Jumat, 27 April 2018

Polikultur Rumput Laut Lawi-lawi (Caulerpa, sp) dengan Rajungan (Portunus pelagicus. Linn) di Tambak

DESKRIPSI TEKNOLOGI

Tujuan dan Manfaat Penerapan Teknologi
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk (a) mengembangkan komoditas alternatif yang prospektif dan menguntungkan, (b) memperoleh model budidaya rajungan yang tepat, efisien dan ramah lingkungan, (c) meningkatkan produktivitas tambak, (d) menambah nilai produksi dari lawi-lawi sebagai bioshelter dan produk samping kegiatan budidaya rajungan, dan (e) meningkatkan pendapatan pembudidaya dan memperluas lapangan kerja.
Manfaat lain dari kegiatan ini adalah tersedianya produk lawi-lawi sebagai pangan yang mempunyai banyak manfaat bagi manusia. Manfaat lawi-lawi disamping sebagai bahan panganatau makanan segar sebagai lalapan juga memiliki hasiat sebagai obat beberapa penyakit tertentu dan masih banyak kegunaan/hasiatnya antara lain :
 Meningkatkan nafsu makan
 Sebagai obat kanker dan penyembuh luka
 Meningkatkan daya tahan dan kekebalan tubuh
 Sumber nutrisi tubuh (Tabel 1)
 Melancarkan peredaran darah
 Meningkatkan percaya diri (awet muda)
 Meningkatkan vitalitas
 Anti alergi dan anti jamur
 Pencegahan rematik
 Pencegah terjadinya tumor
 Dapat digunakan sebagai obat bius yang aman untuk mobilisasi dan transportasi sistem pengiriman ikan
PENGERTIAN
Lawi –lawi (Caulerpa, sp), diambil dari bahasa daerah Makassar Sulawesi Selatan. Masyarakat di Sulawesi Selatan secara turun temurun telah mengkonsumsi rumput laut dari golongan makro alga yang mirip anggur hijau ini. Beberapa sebutan lain untuk lawi-lawi antara lain : Latoh (Jawa), Lato (Filipina), Umi Budo (Jepang), Latin, Caulerpa sp, Anggur laut (Indonesia) dan Sea grapes (bahasa Inggris). Rajungan (Portunus pelagicus. Linn), merupakan jenis kepiting yang memiliki habitat alami hanya di laut. Jenis ini biasa ditemukan di areal pasang surut dari Samudera Hindia, Samudera Pasifik dan Timur Tengah sampai Mediterania. Rajungan dimanfaatkan sebagai sumber bahan pangan dengan nilai ekonomis tinggi. Makanan rajungan di alam antara lain bivalvia, ikan dan beberapa jenis alga. Rajungan memiliki sifat yang sangat berbeda dengan kepiting bakau (Scylla serrata), Rajungan tidak dapat bertahan lama hidup di darat atau keluar dari lingkungan air.
Tabel 1. Komposisi Nutrient Eucheuma cottonii, Caulerpa lentillifera and Sargassum polycystum (% berat kering sample). Matajun et aI.(2009)
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi
Secara umum pemeliharaan lawi-lawi tidak rumit. Lawi-lawi pada umumnya hidup di perairan laut dangkal namun bisa juga dibudidayakan di tambak baik secara monokultur maupun secara polikultur dengan komoditas bandeng, udang atau rajungan. Lokasi yang dipilih untuk budidaya lawi-lawi dan rajungan adalah yang memiliki karakteristik lingkungan sebagai berikut :
1. Lokasi tambak jauh dari pengaruh air tawar yang dapat menurunkan salinitas air
2. Lokasi tambak jauh dari sumber polutan
3. Lokasi tambak harus dekat sumber air laut. Air tambak bisa berganti secara rutin mengikuti pasang surut air laut
4. Tambak dengan tanah dasar pasir berlumpur, karena lumpur menjadi substrat bagi lawilawi
5. pH tanah tambak harus normal (tidak asam dan tidak basa)
6. Salinitas tambak > 20 ppt.
NO PARAMETER KISARAN OPTIMAL
1 Suhu 25-33 oC
2 Salinitas 20-30 ppt
3 Pertukaran air Maksimal 1 7 hari sekali
4 Kedalaman air 50 – 120 cm
Lawi-lawi yang telah ditanam harus dikontrol secara rutin untuk mengetahui kondisi perkembangannya. Begitu juga kondisi salinitas air harus senantiasa dimonitor terutama pada musim hujan karena salinitas air sewaktu-waktu bisa menurun tajam hingga di bawah 25 ppt. Salinitas yang optimum untuk budidaya Lawi-lawi yaitu di atas 20 ppt (Tabel 2). Untuk menjaga salinitas air tambak harus dilakukan penggantian air secara rutin (minimal satu minggu sekali).
Tabel 2. Kondisi lingkungan optimal untuk budidaya Lawi-lawi (Caulerpa,sp) dan Rajungan (Portunus pelagicus, linn)
Uraian Prosedur Operasional Standar
a. Uraian teknologi
Teknologi yang diterapkan yaitu kegiatan budidaya polikultur (pemeliharaan beberapa komoditas) secara bersamaan dalam satu ekosistem yang sama. Dalam kegiatan ini dilakukan pemeliharaan dan produksi dua biota aquatik yang berbeda yaitu Lawi-lawi (Caulerpa. sp) sebagai flora aquatik dan Rajungan (Portunuspelagicus. Linn)sebagai fauna aquatik yang berasal dari golongan Crustacea.
b. CaraPenerapan teknologi
1. Tahap Persiapan Tambak
Pengeringan dasar tambak (Gambar 1) dilakukan untuk mempercepat proses pembusukan bahan organik dan pembersihan gulma perairan yang bisa menjadi kompetitor dalam penggunaan oksigen. Pemberantasan hama dilakukan dengan menggunakan saponin (4050g/m ) dan pengapuran dasar tambak dengan menggunakan CaO (25-30 g/m ) atau kapur2 2 CaCO3dengan dosis (60-70 g/m )2. Pemupukan tambak dilakukan untuk memperkaya ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan bagi pertumbuhan lawi-lawi dan pakan alami yang bermanfaat bagi kehidupan rajungan. Dosis pemberian pupuk organik yaitu 20-40 g/m atau 2 200-400 kg/ Ha. Setelah Gambar 1. Proses pengeringan tambak selama 3-4 hari sebelum pengapuran dan pemupukan pemberian pupuk dan terjadi proses ionisasi atau mineralisasi selanjutnya tambak diisi air secara berangsur-angsur hingga dalam air 10-15cm. Setelah kedalaman air tambak 15-25cm, dilakukan penanaman lawi-lawi dengan padat tanam 500 g/m2 pada 10-15% x luas areal (Ha) atau 500-750 kg/Ha.
2. Penanaman bibit lawi-lawi
Penanaman lawi-lawi dilakukan lebih awal dari rajungan, yaitu 2 minggu sebelum penebaran benih rajungan. Hal ini dimaksudkan agar pada saat benih rajungan ditebar lawi-lawi sudah tertanam kuat di dasar tambak dan sudah bisa dimanfaatkan sebagai shelter rajungan. Lawi-lawi ditanam di dasar tambak pada kondisi ketinggian air tambak antara 15-25 cm dengan padat tanam 0,5 kg/m (masing-masing 5 rumpun lawi-lawi/m masing-masing 100 gram per2 2 rumpun) dengan jarak tanam antar rumpun atara 50 – 100 cm tergantung pada kondisi lingkungan tambak.
3. Pemberian Pupuk Susulan
Pemberian pupuk susulan dilakukan untuk membantu proses pertumbuhan dan peremajaan selsel pada tallus dan anggur pada lawi-lawi setelah dilakukan panen sebagian (parsial). Disamping itu pemberian pupuk susulan juga sangat berguna bagi pengkayaan ketersediaan pakan alami rajungan. Meningkatnya ikan-ikan pelagis yang masuk ke areal tambak meningkatkan ketersediaan makanan tambahan rajungan di tambak. Bahan yang digunakan dalam pemberian pupuk susulan ini bisa menggunakan pupuk organik kompos atau pupuk organik cair dengan dosis sesuai kondisi dan kesesuaian lahan. Waktu pemupukan sebaiknya dilakukan pada pagi hari setiap 6 minggu sekali setelah pergantian air.
4. Penebaran Rajungan
