Budidaya Ikan, Penangkapan Ikan, Pengolahan Ikan, Peraturan Hukum Perikanan
Minggu, 08 Oktober 2017
Kamis, 05 Oktober 2017
Rabu, 04 Oktober 2017
KARAKTERISTIK LOBSTER AIR TAWAR
KARAKTERISTIK LOBSTER AIR TAWAR
Sebelum memulai usaha budidaya lobster air tawar, ada baiknya setiap calon pembudidaya mengetahui terlebih dahulu berbagai macam sifat dan kelakuan dari lobster air tawar.
Hal ini penting diketahui agar teknologi budidaya yang akan diterapkan
dapat tepat guna sehingga dapat meminimalisir berbagai macam kerugian
yang akan muncul selama dalam masa pemeliharaan.
Adapun berbadai macam sifat dan kelakuan lobster air tawar dapat diuraian sebagai berikut :
- Hewan nokturnal. Lobster air tawar lebih banyak melakukan aktifitasnya pada malam hari. Di siang hari, lobster air tawar akan lebih banyak berdiam diri di dalam tempat perlindungan
- Moulting (ganti kulit). Semasa hidupnya, lobster air tawar juga mengalami apa yang disebut dengan moulting atau ganti kulit. Moulting terjadi sebagai tanda bahwa lobster tumbuh menjadi lebih berat dan panjang ataupunlobster air tawar sedang melakukan proses adaptasi terhadap lingkungan hidup baru.
- KanibaL. Jika kondisi lingkungan hidupnya mengalami kekurangan ketersediaan pakan, kepadatan yang tinggi dan kurangnya tempat persembunyian, lobster air tawar mempunyai kecendurangan untuk memangsa bangsanya sendiri.
- Pemakan segala. Lobster air tawar akan menjadikan apapunyang tersedia dilingkungan hidupnya sebagai sumber pakan.
- Daya tahan tinggi. Apabila lingkungan hidupnya dalam kondisi yang baik dan ideal, lobster air tawar mempunyai daya tahan tinggi terhadap serangan pernyakit dan serangan stres.
- Mempunyai ketertarikan tinggi terhadap pergerakan (aliran) air.
- Bergerak dengan cara merambat.
- Hidup berkoloni.
Sumber:
https://iwien11.wordpress.com/2013/03/11/karakteristik-lopster-air-tawar/
Kristiany M.G.E., dan Mulyanto. 2011. Materi Penyuluhan
Perikanan: Budidaya Lobster Air Tawar. Jakarta, Pusat Penyuluhan Kelautan dan
Perikanan BPSDMKP.
Selasa, 03 Oktober 2017
CALON INDUK MASKOKI
Untuk membedakan
antara maskoki jantan dan betina tidaklah sulit. Pada dasarnya ada dua cara
yang dapat dipilih. Pertama dengan melihat bentuk organ reproduksinya dan kedua
melalui tanda yang ada pada siripnya. Untuk mengenali perbedaan organ
reproduksinya, maskoki harus ditangkap dan dibuat terlentang. Bila organ
reproduksinya berbentuk oval dan kecil, maskoki tersebut berkelamin jantan.
Namun, bila organ reproduksinya berbentuk bulat dan sedikit menonjol, dapat
dipastikan maskoki berjenis kelamin betina. Adapun mengenali jenis kelamin
melalui siripnya dengan memperhatikan sirip keseimbangan di bagian depan yang
juga berfungsi sebagai sirip insang. Bila tulang siripnya besar dan pada bagian
pangkalnya ada beberapa benjolan kecil berwarna putih maka dipastikan maskoki
ini berjenis kelamin jantan karena betina tidak ada tanda tersebut. Tulang
sirip insang jantan lebih tebal dibandingkan dengan tulang sirip insang betina.
Untuk
mendapatkan calon induk yang berkualitas dapat dengan membeli dari peternak
besar yang produksinya berkualitas baik. Sekalipun harganya mahal, tetapi
kualitas anak yang dihasilkan memuaskan. Bila menghendaki yang berharga sedikit
lebih murah maka pilihlah calon induk yang umurnya muda. Namun, tidak
dianjurkan memilih induk yang diperjualbelikan di pedagang ikan hias karena
biasanya induk tersebut sudah tidak produkif lagi, kurang subur, atau telurnya
sulit menetas. Penyebabnya adalah umur induk sudah melampaui batas
produktivitas atau induk pernah terserang penyakit pada organ reproduksinya. Menyilangkan
dua strain yang berbeda tidak dianjurkan karena anak yang dlihasilkan tidak
berkualitas dan sulit untuk dipasarkan. Namun, perkawinan silang dapat saja
dilakukan dalam kurun waktu yang lama untuk menghasilkan bentuk tubuh yang
lebih menarik atau variasi warna yang fantastik. Contoh perkawinan silang yang
menghasilkan bentuk tubuh lebih
menarik yaitu crown pearlscale atau maskoki mutiara jambul. Sementara
contoh perkawinan silang yang menghasilkan variasi warna menawan yaitu panda dragon
eyes atau maskoki owo hitam putih.
