Minggu, 13 Agustus 2017

“Mengenal Bakteri Patogen Pada Ikan”

Bakteri merupakan jasad renik yang kira-kira duapuluh kali lebih kecil dari sel jamur, protozoa atau sel daging ikan. Penyakit bakterial pada ikan merupakan salah satu penyakit yang dapat menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Selain dapat mematikan ikan penyakit ini dapat mengakibatkan menurunnya kualitas daging ikan yang terinfeksi. Sebagian besar bakteri sebenarnya tidak menyebabkan penyakit, tetapi bakteri mempunyai mempunyai kemampuan memperbanyak diri sangat cepat, apalagi jika bakteri tersebut berada dalam bagian tubuh hewan. Bakteri patogen pada ikan dapat bersifat sebagai infeksi primer atau infeksi sekunder/ kedua.

Dalam suatu kondisi dimana kadar bahan organik pada air sangat tinggi, akan banyak terdapat bakteri patogen. Bahkan beberapa peneliti mengatakan bahwa bakteri mikroflora yang banyak kedapatan pada usus ikan akan sesuai jenisnya dengan bakteri yang ada dalam lingkungan perairan tersebut. Namun demikian ada beberapa bakteri yang tidak dapat hidup lama di luar tubuh inangnya. Penyakit akibat infeksi bakteria di Indonesia ternyata dapat mengakibatkan kematian sekitar 50 – 100%. Infeksi penyakit yang sering terjadi antara lain pada budidaya ikan lele, ikan mas, ikan hias dan ikan gurame. Pada usaha pembesaran ikan gurame antara lain dikenal dengan istilah penyakit “tuberculosis”. Penyakit tersebut biasanya ditunjukkan dengan gejala-gejala klinis antara lain luka dan pendarahan pada kulit, mata menonjol, bisul pada tubuh, pendarahan pada pangkal sirip. Salah satu gejala yang sangat spesifik adalah adanya bintil-bintil (tubercle) berwarna putih, biasanya terdapat pada daging, ginjal, hati, limfa dan mata. Penyakit bakteri pada ikan ini cukup banyak menimbulkan kerugian selain menurunkan mutu daging ikan juga akhirnya dalam tingkatan yang akut akan menyebabkan kematian ikan. Kematian yang ditimbulkannya menurut para pembudidaya ikan dapat mencapai 50 – 60%.

Bakteri yang dapat menginfeksi ikan dikenal ada bermacam-macam bentuk dimana masing-masing bentuk akan memberikan gambaran efek infeksi yang berlainan. Bentuk-bentuk bakteri yang bersifat patogenik bagi ikan adalah: bakteri berbentuk bulat (coccus), bentuk bulat bergabung dua sel (diplococcus), bakteri bentuk bulat bergabung seperti rantai (streptococcus), bakteri bulat berkelompok beberapa sel (staphylococcus), bakteri berbentuk batang (bacillus), bakteri berbentuk koma (vibrio). Infeksi bakteri biasanya timbul jika menderita stres. Kematian banyak terjadi pada ikan yang menderita stres karena serangan bakteri yang menyebabkan infeksi. Gejala akibat infeksi bakteri secara keseluruhan sangat susah untuk dibedakan dengan gejala akibat infeksi virus. Gejala-gejala tersebut pada umumnya tergantung sampai stadium mana tingkat infeksinya dan gejala umum yang sering ditemukan antara lain sebagai berikut:
  1. Gerakan ikan lemah.
  2. Produksi lendir berkurang karena setelah ikan terinfeksi akan mengeluarkan lendir yang berlebihan.
  3. Timbul pendarahan dan nekrosa pada tempat infeksi.
  4. Luka (ulcer) di tempat infeksi.
  5. Beberapa bakteri menyebabkan rontok pada insang dan sirip.
  6. Bengkak pada perut dan mengeluarkan cairan kuning darah (dropsy).
  7. Mata menonjol (exophthalmos).
  8. Beberapa bakteri dapat menghasilkan “tubercle” atau “granuloma” pada bagian tubuh yang terinfeksi.
Bakteri yang biasanya menginfeksi ikan lebih banyak tergolong pada bakteri gram negatif. Tetapi bakteri gram positif juga ada yang dapat menginfeksi ikan seperti treptococcus sp. dan Mycobacterium spp. Beberapa contoh bakteri yang biasanya menginfeksi ikan antara lain adalah:
  1. Penyakit Columnaris (luka kulit, sirip dan insang)
Penyebab: Flexibacter columnaris (Syn: Flavobacterium columnare).
Bio-Ekologi Patogen: bakteri gram negatif, aerobik, berbentuk batang kecil dengan lebar 0,5 mikron dan panjang 12 mikron. Bakteri tersebut bergerak secara merayap seperti ulat, bentuk koloninya pipih dengan permukaan koloni yang tidak teratur (irregular), tumbuh pada media campuran pepton yang ditambah 1% media agar.

Epizootiology: merupakan penyebab dari penyakit Columnaris. Sifat serangannya bisa kronik, akut atau perakut, dan biasanya terjadi pada level suhu diatas 18oC, dan infeksi jarang terjadi pada keadaan pH rendah dan kandungan bahan organik yang rendah. 

Picture12
Penyakit Columnaris pada Insang

Gejala klinis: Lecet (lesi) biasanya terjadi pada kulit badan atau bagian kepala atau pada insang, yang dimulai seperti bintik putih yang kemudian berkembang menjadi pendarahan. Infeksi di sekitar mulut, terlihat seperti diselaputi benang (thread-like), sehingga sering disebut penyakit “jamur mulut”. Di bagian pinggir luka tertutup oleh lendir (pigmen) berwarna kuning cerah. Infeksi pada insang biasanya langsung menimbulkan nekrosa dan kematian akan cepat terjadi akibat insang yang rontok.

Penanggulangan: Sebaiknya ditujukan lebih pada tindakan pencegahan yaitu dengan perbaikan kondisi lingkungan, mempertahankan kualitas air, mengurangi kandungan bahan organik dalam air dan penambahan oksigen. Pada gambar dibawah ini dapat dilihat contoh infeksi Flexibacter columnaris dan insang ikan yang diserangnya.
  1. Penyakit Merah
Penyebab : Aeromonas hydrophila adalah salah satu spesies bakteri yang terdapat di hampir seluruh lingkungan perairan tawar maupun payau, bahkan pada feces mammalian, katak dan manusia. Bakteri ini bersifat gram negatif, bentuk batang 0,7 – 0,8 mikron x 1,0 – 1,5 mikron, bergerak dengan menggunakan polar flagella, cytochrom oksidase positif, fermentative dan oksidatif. Bakteri ini tumbuh pada kondisi air tawar, terutama pada kondisi kandungan bahan organik tinggi.

Picture13
Penyakit Merah pada Ikan Mas

Epizootiology : Aeromonas hydrophila dikenal dengan penyebab penyakit merah, bersifat septisemik, biasanya sebagai infeksi kedua. Tetapi hasil penelitian Hayes (2000) menunjukkan bahwa A. hydrophila sebagai bakteri patogen pada ikan dapat berperan baik sebagai patogen primer maupun sekunder. Sifat serangannya sangat bergantung pada spesies inang dan virulensi strain bakteri. Cara penularan penyakit ini secara horizontal (antar individu-individu dalam satu spesies) atau berbeda spesies dalam suatu populasi dan atau komunitas) tetapi tidak secara vertical (dari induk kepada keturunannya). Pada umumnya penyakit ini akan timbul pada ikan yang penanganannya kurang sempurna, pakan yang kurang tepat baik mutu maupun jumlahnya, banyak terinfeksi oleh parasit, serta air kolam yang terlalu subur, serta zat asam yang sangat rendah.

Gejala klinis: warna ikan menjadi lebih gelap, nafsu makan berkurang atau hilang, bergerombol dekat saluran pembuangan, dan kadang-kadang timbul luka pada kulit jadi kemerah-merahan. Jika kita membedah ikan yang terinfeksi gejala yang ditunjukkannnya adalah hatinya berwarna pucat, dan pendarahan terjadi pada organ dalam seperti hati, ginjal, limpa dan gelembung udara.

Penanggulangan: manajemen budidaya yang baik, mengurangi kesuburan kolam, serta pemberian pakan yang tepat baik jumlah maupun mutunya.
  1. Penyakit Furunculosis
Penyebab: Aeromonas salmonicida adalah bakteri gram negatif, tidak bergerak, dengan ukuran 0.8-1.0 x 1.5-2.0 mikron. Bakteri memiliki 3 subspecies yaitu A. salmonicida ssp salmonicida yang memproduksi pigmen coklat, A. salmonicida ssp achromogenes tidak memproduksi pigmen coklat dan tidak mereduksi nitrat, A. salmonicida ssp masoucida yang tidak memproduksi pigmen coklat tetapi memproduksi indol dan H2S.

Picture14
Penyakit Furunculosisi

Habitat: Ikan-ikan air tawar merupakan pembawa penyakit. Bakteri tidak hidup lama diluar tubuh inangnya. Bakteri tersebut dapat menginfeksi ikan salmonid dan non-salmonid.

Distribusi: Aeromonas salmonicida, merupakan penyakit yang daerah sebarnya cukup luas hampir seluruh dunia terutama daerah yang banyak memelihara ikan salmon.

Epizootiology: Ikan yang terinfeksi berat (acute) oleh penyakit ini kebanyakan akan mati dalam waktu 2-3 hari. Patogen dapat hidup pada air tawar sekitar 19 hari, sedangkan pada air payau antara 16 – 25 hari sedangkan pada air laut dapat aktip kembali antara 24 jam sampai 8 hari Efek patologi dari penyakit ini dikatakan karena diproduksinya ekstrak luaran sel (ECP) oleh patogen tersebut yaitu leucocytolytic yang dapat merusak leucocyte yang akan mengakibatkan leucopenia.