Penebaran benih rajungan dilakukan setelah dua minggu penanaman lawi-lawi. Benih rajungan yang digunakan adalah benih unggul hasil pengembangbiakan di hatchery Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar. Benih rajungan yang ditebar berukuran 1-2 cm dengan berat rataan 1,5 - 2 g/ekor. Sebelum ditebar di tambak benih rajungan terlebih dahulu diaklimatisasikan dengan cara dipelihara dalam waring yang dipasang di tambak. Setelah 3 hari aklamatisasi, benih rajungan dilepas ke dalam tambak. Budidaya rajungan di tambak dilakukan selama 4 bulan masa pemeliharaan. Sistem budidaya yang dilakukan adalah sistem intensif dan tradisional. Pada sistem intensif, benih rajungan ditebar dengan kepadatan 2 ekor/m sedangkan pada sistem tradisional 1 ekor/m2.
5. Pemberian Pakan Rajungan
Pakan yang digunakan sebagai pakan tambahan untuk pembesaran rajungan adalah ikan rucah yaitu jenis ikan yang bernilai ekonomis rendah atau limbah olahan ikan. Ikan rucah dicincang agar sesuai dengan ukuran dan bukaan mulut rajungan. Pemberian pakan tambahan u n t u k r a j u n g a n p a d a budidaya sistem semi intensif dilakukan satu kali per hari dengan dosis 2% dari total biomassa (berat t o t a l b e n i h y a n g dibudidayakan). Waktu yang
Gambar 3. Ikan rucah dicincang (kiri) dan hasil cincangan (kanan) untuk pakan tambahan pada kegiatan pembesaran rajungan di tambak tepat untuk pemberian pakan pada sistem semi intensif ini adalah pada jam 11-12 siang yaitu pada kondisi nafsu makan rajungan sangat tinggi. Sedangkan pada sistem budidaya intensif pemberian pakan pada rajungan yang dipelihara dilakukan sebanyak 3 kali perhari dengan dosis 2-3% dari total biomassa. Pemberian pakan yang tepat yaitu pada jam 08.00, jam 12.00 dan jam 15.00 dan dilakukan secara kontinyu setiap hari sampai masa rajungan siap panen.
6. Sampling Rajungan
Sampling adalah penimbangan dan pengukuran beberapa sampel rajungan yang dibudidayakan secara acak untuk mengetahui bobot dan ukuran terkini baik pada rataan perindividu maupun per populasi rajungan yang dibudidayakan. Sampling juga dimaksudkan untuk dapat mengetahui laju pertumbuhan, nilai konversi pakan (FCR), angka sintasan hidup (SR) dan tingkat efisiensi pemberian pakan, serta dapat m e m p e r k i r a k a n kebutuhan pakan l a n j u t a n . A g a r rajungan tidak stress sebaiknya sampling dilakukan setiap dua minggu sekali pada
Gambar 3. Kegiatan sampling yang dibudidayakan untuk mengukur laju pagi atau sore hari pertumbuhan (kiri) dan berat rataan rajungan (kanan) ketika suhu air rendah.
7. Metode Pemanenan Lawi-lawi dan Rajungan pada sistem polikultur
Lawi-lawi maupun rajungan dapat dipanen secara mudah kapan saja waktunya disaat diinginkan sesuai kondisi pasar. Pemanenan bisa dilakukan secara berangsur-angsur sebagian (parsial) atau dipanen seluruhnya (panen total)
 Panen Parsial (Panen sebagian)
Panen Parsial adalah proses pemanenan sebagian biota aquatik yang dibudidayakan tanpa harus mengeringkan air di tambak dan tanpa mengganggu berlangsungnya kegiatan budidaya atau pembesaran lanjutan. Pada sistem panen parsial, lawi-lawi atau rajungan dipanen sesuai kebutuhan dengan waktu bersamaan ataupun pada waktu yang berbeda. Pada sistem panen seperti ini yang dipanen terlebih dahulu adalah rajungan dengan menggunakan alat tangkap (rakkang) yang diberi umpan ikan rucah (Gambar 4). Rakkang di letakkan dekat saluran pemasukan air laut sehingga rajungan terjebak dalam rakang tersebut. Selanjutnya rajungan ditampung dalam waring/hapa, untuk disortir berdasarkan ukuran sesuai kebutuhan dan permintaan pasar. Setelah proses penangkapan rajungan selesai pemanenan lawi-lawi dilakukan secara langsung dengan gerak panen ke arah inlet. Panen lawi-lawi dapat dilakukan secara berkala dimulai ketika umur tanam lawi-lawi sudah lebih dari 3 minggu ke atas. Lawi-lawi yang sudah dipanen dibilas air tambak yang bersih untuk membersihkannya dari kotoran lumpur. Lawi-lawi ditampung dalam waring pemberokkan selama 3 hari dan dilakukan sortir secara kuantitas dan kualitas untuk dikemas kedalam karung sebelum didistribusikan ke pasar.
 Panen Total (Panen Seluruhnya)
Proses panen total dilakukan dengan mengeluarkan air tambak secara perlahan-lahan sampai tambak menjadi kering dengan menggunakan pompa dorong ataupun pompa hisap. Seluruh biota yang dibudidayakan dipanen seluruhnya baik lawi-lawi maupun rajungannya. Pengeringan dasar tambak dilakukan lagi untuk kegiatan selanjutnya. Pada sistem panen total rajungan dilakukan setelah panen parsial, selanjutnya air tambak disurutkan sambil terus dilakukan panen rajungan dengan menggunakan rakkang sampai permukaan tambak terus menurun. Sebelum air tambak kering, dilakukan panen lawi-lawi secara total, dibersihkan kemudiandisortir di tambak atau saluran air laut yang bersih di sekitar lokasi panen. Setelah lawi-lawinya habis dipanen dilakukan panen rajungan sampai habis, kemudian di t a m p u n g d a l a m waring/hapa. Setelah lawi-lawi dan rajungan selesai dipanen, pematang tambak d i p e r b a i k i d a n dikeringkan untuk Gambar 4. Alat panen rajungan atau Rakkang (kiri) dan rajungan hasil fase penggunaan panen total (kanan) tambakselanjutnya.
Kaji Terap yang sudah dilakukan Kajiterap (Gambar 5) terkait teknologi budidaya polikultur lawi-lawi dengan rajungan ini dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2012 di dua lokasi tambak milik
Gambar 5. Interaksi antara lawi-lawi (sebagai bioshelter) dengan
Rajungan (simbiosis mutualisme) pada polikultur lawi-lawi dan rajungan pembudidaya di Dusun Pu n t o n d o d a n D u s u n Turikalle Teluk Laikang Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan.Bahan yang digunakan adalah bibit lawi-lawi kultivar bulaeng, benih rajungan, pakanrucah, pupuk organik dan probiotik. Produksi lawi-lawi berbeda pada tambak semi intensif dan tradisional (Tabel 3) yang luasnya 400 m2. Sedangkan produksi rajungan dari polikultur dengan lawi-lawi pada tambak 10.000 m2 berkisar antara 18 – 221 kg (Tabel 4) dengan salinitas air tambak berkisar antara 18,8 – 31,6‰ (Gambar 6).
Gambar 6. Grafik hasil Pengamatan kualitas air selama kegiatan
Tabel 3. Produksi lawi-lawi (Caulerpa sp)pada sistem polikultur dengan rajungan (Portunus pelagicus. Linn) di tambak Laikang Kabupaten Takalar selama 4 bulan pemeliharaan
Tabel 4. Produksi dan kelangsungan hidup rajungan (Portunus pelagicus. Linn) hasil polikultur dengan lawilawi (Caulerpa, sp) di tambak Laikang Kabupaten Takalar.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