Maskoki sudah matang kelamin pada umur 5-6 bulan, tetapi telur
yang dihasilkan berjumlah sedikit, berukuran kecil, dan burayaknya berkualitas
rendah. Selain itu, burayak menjadi rentan terhadap serangan penyakit dan
perkembangan tubuhnya lambat. Dengan demikian, umur maskoki yang ideal untuk
dijadikan induk adalah 1,5-3,5 tahun agar burayak yang dihasilkan cepat besar
dan tahan terhadap serangan penyakit. Untuk mengetahui maskoki betina sudah
matang kelamin, perhatikan bentuk perut dan organ reproduksinya. Bila kloakanya
tampak melebar, perut membesar, dan perut terasa lembek bila dipegang maka
dapat dipastikan maskoki betina tersebut sudah matang kelamin dan siap
bertelur. Sementara tanda maskoki jantan matang kelamin bila benjolan kecil
berwarna putih pada sirip insang terlihat jelas.
Bentuk fisik
calon induk yang baik harus sempuma. Tubuh induk ideal di antaranya bulat
pendek, sirip punggung lebar dan berdiri tegak, serta ekor terbelah dua
simetris sama lebar. Untuk strain yang berjambul, bentuk jambul harus besar,
tinggi, dan berwarna cemerlang. Sementara untuk strain bufterfly, kedua mata
hams seimbang sama besar, bentangan ekor harus lebar, dan belahan di ekor harus
simetris sama besar. Lain halnya untuk strain ryukin, kepala harus kecil dan
membentuk segitiga. Selain itu, sirip punggung harus tegak dan lebar, ekor hams
panjang dengan belaban ekor simetris sama besar. Adapun untuk strain ranchu,
jambul yang menyerupai brokoli harus menutupi seluruh muka. Selain itu, tubuh strain
ranchu harus bulat gempal, punggung bungkuk, dan pangkal ekor tegak. Dengan
mengetahui syarat-syarat tersebut, agaknya maskoki yang bertubuh cacat tidak
baik untuk dijadikan induk.
Pemeliharaan
yang terpisah juga memudahkan perawatan karena pakan yang diberikan untuk calon
induk betina berlainan dengan calon induk jantan. Dalam pemeliharaan sepuluh
ekor calon induk yang terdiri dan lima ekor calon induk betina dan lima ekor
calon induk jantan dibutuhkan dua buah akuarium berukuran 100 cm x 70 cm x 50
cm. Sementara lamanya perawatan tergantung dan umur calon induk itu sendiri
karena calon induk yang baik berumur minimal 1,5 tahun. Namun, bila hanya
menunggu sampai matang kelamin, perawatan dilakukan selama 2-3 bulan.
Pakan yang
baik untuk calon induk betina berupa jentik nyamuk (Mosquito larvacide) yang
sudah disucihamakan. Sebagai pakan tambahan, berikan pelet yang mengandung
mineral kalsium, protein minimal 30%, fiber 2%, dan vitamin (A, D3, B1, seita
E). Untuk calon induk jantan dapat diberi cacing super (blood worm)
segar dan pelet yang kandungannya sama untuk betina. Pemberian pakan sebaiknya
diatur 5-6 kali sehari. Pagi hari pukul 06.30 diberikan pakan segar dengan
jumlah sekali makan habis agar tidak tersisa. Selanjutnya, pukul 10.00 dan
pukul 13.000 diberikan pelet dengan takaran sekali makan habis. Pemberian pelet
diulangi lagi pada pukul 17.00 dengan takaran yang sama. Agar kebersihan air
terjaga, setiap kali pemberian pakan tersebut sebaiknya kotoran dibersihkan
terlebih dahulu. Setelah itu, pakan diberikan lagi pada pukul 20.00 berupa
pakan segar dalam jumlah yang lebih banyak sebagai persediaan jika maskoki
lapar di malam hari.
Sumber :
Nurleli,
2011. Budidaya Ikan Hias Air Tawar Ikan Maskoki. Materi Penyuluhan Kelautan dan
Perikanan Nomor: 012/TAK/BPSDMKP/2011. Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan
BPSDMKP.
PUSTAKA:
Adijaya,
S.Dian, “Agar Kemolekannya Dinikmati Lebih Lama”, Trubus, Agustus 2003.
