Jumat, 11 Mei 2018

Pembenihan Rajungan (Portunus pelagicus)

DESKRIPSI TEKNOLOGI


Tujuan dan Manfaat Penerapan Teknologi

Rajungan (Portunus pelagicus) kini telah menjadi salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi. Hasil olahan komoditas tersebut menjadi salah satu makanan kegemaran (luxury food) di Amerika dan negara Eropa. Rasa yang lezat dan kandungan nutrisi cukup tinggi (healty food) menyebabkan permintaan akan komoditas ini semakin meningkat.

Hasil olahan rajungan atau yang juga dikenal dengan nama Blue Swimming Crab banyak diekspor ke pasaran Amerika, Australia, Jepang dan Uni Eropa. Pasokan daging olahan tersebut bahkan memberikan kontribusi 80% terhadap market share Amerika. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat setiap tahunnya nilai ekspor rajungandan rajungan mengalami peningkatan. Pada tahun 2007 menempati urutan ketiga setelah udang dan tuna yaitu sejumlah 21.510 ton dengan nilai 170 juta dolar AS. Sedangkan untuk tahun 2011 nilai ekspor rajungandan rajungan mencapai 250 juta dolar AS atau mengalami kenaikan 10 - 20 persen.

Hasil samping (by product) produksi rajungan berupa cangkang atau karapasnya rajungan juga mempunyai nilai jual cukup tinggi. Berat cangkang berkisar 25 - 50% dari bobot tubuh. Cangkang merupakan salah satu sumber chitin dan dapat diolah menjadi senyawa-senyawa polisakarida seperti chitin [(C8H13NO5)n]. Chitin tersebut dapat diolah lebih lanjut menjadi chitosan [(C6H11NO4)n] dan glucosamin (C6H13NO5). Produk chitin dan chitosan sangat dibutuhkan dibanyak bidang, terutama kedokteran, farmasi, industri tekstil, pengolahan limbah, pertanian, peternakan dan perikanan sehingga dapat mendukung dan mensukseskan program blue economy Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Hingga saat ini, bahan baku mentah rajungan masih mengandalkan hasil penangkapan dari alam. Usaha budidaya di tambak atau karamba telah mulai dirintis, namun belum memberikan kontribusi terhadap penambahan volume ekspor. Harga yang semakin meningkat dan permintaan pasar yang semakin banyak mendorong terjadinya penangkapan rajungan secara besar-besaran. Penangkapan rajungan pada beberapa daerah dirasakan semakin meningkat kemudian cenderung stagnan. Sebagai contoh, hasil tangkapan rajungan di Sulawesi Selatan pada tahun 2003 telah mengalami penurunan menjadi 2.886,9 MT dari kisaran 3.335,3 MT pada tahun sebelumnya. Penurunan stok populasi ini, apabila tidak diantisipasi, akan berpotensi menurunkan kontribusi bagi pendapatan asli daerah dan menghilangkan kesempatan kerja khususnya di daerah pesisir.