Kegiatan uji coba polikultur budidaya lawi-lawi dengan rajungan sistem intensif maupun tradisional memberikan gambaran usaha menguntungkan walaupun dengan hasil produksi rajungan yang masih rendah, tapi jauh lebih baik dibanding sistem budidaya monokultur yang biasanya pembudidaya lakukan. Pada sistem polikultur dengan lawi-lawi dengan pemberian pakan menghasilkan produksi rajungan sebanyak 221kg, sedangkan untuk polikultur tanpa diberi pakan diperoleh produksi akhir rajungan sebanyak164 kg dan untuk budidaya monokultur rajungan secara tradisional (tanpa diberi pakan) hanya dihasilkan produksi rajungan sebanyak 18 kg dengan kelangsungan hidup sangat rendah (SR = 10,4%). Ukuran rajungan setelah 4 bulan masa pemeliharaan berkisar antara 5-12 ekor/kg dengan sintasan 28 %. Data tersebut memperlihatkan hasil yang lebih baik dari sistem monokultur yang sintasannya berkisar antara 10% - 17%. Pada awalnya tingkat sintasan yang ditargetkan adalah 30%. Kecilnya sintasan ini diduga karena kondisi tambak yang menyulitkan pada saat panen. Kondisi tambak gambut (eks tambak idle) dan berlumpur membuat banyak rajungan yang menyelinap di lumpur walaupun air bisa disurutkan. Diduga masih banyak rajungan yang tersisa di dalam tambak terutama untuk ukuran yang lebih kecil sehingga rajungan yang dibudidayakan tidak bisa di panen serentak dalam satu kali pemanenan.
WAKTU DAN LOKASI PENGKAJIAN, DAERAH REKOMENDASI
Data dari hasil uji coba di Dusun Puntondo dan Turikalle Desa Laikang Kabupaten Takalar yang dilaksanakan pada bulan Maret s/d Juli 2012 menunjukkan bahwa budidaya lawi-lawi dan rajungan pada sistem intensif memberikan dampak yang lebih baik terhadap kelangsungan hidup (SR) rajungan sehingga produktivitasnya lebih baik dengan ukuran relatif seragam. Pada sitem tradisional yang tidak diberi input pakan juga menunjukkan angka kelulushidupan yang cukup baik dibanding sistem monokultur. Hal ini membuktikan adanya pengaruh yang cukup efektif penggunaan lawi-lawi sebagai shelter/habitat rajungan yang ideal. Lain halnya dengan sistem monokultur budidaya rajungan yang kelulushidupannya rendah dan ukuran kurang seragam, ini sangat memungkinkan sebagai akibat dari tidak adanya shelter tempat rajungan berlindung dari ancaman sifat kanibalisme sesamanya terutama pada saat pergantian kulit (molting) dan kompetisi pada saat mengkonsumsi pakan.
Gambar 7. Kawasan pengembangan lawi-lawi dan rajungan (Teluk Laikang), Di Sulawesi Selatan Wilayah penerapan dan pengembangan lokasi teknologi Budidaya polikultur lawi-lawi dengan rajungan adalah wilayah yang strategis dan memiliki kelayakan teknis sebagai habitat yang cocok untuk budidaya lawi-lawi dan rajungan. Lokasi yang dipilih sebaiknya berdekatan langsung dengan bibir pantai agar memudahkan penggantian air laut yang sangat dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut (Gambar 7). Daerah dengan latar belakang sektor pertanian yang kurang maju adalah salah satu kawasan yang tepat untuk dijadikan pengembangan budidaya lawi-lawi dan rajungan sehingga perekonomian masyarakat dapat ditingkatkan melalui pertanian aquatik (budidaya lawi-lawi di tambak).
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Kemungkinan dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari kegiatan budidaya polikultur seperti ini diantaranya produksi lawi-lawi yang melimpah jika tidak sesuai dengan permintaan pasar yang c u k u p a k a n m e n g a k i b a t k a n menurunnya harga jual lawi-lawi dipasaran. Sebagai antisipasi dari k e m u n g k i n a n terjadinya kondisi tersebut dilakukan b e r b a g a i c a r a sosialisasi produk lawilawi dalam berbagai
Gambar 8. Proses panen sebagian (parsial)(kiri) dan penampunganlawi-lawi dalam hapa di tambak sebelum dipasarkan (kanan)
kemasan untuk membuka akses pasar yang baru di masyarakat terutama di sekitar kawasan pengembangan budidaya lawi-lawi. Selain itu perlu dicari peluang pasar agar lawi-lawi dapat dipasarkan sebagai bahan baku produk olahan pangan dan obat-obatan dengan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menjajaki peluang ekspor lawi-lawi ke manca negara. Dampak lain yang kemungkinan dapat timbul karena sifat lawi-lawi yang menyerap substrat, jika lokasi budidaya memiliki substrat yang banyak mengandung limbah dan amoniak dapat menurunkan kualitas produksi dan lawi-lawi yang dihasilkan kurang higienis. Hal ini dapat diantisipasi dengan pemilihan lokasi budidaya yang baik sebelum kegiatan budidaya dilaksanakan.
KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISA USAHA
Kegiatan budidaya lawi-lawi secara polikultur dengan rajungan memberikan harapan baru bagi pembudidaya/petambak. Rajungan bisa dibudidayakan di tambak secara bersamaan dengan lawi-lawi karena dua biota aquatik yang berbeda spesies ini satu sama lain mempunyai interaksi positif yang saling menguntungkan (bersimbiosis mutualisme) dan dapat menyesuaikan diri pada lingkungan yang sama. Lawi-lawi sebagai tanaman perairan tambak sangat membantu berperan dalam merangsang laju pertumbuhan rajungan dalam suplai oksigen pada siang hari dan tidak berbahaya pada malam hari, bahkan menjadi tempat yang nyaman bagi rajungan pada saat fase istirahat dan ganti kulit (molting). Pada sisi lain keberadaan rajungan juga tidak mengganggu
Tabel 5. Gambaran hasil produksi sistempolikultur lawi-lawi (Caulerpa, sp) dengan rajungan (Portunus pelagicus. Linn) di tambak Laikang Kabupaten Takalar, selama satu siklus (Masa pemeliharaan 3,5 bulan). *)Tambak porous, air dangkal bersuhu panas tanpa lawi-lawi sehingga produksi rajungan rendah
Tabel 6. Hasil usaha per siklus
Gambar 9. Rajungan yang sudah dipanen perkembangan dan pertumbuhan lawi-lawi, bahkan kotoran dan sisa pakan hasil metabolisme rajungan secara tidak langsung menjadi masukan unsur hara yang berguna bagi pertumbuhan lawi-lawi. Berdasarkan analisa sederhana terhadap hasil kegiatan kaji terap teknologi polikultur lawi-lawi dengan rajungan ini diperoleh kesimpulan ekonomis bahwa budidaya polikultur lawi-lawi dengan rajungan sangat menguntungkan (Tabel 5 dan 6) dan bisa dikembangkan menjadi teknologi alternatif dalam rangka menunjang program industrialisasi perikanan. Pada sisi teknis kegiatan ini dapat menghasilkan kesimpulan teknis sebagai berikut :
 Lawi-lawi dapat dijadikan sumber penghasilan harian bagi para pembudidaya pada sistem polikultur dengan rajungan sebelum panen rajungan.
Gambar 10. Tiga kultivar lawi-lawi (Caulerpa, sp) yang dikembangkan dalam kajian: Kultivar Bu'ne(C. racemosa) (a), Bulaeng (C. lentillifera) (b) dan lipan (C. Sertulariodes) (c)
 Polikultur lawi-lawi dengan rajungan memberikan harapan baru bagi pembudidaya/petambak
 Rajungan dapat dibudidayakan di tambak secara bersamaan dengan lawi-lawi karena dua biota aquatik yang berbeda spesies ini satu sama lain mempunyai interaksi positif yang saling menguntungkan (bersimbiosis mutualisme) dan dapat menyesuaikan diri pada lingkungan yang sama
 Model/teknik budidaya seperti ini dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup rajungan dan meningkatkan angka produksi/meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya tambak
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Tingkat komponen yang digunakan dalam kegiatan ini 100% produk dalam negeri, dimana semua bahan dan peralatan yang dipakai dalam kegiatan tersedia setiap saat dibutuhkan.
Sumber:
Hasbullah D., Raharjo S., Jumriadi, Agusanty H, dan Rimmer M., 2013. Polikultur Rumput Laut Lawi-lawi (Caulerpa, sp) dengan Rajungan (Portunus pelagicus. Linn) di Tambak. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Kamis, 26 April 2018