Gejala klinis: Ikan yang terinfeksi akan menunjukkan gejala lecet dan luka serta borok pada kulit sehingga akan menurunkan mutu daging. Dari organ yang terluka apabila larut kedalam air maka akan dapat menginfeksi inang yang cocok.
  1. Penyakit Vibriosis
Penyebab: Vibrio spp., bakteri ini memiliki ukuran 0,5 x 1,0 – 2,0 mikron, bersifat gram negatif, berbentuk batang bisa lurus maupun bentuk koma, bergerak dengan menggunakan polar flagella, fermentative dan cytochrom oksidase positif, sensitif terhadap vibriostat 0/129 (pteridine). Vibriosis merupakan penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya serangan penyakit lainnya misalnya protozoa atau penyakit lainnya.
Picture15
Ikan yang Terserang Bakteri Vibrio spp.
Habitat: sumber utama adalah species ikan laut sebagai pembawa, namun bakteri ini juga telah ditemukan pada invertebrata dan benthos. Tumbuh hampir disegala media umum yang mengandung NaCl 1-1,5%.

Epizootiology: Vibriosis merupakan penyakit yang potensial bagi ikan laut, baik yang dibudidayakan maupun bagi ikan liar. Sebetulnya pada keadaan normal bakteri tsb merupakan mikroflora pada usus ikan air laut. Suhu ambang untuk terjadinya wabah tergantung dari species ikan msalnya untuk salmon dan turbot pada level suhu 10 – 11oC. Kematian yang diakibatkannya dapat mencapai 50% terutama apabila terjadi pada ikan yang berumur muda. Vibriosis merupakan penyakit sekunder, artinya penyakit ini muncul setelah adanya serangan penyakit yang lain misalnya protozoa atau penyakit lainnya.

Gejala klinis: anorexia, warna tubuh menjadi gelap, warna insang pucat. Pada infeksi akut ikan akan menunjukkan gejala tubuh membengkak, luka pada kulit yang mengeluarkan nanah. Pada infeksi kronik akan terbentuk granuloma, dan pendarahan pada rongga perut.

Penanggulangan: lebih ditujukan pada pencegahan yaitu dengan vaksinasi dan seleksi ikan yang tahan terhadap infeksi penyakit.

Pengobatan: Pemberian Sulphonamides 0,5 gram per kg pakan ikan selama 7 hari, atau Chlorampenicol sebanyak 0,2 gram per kg berat pakan ikan selama 4 hari. Jika ikan tidak mau makan, cobalah dengan pengobatan melalui perendaman menggunakan Nitrofurozon 15 ppm selama lebih kurang 4 jam atau dengan Sulphonamides 50 ppm selama lebih kurang 4 jam.
  1. Penyakit Edwardsiellosis
Penyebab: Edwardsiela tarda, bakteri bersifat gram negatif berbentuk batang dan bergerak dengan menggunakan flagella, bersifat fermentatif dan mampu memproduksi H2S. Sampai saat ini penyakit ini telah dilaporkan dapat menginfeksi hampir semua jenis ikan termasuk salmon, chanel catfis, ikan mas, sidat, tilapia dan flounder.
Picture16
Infeksi Bakteri Edwardsiela tarda pada Catfish
Gejala infeksi: ikan pucat, gembung perut, pendarahan pada anus, anus tertekan kedalam, dan mata pudar. Gejala klinis pada organ dalam adanya bintil kecil berwarna putih terdapat pada insang, ginjal, hati dan limfa dan kadang-kadang pada usus. Hal yang berperan membantu terjadinya wabah diduga karena ular, kotoran manusia dan binatang lainnya. Namun wabah biasanya terjadi pada suhu tinggi yaitu 30oC dan kandungan bahan organik tinggi. Jumlah kematian akan tergantung pada keadaan lingkungan tetapi dari data yang ada ternyata pada kolam ikan lele biasanya kematian tidak lebih dari 5%. Namun demikian apabila ikan tersebut dipindahkan maka infeksi penyakit tersebut akan bertambah ganas dan dapat menyebabkan kematian sekitar 50% dari populasi. Ikan yang ternfeksi akan menunjukan gejala terjadinya luka pada kulit dan kemudian meluaskan bagian daging. Luka ini sering mengakibatkan pendarahan.

  1. Penyakit Streptococciosis
Penyebab: Streptococcus iniae
Bio-Ekologi Patogen: termasuk bakteri gram positif berbentuk bulat kecil (coccus), bergabung menyerupai rantai, non-motil, koloni transparan dan halus dan mempunyai kemampuan menyerang sel darah merah. Streptococcus merupakan bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik yang secara terus menerus dipergunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang lain. Infeksi : Streptococcus pada ikan dapat berlangsung secara kronik hingga akut. Penyakit ini banyak dilaporkan pada ikan yang dipelihara pada lingkungan perairan tenang (stagnant) dan sistem resirkulasi. Infeksi ini banyak ditemukan di organ otak, sehingga ikan yang terinfeksi sering menunjukkan tingkah laku abnormal seperti kejang atau berputar.
Picture17
Serangan Bakteri Streptococcus sp. pada Ikan Patin
Gejala Klinis: gejala yang ditimbulkannya meliputi mata menonjol, gembung perut (dropsy), pendarahan pada mata, tutup insang dan pangkal ekor, warna ikan menjadi lebih gelap, dan ikan berenang cepat tidak karuan, pertumbuhan ikan menjadi lambat. Sedangkan ciri pada organ dalam meliputi kerusakan ginjal, hati, limpa dan usus. Seringkali infeksi Streptococcus tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas kecuali kematian yang terus berlangsung. Biasanya penyakit ini diamati lewat pemeriksaan laboratories.

Species ikan yang terinfeksi meliputi: ikan ekor kuning, tilapia, sidat, rainbow trout, channel catfish, golden shiner, lele-lelean (Arius felis), silver trout dan mullet. Efek yang ditimbulkan adalah ikan menjadi sulit bernapas dan hilang kemampuan dalam menentukan arah dan gerak (inkoordinasi). Mata menjadi buram, nekrosis dan dapat menyebabkan kondisi kebutaan. Kerusakan organ-organ internal akan mengakibatkan kematian.
Pencegahan dan Pengendalian: manajemen kesehatan ikan terpadu (inang, lingkungan dan patogen), ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan, hindari penggunaan air dari kolam yang sedang terinfeksi bakteri tersebut. menghindari kepadatan tinggi, pakan berlebih dan penanganannya kasar.
  1. Penyakit Mycobacteriosis
Penyebab: Penyakit ini disebabkab oleh bakteri Mycobacterium spp. Species bakteri yang dapat menginfeksi ikan adalah: M. marinum, M. foruitum dan M. chelonei.
Picture18
Penyakit Tubercolosis pada Ikan
Bio-Ekologi Patogen : Bakteri tersebut berbentuk batang agak bengkok, bersifat acid fast dan gram positif, tumbuh pada media khusus seperti Lowenstein-Jensen, Petragnani dan Ogawa and Sauton. Tumbuh agak lama sekitar 30 hari. Namun untuk M. fortuitum dan M. chelonei akan tumbuh 7 hari dalam medium” Ogawa’s egg” pada temperatur 25-30oC. Infeksi Mycobacterium banyak dilaporkan pada ikan yang dipelihara pada lingkungan perairan tenang (stagnant) dan sistem resirkulasi, sehingga jenis ikan seperti gurami dan cupang yang cocok pada kondisi tersebut sering dilaporkan terinfeksi penyakit tersebut. Kolam tadah hujan dan pekarangan dengan sumber air terbatas lebih rentan terhadap infeksi jenis penyakit ini.

Gejala klinis: Mycobacteriosis merupakan penyakit yang progresif chronik dengan beberapa gejala klinis antara lain lesi seperti cacar, ikan lemah, pembengkakan pada kulit, mata menonjol (exophthalmia) lesi dan borok pada tubuh. Ikan akan kehilangan nafsu makan, lemah, kurus. Gejala ini diawali dengan kurang gizi terutama vitamin E. Jika menginfeksi kulit, timbul bercak-bercak merah dan berkembang menjadi luka, sirip dan ekor geripis. Pada infeksi lanjut, gejala pada organ dalam biasanya terdapat granuloma yang berwarna putih keabu-abuan atau putih kecoklatan, terutama pada hati, limfa, ginjal dan pada daging ikan (dikenal sebagai penyakit TBC).

Epizootiology dari penyakit ini sangat sedikit sekali diketahui. Kemungkinan penyebaran penyakit tersebut dengan menelan langsung dari pakan atau kotoran yang terinfeksi oleh Mycobacterium spp tersebut.. Di Indonesia telah ditemukan menginfeksi ikan hias dan ikan gurame (Osphronemus gouramy). Insidensi infeksinya dapat mencapai 60% degan. Kematian yang diakibatkan dapat mencapai 70-80%. Diagnosa berupa isolasi dan identifikasi melalui uji biokimia.