_____________,
“Merah Putih Corak Ranchu”, Trubus, Juli 2003
_____________,
“Strain Terbaru dari Tirai Bambu”, Trubus, Agustus 2003.
Hisomudin,
dkk., “Permasalahan Maskoki dan Solusinya”, Penebar Swadaya, 2003
Suyanto,
S.Rachmatun, “Parasit Ikan dan Cara Pemberantasannya” (Jakarta : Pusat
Penerbitan Yayasan Sosial Tani Membangun, 1981).
Senin, 02 Oktober 2017
JENIS-JENIS MANGROVE
JENIS-JENIS MANGROVE
Diperkirakan ada sekitar 89 spesies mangrove yang tumbuh
di dunia, yang terdiri dari 31 genera dan 22 famili. Tumbuhan mangrove tersebut
pada umumnya hidup di hutan pantai Asia Tenggara, yaitu sekitar 74 spesies, dan
hanya 11 spesies hidup di daerah Caribbean. Lebih lanjut menurut Soegiarto dan
Polunin (1982) dalam Supriharyono (2000) dari jumlah ini sekitar 51%
atau 38 spesies hidup di Indonesia. Jumlah tersebut belum termasuk spesies
ikutan yang hidup bersama di daerah mangrove (KLH et al., 1993 dalam
Supriharyono, 2000). Ada beberapa spesies tumbuhan pantai, yaitu sekitar 12-16 spesies,
yang masih diragukan apakah tumbuh-tumbuhan tersebut termasuk mangrove atau
tidak. Sebagai contoh, famili Rhizophoraceae mempunyai 17 genera dan
sekitar 70 spesies, akan tetapi hanya empat generasi dan 17 spesies diketahui
benar - benar sebagai mangrove. Demikian pula famili Combretaceae, hanya
tiga genera dan lima spesies yang diketahui sebagai mangrove (Supriharyono,
2000).
Ciri-ciri mangrove dari penampakan hutan mangrove
terlepas dari habitatnya yang unik adalah jenis-jenisnya relatif sedikit, akar
jangkar yang melengkung dan menjulang pada Rhizophora sp, akar yang
tidak teratur dan keras atau pneumatofora pada marga Avicennia sp, dan Sonneratia
sp, yang mencuat vertikal seperti pensil, adaptasinya yang kuat terhadap
lingkungan sehingga biji (propagul) Rhizophora
berkecambah di pohon (vivipar), sehingga banyaknya lentisel pada bagian kulit pohon (Departemen
Kehutanan, 1997 dalam Noor et al., 1999)
Adapun beberapa jenis mangrove yang dikenal selama ini
adalah:
a. Avicennia
lanata
Nama setempat: api-api. belukar atau pohon yang tumbuh
tegak atau menyebar, dapat mencapai ketinggian hingga 8 m. Memiliki akar nafas
dan berbentuk pensil. Kulit kayu seperti kulit ikan hiu (berwarna gelap),
coklat hingga hitam. Daun : Memiliki kelenjar garam, bagian bawah daun putih
kekuningan, dan ada rambut halus. Unit dan letak : sederhana
dan berlawanan. Bentuk : elips. Ujung : memundar agak meruncing, dan
ukuran 9x 5 cm. Bunga : Bergerombol muncul di ujung tandan, bau menyengat,
letak diujung atau ketiak tangkai / tandan bunga. Formasi : bulir (8-12). Daun
mahkota : 4, kuning pucat – jingga tua, 4 – 5 mm. Kelopak bunga : 5 buah. 4
benang sari. Buah : Buah seperti hati, ujungnya berparuh pendek dan jelas,
warna hijau–agak kekuningan. Permukaan buah berbunga halus (seperti ada
tepungnya). Ukuran : sekitar 1,5 x 2,5 cm. Ekologi : Tumbuh pada dataran
lumpur, tepi sungai, daerah yang kering dan toleran terhadap kadar garam yang
tinggi. Diketahui (di Bali dan Lombok) berbunga pada bulan Juli–Februari dan
berbuah antara bulan November hingga Maret. Penyebaran : Kalimantan, Bali,
Lombok, Semenanjung, Malaysia, Singapura. Kelimpahan : Tidak diketahui. Manfaat:
Kayu bakar dan bahan bangunan (Noor et al., 1999).