Introduksi Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis)

DESKRIPSI TEKNOLOGI

Tujuan dan Manfaat Penerapan Teknologi
Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis Bleeker) adalah jenis ikan endemik yang hanya terdapat di Danau Singkarak, Sumatera Barat. Di Danau Singkarak, ikan ini menjadi andalan nelayan sehingga usaha penangkapannya sangat intensif dengan menggunakan alat tangkap “alahan” pada aliran sungai dengan target tangkapan induk ikan bilih yang akan memijah. Akibatnya hasil tangkapan ikan bilih menurun tajam dan ukuran ikan yang tertangkap juga semakin kecil. Sebelum tahun 2000, ikan bilih dari Danau Singkarak diekspor ke Negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, akan tetapi dengan menurunnya hasil tangkapan, ekspor ikan bilih tidak bisa berlanjut.
Untuk menyelamatkan populasi ikan bilih di Danau Singkarak yang sudah mulai menurun, telah dilakukan introduksi ikan bilih di Danau Toba dimana hasil tangkapan ikannya masih rendah dibanding potensi produksinya yang cukup tinggi. Disamping itu, introduksi ikan bilih juga dilakukan untuk menggantikan keberadaan ikan pora-pora (Puntius binotatus) yang langka di Danau Toba dan sejak tahun 1995 jenis ikan Gambar 1. Peta Danau Toba, kawasan pemijahan ikan Bilih tersebut tidak pernah tertangkap lagi.
Pengertian - Definisi
Introduksi ikan (fish introduction) adalah kegiatan penebaran ikan dari luar ke suatu badan air dimana ikan yang ditebarkan tersebut bukan merupakan ikan asli di badan air yang bersangkutan.
Ikan yang ditebarkan d i h a r a p k a n d a p a t memanfaatkan habitat dan makanan alami yang tersedia serta dapat memijah secara alami di perairan tersebut. Introduksi ikan harus d i l a k u k a n d e n g a n pendekatan kehati-hatian (precautionary approach) agar ikan yang diintroduksikan aman dan tidak berdampak negatif terhadap populasi ikan asli. Untuk menghindari k e r a n c u a n d e n g a n Restocking, perdefinisi Restocking adalah penebaran ikan ke suatu badan air dimana ikan yang ditebarkan telah ada sebelumnya (merupakan ikan asli) di perairan tersebut. Restocking biasanya dilakukan untuk menambah populasi ikan asli yang menurun atau langka yang hidup di perairan tersebut.
Rincian dan Aplikasi Teknis
1. Persaratan Teknis Penerapan Teknologi introduksi ikan bilih sebagai berikut:
(1) Badan air yang akan digunakan untuk penerapan teknologi introduksi ikan bilih harus memiliki: kualitas air yang baik untuk kehidupan ikan bilih; air relatif jernih, suhu air rendah (berkisar antara 26-28 C); terdapat sungai yang masuk danau dengan karakteristik o sebagai habitat pemijahan, yaitu: berair jernih, dasar berpasir atau kerikil, arus air antara 40-60 cm/detik, kedalaman air 20-40 cm, suhu air berkisar antara 26,0-28,0 C; sumber o daya makanan alami yang berupa plankton dan detritus tinggi dan belum optimal dimanfaatkan oleh ikan asli.
(2) Ikan bilih yang akan ditebarkan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: bebas dari hama dan penyakit; memiliki nilai ekonomis; disukai masyarakat sekitar; dapat memanfaatkan sumber daya makanan alami yang tersedia; dapat memijah/berreproduksi secara alami; dan tidak bersifat invasif (tidak berdampak negatif) terhadap jenis ikan asli.
(3) Hasil tangkapan ikan di badan air yang akan ditebari masih rendah jauh di bawah potensi produksi ikan lestarinya.
(4) Kelompok nelayan sebagai unsur pengelola perikanan utama sudah ada atau mudah dibentuk; berperan aktif dalam kegiatan pengelolaan perikanan.
2. Uraian lengkap dan rinci Prosedur Operasional Standar (POS), penerapan teknologi introduksiikan bilih adalah sebagai berikut:
(1) Identifikasi potensi badan air yang meliputi: kualitas air; jenis dan kelimpahan sumber daya makanan alami; komposisi jenis ikan asli; estimasi potensi produksi ikan; terdapat sungai yang bermuara ke danau yang sesuai sebagai kawasan pemijahan ikan bilih.
(2) Identifikasi sifat biologi ikan bilih yang meliputi: siklus hidup, reproduksi, makanan dan kebiasaan makan dan distribusinya. Ikan bilih yang akan diintroduksi sebaiknya ditangkap dari habitat aslinya, Danau Singkarak.
(3) Identifikasi kegiatan perikanan yang meliputi: jumlah nelayan; jenis dan jumlah alat tangkap, jenis, komposisi dan jumlah hasil tangkapan ikan.
(4) Identifikasi masyarakat sekitar badan air: jumlah atau ketersediaan kelompok nelayan; kelompok pengawas; kelompok usaha perikanan lainnya.
(5) Identifikasi biaya yang diperlukan untuk kegiatan introduksi ikan dan peluang keberhasilannya.
(6) Pelaksanaan penebaran ikan bilih yang berukuran 5 – 12 cm termasuk transportasi hidup benih.
(7) Monitoring dan evaluasi. Kegiatan monitoring dilakukan pada perencanaan, selama dan setelah penerapan teknologi introduksi, dan dari hasil monitoring dilakukan evaluasi untuk mengkaji keberhasilan ataupun kegagalan penerapan teknologinya.
3. Uraian dan jumlah kaji t e r a p y a n g s u d a h dilakukan di beberapa daerah
Teknologi introduksi ikan bilih yang didasarkan atas hasil penelitian dan pengkajian belum pernah diterapkan di badan air l a i n n y a . N a m u n berdasarkan informasi dari beberapa Dinas Perikanan, introduksi ikan bilih secara “trial and error” telah dilakukan di beberapa badan air dan tidak menunjukkan hasil. Introduksi ikan bilih ini gagal karena persyaratan badan air untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tidak sesuai. Hasil penelitian dan pengkajian introduksi ikan bilih di Danau Toba yang dilakukan pada tahun 2002 – 2003 dijadikan dasar dalam implementasi introduksi ikan bilih di Danau Toba. Hasil introduksi ikan bilih di Danau Toba telah memberi manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan yang besar bagi masyarakat sekitar Danau Toba dan masyarakat Sumatera Barat yang melakukan usaha pemasaran dan pengolahan ikan bilih. Pada tahun 2010 IPTEKMAS introduksi ikan bilih di Danau Toba telah dilaksanakan sebagai langkah nyata desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat yang membutuhkan.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
Uraian tentang teknologi yang baru atau modifikasi
Teknologi introduksi ikan bilih ke Danau Toba merupakan teknologi yang telah dimodifikasi disesuaikan dengan karakteristik perairan dan karakteristik biologi dari ikan bilih di habitat aslinya Danau Singkarak. Keberhasilan teknologi introduksi ikan bilih dengan teknologi yang sudah ada
Teknologi introduksi ikan adalah teknologi yang telah lama diterapkan di perairan danau dan waduk Indonesia. Sebagai contoh introduksi ikan mujair (Oreochromis mossambicus) di Danau Toba telah dilakukan sejak jaman penjajahan Belanda. Introduksi ikan mujair di Danau Toba gagal karena ikan mujair memerlukan daerah littoral untuk pemijahannya sedangkan Danau Toba merupakan danau dalam (590 m), berpantai curam sehingga memiliki daerah littoral yang sempit. Disamping itu, kelimpahan sumber daya makanan yang tersedia rendah. Ikan mujair malahan disinyalir berdampak negatif terhadap punahnya populasi ihan batak (Neolissochillus thienemanni) dengan cara memakan telurnya. Penerapan teknologi introduksi ikan bilih di Danau Toba merupakan teknologi yang unggul dengan alasan sebagai berikut:
(1) sangat efisien, karena ikan bilih tumbuh hanya dengan memanfaatkan makanan alami yang tersedia dan sisa pakan yang terbuang dari budidaya ikan dalam KJA, ikan bilih dapat mengisi daerah pelagis danau yang selama ini belum terisi ikan, terdistribusi di seluruh perairan danau dan dapat berkembang biak secara alami di sungai-sungai yang masuk danau;
(2) ekonomis: pada kasus di Danau Toba menunjukan produksi ikan bilih mencapai 45.000 ton pada tahun 2012 atau senilai 225 milyar rupiah (bandingkan dengan produksi ikan lemuru di Selat Bali yang hanya mencapai 25.000 ton/tahun); produksi ikan bilih yang tinggi telah berdampak terhadap peningkatan pendapatan nelayan; mudah dipasarkan karena pembeli (pedagang pengumpul terutama dari Sumatera Barat) datang sendiri ke tempat produksi; dan ikan bilih menjadi komoditas unggulan masyarakat nelayan setempat;