Pengendalian dan Pengobatan: manajemen kesehatan ikan terpadu (inang, lingkungan dan patogen), ikan yang terinfeksi segera diambil dan dimusnahkan, hindari penggunaan air dari kolam yang terinfeksi bakteri tersebut. Pengobatan melakukan penggantian air baru. Pemeliharaan dalam ”air hijau” secara ekstensif akan mengurangi stress.
  1. Penyakit Nocardiosis

Picture19
Penyakit Nocardiosis yang Menyerang Daging dan Insang Ikan

Penyebab: Nocardia spp. adalah organisme bersifat aerob, gram positif dan mungkin “acid fast’ berbentuk batang dan kadang-kadang bercabang. Dapat menginfeksi baik ikan air tawar maupun ikan air laut. Ikan yang terinfeksi menunjukkan gejala hilang nafsu makan (anorexia), ikan kurus, pembengkakan terjadi pada daerah mulut dan perut yang menunjukkan adanya bintik putih pada kulit, insang, daging dan organ dalam dan kadang-kadang penyakit ini menimbulkan lesi. Gejala yang ditimbulkan mirip dengan gejala infeksi tuberkulosis.
  1. Penyakit Enteric Septicaemia of Catfish (ESC)
Penyebab:  bakteri Edwardsiela ictaluri. Bakteri tsb tergolong bakteri yang mempunyai sifat gram negatif, berbentuk batang, bergerak lamban dengan menggunakan flagella. Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 20-30oC. Perbedaannya dengan E. tarda adalah bakteri E. ictaluri tidak memproduksi H2S dan indol.
Picture20
Penyakit Enteric Septicemia of Catfish (ESC)
Gejala klinis dari penyakit ini ciri dengan keadaan ikan lemah menggantung arah vertikal, berenang berputar (Spinning) dan kemudian diikuti oleh kematian. Pada ikan yang berukuran panjang diatas 15 cm gejala klinis luar tidak pernah ditemukan. Penyebaran penyakit tersebut meliputi seluruh wilayah Amerika dimana budidaya channel catfish sangat intensif.
  1. Penyakit Pasteurellosis
Penyebab: Pasteurella piscida. Yaitu bakteri gram negatif tidak bergerak, berbentuk batang, fermentatif dengan warna koloni abu-abu sampai kuning.

Picture21
Infeksi Penyakit Pasteurellosis pada Organ Dalam Ikan

Gejala klinis: Pada infeksi akut hanya menunjukkan gejala yang tidak dapat terdeteksi. Sedangkan gejala pada organ dalam dapat ditemukan granuloma pada ginjal dan limfa yang berwarna putih keabu-abuan. Oleh karena itu maka penyakit ini juga sering disebut dengan istilah “pseudotuberculosis”. Pasteurellosis menyerang baik ikan yang dibudidayakan maupun ikan liar. Penyakit ini hanya menginfeksi ikan laut pada suhu air sekitar 25oC.
  1. Penyakit Enteric Red Mouth Disease (ERM)
Penyebab: Yersinia ruckeri, bakteri bersifat gram negatif, berbentuk batang agak lengkung, bergerak dengan menggunakan 7-8 flagella. Ada tiga tipe sel yaitu type 1, type 2 dan type 3 dimana type 1 sangat virulen, diikuti oleh type 2 dan kemudian type 3.

Picture22
Serangan Penyakit Red Mouth pada Ikan Bandeng

Gejala klinis: Red Mouth Disease adalah suatu penyakit dengan gejala klinis warna merah pada mulut dan kerongkongan akibat adanya pendarahan pada lapisan subcutan. Gejala lainnya adalah pembengkakan dan erosi pada rahang, kulit jadi kehitaman, pendarahan pada pangkal sirip, mata menonjol dan ikan lemah. Gejala klinis pada organ dalam meliputi pendarahan pada otot daging, lemak pada usus serta pembengkakakan terjadi pada ginjal dan limfa.

Penyebaran penyakit: meliputi Amerika Serikat, Canada, Denmark, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Norwegia dan Australia. Penyakit ini terutama menyerang ikan kecil ukuran panjang sekitar 7.5 cm. Lebih jarang menginfeksi ikan besar tetapi lebih bersifat kronik.

Sumber:

Maloedyn.,S., 2001. Mengatasi Penyakit Hama Pada Ikan Hias. Agro Media Pustaka. Jakarta.
Yuasa, Kei, dkk. 2003. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. Balai Budidaya Air Tawar Jambi, Ditjen Perikanan Budidaya, DKP dan JICA.

Upaya Mengendalikan Penyakit Ikan









Picture24

Mencegah lebih baik dari mengobati adalah prinsip yang tepat untuk mengatasi setiap gangguan penyakit ikan. Mencegah penyakit akan jauh lebih baik dari mengobatinya. Pencegahannya berarti melakukan upaya-upaya agar ikan terhindar dari serangan penyakit. Pada tahap awal, seorang pembudidaya ikan hendaknya memiliki kemampuan dan keterampilan untuk mengenal tanda-tanda awal dari ikan yang terkena penyakit. Ini sangat diperlukan agar tindakan pencegahan dan pengendalian terhadap serangan penyakit tersebut juga dapat dilakukan secara dini.

Kolam dan akuarium dapat dibersihkan secara mekanik, kimia atau biologis. Cara mekanik dilakukan menggunakan peralatan pembersih, seperti alat sirkulasi dan filter. Pembersihan secara kimia dilakukan dengan menggunakan larutan mutilen biru dan PK (Kalium Permanganat). Secara biologis, kolam atau akuarium dibersihkan dengan memanfaatkan organisme lain seperti bakteri pengurai dan tanaman air.
Beberapa kegiatan berikut ini juga bermanfaat untuk mengendalikan serangan penyakit ikan yaitu:
  1. Pengaliran Air
Pengaliran air adalah salah satu cara untuk mengatasi serangan penyakit ikan di kolam, disebabkan oleh senyawa beracun atau kualitas air kolam yang kurang memenuhi syarat. Pengaliran dimaksudkan untuk mengencerkan senyawa beracun atau menciptakan kondisi lingkungan kolam yang lebih baik, sehingga daya tahan tubuh ikan tetap baik.

Adanya aliran air yang lancar akan menghanyutkan sisa pakan dan hasil ekskresi, sehingga tidak terdapat senyawa beracun hasil dekomposisi bahan tersebut. Aliran air juga dapat mempertahankan temperatur dan konsentrasi oksigen di kolam tetap menunjang kehidupan ikan. Jika jumlah ikan yang terserang penyakit cukup besar, pengaliran dapat dilakukan di kolam tersebut. Akan tetapi, jika hanya beberapa ekor ikan saja yang terserang, maka pengaliran dapat dilakukan dalam bak atau wadah yang lebih kecil.
  1. Pencucian Kolam
Sering dijumpai kematian ikan di kolam disebabkan masuknya senyawa racun ke dalam kolam, baik disengaja maupun tidak. Penggunaan insektisida untuk pertanian maupun buangan limbah industri yang tidak dilakukan secara hati-hati dapat menyebabkan masuknya senyawa beracun tersebut ke dalam kolam dan menimbulkan masalah penyakit.

Untuk mengatsi kematian ikan secara masal karena keracunan sebaiknya dilakukan penutupan saluran pemasukan air dan memindahkan ikan yang terkena racun secepat mungkin ke kolam lain atau saluran air yang tidak tercemar oleh racun atau limbah industri. Tindakan selanjutnya adalah mengeringkan kolam selama beberapa hari agar daya racun dari senyawa tersebut menjadi lemah.
  1. Perendaman
Untuk mengobati ikan yang terserang penyakit di bagian luar tubuhnya (ektoparasit), sebaiknya dilakukan tindakan perendaman dalam senyawa kimia tertentu. Bila ikan yang terkena penyakit hanya beberapa ekor, perendaman dapat dilakukan di dalam bak atau wadah kecil. Akan tetapi jika jumlah ikan yang terserang cukup banyak, sebaiknya dilakukan perendaman di dalam kolam.

Perendaman ikan di dalam bak atau wadah kecil dapat dilakukan dengan membuat larutan senyawa kimia sesuai dengan jenis organisme penyakit yang menyerangnya. Masukkan ikan yang sakit ke dalam wadah tersebut dan biarkan selama beberapa saat. Ikan yang telah direndam segera dimasukkan ke dalam bak yang airnya bersih untuk menghilangkan pengaruh senyawa kimia selama perendaman. Jika belum sembuh, sebaiknya dilakukan perendaman ulang dalam senyawa kimia, hingga ikan benar-benar sembuh.

Sebelum menebar senyawa kimia sesuai konsentrasi yang dianjurkan, saluran pemasukan dan pengeluaran air harus ditutup dahulu, agar konsentrasi senyawa kimia tidak berubah. Agar konsentrasinya seragam, senyawa kimia tersebut dilarutkan dahulu ke dalam beberapa liter air dan kemudian barulah disebarkan secara merata ke seluruh permukaan kolam. Konsentrasi senyawa kimia di dalam kolam harus lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi senyawa kimia yang digunakan di dalam bak atau wadah kecil. Dengan demikian, proses perendaman ikan di kolam berlangsung lebih lama.

Jika sebelum waktu perendaman yang ditetapkan berakhir ikan sudah memperlihatkan tanda-tanda keracunan, sebaiknya segera dialirkan air baru yang segar dengan cara membuka saluran pemasukan dan saluran pengeluaran air.
  1. Melalui Pakan
Ikan yang telah terserang penyakit dapat juga disembuhkan dengan pengobatan melalui pakan, terutama terhadap serangan yang tidak mengakibatkan kematian secara tiba-tiba. Pengobatan melalui pakan sebaiknya segera dilakukan pada tahap awal terjadinya serangan, sebab pada saat itu ikan masih mempunyai nafsu makan. Keterlambatan pengobatan akan memberikan hasil kurang memuaskan, karena ikan telah kehilangan nafsu makan sehingga obat yang diberikan lebih banyak terbuang percuma.

Prinsip pengobatan melalui pakan adalah meningkatkan daya tahan tubuh melalui pemberian pakan dan membunuh organisme penyebab penyakit dengan obat yang sengaja dicampurkan ke dalam pakan. Jenis obat yang umum digunakan melalui pakan antara lain sulfamerazin, sulfadiazin, trisulfa, dan teramisin. Dosis yang diberikan tergantung pada jenis obat yang digunakan. Satu gram sulfamerazin yang dicampurkan ke dalam 5 kg pakan sudah cukup efektif untuk mengobati 30 – 50 kg ikan yang terserang penyakit. Lamanya pengobatan biasanya berlangsung secara terus-menerus selama 5 – 10 hari.
  1. Penyuntikan
Pengobatan melalui penyuntikan dilakukan untuk mengobati ikan yang terserang penyakit berupa parasit. Tindakan pengobatan melalui penyuntikan hanya efektif digunakan jika ikan yang terserang jumlahnya relatif sedikit. Jika jumlahnya banyak, maka dibutuhkan tenaga, waktu dan peralatan yang lebih banyak sehingga dianggap kurang efisien.

