menyelam di laut, sebab menurut beberapa sumber, jika menyentuh sedikit saja  terumbu karang, mereka akan langsung mati. Selain itu bila kita ke pantai, mintalah penjaga/ pengelola pantai agar dapat menyediakan tong sampah (bila tidak ada), menghormati peraturan dan panduan lokal saat mengunjungi lokasi terumbu karang, mengadakan bakti sosial membersihkan pantai, tidak menggunakan terumbu karang dalam akuarium air laut,tidak  memakai batu karang sebagai bahan bangunan, mengingatkan awak kapal untuk hati-hati dalam membuang jangkar, agar tidak merusak terumbu karang, melaporkan kegiatan yang dapat merusak terumbu karang (seperti penangkapan ikan secara illegal dan polusi) pada yang berwenang atau media massa, bergabung dengan kelompok yang bergerak di bidang lingkungan hidup serta mendukung kegiatan yang terkait penyelamatan terumbu karang dengan berbagai metode.

Bioreeftek Method

Selama ini telah terdapat berbagai macam metode yang digunakan untuk memulihkan ekosistem terumbu karang. Di antaranya ReefBall (terbuat dari rangka semen), Hexadome (dari rangka besi dan semen), Biorock (dari Besi/ Stainless yg dialiri listrik searah, menggunakan tenaga surya), dan Coral Rubble (yang dikumpul dan dimasukkan dalam jaring sebagai media). Dan saat ini mulai terdengar lagi salah satu metode yang murah dan efisien namun memiliki manfaat besar dalam upaya penyelamatan terumbu karang. Metode tersebut dikenal dengan Bioreeftek yang mulai dikembangkan sejak tahun 2008 oleh penemunya, Eghbert E. A, M.Sc dan para peneliti di Tim Climate Change dari Balai Penelitian dan Observasi Laut (BPOL) yang hak cipta penemuannya sudah dipatenkan.

Pengertian Bioreeftek secara etimologis yaitu bio= hidup, reef= terumbu, dan tek= teknologi. Bioreeftek menjadi tempat menempel hewan/ larva planula. Setelah larva planula menempel, bioreeftek direlokasi ke ekosistem terumbu karang yang kondisinya kurang baik. Proses relokasi bioreeftek dilakukan dengan menampungnya secara utuh di wadah dan membawanya menggunakan kapal ke lokasi tujuan dengan menurunkan tali kedalam air laut. Bioreeftek memanfaatkan potensi tempurung kelapa sebagai bahan utama perekrutan hewan karang. Biaya pembuatan bioreeftek lebih murah dan mudah daripada teknik lain yang dikembangkan serta merupakan pilihan yang sangat strategis. Hal ini disebabkan karena tempurung kelapa sangat melimpah di Indonesia dan biaya penerapan teknologinya jauh lebih murah daripada berbagai teknik lain yang pernah dikembangkan.

Metode ini diawali dengan memotong tempurung kelapa menggunakan gurinda kemudian dilubangi kedua ujungnya agar bisa dimasukkan batang alumunium. Tempurung yang telah dipotong kemudian diisi dengan semen agar tempurung lebih kuat. Lalu cetak semen menjadi bentuk balok dengan ukuran 45 x 35 x 3 cm atau fleksibel sesuai kebutuhan. Letakkan pipa alumunium sedemikian rupa sehingga pipa tegak lurus dengan cetakan semen. Setelah cetakan semen siap dan kuat, masukkan tempurung kelapa ke dalam pipa alumunium secara teratur. Ikat bagian atas pipa dengan menggunakan kabel agar tempurung tidak lepas dari pipa. Media Bioreeftek yang telah siap kemudian diletakkan di perairan yang kondisi terumbu karangnya baik, agar larva planula karang cepat menempel pada media tempurung kelapa dengan kedalaman 5 – 10 meter.

Metode bioreeftek telah mampu memulihkan ekosistem terumbu karang dengan lebih efisien sehingga telah diterapkan untuk kegiatan rehabilitasi di Pemuteran – Bali, Pulau Mandiangin – Madura, Nusa Penida, dan Tanahbumbu – Kalimantan Selatan. Kemudian metode ini juga diterapkan di Taman Nasional Bunaken – Sulawesi Utara, Tablolong-Nusa Tenggara Timur, Londa Lima – Sumba Timur, lalu kegiatan KRPN HIMAPIKANI di Pulau Buton.