(3) layak: teknologi introduksi ikan bilih layak untuk dikembangkan di perairan danau dengan karakteristik yang sejenis.
Mudah diterapkan dalam sistem usaha kelautan dan perikanan
Teknologi introduksi ikan bilih sangat mudah diterapkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar danau karena sangat sederhana dan praktis. Masyarakat nelayan sebagai ujung tombak pelaksana pengelolaan cukup diarahkan untuk memahami persyaratan teknis penerapan teknologi introduksi ikan bilih dan bagaimana melakukan pengelolaan dan monitoring serta evaluasinya. Keberlanjutan pengelolaan sumber daya ikan bilih akan berhasil jika masyarakat nelayan sudah membentuk kelompok sehingga semua peraturan yang dibuat dapat dipatuhi dan dilaksanakan. Ramah lingkungan
Teknologi introduksi ikan bilih ke danau Toba sangat ramah lingkungan karena ikan bilih tumbuh dengan memanfaatkan sumber daya makanan alami (plankton, mikrobenthos dan detritus) yang tersedia dan ikan bilih juga memanfaatkan sisa makanan dan kotoran ikan yang berupa limbah dari budidaya ikan dalam KJA yang jika tidak dimakan ikan bilih akan mencemari danau. Ikan bilih sebagai ikan asing di Danau Toba tidak bersifat invasif terhadap ikan asli malahan menggantikan peran ikan Pora-pora yang sejak tahun 1990-an sudah tidak tertangkap lagi.
WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN, DAERAH YANG DIREKOMENDASIKAN
Gambaran lokasi dan waktu penelitian, pengkajian, dan pengembangan
Penelitian dilaksanakan di Danau Toba yang merupakan danau terbesar di Indonesia dengan luas 112.000 ha dan kedalaman maksimum 590 m. Danau berlereng curam kecuali di pantai Samosir bagian timur sehingga sebagian besar danau berupa daerah pelagis dan hanya sebagian kecil berupa daerah littoral. Sungai yang bermuara ke Danau Toba ada 149 buah dan sebanyak 79 buah tidak pernah kering. Danau berair jenih dengan kecerahan air lebih dari 12 m dengan kandungan oksigen terlarut yang tinggi dan suhu air antara 27-28 C. Sebelum tahun 1995, Danau Toba o termasuk perairan dengan tingkat kesuburan rendah (oligotrofik) dan kini kesuburannya meningkat menjadi perairan dengan tingkat kesuburan sedang (mesotrofik). Karakteristik limnologis Danau Toba tersebut serupa dengan karakteristik limnologis Danau Singkarak sebagai habitat asli ikan bilih. Malahan perairan Danau Toba mempunyai keunggulan tersendiri karena jumlah sungai yang masuk danau hampir 30 kali lipat dari jumlah sungai yang masuk Danau Singkarak. Sungai-sungai ini umumnya berair jernih, berdasar pasir dan atau kerikil sehingga sangat sesuai sebagai daerah pemijahan ikan bilih. Populasi ikan asli umumnya sudah menurun atau langka dan menuju kepunahan seperti ihan batak yang digunakan sebagai ikan adat dan pora-pora. Ikan introduksi terdiri dari ikan mujair, betutu, nilem, sepat, dan nila, ikan-ikan introduksi tersebut umumnya tidak berkembang dengan baik karena habitatnya tidak sesuai.
Kegiatan penelitian, pengkajian, dan penerapan teknologi introduksi ikan bilih dapat dibagi menjadi beberapa periode sebagai berikut:
(1) Tahun 2000-2002, penelitian tentang karakteristik limnologis Danau Toba dan Danau Singkarak, aspek biologi ikan bilih (siklus hidup, makanan dan kebiasaan makan, biologi reproduksi dan pertumbuhan) di habitat aslinya danau Singkarak serta aspek perikanan tangkap ikan bilih di Danau Singkarak. Bersamaan dengan itu juga dipelajari aspek biologi komunitas ikan di Danau Toba. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa karakteristik limnologi Danau Singkarak serupa dengan Danau Toba
(2) Tahun 2003-2005, perancangan cara penangkapan dan transportasi hidup benih ikan bilih, pelaksanaan penebaran ikan bilih di Danau Toba, yang dilanjutkan dengan monitoring perkembangan ikan bilih yang diintroduksikan dan aspek biologinya. Hasil pengkajian menyimpulkan bahwa ikan bilih dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik, distribusinya mengisi seluruh perairan danau dan kawasan pemijahannya tersebar di hampir semua sungai yang masuk danauSejak tahun 2005, hasil tangkapan ikan bilih mulai nampak dan berdasarkan hasil pencatatan enumerator di beberapa tempat penangkapan nelayan tercatat sebesar 635,9 kg atau senilai 3,89 milyar rupiah.
(3) Tahun 20010-2013, penerapan IPTEK pengelolaan dan konservasi ikan bilih melalui kegiatan IPTEKMAS (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Masyarakat).
Kegiatan IPTEKMAS ini ditujukan untuk memberdayakan masyarakat nelayan dalam rangka optimasi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya ikan bilih serta upaya konservasinya. Melalui kegiatan I PTE K MAS juga dilakukan pemberdayaan masyarakat dalam pengolahan produk dan pemasaran ikan bilih. Pada tahun terakhir (2013), sedang disusun “Naskah Akademik Pengelolaan dan Konservasi Sumber Daya Ikan di Danau Toba” sebagai bahan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara yang akan disampaikan ke Gubernur Sumatera Utara.
Lokasi wilayah yang direkomendasikan untuk penerapan teknologi introduksi
Pada prinsipnya, introduksi ikan ke suatu badan air harus dilakukan dengan pendekatan kehatihatian (precautionary approach) karena keberadaan ikan asing di suatu perairan dapat berdampak negatif terhadap keanekaragaman ikan asli dan lingkungan. Oleh karena itu, sebelum introduksi ikan dilakukan harus dilakukan kajian yang mendalam terlebih dahulu baik aspek biologi ikan introduksi dan habitat aslinya maupun biologi komunitas ikan dan habitatnya di perairan yang akan ditebari. Introduksi ikan bilih dapat dilakukan di beberapa perairan danau yang mempunyai karakteristik serupa dengan Danau Singkarak dan di danau tersebut tidak terdapat ikan asli yang endemik atau langka yang akan bersaing dengan ikan bilih. Beberapa danau yang dapat diintroduksi ikan bilih antara lain: Danau Dibawah dan Diatas (Sumatera Barat), Danau Ranau (Sumatera Selatan dan Lampung), dan Danau Kerinci (Jambi).
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Penerapan teknologi introduksi ikan bilih dapat berdampak negatif terhadap penurunan keanekaragaman ikan asli jika ikan bilih berkompetisi dan mendesak populasi ikan asli. Apalagi jika di badan air yang bersangkutan terdapat jenis ikan endemik atau jenis ikan langka yang perlu dilindungi dan dilestarikan.
KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISA USAHA
Dengan mengambil kasus penebaran ikan bilih di Danau Toba, ikan bilih yang ditebarkan, pada tanggal 3 Januari 2003 (hanya dilakukan satu kali) sebanyak 2.850 ekor dari 3.500 ekor yang ditangkap dari Danau Singkarak dengan ukuran panjang total antara 5-6 cm dan berat antara 0,91,5 gram per ekor atau setara dengan 3,8 kg x 10.000 rupiah/kg = 38.000 rupiah. Biaya transportasi dan fasilitas jaring penampung sebesar 3 juta rupiah, dan biaya tenaga kerja dan lainlain sehingga total biaya untuk introduksi ikan bilih sebesar 6 juta rupiah.
Hasil tangkapan nelayan mulai terlihat sejak tahun 2005 yang mencapai 653,6 ton atau 14,6% dari total hasil tangkapan ikan pada tahun yang sama, yakni sebesar 4.462 ton dengan nilai produksi sebesar 3,9 milyar rupiah. Hasil tangkapan ikan Bilih tersebut berada pada urutan ke tiga setelah tangkapan ikan mujair dan nila. Pada tahun 2008, hasil tangkapan ikan bilih meningkat mencapai 13.000 ton atau setara dengan nilai 65 milyar rupiah. Pada tahun 2012 mencapai 45.000 ton atau senilai 225 milyar rupiah. Secara umum, produksi ikan di Danau Toba meningkat dari rata 15-20 kg/ha/th sebelum introduksi ikan bilih menjadi 350-400 kg/ha/th.
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Ikan bilih adalah ikan endemik Danau Singkarak di Sumatera Barat. Demikian pula seluruh komponen yang digunakan dalam penerapan teknologi introduksi ini adalah komponen dalam negeri.
Sumber:
Kartamihardja E. S., Sarnita A. S., Purnomo K., 2013. Introduksi Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis). Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Rabu, 25 April 2018