Teknik pengobatan ikan dengan cara penyuntikan biasanya dilakukan untuk induk ikan. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung ikan yang sakit, karena mudah dan resiko lebih kecil dibandingkan dengan penyuntikan di bagian lainnya. Penanganan terhadap ikan sakit dapat dibagi atas 2 (dua) langkah yaitu :
  1. Berdasarkan tehnik budidaya yaitu berupa tindakan-tindakan menghentikan pemberian pakan pada ikan, mengganti pakan dengan jenis lain, mengelompokkan ikan menjadi kelompok yang kepadatan/densitasnya rendah, dan bila tidak memungkinkan lagi maka ikan dapat dipanen daripada menjadi wabah bagi ikan lainnya.
  2. Berdasarkan terapi kimia yaitu berupa pemeriksaan kepekaan dari masing-masing obat yang telah dan akan digunakan, pemeriksaan batas dosis yang aman untuk masing-masing obat agar tidak terjadi over dosis, dan memperhatikan keterangan yang dikeluarkan oleh pabrik obat tersebut.
Di bawah ini diuraikan beberapa tindakan penanganan terhadap penyakit ikan antara lain untuk:
  1. Penyakit Virus
Jika ikan terinfeksi virus sangatlah sulit untuk diobati, Ada 2 (dua) tindakan pencegahan yaitu membersihkan virus penyebab penyakit dari lingkungan dan meningkatkan kekebalan ikan terhadap virus. Tindakan pencegahan pertama adalah dengan melakukan desinfeksi semua wadah dan peralatan, seleksi induk dan telur bebas virus. Berikutnya adalah melakukan upaya meningkatkan kualitas telur, penggunaan vaksin dan immunostimulan atau vitamin. Diantara tindakan penanganan yang ada, vaksin merupakan tindakan pencegahan yang efektif untuk mengatasi penyakit virus, walaupun untuk penyakit virus herpes koi belum dikembangkan.
  1. Penyakit Bakterial
Dapat diobati dengan antibiotika. Tetapi penggunaan antibiotika yang tidak tepat menghasilkan efek yang negatif. Pemilihan antibiotika yang tepat adalah pekerjaan penting dalam mengatasi masalah infeksi bakteri. Pemilihan antibiotika dilakukan berdasarkan hasil uji sensivitas obat. Antibiotika dapat mengobati dengan cepat ikan yang terinfeksi bakteri, tetapi juga dapat menghasilkan bakteri yang resisten terhadap antibiotika. Apalagi dengan adanya Kepmen 52 tahun 2014 tentang Klasifikasi Obat Ikan yang melarang beberapa obat Antibiotik digunakan dalam budidaya ikan.Untuk itulah maka pengembangan vaksin sangat penting artinya.
  1. Penyakit Jamur
Sampai sekarang belum dilakukan tindakan penanganan untuk infeksi jamur pada hewan air. Jadi pencegahan merupakan tindakan yang dapat dilakukan. Spora yang berenang di air untuk menemukan inang menunjukkan sensitivitas terhadap beberapa zat kimia.
  1. Penyakit Parasitik
Umumnya ektoparasit dapat ditangani dengan zat kimia. Tetapi telur dan kista memiliki resistensi terhadap zat kimia. Berdasarkan keberadaan parasit maka pengobatan kedua harus dilakukan setelah spora atau oncomiracidium menetas. Untuk menentukan jadwal pengobatan untuk setiap parasit, studi siklus hidup parasit sangatlah penting.


Sumber:
Afriantono, E dan Evi Liviawaty. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius, Yogyakarta.

“Penyakit Non Infeksi Pada Ikan”

PENYAKIT AKIBAT PENGARUH LINGKUNGAN

Penyakit pada ikan merupakan gangguan pada fungsi atau struktur organ atau bagian tubuh ikan. Penyakit pada ikan dapat muncul akibat adanya faktor-faktor yang tidak sesuai dengan syarat hidup ikan. Umumnya, serangan penyakit pada ikan terjadi akibat kelalaian manusia yang membiarkan kondisi yang tidak seimbang atau tidak harmonis dalam hubungan mata rantai kehidupan ikan, parasit dan lingkungan. Jika keadaan ini tidak mendapat perhatian serius maka akan mengganggu kesehatan ikan. Ikan akan mudah terserang penyakit dan mengakibatkan kematian. Kerugian yang timbul akibat serangan suatu penyakit dapat berbentuk kematian, pertumbuhan yang lambat bahkan tidak normal, atau produksi benih yang menurun.

Dengan demikian, kegagalan usaha budidaya ikan akibat penyakit tidak hanya disebabkan oleh faktor tunggal saja, tetapi merupakan hasil interaksi yang sangat kompleks antara ikan budidaya (kualitas, stadia rawan), lingkungan budidaya (intern dan ekstern) dan organisme penyebab penyakit serta kemampuan dari pelaksana atau budidayawan itu sendiri. Pada intinya, kesehatan ikan dapat menjadi terkontrol jika semua aspek lingkungan telah terkontrol pula. Ikan yang pernah terserang penyakit dapat pula menjadi sumber penyakit karena fungsinya menjadi agen (perantara) terhadap timbulnya penyakit baru di kemudian hari jika tidak segera ditangani atau diobati secara tuntas.

Salah satu kelompok penyebab penyakit pada ikan yang juga harus diwaspadai oleh pembudidaya ikan dan hobiis (kolektor) ikan adalah kelompok non-infeksi. Kelompok ini adalah kelompok penyakit yang disebabkan oleh bukan jasad hidup, antara lain disebabkan oleh perubahan lingkungan seperti kepadatan ikan terlalu tinggi, variasi lingkungan (oksigen, suhu, ph, salinitas, dsb), biotoksin (toksin alga, toksin zooplankton, dsb), pollutan, rendahnya mutu pakan dan lain-lain. Penyakit akibat lingkungan pada ikan sering terjadi. Berdasarkan penyebabnya dibedakan menjadi 3 golongan yaitu akibat faktor abiotik, faktor biotik dan faktor penanganan (handling).
  1. Faktor Abiotik (Suhu, Oksigen Terlarut, pH, dan Kesadahan)
  • Suhu/ Temperatur
Ikan mempunyai tahap toleransi yang maksimal dan minimal terhadap perubahan suhu. Jika terjadi perubahan suhu melebihi 5oC secara mendadak, akan mempengaruhi keseimbangan regulasi sistem saraf dan hormonal badan ikan yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan terhadap sistem imunisasi.

Suhu yang tinggi di daerah tropis merupakan masalah yang sering ditemukan, karena menyebabkan kurangnya kelarutan oksigen dan meningkatnya pertambahan mikroorganisme di dalam sistem akuatik. Suhu rendah menyebabkan kecepatan metabolisme turun dan nafsu makan ikan menurun. Suhu dingin di bawah suhu optimum akan berpengaruh pada tingkat kekebalan tubuh ikan, sementara itu sedangkan suhu optimum berbeda-beda bagi masing-masing jenis ikan. ’Heat stress’ menyebabkan kadar metabolisme badan ikan meningkat, akibatnya ikan mengalami penurunan selera makan dan mudah terjangkit penyakit akibat kurangnya ketahanan melawan penyakit.
  • Cahaya dan Kelarutan Oksigen
Cahaya diperlukan untuk proses fotosintesis dan fotosintesis akan meningkatkan kelarutan oksigen di dalam sistem akuatik. Banyak faktor yang berpengaruh dalam proses ini akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen di dalam air.
CO2 + 2 H2X ———– tenaga cahaya ———– [CH2O] + H2O + 2X
6CO2 + 6H2O ———– tenaga cahaya ———– C6H12O6 + 6O2
Tahap kebutuhan oksigen terlarut untuk ikan adalah antara 4 – 10 ppm. Ikan dapat hidup di bawah 4 ppm, tetapi kadar oksigen yang rendah akan mempengaruhi kadar tumbuh besar ikan secara keseluruhan.
  • pH
Bagi ikan, pH air yang dibutuhkan akan bervariasi tergantung jenisnya. Pada umumnya ikan akan toleran terhadap range pH tertentu misalnya untuk ikan hias jenis Mas Koi dan Mas koki antara 6,2 – 9,2. Keberadaan pH air yang ekstrim dibawah atau diatas pH optimum akan mengakibatkan gangguan pada kesehatan ikan. Efek langsung dari pH rendah dan yang terlalu tinggi adalah berupa kerusakan sel epitel baik kulit maupun insang, karena akan mengganggu pada proses penyerapan oksigen terutama bagi ikan yang bernafas menggunakan insang.
  • Kesadahan
Kesadahan pada lingkungan pembudidaya ikan dikenal dengan istilah air lunak dan air yang keras. Nilai kesadahan pada air biasanya ditentukan dengan kandungan kalsium karbonat atau magnesium. Tingkatan nilai kesadahan untuk air dapat dibedakan menjadi air yang lunak (air dengan kesadahan rendah), air yang sedang dan air yang keras (kesadahan tinggi) dan sangat keras. Pada tabel  dibawah ini dapat dilihat tingkat kesadahan air berdasarkan jumlah kandungan kalsium karbonat.
Tingkat kesadahan
Kandungan kalsium karbonat
Nilai kesadahan
(dCHo)
Lunak (rendah) Sedang
Keras (tinggi)
Sangat keras
0 – 50 50 – 150
150 – 100
> 300
0 – 3,5 3,5 – 10
10,5 – 21
> 21
  • Pencemaran
Bahan cemaran berasal dari sumber air pada usaha budidaya ikan, yang menggunakan sumber air dari sungai atau perairan umum lainnya. Bahan cemaran berasal dari limbah domestik, aliran darat yang dibawa oleh hujan maupun limbah industri berupa bahan beracun dan logam berat. Bahan cemaran tersebut secara langsung dapat mematikan atau bisa juga melemahkan ikan.