Nelayan dan masyarakat pesisir pantai perlu disarankan untuk menggunakan alat tangkap ramah lingkungan, tidak melakukan penebangan liar hutan/ hutan bakau yang dapat menyebabkan erosi/ abrasi, ikut serta merehabilitasi terumbu karang yang ditransplantasi atau dicangkok dengan didampingi oleh komunitas penyelam dari berbagai lembaga pemerhati lingkungan perairan. Kontribusi pemerintah dalam upaya pencegahan terumbu karang yakni dengan memperbaiki taraf hidup masyarakat pesisir, meningkatkan pengetahuan dan penyadaran kepada masyarakat tentang penegakan hukum, memberikan hukuman yang tegas bagi para industri yang membuah limbahnya ke laut, membuat cagar laut, memanfaatkan kapal-kapal bekas sebagai habitat baru terumbu karang dan juga memfasilitasi perkembangbiakan terumbu karang. Selain itu secara global turut memperkuat kerja sama dengan negara-negara Coral Triangle tentang pentingnya mengelola, menjaga, dan melestarikan laut secara berkelanjutan (sustainable) serta bersama masyarakat dunia mencegah dampak perubahan iklim.

Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, pengelolaan ekosistem terumbu karang di Indonesia perlu mempertimbangkan pendekatan secara ekologi, ekonomi, dan sosial budaya. Banyaknya ancaman yang mengganggu keberlangsungan hidup ekosistem pesisir, memerlukan peran aktif masyarakat sekitar ekosistem dan para generasi muda. Sehingga, penyelamatan lingkungan ekosistem bukan hanya wacana kemudian terhenti, melainkan terus beregenerasi. Menyelamatkan terumbu karang adalah menyelamatkan kehidupan. Kita boleh bangga memiliki terumbu karang terluas dan terlengkap di dunia. Namun apa artinya jika 33 persen terumbu karang Indonesia ternyata telah rusak berat dan hanya tersisa 6 persen saja yang kondisinya masih bagus? Kita harus ikut menyelamatkan terumbu karang. Kelak dimasa depan, kita akan merasakan manfaat akan perubahan yang dilakukan mulai saat ini. Salam Coral !!!.