Teknologi Pengendalian Gulma Air, Eceng gondok (Eichornia crassipes) di Perairan Umum Daratan

DESKRIPSI TEKNOLOGI

TUJUAN DAN MANFAAT PENERAPAN TEKNOLOGI
Tujuan dari penerapan teknologi pengendalian gulma air ecenggondok adalah untuk mengendalikan pertumbuhan ecenggondok di perairan sehingga keberadaannya tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sumber daya ikan dan perairan. Teknologi pengendalian gulma air ecenggondok ini sangat bermanfaat untuk memulihkan fungsi ekologis perairan dan sekaligus berguna sebagai teknologi pemanfaatan ecenggondok sebagai sumber makanan ikan (bisa seluruh pohon atau daunnya saja. Bila daunnya saja (10 % dari pohon) maka batangnya (50 % bagian pohon) dapat digunakan untuk kerajinan kreatif dengan catatan panjang minimum 60 Cm dan perlu adanya pelatihan serta akarnya (40 % bagian pohon) sebagai bahan baku kompos atau biogas, memerlukan sarana dan teknologi yang harus dimiliki. Teknologi ini dapat diterapkan secara efektif di perairan umum daratan terutama di perairan danau dan waduk yang sudah digolongkan perairan kritis sebagai akibat cemaran gulma air sehingga kelestarian lingkungan perairan terjamin.
PENGERTIAN/ISTILAH/DEFINISI
Gulma air adalah tumbuhan air yang keberadaannya di perairan secara ekologi merugikan karena pertumbuhannya melebihi manfaatnya sehingga keberadaannya tidak diinginkan. Ecenggondok, Eichhornia crassipes adalah tumbuhan air mengapung yang keberadaannya di perairan umum daratan merupakan salah satu gulma penting.
Perairan umum daratan adalah perairan yang dihitung dari garis pantai surut terrendah sampai daratan, baik berupa sungai, danau, waduk, rawa dan perairan genangan lainnya. Danau kritis adalah danau yang sudah mengalami perubahan ekologis yang cenderung mengakibatkan gangguan kelestarian atau keberadaannya dan hal itu dapat diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain : gulma air, pendangkalan, dan pencemaran.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS/PERSYARATAN TEKNIS YANG DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN:
1. Persaratan Teknis Penerapan Teknologi Pengendalian Gulma Ecenggondok meliputi hal-hal
sebagai berikut: a. Pengendalian ecenggondok dilakukan di perairan danau atau waduk dengan kepadatan gulma ecenggondok yang tinggi (10 kg/m2) b. Jenis teknologi pengendalian ecenggondok yang diterapkan adalah kombinasi antara pengendalian secara fisik dan biologis c. Pengendalian dilakukan secara fisik dan biologis yaitu dengan cara memanen ecenggondok yang kemudian daunnya digunakan sebagai makanan ikan herbivor (misal : ikan koan, Ctenoparyngodon idella) yang dipelihara dalam keramba jaring apung dan batangnya (petiol) dapat digunakan sebagai bahan kerajinan tangan (industri kreatif) serta akarnya untuk bahan kompos atau biogas d. Benih ikan koan yang siap untuk mengkonsumsi daun ecenggondok berukuran panjang > 15 cm dan berat > 20 gram e. Wadah pemeliharaan ikan koan yang berupa karamba jaring apung/tancap ukuran minimal 2x2x2 m.
2. Uraian lengkap dan detail SOP, mencakup: a. Identifikasi luasan perairan yang ditutupi ecenggondok untuk menghitung potensi ecenggondok yang berupa daun sebagai sumber pakan ikan koan, petiol sebagai bahan baku kerajinan tangan dan akar sebagai bahan baku kompos atau biogas b. Gulma air ecenggondok di perairan harus dilokalisir agar tidak bergerak kesana kemari tetapi terpusat di suatu lokasi c. Pengadaan benih ikan koan ukuran panjang 15 cm dan berat 20 gram. d. Pengadaan sarana pemeliharaan ikan koan yang berupa kantong jaring, rakit karamba, dan perlengkapannya dengan ukuran minimal karamba 2x2x2 m. e. Ikan koan dipelihara dengan kepadatan 100-200 ekor/karamba dan diberi makanan daun ecenggondok sebanyak 4-7% dari berat ikan yang dipelihara. f. Pemberian makan daun ecenggondok dilakukan satu kali sehari Cara penerapan teknologi yang diurut mulai persiapan sampai aplikasi. 3. Kaji terap teknologi pengendalian gulma ecenggondok ini sudah dilakukan di Danau Limboto, Gorontalo dan dapat dilakukan di 15 Danau kritis (Kementrian Lingkungan Hidup) dan Rawa Pening, waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur, Situ Cangkuang, serta situ Bagendit.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI :
1. Teknologi pengendalian gulma ecenggondok ini adalah teknologi modifikasi yang merupakan kombinasi dari teknologi pengendalian secara fisik dan biologis dengan menggunakan ikan koan.
2. Teknologi pengendalian gulma ecenggondok ini layak untuk dikembangkan di perairan danau atau waduk yang tercemar ecenggondok. Teknologi pengendalian secara terpadu ini telah mampu mengubah gulma ecenggondok menjadi biomasa ikan, bahan baku industri kerajinan/kreatif dan sumber biogas untuk keperluan rumah tangga. Namun pada teknologi ini, penekanan utama adalah dalam mengkonversi biomasa daun ecenggondok menjadi biomasa ikan sehingga menjadi produk yang bernilai ekonomi baik untuk keperluan konsumsi masyarakat maupun sekaligus meningkatkan pendapatan pembudidaya serta pelestarian lingkungan perairan. Pemanfaatan daun ecenggondok pada budidaya ikan koan mempunyai keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan pengendalian biologis dengan cara menebarkan ikan koan secara langsung di perairan. Jika ikan koan ditebar langsung di perairan, maka pada tahap awal ikan koan akan makan tumbuhan air yang disukai terlebih dahulu seperti ganggang (Hydrilla spp, Ceratophylum sp, dsb) sehingga tumbuhan air tersebut habis dan kemudian baru beralih ke akar ecenggondok dan terakhir ke daun ecenggondok setelah ecenggondok mati. Padahal keberadaan tumbuhan air ganggang sangat diperlukan untuk penempelan telur dan perlindungan benih ikan asli di perairan. Kasus penebaran ikan koan yang langsung dilepas ke perairan danau untuk mengendalikan ecenggondok ini telah berhasil dilakukan di Danau Kerinci namun akhirnya berdampak negatif terhadap penurunan populasi ikan asli seperti ikan semah (Tor duorenensis) yang sangat ekonomis.
3. Teknologi pengendalian gulma ecenggondok secara fisik dan biologis merupakan teknologi sederhana sehingga mudah diterapkan oleh masyarakat sekitar perairan yang tercemar gulma ecenggondok. Hasil analisis proksimat ecenggondok mengandung protein (Akar=17,7%, Batang= 4,86% dan Daun= 19,83%) (Krismono, 2007), sehingga memenuhi syarat untuk pakan ikan. Secara ekonomis menguntungkan karena komponen pakan yang antara 60-70% dari biaya produksi pada budidaya ikan dalam KJA dengan mudah didapat tanpa mengeluarkan biaya untuk membelinya. Disamping itu, biomassa daun ecenggondok akan dikonversi menjadi biomassa ikan yang ekonomis. Penerapan teknologi pengendalian ini secara terpadu dapat diterapkan di masyarakat dengan menciptakan kegiatan industri kerajinan untuk memanfaatkan batang/petiol ecenggondok dan bahan bakar gas atau kompos untuk pupuk dengan memanfaatkan akar ecenggondok sehingga ecenggondok yang berupa gulma menjadi bahan baku yang bernilai ekonomis. Hal ini telah dilakukan di waduk Rawapening dan di danau Limboto. Dalam pengembangan budidaya ikan koan perlu dikembangkan kelembagaan pembenihannya sehingga pasok benih ikan koan dapat terjamin. Teknologi pengendalian ecenggondok secara fisik dengan cara mengangkatnya ke luar perairan yang selama ini sering dilakukan di beberapa perairan akan membutuhkan biaya yang tinggi dan hanya sesaat karena tidak ada produk yang secara berkelanjutan dihasilkan dan bernilai ekonomis.
4. Teknologi pengendalian gulma yang diterapkan merupakan teknologi yang ramah lingkungan dan akan berdampak positif terhadap kelestarian lingkungan perairan.
5. Kebaharuan teknologi ini dapat menentukan waktu pengendalian gulma air yang ada berdasarkan jumlah/ukuran ikan yang dibudidayakan dan ramah lingkungan.
6. Indikator keberhasilan dapat dihitung bila ada 1.000 petak Keramba jaring apung ikan koan dengan pakan eceng gondok dalam satu periode pemeliharaan mengurangi sekitar 120 ha luas tutupan eceng gondok. Bila pemanfaatan eceng gondok digunakan juga untuk kerajinan dan biogas, sehingga yang digunakan untuk pakan hanya daunnya berarti 10 % bagian dari seluruh pohon, maka dengan jumlah KJA 1.000 petak dapat mengurangi 1.200 ha.
WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN, PENGKAJIAN, PENGEMBANGAN, PENERAPAN DAN WILAYAH/DAERAH YANG DIREKOMENDASIKAN:
1. Penelitian dilakukan di Danau Limboto, Gorontalo dengan luas 3.000 ha dan luas tutupan ecenggondok sebesar 1.000-2.000 ha atau 40-60% dari luas danau. Waktu penelitian sampai dengan pengembangan dilakukan mulai tahun 2006 sampai dengan 2008 dan penerapan teknologi dilakukan pada tahun 2009. Selama periode 2006-2008, telah dihasilkan data dan informasi mengenai jenis-jenis tumbuhan air dan luas tutupan ecenggondok, ukuran benih ikan koan yang sesuai untuk makan daun ecenggondok, konversi pakan ikan koan, kepadatan optimum ikan koan dan pertumbuhan serta produksi ikan koan. Pada tahun 2009 penerapan teknologi pengendalian ecenggondok dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh pada kegiatan sebelumnya
2. Teknologi pengendalian ecenggondok ini dapat dilakukan di perairan danau dan waduk kritis yang tercemar dengan gulma air ecenggondok, yaitu di 15 danau kritis: Danau Toba, Danau Kerinci, Danau Singkarak dan Danau Maninjau di Pulau Sumatera, Danau Rawa Besar dan Danau Rawa Pening di Pulau Jawa, Danau Batur di Pulau Bali, Danau Tondano, Danau Limboto, Danau Poso, Danau Tempe, dan Danau Matano di Pulau Sulawesi, Danau Sentarum dan Danau Semayang, Melintang dan Jempang di Pulau Kalimantan serta Danau Sentani di Pulau Papua. Beberapa perairan waduk yang tercemar gulma ecenggondok antara lain Waduk Saguling dan Cirata, Situ Cangkuang dan Bagendit di Jawa Barat.
3. Opsi penerapan teknologi pengendalian eceng gondok di perairan umum daratan ini pada teknologi budididaya ikan koan/tawes/ikan herbivora dengan memanfaatkan gulma air eceng gondok sebagai pakan ikan.
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
1. Dampak negatif yang mungkin timbul dari budidaya ikan koan dalam KJA dengan pakan berupa daun ecenggondok adalah sangat ringan (kecil) yaitu berupa penyuburan perairan dari sisa kotoran dan eksresi ikan koan.
2. Ikan koan (Ctenoparyngodon idella) adalah jenis ikan invasif bila terlepas ke perairan umum daratan.
KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISA USAHA
KJA 2x2x2 m , padat tebar 200 ekor (20gr/ekor) dalam 90 hari menjadi (mortalitas 20% x 200 ekor) 160 ekor 500gr/ekor dengan pakan encenggondok. Biaya produksi untuk KJA Rp. 200.000,- /unit dan benih 200 ekor @ Rp. 300,- = Rp. 600.000,- Jumlah modal/unit = Rp. 800.000,-. Hasil panen 160 ekor x 500gr = 80kg @ Rp. 25.000,- = Rp. 2.000.000,-. Keuntungan per unit = Rp. 2.000.000,- - Rp. 800.000,- = Rp. 1.200.000,-. Bila satu rumah tangga pembudidaya memiliki 6 unit maka penghasilan = Rp. 7.200.000,- per 3 bulan = Rp. 2.400.000,- per bulan.
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Material yangg digunakan dalam penerapan teknologi pengendalian ecenggondok seluruhnya produksi dalam negeri. Ikan koan yang merupakan ikan introduksi dari China, kini pembenihannya sudah dapat dilakukan di Indonesia sehingga upaya penyediaan benihnya sudah tidak menjadi kendala lagi.
FOTO DAN SPESIFIKASI
Waktu yang diperlukan untuk pengendalian eceng gondok di danau/waduk dapat dirumuskan sebagai berikut:
T : Waktu yang diperlukan untuk pengendalian eceng gondok (hari) L : Luas area tutupan eceng gondok (m2) Be : Biomassa eceng gondok (kg/m2) Ke : Rasio eceng gondok yang dapat dimakan ikan koan Ge : Laju pertumbuhan eceng gondok (g/hari) N : Jumlah ikan yang tebar ikan koan (ekor) Ki : Jumlah ikan dalam kurungan (ekor) Gz : Laju perambanan ikan koan terhadap eceng gondok (g/hari) Gi : Laju pertumbuhan ikan koan (g/hari)
Sumber:
Krismono dkk, 2014. Teknologi Pengendalian Gulma Air Eceng Gondok di Perairan Umum Daratan. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2014. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Senin, 23 April 2018