Oksigen terlarut akan berkurang dikarenakan proses pembongkaran bahan organik dari bahan cemaran oleh bakteria. Proses ini juga akan meningkatkan populasi bakteri disamping meningkatkan kandungan sistem akuatik. Bahan cemaran dengan konsentrasi rendah yang berlangsung dalam jangka waktu lama akan menimbulkan efek yang tidak mematikan ikan tetapi mengganggu proses kehidupan ikan (sublethal) dan hal ini akan mengganggu kesehatan ikan. Pada kondisi demikian ikan akan mudah terinfeksi oleh segala macam penyakit misalnya penyakit akibat infeksi jamur dan bakteri.
  1. Faktor Biotik
Adanya nutrien yang tinggi dari kondisi di atas akan mengakibatkan ‘alga bloom’, yang akan menurunkan kandungan oksigen, meingkatkan karbondioksida dan pH air melalui proses dekomposisi. Algae yang menutupi permukaan air, menghalangi cahaya yang masuk dan akan mengganggu proses pernafasan ikan. Sementara itu algae yang tumbuh di dalam air berpengaruh terhadap pergerakan ikan karena akan terperangkap oleh algae. Selain itu algae sel tunggal berupa filament, dapat masuk ke dalam lembar insang dan mengganggu proses pernafasan ikan, sehingga ikan lama kelamaan akan mengalami kekurangan oksigen.
Beberapa alga yang biasanya tumbuh berlebih (blooming) akan berpengaruh pada pengurangan kandungan oksigen dalam air baik dari aktivitas fotosintesa terutama pada waktu malam hari. Akibat dari aktivitas pembusukan algae akan menimbulkan bahan beracun seperti ammoniak. Selain itu beberapa algae akan bersifat racun bagi ikan misalnya dari jenis Mycrocystis aeruginosa.
  1. Faktor Penanganan (Handling)
Beberapa faktor penanganan ikan perlu diperhatikan adalah: pemberian pakan yang tidak seimbang, penanganan ikan secara kasar dan jumlah padat tebar terlalu tinggi. Pemberian pakan yang tidak seimbang. Pemberian pakan secara berlebihan perlu dihindari, karena pakan yang berlebih akan jatuh ke dasar perairan menjadi substrat pertumbuhan bakteri. Selain dari itu, bahan organik menyebabkan proses perombakan dan selanjutnya akan meningkatkan persaingan terhadap penggunaan oksigen.
  • Penanganan ikan secara kasar
Pada saat ikan dijadikan sampel pemeriksaan penyakit, tindakan penanganan ikan secara kasar dapat menyebabkan cidera pada ikan. Masalah penyakit akibat bakteri dan jamur merupakan masalah utama yang sering dihadapi akibat penanganan ikan secara kasar.
  • Jumlah padat tebar terlalu tinggi
Kepadatan ikan yang terlalu tinggi menyebabkan ikan saling berebut oksigen. Kekurangan oksigen akan menyebabkan ikan stres dan daya tahan tubuhnya menurun sehingga mudah dihinggapi penyakit. Bagi ikan berduri, badannya akan mudah mendapat luka sehingga penyakit akan mudah menular dari satu ikan ke ikan lainnya. Kondisi padat juga akan menyebabkan terjadi ‘krisis sosial’ di mana ikan yang besar akan mendominasi ikan kecil, akibatnya proses tumbuhbesar ikan akan terhambat sehingga ukuran ikan menjadi tidak seragam.

PENYAKIT KEKURANGAN NUTRISI
Seperti halnya manusia, ikan memerlukan nutrisi yang baik, agar bisa hidup dengan sehat. Oleh karena itu ikan perlu diberi makan dengan makanan yang mengandung kadar nutrisi yang memadai. Nutrisi yang harus ada pada ikan adalah protein, karbohidrat, lemak, mineral, dan vitamin. Pakan ikan harus mengandung cukup protein, karena protein yang dibutuhkan oleh ikan relatif tinggi. Kekurangan protein akan menurunkan daya tahan tubuh ikan terhadap penyakit dan pertumbuhan ikanpun akan terganggu.

Kekurangan vitamin pada ikan mengakibatkan kelainan-kelainan pada tubuh ikan baik kelainan bentuk tubuh ataupun kelainan fungsi faal (fisiologi). Contohnya:
  1. Kekurangan vitamin A mengakibatkan pada pertumbuhan yang lambat, kornea mata menjadi lunak, mata menonjol dan mengakibatkan kebutaan, pendarahan pada kulit dan ginjal.
  2. Ikan yang kekurangan vitamin B1 (Thiamin) menunjukkan gejala : ikan lemah dan kehilangan nafsu makan, timbulnya pendarahan atau penyumbatan pembuluh darah, abnormalitas gerakan seperti kehilangan keseimbangan, dan warna kulit ikan menjadi pucat.
  3. Kekurangan vitamin B2 (Riboflavin) menunjukkan gejala: mata ikan keruh dan pendarahan pada okuler mata, akibatnya ikan lama kelamaan akan mengalami kebutaan, kulit berwarna gelap, nafsu makan hilang, pertumbuhan lamban dan timbulnya pendarahan pada kulit dan sirip.
  4. Ikan yang mengalami kekurangan vitamin B6 (Pyridoxine) akan menyebabkan frekuensi pernafasan meningkat, ikan kehilangan nafsu makan, ikan lama kelamaan akan mengalami kekurangan darah.
  5. Vitamin C sangat berperan di dalam pembentukan kekebalan tubuh, karena itu kekurangan vitamin C yang berlangsung dalam periode lama akan mengakibatkan menurunnya daya tahan tubuh. Kekurangan vitamin C pada ikan akan menunjukkan gejala ikan berwarna lebih gelap, pendarahan terjadi pada kulit, hati dan ginjal. Kekurangan vitamin C juga akan menyebabkan terjadinya kelainan pada tulang belakang yaitu bengkok arah samping (Scoliosis) dan bengkok arah atas dan bawah (Lordosis). Pada tabel dibawah ini dapat dilihat beberapa contoh kelainan pada tubuh ikan akibat dari kekurangan nutrisi tertentu.
Gejala Kekurangan
Nutrisi
Anemia Folic Acid, Inositol, Niacin, Pyrodoxine, Rancid Fat, Riboflavin, Vitamin B12, Vitamin C, Vitamin E, Vitamin K.
Anorexia Biotin, Folic Acid, Inositol, Niacin, panthothenic Acid, Pyrodoxine, Riboflavin, Thiamin, Vitamin A, Vitamin B12, Vitamin C
Acites Vitamin A, Vitamin C, Vitamin E,
Ataxia Pyrodoxine, Pantothenic acid, Riboflavin
Atrophy of Gills Panthothenic Acid
Atrophy of Muscle Biotin, Thiamin
Caclinosis: renal Magnesium
Cartilage abnormality Vitamin C, Tryptophan
Cataracts Methionine, Riboflavin, Thiamin, Zinc
Ceroid liver Rancid Fat, Vitamin E
Cloudy lens Methionine, Riboflavin, Zinc
Clubbed gills Pantothenic Acid
Clotting blood; slow Vitamin K
Colouration: dark skin Biotin, Folic Acid, Pyrodoxine Riboflavin
Convulsions Biotin, Pyrodoxine, Thiamin
Discolouration of skin Fatty Acids, Thiamin
Deformations ; bone Phosphorous
Deformations ; lenss Vitamin A
Degenerations of gills Biotin
Dermatitis Pantothenis Acid
Diathesis, exudative Selenium
Distended stomach Inositol
Distended swimblandder Pantothenis Acid
Dystrophy, muscular Selenium, Vitamin E
Untuk menanggulangi akibat kekurangan vitamin maka tentu saja kita harus melengkapi atau menambahkan beberapa vitamin pada pakan ikan.

PENYAKIT KELAINAN GENETIK

Faktor genetik berpengaruh langsung pada bentuk fisik ikan dan keadaan ini tidak akan bisa diobati dengan menggunakan obat antibiotik ataupun jenis yang lainnya. Perkawinan kekerabatan pada ikan akan dapat menimbulkan masalah pada penurunan daya tahan tubuh ikan tersebut terhadap infeksi suatu penyakit, karena perkawinan kekerabatan akan mengakibatkan miskinnya variasi genetik dalam tubuh ikan itu sendiri. Kelainan lain yang sering ditemukan pada ikan hasil perkawinan kekerabatan adalah tutup insang tidak tertutup dengan sempurna. Hal tersebut akan mengganggu proses pernafasan ikan sehingga lama kelamaan ikan akan mengalami kekurangan darah. Ini disebabkan rusaknya sistem pembuat darah akibat dari minimnya oksigen yang dipasok pada jaringan pembuat darah. Pencegahan penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit non infeksi adalah sebagai berikut:
  1. Lingkungan, terutama sifat fisika, kimia dan biologi perairan akan sangat mempengaruhi keseimbangan antara ikan sebagai inang dan organisme penyebab penyakit. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan ikan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah stress dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit non parasit.
  2. Kepadatan ikan yang seimbang karena jika kepadatan ikan melebihi daya dukung perairan (carrying capacity) akan menimbulkan persaingan antar ikan tinggi, oksigen terlarut menjadi rendah dan sisa metabolisme seperti amoniak akan meningkat sehingga dapat menimbulkan stress dan merupakan penyebab timbulnya penyakit.
Pakan yang seimbang karena pemberian pakan yang kurang bermutu dapat menyebabkan kekurangan vitamin sehingga akan diikuti oleh pertumbuhan yang lambat atau menurunnya daya tahan ikan dan memudahkannya untuk diserang penyakit. Disamping itu juga tingkat pemberian pakan dan kualitas pakan juga akan mempengaruhi sistem kekebalan. Untuk tindakan pengobatan penyakit non infeksi dapat dilakukan dengan vaksinasi.