Melihat hal tersebut, maka upaya penyediaan bahan baku mentah rajungan secara periodik perlu dilakukan. Salah satu upaya untuk dapat memenuhi bahan baku mentah adalah dengan melakukan budidaya atau melakukan penebaran benih melalui kegiatan culture based fisheries (CBF) pada habitat rajungan yang bertujuan untuk peningkatan stok populasi (stock enhancement). Kedua kegiatan tersebut dapat berjalan sinergi yang bertujuan untuk ketersediaan bahan baku rajungan. Selain itu kegiatan culture based fisheries (CBF) merupakan tuntutan konsumen luar negeri untuk memastikan produk yang mereka gunakan merupakan sumberdaya yang berkelanjutan (environment suistanable) yang tetap terjaga kelestariannya. Kendala utama dalam melakukan budidaya atau culture based fisheries (CBF) adalah ketersediaan benih. Selama ini, benih rajungan hanya diperoleh dari hasil tangkap di alam. Akan tetapi, degradasi lingkungan dan over exploitation terhadap rajungan sangat berpengaruh terhadap ketersediaan benih di alam. Dengan demikian, upaya perbenihan diharapkan menjadi solusi bagi ketersediaan dan kontinyuitas benih. Perkembangan teknologi pembenihan rajungan mempunyai manfaat yang signifikan antar lintas sektor usaha selain berkembangnya segmentasi usaha baru budidaya perikanan sektor industri perikanan tangkap mendapat manfaat yang cukup signifikan dari perkembangan teknologi pembenihan rajungan. Dengan teknologi pembenihan rajungan kebutuhan benih untuk kegiatan culture based fisheries (CBF) dapat tersedia dengan mutu terjamin baik kualitas maupun kuantitasnya. Dengan kegiatan culture based fisheries (CBF) yang rutin dan kontinyu pendapatan nelayan penangkapan rajungan meningkat dan kebutuhan bahan baku bagi industri pengolahan terpenuhi.

PENGERTIAN / DEFINISI

a. Culture Based Fisheries (CBF) adalah Pengelolaan Perikanan Berbasis Budidaya dalam rangka meningkatkan produktivitas perairan umum dengan menitikberatkan pada penambahan atau mempertahankan organisme perairan, memperbaiki lingkungan perairan, dan meningkatkan produksi perikanan.
b.Stock enhancement adalah kegiatan peningkatan stok yang meliputi seluruh kegiatan yang bermuara pada penebaran benih rajungan untuk peningkatan stok di perairan umum dan laut (habitatnya).
c.Over exploitation adalah pemanfaatan hasil sumberdaya rajungan yang berlebihan dan tidak bertanggungjawab tanpa memperhatikan kelestariannya.
d. Substrat adalah tempat induk rajungan berlindung dan mengerami telurnya.
e. Pemilahan ukuran (grading) : Pemisahan ukuran benih rajungan berdasarkan ukuran tertentu untuk keseragaman benih dan menghindari kematian akibat kanibalisme.
f. Shelter : Tempat berlindung benih/larva rajungan untuk menghindari kanibalisme
g. Sekat – sekat Pemeliharaan Induk adalah Tempat pemeliharaan induk denganpembatas yang terbuat dari bambu / kayu untuk menghindari kanibalisme.
h. Tingkat Kematangan Ovarium adalah Tingkatan perkembangan karakteristik seks sekunder pada induk rajungan
I. Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) adalah cara mengembangbiakan ikan dengan cara melakukan manajemen induk, pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva/benih dalam lingkungan yang terkontrol, melalui penerapan teknologi yang memenuhi persyaratan biosecurity, mampu telusur (traceability) dan keamanan pangan (food safety).
j. Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah Dokumen yang menjelaskan cara kerjasuatu proses produksi pembenihan rajungan.
k. Biosecurity adalah upaya pengamanan sistem pembenihan dari kontaminasi organisme pathogen dari luar dan mencegah berkembangnya organisme pathogen ke lingkungan pembenihan rajungan.