Aplikasi Mina Grow pada Budidaya Ikan Air Tawar

DESKRIPSI TEKNOLOGI

1. TUJUAN DAN MANFAAT PENERAPAN TEKNOLOGI Kegunaan teknologi ini adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas ikan dan udang.
2. PENGERTIAN/ISTILAH/DEFINISI MinaGrow = merupakan salah satu Recombinant Growth Hormone (rGH) atau protein hormon pertumbuhan rekombinan atau suplemen pemacu pertumbuhan yang bekerja sebagai stimulator agentbagi pertumbuhan somatik ikan, sehingga dapat mempersingkat waktu pemeliharaan dan meningkatkan produksi budidaya ikan.
3. RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS/PERSYARATAN TEKNIS YANG DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN 3.1. Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi Aplikasi MinaGrow dapat dilakukan melalui 3 (tiga) metode yaitu perendaman, injeksi, dan oral (melalui pakan). Perendaman dilakukan pada larva ikan yang hampir habis kuning telurnya atau pada juvenile udang. Injeksi dapat dilakukan pada ikan yang sudah besar namun kurang efektif karena membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Oral atau melalui pakan dapat dilakukan di semua stadia ikan dan udang baik larva (yang sudah habis kuning telurnya) maupun yang sudah dewasa.
3.2. Detail Standar Operational Procedure, mencakup :
a. Gambaran/uraian/rincian teknologi MinaGrow merupakan suplemen pemacu pertumbuhan yang bekerja sebagai stimulator agent bagi pertumbuhan somatik ikan dan udang, sehingga dapat mempersingkat waktu pemeliharaan dan meningkatkan produksi budidaya ikan dan udang.
b. Cara penerapan teknologi yang diurut mulai persiapan sampai aplikasi :
1. Produksi MinaGrow Produksi MinaGrow dilakukan berdasarkan metode dari Alimuddin et al. (2011). Bakteri Escherichia coli BL21 yang membawa vektor ekspresi MinaGrow diinkubasi dalam media 2xYT pada suhu 15o C, dan dikocok selama semalam. Sintesis protein diinduksi dengan menambahkan 1 mM isopropyl-b-Dthiogalactopyranoside (IPTG) ke dalam media kultur bakteri. Total protein bakteri dalam bentuk badan inklusi (inclusion body) diendapkan menggunakan sentrifugasi pada suhu 4o C, dan kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit, dan selanjutnya protein dilarutkan dalam buffer fosfat salin (PBS). Dinding sel bakteri dipecah dengan menggunakan sonikator selama 5 menit dengan selang 1 menit ON dan 1 menit OFF. Kemudian, disentrifugasi pada suhu 4o C, dan kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit. Pellet yang terbentuk dikeringbekukan dengan menggunakan freeze dryer pada suhu -87o C selama over night. Selanjutnya, pellet kering yang sudah terbentuk dapat disimpan dalam suhu ruang.
2. Pemberian MinaGrow melalui pakan (oral) MinaGrow sebanyak 2 mg (berat kering) dilarutkan dalam 15 mL PBS, dan dicampur dengan 2 mg kuning telur ayam yang berfungsi sebagai bahan pengikat (binder) pada pakan buatan. Setelah dihomogenasi menggunakan vorteks, campuran kuning telur dan MinaGrow disemprotkan secara merata pada 1 kg pakan komersial kemudian dibiarkan kering udara sebelum diberikan pada ikan nila. Campuran pakan MinaGrow diberikan sebanyak 3 kali dalam seminggu dengan interval 3 hari secara satiasi.
3. Pemberian MinaGrow melalui perendaman Larva ikan diberikan perlakuan kejut salinitas dalam NaCl 3,0% selama 2 menit, sedangkan juvenile udang tidak perlu menggunakan perlakuan kejut salinitas. Kemudian, direndam dengan larutan MinaGrow (dosis 2 mg/L), NaCl 0,9%, dan BSA 0,01% selama 1 jam. Setelah perendaman selesai, larva atau juvenile dapat dipelihara seperti biasa. Perendaman dilakukan tiga kali dalam seminggu dalam interval 3 hari. 4. Pemberian MinaGrow melalui injeksi MinaGrow diinjeksikan 0,1 ml suspensi MinaGrow sebanyak 1 µg/10 µl PBS/g bobot tubuh secara intramuskuler pada benih ikan berukuran 5-8 cm. Injeksi dilakukan seminggu sekali selama 4 minggu.
3.3. Kaji terap yang sudah dilakukan di beberapa daerah beserta hasilnya Penerapan teknologi ini sudah dilakukan di beberapa daerah, seperti :
1. Kabupaten Banyumas Penerapan MinaGrow pada ikan gurame dengan pemberian melalui pakan (Gambar 1a dan 1b) (Hardiantho dkk., 2012).
2. Kabupaten Bogor Penerapan MinaGrow pada ikan sidat melalui perendaman dan pakan (Gambar 2) (Alimuddin et al., 2012).
3. Kabupaten Purwakarta Penerapan MinaGrow pada pembesaran ikan nila di instalasi keramba jaring apung BBPBAT Sukabumi, Waduk Cirata (Gambar 3) (belum dipublikasikan).
4. BBPBAT Sukabumi Penerapan MinaGrow pada beberapa jenis ikan disajikan sebagai berikut :
a. Perendaman MinaGrow pada Ikan Mas Perendaman larva ikan mas dengan penentuan dosis diperoleh dosis 30 mg (bobot basah) per liter air dan pemberian 2 kali selama seminggu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya (Faridah dkk., 2011).
b. Pemberian MinaGrow melalui pakan pada pembesaran ikan mas (belum dipublikasikan).
c. Pemberian MinaGrow melalui pakan pada ikan patin (belum dipublikasikan).
4. KEUNGGULAN TEKNOLOGI
4.1 Uraian tentang teknologi
a. Pemberian MinaGrow pada ikan gurame melalui pakan mampu meningkatkan bobot 42,3% lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak diberi dan biomassa mengalami peningkatan sebesar 50,23%.
b. Pemberian MinaGrow melalui perendaman dan pemberian pakan pada ikan sidat mampu meningkatkan pertumbuhan rekombinan. Pada ikan patin, pemberian pakan dengan dosis 4 mg (bobot kering) per kg pakan dapat meningkatkan biomassa sebesar 83,68%.
c. Pemberian MinaGrow pada pembesaran ikan mas juga mampu meningkatkan ukuran bobot rataan sebesar 106,96 gram/ekor (bobot biomas 246 kg) dibandingkan kontrol yang hanya sebesar 80 gram/ekor (bobot biomas 184 kg). Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap jumlah total produksi pada pembesaran ikan mas serta percepatan masa pemeliharaannya.
d. Aplikasi penambahan MinaGrow dan probiotik merupakan alternatif teknologi yang mudah dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.
4.2 Keunggulan Teknologi MinaGrow Penerapan MinaGrow telah memberikan hasil yang menjanjikan dalam peningkatan produksi ikan.
Pemberian MinaGrow pada ikan gurame melalui pakan mampu meningkatkan bobot 42,3% lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak diberi, begitu juga dengan biomassa yang mengalami peningkatan sebesar 50,23% (Hardiantho dkk., 2012). Pemberian MinaGrow melalui cara perendaman dan pemberian pakan pada ikan sidat, mampu meningkatkan pertumbuhan mencapai 100% lebih tinggi daripada yang tidak diberi protein hormon pertumbuhan rekombinan (Handoyo, 2012). Pada ikan patin, pemberian MinaGrow melalui pakan dengan dosis 4 mg (bobot kering) per kg pakan dapat meningkatkan biomassa sebesar 83,68% (belum dipublikasikan).
Berbagai upaya lain untuk meningkatkan pertumbuhan ikan sudah dilakukan namun, terhalang dengan waktu yang relatif lama untuk mendapatkan perbaikan kualitas secara signifikan seperti seleksi, hibridisasi, triploidisasi, dan transgenesis. Seleksi membutuhkan waktu 10 tahun untuk menghasilkan 12 generasi dengan kecepatan tumbuh 12,4% per generasi pada ikan nila (Bolivar et al. 2002). Transgenesis menghasilkan laju pertumbuhan 30 kali lebih cepat (Nam et al. 2001) namun membutuhkan peralatan yang canggih dan tenaga kerja yang terampil. Sehingga, aplikasi penambahan hormon pertumbuhan rekombinan (MinaGrow) dan probiotik merupakan alternatif teknologi yang mudah dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ikan.
4.3 Mudah diterapkan dalam sistem usaha Aplikasi MinaGrow mudah diterapkan karena sudah tersedia dalam bentuk siap didistribusikan. MinaGrow dikemas dalam bentuk serbuk sehingga dapat bertahan cukup lama.
4.4 Ramah lingkungan MinaGrow merupakan teknologi ramah lingkungan. MinaGrow tidak meninggalkan residu bakteri pada lingkungan dan bebas dari kontaminasi bakteri yang merugikan. Namun demikian, penggunaan hormon dalam kegiatan budidaya harus didaftarkan dan memperoleh kelayakannya dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk keamanan pangan dan komisi hayati produk rekayasa genetik di Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) untuk keamanan lingkungan.
5. WAKTU DAN LOKASI
5.1 Gambaran/uraian lokasi dan waktu penelitian, pengkajian, pengembangan, penerapan dilakukan 1) Penelitian ini dilaksanakan sejak tahun 2011 di Dept. BDP, FPIK – IPB. 2) Pengembangannya dilakukan selama tahun 2012 – 2013 di BBPBAT Sukabumi. 3) Aplikasinya selama tahun 2014 di BBPBAT Sukabumi.
5.2 Wilayah yang direkomendasikan untuk penerapan teknologi Wilayah yang direkomendasikan untuk penerapan teknologi, dapat dilakukan di wadah budidaya apa saja.
6. KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Masih memerlukan kajian keamanan pangan dari BPOM dan keamanan lingkungan dari komisi hayati produk rekayasa genetik KLH.
7. KELAYAKAN FINANSIAL DAN ANALISA USAHA
Analisa usaha dibuat untuk pembesaran ikan nila disajikan pada Tabel 1.
8. TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Bahan – bahan yang digunakan untuk aplikasi MinaGrow merupakan bahan yang dapat diperoleh di dalam negeri.
Sumber:
Hardiantho A. D., Sucipto A., Yanti D. H., Faridah N., dan Prasetiyo A. E., 2014. Aplikasi Mina Grow pada Budidaya Ikan Air Tawar. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2014. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Sabtu, 21 April 2018