Sumber:
Afriantono, E dan Evi Liviawaty. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius, Yogyakarta.
Dailami. D, A.S. 2002. Agar Ikan Sehat. Swadaya. Jakarta.
Lesmana, Darti. S, 2003. Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Ikan Hias. Penebar Swadaya.

Kajian Keadaan Pedesaan Secara Partisipatif

Kajian Keadaan Pedesaan secara Partisipatif adalah salah satu tahap dalam meningkatkan kemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Proses pemandirian atau Pemberdayaan Masyarakat terdiri dari beberapa tahapan yaitu, Kajian Keadaan Pedesaan oleh Masyarakat, Pengembangan Kelompok, Perencanaan dan Pelaksanaan Kegiatan dan Monitoring dan Evaluasi. Kajian Keadaan Pedesaan dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan percaya diri masyarakat dalam mengidentifikasi serta menganalisa situasinya, baik potensi maupun permasalahannya. Ini sangat berbeda dengan pendekatan “top-down” . Dalam pendekatan ini, lembaga menentukan apa yang akan dikerjakan dalam suatu wilayah. Masyarakat diikutkan tanpa diberikan pilihan. Dalam Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif justru masyarakat memanfaatkan informasi dan hasil kajian mereka sendiri untuk mengembangkan rencana kerja mereka agar lebih maju dan mandiri.

Keluaran Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif adalah gambaran tentang masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, potensi serta peluang pengembangan. Hasil ini merupakan dasar untuk tahapan proses Pemberdayaan Masyarakat berikut, yaitu pembentukan dan pengembangan kelompok serta penyusunan dan pelaksanaan rencana kegiatan oleh masyarakat. Hasil Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif juga dapat digunakan oleh  instansi yang berkepentingan untuk mengembangkan pelayanan serta program yang lebih tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif dilakukan oleh masyarakat dan difasilitasi atau didampingi oleh Tim Pemberdayaan Masyarakat. Dalam Kajian Partisipatif diberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dan pengetahuannya.

Pendekatan yang dipakai untuk mengkaji keadaan pedesaan sacara partisipatif, adalah “Participatory Rural Appraisal” atau “PRA”. PRA ini adalah “sekumpulan teknik dan alat yang mendorong masyarakat Pedesaan untuk turut serta meningkatkan dan menganalisa pengetahuannya mengenai hidup dan kondisi mereka sendiri, agar mereka dapat membuat rencana dan tindakan”. PRA mengutamakan masyarakat yang terabaikan agar memperoleh kesempatan untuk memiliki peran dan mendapat manfaat dalam kegiatan program pengembangan.

Teknik dan alat PRA berupa visual (gambar, tabel, bentuk) yang dibuat oleh masyarakat sendiri dan dipergunakan sebagai media diskusi masyarakat tentang keadaan mereka sendiri serta lingkungannya. Kualitas informasi yang digali dengan PRA biasanya tinggi, namun kuantitatif kadang-kadang kurang tepat. Walaupun kita tidak tahu apakah informasi seratus persen benar, yang penting bahwa informasi itu cenderung mendekati kebenaran. Tahapan-tahapan dalam proses kajian keadaan pedesaan partisipatif meliputi:

1.Persiapan desa bersama wakil masyarakat
  1. Menentukan tempat dan waktu;
  2. Koordinasi dengan pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat
  3. Mengumumkan kepada mayarakat;
  4. Persiapan akomodasi dan konsumsi serta dana yang diperlukan;
2.Persiapan dalam tim
  1. Menentukan bahan pendukung dan media;
  2. Menentukan informasi yang akan dikaji;
  3. Menentukan teknik PRA yang ingin dipakai;
  4. Membagi peran dalam Tim PM;
3.Melakukan kajian keadaan kegiatan PRA
  1. Berbagi pengalaman dan pengetahuan
  2. Analisa pengalaman dan pengetahuan
  3. Menyimpulkan
4.Pengumpulan dan perumusan hasil PRA (pelaporan) Lokakarya/ Musyawarah Masyarakat
  1. Mempresentasi semua hasil PRA;
  2. Mendiskusikan kembali dengan masyarakat untuk mempertajam temuan;
  3. Penyusunan hasil akhir analisa kajian potensi, kesempatan, masalah dan kemungkinan pengembangan program oleh masyarakat.
Waktu pelaksanaan disesuaikan dengan keadaan setempat dan keinginan masyarakat. PRA dapat dilaksanakan dalam bentuk “Lokakarya” (misalnya selama 5 hari terus menerus) atau dalam beberapa tahap (misalnya satu hari seminggu selama 2 bulan). PRA tidak mudah untuk dilakukan karena masih sering ada anggapan bahwa masyarakat miskin bodoh dan perlu digurui. Untuk itu fasilitator perlu sikap hati rendah serta kesediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga masyarakat sebagai pelaksana dan nara sumber utama dalam memahami keadaannya. Kegiatan Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif adalah dasar untuk Pembentukan Kelompok serta Penyusunan Rencana Kegiatan Kelompok.

Berdasarkan masalah dan kebutuhan yang dihadapi oleh masyarakat, dapat dikembangkan kegiatan untuk memecahkan masalah tersebut. Sering kali, dibentuk kelompok yang memudahkan pencapaian tujuan bersama. Kelompok juga berfungsi sebagai kelompok belajar.Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif atau PRA sering memanfaatkan teknik-teknik visualisasi (pembuatan gambar) untuk mendukung analisa masyarakat terhadap keadaan mereka. Diharapkan bahwa Tim Fasilitator menyesuaikan pilihan teknik yang akan digunakan dengan keadaan dan dinamika setempat. Kalau ada pengalaman tentang teknik-teknik lain yang berguna, silahkan memanfaatkannya. Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan percaya diri masyarakat dalam mengidentifikasi serta menganalisa situasinya, baik potensi maupun permasalahannya. Masyarakat memanfaatkan informasi dan hasil analisa sendiri untuk mengembangkan rencana kerja mereka agar lebih maju dan mandiri. Dalam hal ini juga diharapkan masyarakat mampu menyampaikan hasil perencanaannya kepada instansi terkait yang dibutuhkan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif adalah tahap pertama dalam siklus pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Setelah kajian, masyarakat akan masuk tahap perencanaan kemudian pelaksanaan dan monitoring dan evaluasi. Setelah itu, mereka lanjutkan dengan mengkaji ulang sebagai dasar untuk rencana baru. Keluaran Kajian Keadaan Pedesaan adalah gambaran tentang:
  1. Potensi sumber daya alam yang dimiliki masyarakat, termasuk sistem usaha;
  2. Potensi sosial masyarakat;
  3. Potensi perekonomian masyarakat;
  4. Potensi lembaga atau kelompok kegiatan yang ada, latar belakangnya, strukturnya, kegiatannya dan lain-lain (termasuk lembaga pelayanan, baik pemerintah maupun non-pemerintah);
  5. Masalah-masalah masyarakat;
  6. Prioritas dan penyebab masalah;
  7. Peluang-peluang pengembangan.
Hasil ini merupakan dasar untuk tahapan proses Pemberdayaan Masyarakat berikut yaitu pembentukan dan pengembangan kelompok dan penyusunan dan pelaksanaan rencana kegiatan oleh masyarakat.

Teknologi Budidaya Ikan Ramah Lingkungan

Seiring berkembangnya kebutuhan industri budidaya ikan atau udang yang dituntut ramah lingkungan, beragam teknologi yang dapat digunakan untuk meminimalisir limbah budidaya mulai bermunculan. Banyak upaya yang dapat dilakukan oleh pembudidaya ikan atau udang untuk meminimalisir limbah sisa pakan atau mengolahnya.
  1. Teknologi Sistem Resirkulasi
Sistem ini memanfaatkan proses nitrifikasi dari bakteri. Dengan sistem ini limbah dari sisa pakan maupun hasil metabolisme berupa Amoniun dikonversi menjadi komponen yang lebih dapat ditoleransi oleh ikan yaitu nitrat.  Selanjutnya nitrat dapat digunakan untuk bahan pupuk.
Sistem tersebut sudah dikembangkan untuk pembesaran ikan lele di STP Serang. Tidak hanya meminimalisir limbah namun mampu meningkatkan produksi lele mencapai 400 kg/m3 air atau sekitar 4 kali lipat dari hasil rata-rata yang biasa dicapai.
  1. Teknologi Busmetik atau Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik
Model budidaya ini diterapkan dengan memperkecil petakan tambaknya dari ukuran biasanya (1/5  hingga 1/4 dari ukuran tampak pada umumnya). Dengan memperkecil petakan, maka pengontrolan lebih mudah dan efisiensi penggunaan pakan menjadi lebih maksimal.
Teknologi ini sudah diselaraskan dengan penanaman vegetasi mangrove yang sangat berguna untuk mendukung tambak itu sendiri. Air dari tambak tidak dibuang ke perairan bebas namun diarahkan ke vegetasi mangrove, yang kemudian dimanfaatkan untuk budidaya bandeng atau kepiting.
  1. Teknologi Probiotik
Teknologi ini  diyakini mampu membantu meminimalisir limbah (terutama pada budidaya udang). Bakteri dari genus Bacillus, banyak membantu dalam proses perbaikan mutu air tambak karena mampu menkonversi bahan organik menjadi komponen terurai lainnya yang lebih ramah.
Probiotik ini merupakan salah satu upaya budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan karena probiotik bertugas mengurai  H2S, amoniak, nitrit, dan nitrat yang terdapat pada limbah.
  1. Teknologi Bioflok
Teknologi yang menerapkan keseimbangan unsur organik dalam air ini ini sudah banyak diterapkan, baik pada ikan air tawar maupun pada udang di tambak. Teknologi ini dapat menekan konversi pakan ikan atau udang sehingga akan mengurangi buangan ke lingkungan.
  1. Teknologi Akuaponik
Teknologi ini juga mulai banyak dikembangkan, karena dinilai mampu meminimalisir limbah hasil budidaya. Unsur hara (biasanya didominasi unsur Nitrogen) akan diserap oleh tanaman melalui akarnya. Jenis tanaman yang digunakan diantaranya adalah tanaman air seperti kangkung.
  1. Teknologi Yumina (sayur dan ikan) dan Bumina (buah dan ikan)
Teknologi ini dikembangkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan kelautan dan Perikanan. Prinsip dasar dari teknologi tersebut hampir sama dengan teknologi akuaponik. Teknologi ini bahkan sudah diadopsi oleh FAO sebagai teknologi rekomended untuk dikembangkan.
  1. Teknologi 90% Satiation Feeding
Teknologi ini dikembangkan oleh ASA (American Soybean Association). Teknologi tersebut diambil dari negeri Tiongkok. Logikanya adalah ikan tidak diberikan pakan kenyang setiap hari, namun hanya pada level 90 % saja. Sehingga tidak ada makanan yang tersisa karena tidak dimakan, kemudian metabolisme ikan lebih baik. Teknologi ini pernah dicoba di Indonesia sekitar 2004 – 2006 pada ikan yang dipelihara di kolam arus deras dan karamba jaring apung (mas dan nila).
  1. Teknologi Pakan Terapung
Dengan menggunakan pakan ikan terapung, maka dapat lebih mudah mengontrol jumlah pakan yang diberikan kepada ikan. Hal ini karena pakannya terapung sehingga dapat dilihat dengan mata. Namun teknologi ini hanya untuk ikan-ikan yang makan di permukaan saja, tidak cocok untuk tipe demersal seperti udang.
  1. Teknologi Protein Sparring
Teknologi ini menggantikan sumber energi utama untuk pakan dengan menggunakan karbohidrat bukan dari protein. Gagasan tersebut muncul karena adanya imbauan untuk menekan pengggunaan tepung ikan sebagai bahan baku utama untuk pabrik pakan.
  1. Teknologi Bioremediasi
Teknologi ini digunakan untuk memperbaiki kualitas suatu lingkungan dengan menggunakan mikroorganisme. Prinsipnya, ada banyak jenis dan jumlah mikroba di alam yang masing-masing memiliki kemampuan adaptasi dan fungsi yang spesifik yang dapat kita manfaatkan untuk pemulihan lingkungan