APLIKASI TEKNIS

Kegiatan Pra Produksi
Kegiatan pra produksi pembenihan rajungan meliputi kegiatan pengetahuan tentang pengenalan biologi rajungan yang meliputi pengenalan spesies, morfologi, habitat, kebiasaan makan, perkembangan dan pertumbuhan rajungan.
a. Sistematika
Rajungan merupakan biota laut dengan sistematika sebagai berikut :
b. Morfologi
Secara umum, rajungan mempunyai karapas yang lebar, berbentuk bulat pipih dengan warna yang sangat menarik. Lebar kaparas dapat mencapai ukuran 2 1/3 ukuran panjang. Permukaan karapas mempunyai granula halus dan rapat atau malah kasar dan jarang. Pada kiri dan kanan karapas terdapat duri besar dengan jumlah sembilan buah dan empat buah antara kedua matanya serta mempunyai lima pasang kaki jalan. Kaki jalan pertama besar, disebut dengan capit yang berfungsi memegang mangsa. Kaki jalan ke- 2, ke-3 dan ke-4 tetap berfungsi sebagaimana biasa sedangkan kaki jalan terakhir mengalami modifikasi pada dua ruas terakhir. Modifikasi berbentuk pipih dan ada bundar seperti sebuah dayung, berfungsi sebagai alat renang. Dayung tersebut mempunyai keistimewaan dapat berputar 360º, sehingga memunyai kecepatan yang lebih dibanding rajungan jenis lain. Oleh karena itu, rajungan juga sering juga disebut sebagai rajungan yang pandai berenang (swimming crab). Jantan mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dengan capit yang lebih panjang dari betina. Warna dasar rajungan jantan adalah kebiru – biruan dengan bercak putih terang, sedang betina berwarna kehijau – hijauan dengan warna agak kusam. Perbedaan warna ini nampak jelas pada individu yang agak besar walaupun belum dewasa. Jenis kelamin rajungan dapat dibedakan secara eksternal. Rajungan jantan organ kelaminnya menempel pada bagian perut berbentuk segitiga dan agak meruncing. Betina bentuknya cenderung membulat berbentuk huruf V atau U terbalik. Perbedaan jenis kelamin juga dapat dilakukan dengan membandingkan berat capit terhadap berat tubuh. Pada perkembangan awal saat lebar karapas antara 3 – 10 cm, berat capit mencapai kisaran 22 % dari berat tubuh. Setelah ukuran karapasnya mencapai 10 – 15 cm, capit rajungan jantan menjadi lebih besar, berkisar 30 – 35 % dari berat tubuh, sementara capit betina sama 22 % dari berat tubuh.
Gambar 1. Tampak atas rajungan betina (2A), tampak bawah abdomen betina (2B). Tampak atas rajungan jantan (2C) dan tampak bawah abdomen jantan (2D)
c. Habitat Rajungan
Penyebaran rajungan meliputi daerah Atlantik, Lautan teduh, Laut Merah, Jepang, Selandia Baru, Pantai Timur Afrika dan Indonesia serta ditemukan pula di Singapura, Philipina, Australia, Jepang dan China. Rajungan dapat hidup di berbagai ragam habitat, termasuk tambak- tambak ikan di perairan pantai yang mendapatkan masukan air laut dengan baik. Kedalaman perairan tempat rajungan ditemukan berkisar antara 0 – 60 m. Substrat dasar habitat sangat beragam mulai dari pasir kasar, pasir halus, pasir bercampur lumpur, sampai perairan yang ditumbuhi lamun. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang mempunyai salinitas lebih tinggi. Saat telah dewasa, rajungan yang siap memasuki masa perkawainan akan bermigrasi di daerah pantai. Setelah melakukan perkawinan, maka akan kembali ke laut untuk menetaskan telurnya. Saat fase larva masih bersifat planktonik yang melayang – layang dilepas pantai, sedangkan fase megalopa berada di dekat pantai dan kembali ke daerah eustaria setelah mencapai rajungan muda.
d. Kebiasaan Makan
Saat masih larva, rajungan cenderung sebagai pemakan plankton (Plankton feeder). Semakin besar ukuran tubuh, rajungan akan menjadi omnivora atau pemakan segala. Jenis pakan yang disukai saat masih larva antara udang – udangan seperti rotifera sedangkan saat dewasa telah menjadi omnivora scavenger dan bersifat kanibal akan memakan segala seperti ikan rucah, bangkai binatang, siput, kerang-kerangan, tiram, moluska dan jenis crustacea lainnya terutama udang-udang kecil, pemakan bahan tersuspensi di dataran lumpur dan bahan terdeposit. Kebiasaan dalam mencari makan adalah membenamkan diri dalam pasir dan hanya menonjolkan kedua matanya. Rajungan bersifat menunggu ikan atau invertebrata lainya yang mendekat untuk diserang dan dimangsa.
e. Perkembangan dan Pertumbuhan Rajungan
Induk yang matang gomad saat ovulasi akan mengeluarkan telur. Sebelum dilepaskan keluar tubuh, telur tersebut akan dan melalui spermateka, yaitu kantung sperma yang ada pada bagian pleopod betina. Spertemateka umumnya telah berisi sperma jantan yang telah dititipkan saat terjadi perkawinan atau kopulasi. Umumnya, telur yang melewati spermateka secara otomatis akan terbuahi.