Pengawetan Ikan Menggunakan Biji Picung Beku

DESKRIPSI TEKNOLOGI

Biji picung (Pangium edule Reinw.) telah lama digunakan sebagai pengawet ikan oleh nelayan di daerah Banten, Jawa Barat, Sulawesi Utara, serta daerah lain yang sulit mendapatkan pasokan es. Dalam pemanfaatannya, nelayan biasa mencampurkan picung yang telah dicacah yang dicampur dengan garam, kemudian melumurkannya ke seluruh permukaan dan bagian rongga perut ikan. Dalam praktek, penggunaan picung ini dapat mengawetkan ikan selama beberapa hari.
Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa penggunaan 3 – 4 % picung yang dicampur dengan 2 – 3 % garam, dapat mempertahankan kesegaran ikan hingga 4 hari pada suhu ruang. Selain itu, secara in vitro ekstrak picung terbukti mampu mengambat pertumbuhan baik bakteri Gram positif maupun Gram negatif seperti Staphylococcus aureus, Pseudomonas fluorescens, Salmonella thypimurium, Enterobacter aerogenes dan Micrococcus lactis.
Hasil penelitian di laboratorium dan penggunaan secara tradisional di lapangan menunjukkan bahwa potensi pemanfaatan biji picung untuk menghambat proses ikan sangat terbuka luas. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa kendala teknis dalam penggunaannya di lapangan. Di antaranya adalah waktu panen picung yang hanya sekali dalam setahun sehingga ketersediaannya terbatas pada musim tertentu; proses penyiapannya kurang praktis karena biji picung harus dipisahkan dulu dari cangkangnya lalu dicacah setiap akan digunakan. Selain itu, biji yang telah dipisahkan dari cangkangnya mudah berubah warna menjadi kecoklatan. Pencoklatan yang diakibatkan oleh aktivitas enzim fenol oksidasi di dalam biji picung ini menyebabkan penurunan daya pengawetan biji picung terhadap ikan segar, selain tentu saja akan mempengaruhi warna ikan yang diawetkan.
Oleh karena itu, diperlukan suatu teknologi yang dapat menjamin ketersediaan biji picung sepanjang tahun dalam bentuk yang praktis, mudah digunakan sekaligus memiliki daya pengawetan ikan yang tinggi. Pengawetan biji picung dengan cara pengeringan telah dicoba dilakukan, namun hasilnya tidak memuaskan karena biji picung menjadi coklat dan daya pengawetan terhadap ikan pun sangat berkurang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembekuan biji picung dapat menghambat kerja enzim yang berperan dalam proses oksidasi biji picung yang menyebabkan biji picung berwarna coklat. Kemampuan biji picung untuk mengawetkan ikan masih dapat dipertahankan meskipun disimpan dalam kondisi beku. Penggunaan biji picung beku pada ikan nila dapat memperpanjang daya simpan ikan hingga 3-4 kali lebih lama jika dibandingkan dengan ikan nila tanpa pengawetan. Ikan yang disimpan pada suhu ruang tanpa pengawetan hanya bisa bertahan selama 8-12 jam saja. Selain itu biji picung beku mempunyai daya anti bakteri khususnya E. coli dan S. aureus.
PENGERTIAN
Picung (Pangium edule Reinw) adalah tumbuhan yang tergolong Spermatophyta. Biji buah picung dalam bentuk terfermentasi dikenal sebagai keluwak adalah tanaman liar yang banyak ditemui di hutan pada ketinggian hingga 1.000m. Biji picung banyak mengandung asam sianida dan tanin, yang diyakini berfungsi sebagai bahan pengawet. Asam sianida bersifat antimikroba, tetapi dalam jumlah banyak dapat menyebabkan keracunan pada manusia. Meskipun demikian, penggunaan biji picung sebagai pengawet ikan tidak membahayakan kesehatan dan keselamatan konsumen karena asam sianida diketahui mudah menguap dalam suhu ruang.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Persyaratan Teknis
Selama proses pengupasan dan pencincangan biji picung harus diusahakan agar proses pencoklatan dihindarkan dengan selalu menggunakan suhu rendah, mengurangi cahaya, dan bekerja cepat. Selama disimpan, biji picung beku diusahakan tetap dalam keadaan beku. Kemudian pada tahap pelelehan dan aplikasi, biji picung beku sebaiknya tidak terpapar langsung dengan sinar matahari. Konsentrasi biji picung beku yang digunakan untuk pengawetan ikan harus tidak melebihi konsentrasi yang dianjurkan.
Rincian teknologi
Teknologi penyiapan biji picung beku:
1. Penyiapan biji picung cincang (sebaiknya dilakukan pada ruang tertutup bersuhu rendah) :
 Buah picung dikupas kulitnya dan diambil bijinya
 Biji picung dibersihkan lalu dibuka dengan memecahkan kulitnya
 Bagian dalam biji picung dicungkil, dikumpulkan dan dicincang
2. Pengemasan biji picung cacah
 Biji picung cincang dikemas dalam kantong plastik berukuran ± 1 kg
3. Pembekuan: biji picung dalam kemasan plastik dibekukan pada suhu -10o s/d - 18°C selama beberapa jam, selanjutnya disimpan dalam keadaan beku
4. Aplikasi pada ikan
 Biji picung beku dilelehkan pada suhu ruang sebelum digunakan
 Konsentrasi yang disarankan sebanyak 4% dari bobot ikan segar, penggunaannya dapat dikombinasikan dengan garam sebanyak 1-2% dari bobot ikan
 Biji picung dilumurkan ke seluruh permukaan ikan dan dimasukkan ke rongga perut ikan yang telah disiangi isi perutnya. Perlu diperhatikan bahwa sejak pemanenan, biji picung harus dilindungi dari cahaya matahari, udara (oksigen) dan suhu tinggi. Proses produksi biji picung beku ini sebaiknya dilakukan secara bertahap, tanpa menunggu bahan baku terkumpul dalam jumlah banyak. Karena biji picung yang tidak segera dibekukan akan menjadi coklat dan daya awetnya menurun. Pada saat pendistribusian, biji picung beku harus dijaga dalam kondisi beku dan tidak terpapar sinar matahari.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
 Biji picung beku sangat praktis karena tidak perlu memecahkan, mencungkil dan mencincang biji picung setiap akan mengawetkan ikan,
 Dalam keadaan beku dapat tersedia dengan daya pengawetan yang sama sepanjang tahun tanpa terkendala musim,
 Biji picung beku memang tidak lebih unggul dibandingkan pengawetan dengan suhu rendah/es yang hingga saat ini masih tidak tergantikan.
Akan tetapi teknologi ini memberikan solusi untuk daerah-daerah di mana refrigerasi/es tidak tersedia, seperti di daerah terpencil, yang masyarakatnya lebih banyak mengenal ikan asin daripada ikan segar.
 Teknologi ini dapat mencegah penyalah-gunaan bahan pengawet berbahaya seperti formalin untuk mengawetkan ikan.
 Mudah diterapkan dalam sistem usaha kelautan dan perikanan secara berkelanjutan seseuai dengan daerah pengembangan (ekologi, sosial budaya, ekonomi, teknis, infrastruktur, fiksal, hukum dan kelembagaan)
 Teknologi pengawetan biji picung dapat mendorong berkembangnya industri bahan pengawet alami yaitu biji picung beku, yang aman dan mudah digunakan di pusat-pusat penjualan ikan segar yang terpencil atau yang tidak terjangkau oleh pasokan es. Teknologi pembekuan ini dapat dintroduksikan kepada UKM atau koperasi nelayan yang berada di wilayah terpencil.
 Industri biji picung beku bahkan dapat mendorong pembudidayaan pohon picung, terutama di lahan kering atau lahan terlantar, sehingga produksi dapat ditingkatkan, karena saat ini ketersediaan biji picung masih terbatas karena masih mengandalkan tanaman yang ada di hutan/kebun dan tidak tersebar merata di seluruh Indonesia.
WAKTU DAN LOKASI REKOMENDASI
Aplikasi biji picung beku untuk pengawet ikan masih dilakukan pada skala laboratorium, karena belum ada investor yang tertarik untuk membuat biji picung beku.
Teknologi ini layak diterapkan di tempat pendaratan ikan yang terpencil dan susah mendapatkan pasokan es sebagai pengawet. Sasaran pengguna teknologi (pembuat biji picung beku dan pengguna biji picung beku dalam pengawetan ikan) adalah UKM atau koperasi nelayan terutama yang memiliki fasilitas mesin penyimpan dingin (beku.)
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Tanaman picung mengandung asam sianida yang cukup besar jumlahnya baik pada batang, daun dan buahnya. Namun demikian, asam sianida bersifat mudah menguap bahkan pada suhu kamar sehingga akan hilang pada saat ikan dimasak, sehingga tidak beresiko terhadap kesehatan dan keselamatan konsumen.
KELAYAKAN FINANSIAL
Biaya pengawetan ikan menggunakan es memerlukan biaya sekitar 1000-3000 rupiah/kg ikan (tergantung lama penyimpanan), bila es ditambahkan terus menerus dapat mengawetkan ikan hingga 10-12 hari. Pengawetan dengan biji picung beku memerlukan sekitar 500 rupiah/kg ikan dengan daya awet 2-3 hari. Tanpa pengawetan, ikan akan busuk dalam waktu 8 jam. Biaya pengangkutan biji picung beku ke pusat pendaratan ikan jauh lebih mudah, lebih praktis dan lebih murah dibandingkan dengan pengangkutan es, atau pengangkutan biji picung segar yang masih bercangkang.
T I N G K AT K O M P O N E N D A L A M NEGERI
Bahan baku yang diperlukan, yaitu buah picung (Pangium edule Reinw.) merupakan tanaman asli Indonesia, banyak tersebar di hutan daerah dataran tinggi di beberapa wilayah Indonesia.
Sumber:
Heruwati E. S., Rachmawati N., dan Hermana I., 2013. Pengawetan Ikan Menggunakan Biji Picung Beku. Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.