Gambar
1. Bunga, buah, daun & pohon Avicennia lanata
(Noor et al., 1999).
b. Rhizophora apiculata
Nama
setempat : Bakau minyak, bakau tandok, bakau akik, bakau puteh, bakau kacang, bakau leutik, akik, bangka
minyak, donggo akit, jangkar, abat, parai, mangi-mangi, slengkreng, tinjang
wako. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter
batang mencapai 50 cm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian
5 meter, dan kadang–kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kulit
kayu berwarna abu–abu tua dan berubah-ubah. Daun berkulit, warna hijau tua
dengan hijau muda pada bagian tengah kemerahan dibagian bawah. Gagang daun
panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Unit dan letak:
sederhana dan berlawanan. Bentuk : elips menyempit dan meruncing. Ukuran 7-19 x
3,5-8 cm. Bunga : Biseksual, kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang
berukuran < 14 mm. Letak : di ketiak daun. Formasi: kelompok (2 bunga per
kelompok). Daun mahkota : 4; kuning putih, tidak ada rambut, panjangnya 9-11
mm. Kelopak bunga : 4; kuning kecoklatan, melengkung, Benang sari : 11-12; tak
bertangkai. Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir
, warna coklat, panjang 2,3-5 cm, berisi satu biji fertil. Hipokotil Silindris,
berbintil, berwarna hijau jingga. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah
matang. Ukuran: Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Ekologi :
Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat pasang
normal. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir.
Tingkat dominasi bisa mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi.
Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang
kuat secara permanen. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena
gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan
mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Tumbuh lambat, tetapi perbungaan
terdapat sepanjang tahun.
Penyebaran :
Srilanka, seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan
Pasifik. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia, tersebar jarang di Australia.
Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan, kayu bakar dan arang. Kulit
kayu berisi hingga 30% tannin (per sen berat kering). Cabang akar dapat
digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. Di Jawa acap kali ditanam di
pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Sering digunakan sebagai tanaman
penghijauan (Noor et al., 1999).
Gambar 2.
Bunga, buah, daun, dan pohon Rhizophora
apiculata
(Noor et al., 1999).
c.
Avicennia marina (Forsk.) Vierh.
Nama setempat api-api putih, api-api abang, sia-sia putih, pejapi, nyapi,
hajusia. Deskripsi Umum belukar atau pohon yang tumbuh tegak atau menyebar,
ketinggian mencapai 30 m. memiliki sistem perakaran horizontal yang rumit dan
berbentuk pensil (atau berbentuk asparagus), akar nafas tegak dengan sejumlah
lentisel. Kulit kayu halus dengan burik-burik hijau-abu dan terkelupas dalam
bagian-bagian kecil. Ranting muda dan tangkai daun berwarna kuning tidak
berbulu. Bagian atas permukaan daun ditutupi bintik-bintik kelenjar berbentuk
cekung. Bagian bawah daun putih-abu-abu muda. Unit & letaknya sederhana dan
berlawanan.memiliki bentuk daun elips, bulat memanjang, bulat telur terbalik.
Ujungnya meruncing hingga membundar, dengan ukuran 9 x 4,5 cm. Bunga seperti
trisula dengan bunga bergerombol muncul di ujung tandan, bau menyengat, nektar
banyak. Letaknya di ujung atau di ketiak/tandan bunga. Daun mahkota ada 4
dengan warna kuning pucat jingga tua berukuran 5-6 mm. Kelopak bunga berjumlah
5 lalu benang sari ada 4. Merupakan
tumbuhan pionir pada lahan pantai yang terlindung, memiliki kemampuan menempati
dan tumbuh pada berbagai habitat pasang surut, bahkan di tempat asin sekalipun.
Jenis ini juga dapat bergerombol membentuk suatu kelompok pada habitat
tertentu. Berbuah sepanjang tahun, kadang-kadang bersifat vivipar. Buah membuka
pada saat matan
g, mempunyai lapisan dorsal. Buah juga dapat membuka karena dimakan semut
atau setelah penyerapan air. Buah dapat dimakan. Kayu dapat menghasilkan bahan
kertas berkualitas tinggi. Daun digunakan sebagai makanan ternak.
Gambar 3. Buah, bunga, daun & pohon Avicennia marina
(Noor et al.,
1999).
d. Acrostichum aureum
Nama setempat
mangrove varen, paku cai, hata diuk, paku laut. Batang menebal di bagian
pangkal, cokelat tua dengan peruratan yang halus, pucat, tipis. Ujung daun
fertil berwarna cokelat seperti karat, duri banyak berwarna hitam. Tumbuh di
pematang tambak, sepanjang kali dan sungai payau dan saluran. Terdapat di
seluruh Indonesia. Daun tua dapat digunakan sebagai obat, alas ternak dan dapat
dimakan di daerah Timor dan Sulawesi Utara (Noor et al., 1999).
Gambar 4. Daun, ujung pihak
daun, spora dan pohon Acrostichum
aureum (Noor et al., 1999).
Sumber:
Langganan:
Postingan (Atom)