Teknik dan Alat PRA

Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif atau PRA sering memanfaatkan teknik-teknik visualisasi (pembuatan gambar) untuk mendukung analisa masyarakat terhadap keadaan mereka.  Pada umumnya, ada beberapa metode visualisasi, yaitu gambaran, tabel dan bagan. Berdasarkan metode-metode ini, banyak teknik telah dikembangkan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa teknik yang dapat dipilih dalam Kajian Keadaan Pedesaan Partisipatif. Dalam bab ini teknik-teknik tersebut dijelaskan baik pengertian, tujuan serta bagaimana pelaksanaannya. Teknik-teknik tersebut adalah Pemetaan desa, Kalender musim, Transek (penelusuran desa), Diagram Venn (bagan hubungan kelembagaan), Bagan perubahan dan kecenderungan, Ranking kesejahteraan, Diagram alur, Analisa Kehidupan, dan Penentuan angka dan ranking. Diharapkan bahwa Tim Fasilitator menyesuaikan pilihan teknik dengan keadaan dan dinamika setempat.
  1. Pemetaan Desa
Pemetaan desa adalah teknik PRA untuk memfasilitasi masyarakat untuk mengungkapkan keadaan wilayah desa tersebut beserta lingkungannya sendiri. Hasilnya adalah peta atau sketsa keadaan sumberdaya umum desa atau peta dengan topik tertentu (peta topikal), sesuai kesepakatan dan tujuannya, misalnya ‘peta Kolam air tawar, peta pengolah ikan, dan peta penyebaran penduduk.  Teknik ini banyak digunakan dan mengarah kepada teknik-teknik lain. Pemetaan dapat dilakukan di atas tanah atau di atas kertas. Sering kali dipakai simbol-simbol dan peralatan yang sederhana seperti tongkat, batu-batuan dan biji-bijian. Kalau dibuat di tanah, luasnya peta tidak terbatas, supaya banyak orang dapat berperan aktif dalam pelaksanaannya. Kalau digambar di tanah, hasilnya harus digambar kembali di atas kertas agar hasilnya tidak hilang. Tahapan dalam pelaksanaan meliputi:
  1. Sepakatilah tentang topik peta (umum atau topikal) serta wilayah yang akan digambar;
  2. Sepakatilah tentang simbol-simbol yang akan digunakan
  3. Menyiapkan bahan yang dibutuhkan
  4. Gambarlah (masyarakat!!) batas-batasan wilayah dan beberapa titik tertentu (misalnya jalan, sungai, rumah ibadah, sekolah, pasar, kantor desa)
  5. Melengkapi peta dengan detail-detail sesuai topik peta (umum atau topikal)
  6. Diskusilah lebih lanjut tentang keadaan, masalah-masalah, sebabnya serta akibatnya
  7. Menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  8. Pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan kalau pembuatan peta dan diskusi sudah selesai, peta digambar kembali atas kertas (secara lengkap dan sesuai peta masyarakat).

  1. Kalender Musim
Kegiatan-kegiatan dalam daur kehidupan masyarakat desa sangat dipengaruhi siklus musim. Kalender musim menunjukkan perubahan dan perulangan keadaan-keadaan seperti cuaca, musim ikan, pembagian tenaga kerja, keberadaan hama dan penyakit dan lain-lain, dalam satu kurun waktu tertentu (musiman). Hasilnya, yang digambar dalam suatu ‘kalender’ dengan bentuk matriks, merupakan informasi penting sebagai dasar pengembangan rencana program. Kalender musim dapat dibuat di atas kertas atau di tanah. Sering kali dipakai simbol-simbol. Untuk simbol tersebut dapat dimanfaatkan biji-bijian, daun-daunan, batu-batuan dan lain-lain. Kalau digambar di tanah, hasilnya harus digambar kembali di atas kertas. Tahapan dalam pelaksanaan meliputi:
  1. Gambarlah (masyarakat) sebuah kalender dengan 12 bulan (atau 18 bulan) sesuai kebutuhan. Tidak perlu mengikuti kalender tahunan, bisa mulai pada bulan lain, misalnya sesuai musim tanam.
  2. Diskusi umum tentang jenis-jenis kegiatan serta keadaan apa yang paling sering terjadi pada bulan-bulan tertentu dan apakah kegiatan itu selalu terulang dari tahun ke tahun.
  3. Gambarlah kegiatan-kegiatan utama serta keadaan-keadaan kritis yang berakibat besar bagi masyarakat dalam kalender (menyepakati tentang simbol-simbol dulu).
  4. Mendiskusikan lebih lanjut tentang keadaan, masalah-masalah, sebabnya serta akibatnya.
  5. Menyesuaikan gambaran dengan hasil diskusi.
  6. Menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi.
  7. Pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan kalau pembuatan kalender dan diskusi sudah selesai, kalender digambar kembali di atas kertas (secara lengkap dan sesuai gambar masyarakat).

  1. Transek (Penelusuran Desa)
Transek (Penelusuran Desa) merupakan teknik untuk memfasilitasi masyarakat dalam pengamatan langsung lingkungan dan keadaan sumber-sumberdaya dengan cara berjalan menelusuri wilayah desa mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati. Dengan teknik transek, diperoleh gambaran keadaan sumber daya alam masyarakat beserta masalah-masalah, perubahan-perubahan keadaan dan potensi-potensi yang ada. Hasilnya digambar dalam diagram transek atau “gambaran irisan muka bumi”. Jenis-jenis transek meliputi “Transek sumber daya desa umum, Transek sumber daya alam, Transek Topik Tertentu, misalnya “transek mengamati sumber pakan ternak” atau transek pengelolaan tanah”.
Transek biasanya terdiri dari dua tahapan utama yaitu:
a. Perjalanan dan observasi
Melalui pembuatan gambar transek. Hasilnya biasanya langsung digambar atas flipchart (kertas lebar). Sebelum melakukan Transek perlu disiapkan bahan dan alat seperti kertas flipchart, kartu warna-warni, spidol, makanan dan minuman. Kegiatan transek biasanya makan waktu yang cukup lama.
b. Perjalanan
Sepakatilah tentang lokasi-lokasi penting yang akan dikunjungi serta topik-topik kajian yang akan dilakukan (misalnya penggunaan lahan, jenis tanah, pengairan, ketersediaan pakan ikan, masalah, potensi dan lain-lain), sepakatilah lintasan penelusuran serta titik awal dan titik akhir (bisa memanfaatkan hasil Pemetaan Desa), lakukan perjalanan dan mengamati keadaan, sesuai topik-topik yang disepakati, dan buatlah catatan-catatan hasil diskusi di setiap lokasi (tugas pencatat).
c. Pembuatan gambaran transek
Sepakatilah simbol yang akan dipergunakan dan mencatat simbol dan artinya, gambarlah bagan transek berdasarkan hasil lintasan (buatlah dengan bahan yang mudah diperbaiki/ dihapus agar masih dapat dibuat perbaikan), untuk memfasilitasi penggambaran, masyarakat diarahkan untuk menganalisa mengenai: perkiraan ketinggian, perkirakan jarak antara satu lokasi dengan lokasi lain, mengisi hasil diskusi tentang topik-topik dalam bentuk bagan/matriks (lihat contoh), kalau gambar sudah selesai, mendiskusikan kembali hasil dan buat perbaikan jika diperlukan, mendiskusikan permasalahan dan potensi masing-masing lokasi, menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi, dan pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi.
  1. Diagram Venn dalam PRA
Diagram Venn dapat dibuat  di kertas atau di tanah. Sering kali dipakai kertas (yang digunting dalam bentuk lingkaran) dan spidol. Tahapan dalam pelaksanaan Diagram Venn meliputi:
  1. Bahaslah dengan masyarakat lembaga-lembaga yang terdapat di desa (lembaga-lembaga yang terkait dengan topik yang akan dibahas)
  2. Catatlah daftar lembaga-lembaga pada flipchart
  3. Guntinglah sebuah lingkaran kertas yang menunjukkan masyarakat
  4. Sepakatilah mengenai simbol-simbol yang dipergunakan, misalnya:
  5. Besarnya lingkaran: menunjukkan pentingnya lembaga-lembaga tersebut menurut pemahaman masyarakat. Semakin penting suatu lembaga maka semakin besar lingkaran
  6. Jarak dari tingkatan masyarakat: menunjukkan manfaat lembaga tersebut menurut pemahaman masyarakat. Semakin dekat dengan lingkaran masyarakat maka lembaga tersebut semakin
  7. Tulislah kesepakatan simbol-simbol tersebut pada flipchart agar mudah diingat oleh masyarakat
  8. Bahaslah apakah lembaga-lembaga tersebut ‘penting’ menurut pemahaman masyarakat dan menyepakati besarnya lingkaran yang mewakili lembaga tersebut
  9. Guntinglah kertas-kertas yang berbentuk lingkaran yang besarnya sesuai dengan kesepakatan, tulislah nama lembaga tersebut pada lingkaran itu
  10. Letakkanlah lingkaran masyarakat di atas lantai
  11. Bahaslah bagaimana manfaat lembaga tersebut terhadap masyarakat yang ditunjukkan oleh jaraknya dari lingkaran masyarakat
Yang perlu diperhatikan pentingnya suatu lembaga terhadap masyarakat (yang ditunjukkan oleh besarnya lingkaran) belum tentu dirasakan manfaatnya oleh masyarakat (yang ditunjukkan oleh jarak dari lingkaran masyarakat).
  1. Kalau semua lembaga telah ditempatkan, periksalah kembali dan diskusikan kebenaran informasi tersebut
  2. Buatlah perubahan kalau memang diperlukan
  3. Mendiskusikan permasalahan dan potensi masing-masing lembaga
  4. Menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  5. Pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan kalau pembuatan diagram venn dan diskusi sudah selesai, diagram digambar kembali atas kertas (secara lengkap dan sesuai hasil masyarakat).