Konversi Pakan Budidaya Perikanan

Budidaya ikan secara intensif mutlak membutuhkan pakan buatan, karena kepadatan penebaran yang tinggi. Pakan alami yang mendukung hidup dan pertumbuhan ikan dalam sistem ini nyaris tidak tersedia. Benih-benih ikan yang diproduksi saat ini memang memiliki sifat yang responsif dan bergantung kepada pakan buatan. Cukup tidaknya pakan yang disediakan sangat nyata menentukan pertumbuhan atau produksinya.
Komponen biaya yang tertinggi dalam usaha budidaya adalah untuk memenuhi kebutuhan pakan. Pemborosan atau penghematan dalam penggunaan pakan sangat menentukan tingkat keuntungan. Oleh karena itu kiat menekan biaya operasional dari penyediaan pakan harus dikuasai. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi besar kecilnya konversi pakan selain kualitas pakan itu sendiri adalah kecermatan pembudidaya dalam menentukan jumlah optimal pemberian; kepekaan pembudidaya dalam memahami kondisi pakan dan kondisi ikan; kedisiplinan dalam melayani kebutuhan biologis ikan.
  1. Kecermatan
Pembudidaya yang cermat akan melakukan pnebaran benih dalam jumlah yang optimal sesuai ketersediaan biaya pakan. Perhitungan terhadap penyedian pakan selama siklus produksi didasarkan pada asumsi-asumsi sintasan, pertambahan bobot biomassa, dan fase perkembangan ikan. Pada fase awal pertumbuhan kebutuhan pakan dari segi kuantitas kecil tetapi kualitas tinggi. Pemberian pakan ad libitum dilakukan dengan memperhatikan kewajaran maksimum.  Pada fase akselerasi pertimbangan pemberian pakan dengan laju maksimal sambil memperhatikan taksiran konversi pakan, yaitu membandingkan antara jumlah pakan yang diberikan dengan pertambahan bobot.  Apabila cermat menghitung dengan pendekatan kewajaran FCR, maka pemborosan pakan sudah dapat diantisipasi. Pemborosan pakan dapat dikarenakan faktor internal ikan seperti benih yang tidak unggul, atau faktor eksternal seperti padat tebar ikan yang tidak seimbang dengan debit air, atau mungkin pemberian pakan yang melebihi daya cerna. Pengendalian yang dapat dilaku-kan adalah mengurangi kepadatan, mengurangi porsi pemberian dan meningkatkan frekuensi pemberian dengan porsi yang lebih sedikit. Dengan demikian kerugian yang lebih besar dapat dihindari.
  1. Kepekaan
Pembudidaya yang telah berpengalaman biasa-nya memiliki kepekaan terhadap faktor-faktor yang dapat menekan pemborosan pakan. Secara biologis ikan memiliki bioritme tertentu dalam merespon pakan. Siklus harian (diurnal), cuaca (suhu air), fase perkem-bangan, kondisi air senantiasa mempengaruhi nafsu makan ikan selain kesukaan ikan terhadap aroma tertentu.
Ikan-ikan yang biasa tidak aktif di malam hari seperti ikan nila, tidak begitu responsif terhadap pakan pada pagi hari dan sore menjelang malam. Pemberian pakan terlalu pagi mengakibatkan banyak pakan yang tidak termakan. Untuk pellet yang mudah hancur di air akan luput dari ikan. Selera makan ikan meningkat setelah intensitas cahaya matahari meningkat. Untuk ikan mas suhu air sangat menentukan jumlah pakan yang efektif diberikan, sehingga ada ketentuan menurut Satoh (1990) jumlah pemberian pakan pakan per hari adalah 0,13 x suhu air (°C).
Secara anatomi ikan mas maupun ikan nila tidak memiliki lambung yang cukup besar sehingga pakan yang sudah ditelan sering dimuntahkan kembali apabila diberikan berlebih walau nafsu makannya tinggi. Pada beberapa kasus ikan mas mati mendadak setelah diberikan pakan berlebih. Kelenjar yang menghasilkan enzim untuk mencerna pakan dalam lambung yang kecil belum siap. Pakan buatan (pellet) kering yang masuk ke dalam lambung mengalami pengembangan volume dan berat setelah menyerap air, yang berlangsung setelah pellet tertelan. Pemberian pakan terlalu cepat dapat berakibat fatal.
Dalam pemberian pakan secara manual gejala kenyang tidaknya ikan dapat dilihat dari kenampakan bagian ventral ikan yang membulat. Tanda yang mudah dilihat untuk menghentikan pemberian pakan. Namun adakalanya ikan kurang bernafsu makan walau belum terlihat gejala tersebut. Daya tarik ikan terhadap pakan boleh jadi menurun akibat bau pakan di air yang menimbulkan kejenuhan. Pembudidaya yang peka akan menghentikan sejenak pemberian pakan, dan melanjutkan setelah air kolam mengalami sirkulasi yang cukup.
Secara fisiologis ikan yang menelan pakan banyak mengkonsumsi oksigen lebih banyak. Konsumsi oksigen yang tinggi setelah kenyang mengakibatkan kadar oksigen di air turun sehingga ikan cenderung megap-megap di permukaan air (kecuali ikan yang memiliki labirin seperti gurame atau lele). Pada kondisi air kolam kurang sirkulasi, pemberian pakan harus dibatasi setengah kenyang, sambil menunggu debit sirkulasi lebih besar.
  1. Kedisiplinan
Ikan yang dipelihara dengan pemberian pakan teratur memungkinkan metabolismenya mencapai efisiensi maksimum.  Perilaku ikan dilatih agar tidak sering kaget karena kelaparan atau kekenyangan. Produksi enzim pencernaanpun mengikuti irama pemberian pakan secara teratur. Pembudidaya dituntut disiplin memenuhi kebutuhan akan keteraturan waktu dan ke-butuhan biologis ikan yang dipelihara untuk mencapai efisiensi maksimal.