  1. Bagan Perubahan dan Kecenderungan
Bagan Perubahan dan Kecenderungan merupakan teknik PRA yang memfasilitasi masyarakat dalam mengenali perubahan dan kecenderungan berbagai keadaan, kejadiaan serta kegiatan masyarakat dari waktu ke waktu. Hasilnya digambar dalam suatu matriks. Dari besarnya perubahan hal-hal yang diamati dapat diperoleh gambaran adanya kecenderungan umum perubahan yang akan berlanjut di masa depan. Demikian Bagan Perubahan memfasilitasi masyarakat untuk memperkirakan arah kecenderungan umum dalam jangka panjang serta mengantisipasi kecenderungan tersebut. Hasilnya adalah bagan/matriks perubahan dan kecenderungan yang umum desa atau yang berkaitan dengan topik tertentu, misalnya hasil panen, jumlah penebaran ikan, cuaca dan lain-lain. Hasil Bagan Perubahan dan Kecenderungan digambar atas kertas, papan tulis atau di tanah. Tahapan pembuatan Bagan Perubahan meliputi:
  1. mendiskusikan perubahan-perubahan penting yang terjadi di desa serta sebab-sebabnya
  2. sepakatilah topik-topik utama yang akan dicantumkan ke dalam bagan
  3. sepakatilah simbol-simbol yang akan dipakai, baik untuk topik (gambar-gambar sederhana) maupun untuk nilai (biji-bijian, kerikil dan lain-lain)
  4. selang waktu yang akan dicantumkan
  5. buatlah bagan di kertas, papan tulis atau tanah
  6. mendiskusikan perubahan-perubahan, sebab-sebab, akibat-akibatnya, apakah perubahan akan berlanjut pada masa depan (kecenderungan)
  7. menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  8. pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan kalau pembuatan bagan dan diskusi sudah selesai, bagan digambar kembali atas kertas (secara lengkap dan sesuai hasil masyarakat).

  1. Ranking Kesejahteraan
Ranking Kesejahteraan merupakan suatu teknik PRA yang sangat berguna dalam mengidentifikasi tingkatan kesejahteraan dalam satu wilayah (dusun/ desa). Ranking Kesejahteraan memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan kriteria-kriteria terhadap kesejahteraan masyarakat serta menilai perbedaan-perbedaan dalam kesejahteraan di wilayah mereka. Melalui metode ini dapat diperoleh suatu gambaran tentang perbedaan-perbedaan kesejahteraan masyarakat dan dapat membantu lembaga untuk mengidentifikasi kelompok sasaran suatu program. Untuk melakukan Ranking Kesejahteraan diperlukan daftar semua Kepala Keluarga (KK) dalam suatu wilayah yang akan dikaji. Setiap nama ditulis atas satu kartu kecil (dengan jelas). Sebaiknya jumlah KK yang termasuk proses ranking tidak lebih dari pada 100. Ranking kesejahteraan dapat dilakukan dengan kelompok kecil (misalnya 5 – 8 orang) dan diulangi beberapa kali untuk periksa ulang. Langkah-langkah penerapan meliputi:
  1. Mintalah masyarakat untuk membagi semua kartu dalam sejumlah kelompok menurut tingkat kesejahteraan masing-masing KK
  2. Jumlah kelompok tergantung masyarakat
  3. Setelah selesai, mintalah masyarakat untuk periksa kembali apakah hasil sudah benar
  4. Buatlah perubahan kalau memang diperlukan
  5. Kalau masih ada kelompok besar (misalnya dengan 20 KK), mintalah masyarakat untuk membagi kelompok tersebut menurut tingkat kesejahteraan lagi, bila mungkin
  6. Tanyakan masyarakat mengapa KK dibagi dalam kelompok tersebut dan apa kriteria mereka
  7. Menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  8. Pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi
  9. Ulang proses di atas dengan beberapa kelompok dan lihat di mana ada perbedaan dalam ranking dan kriteria-kriteria yang dipakai
  10. mendiskusikan perbedaan-perbedaan secara pleno dengan masyarakat
  11. pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi

  1. Diagram Alur
Diagram Alur menggambarkan arus dan hubungan di antara semua pihak dan komoditas yang terlibat dalam suatu sistem. Diagram ini dapat digunakan untuk menganalisa pemasaran ternak, alur hasil pertanian, atau komoditas lain. Pembuatan diagram alur memfasilitasi masyarakat dalam menganalisa dan mengkaji suatu sistem, fungsi masing-masing pihak dalam sistem serta bagaimana hubungan antara pihak-pihak dalam sistem itu, termasuk ketergantungan. Diagram alur pemasaran dapat dibuat atas kertas atau di tanah/ lantai. Setelah sudah disepakati alur pemasaran untuk komoditi apa akan dibuat, tahap-tahapan pembuatan meliputi:
  1. Diskusi umum tentang semua pembeli komoditi tersebut di desa dan dari luar desa
  2. Menggambar alur: mulai dengan produsen (petani/masyarakat) di tengah dan buat garis ke setiap pihak pembeli
  3. Membahas harga pemasaran dan perbedaan harga yang dibayar oleh masing-masing pembeli
  4. Membahas ke mana pembeli jual komoditi dan gambar
  5. Membahas prioritas masyarakat untuk membeli apa
  6. Menyimpulkan dan menggambar kembali atas kertas

  1. Analisa Kehidupan dan Mata Pencaharian
Analisis mata pencaharian memfasilitasi masyarakat dalam analisa tingkah- laku, keputusan- keputusan dan strategi- strategi pemenuhan kebutuhan rumah tangga pada karakteristik sosial- ekonomi yang berbeda- beda. Yang termasuk variabel-variabel analisis mata pencaharian meliputi: komposisi dan ukuran rumah tangga, kepemilikan kolam/ lahan, kepemilikan alat/ sarana pengolahan, Kepemilikan alat tangkap/ perahu, sumber pendapatan, pengeluaran- pengeluaran, dan penggunaan waktu. Analisa mata pencaharian dilakukan atas kertas, pada lantai dengan kapur tulis atau ditanah. Analisa mata pencaharian dapat dilakukan per kelompok (satu diagram yang memberikan gambaran umum pada desa) atau per individu (satu diagram per orang atau per keluarga). Langkah-langkahnya meliputi:
  1. identifikasi topik-topik yang termasuk ‘mata pencaharian’
  2. menggambarkan satu buah bundaran per orang (atau satu yang umum)
  3. menganalisa topik dan mengidentifikasi bagian-bagiannya
  4. menentukan berapa besarnya masing-masing bagian dalam seluruhnya
  5. membagi bundaran sesuai besarnya bagian masing-masing
  6. kalau semua peserta sudah selesai, diskusikan hasil dan kebenaran informasi tersebut
  7. buatlah perubahan kalau memang diperlukan
  8. mendiskusikan permasalahan dan potensi masing-masing yang muncul
  9. menyimpulkan apa yang dibahas dalam diskusi
  10. pencatat mendokumentasi semua hasil diskusi dan diagram pie
  11. melanjutkan dengan topik berikutnya
Untuk Analisa Penggunaan Waktu, kita membagi bundaran dalam 24 bagian (sesuai jumlah jam per hari), untuk anggota keluarga masing-masing (bapak, ibu, anak laki-laki, anak perempuan) membahas kegiatannya pada setiap jam per hari (mulai pada jam bangun, kemudian melakukan apa, selama berapa waktu dan seterusnya), lalu menggambarkan dalam hasil diskusi dalam lingkaran.