Telur yang keluar dari tubuh akan terkumpul dengan bantuan pleopod dan dierami pada bagian bawah abdomen. Masa pengeraman atau inkubasi berkisar 9 – 10 hari. Saat telur pertama kali di erami akan berwarna kuning muda. Proses embriogenesis menyebabkan warna berubah menjadi oranye, kemudian coklat kehitaman. Warna coklat kehitaman menunjukkan bahwa bintik mata (eye spot) telah terbentuk.
Gambar 2. Perkembangan warna pada masa inkubasi induk rajungan pasca melepaskan telur (salin). Warna oranye menunjukkan masa inkubasi 3 – 4 hari (kiri), warna coklat kehitaman berkisar 5 – 6 hari (kanan)

Bila saat menetas tiba, induk rajungan akan mengais kumpulan telur menggunakan kaki jalan. Telur rajungan akan menetas menjadi pre zoea atau langsung menjadi zoea. Pre zoea akan menjadi zoea setelah lebih kurang 30 menit menetas. Zorea yang sehat berwarna transparan cerah dan berenang mendekati permukaan air. Zoea rajungan bersifat melayang dalam air (planktonis) dan akan melalui empat sub stadia zoea selama 8 – 9 hari. Pada zoea 1, nampak bahwa karapas mempunyai sepasang mata yang tak bertangkai, sepasang spina lateralis si samping kiri dan kanan yang pendek dan tajam, sebuah spina dorsalis dibagian punggung dan sebuah spina mirip rostrum yang lebih pendek dari spina dorsalis. Abdomen terdiri dari 5 ruas dan di ujung abdomen terdapat telson yang terdiri dari 2 furca. Perkembangan pada sub stadia ini akan dilalui selama 2 – 3 hari. Memasuki zoea 2, mata mulai bertangkai dan pada telson terlihat tambahan sebuah rambut sederhana (simple setae) tepat dibagian tengah lengkungan sebelah dalam. Pada bagian ventral cephalothorax, nampak tonjolan pada periopod 1 hingga ke-5. Pada kondisi optimal, perkembangan pada sub stadia zoea 2 akan dilalui selama 2 hari. Saat memasuki zoea 3, abdomen telah bertambah menjadi 6 ruas. Tonjolan pada periopod 1 nampak berkembang lebih besar di banding yang lain. Selain itu, terlihat pula tonjolan pleopod pada bagian abdomen. Perkembangan sub stadia zoea 3 akan berlangsung selama 2 hari. Pada zoea 4, periopod 1 mulai membesar berbentuk capit sedangkan pleopod ke-2 hingga ke-5 akan berkembang semakin panjang. Sub stadia zoea 4 akan di lalui selama 2 hari.

Selanjutnya larva melakukan metamorfosis menjadi megalopa. Metamorfosis zoea dilakukan melalui perobekan lapisan kulit di bagian punggung yaitu antara cephalothorax dan abdomen. Pada fase ini, bentuk sudah mulai mirip rajungan dewasa, tubuhnya makin melebar, kaki dan sepitnya makin jelas wujudnya, sedangkan mata akan membesar. Karapas berbentuk segi empat memanjang tanpa spina dorsalis dan lateralis. Panjang karapas rata-rata mencapai 1,40 mm, diukur dari bagian frontal mata hingga posterior. Lebar karapas rata-rata mencapai 1,20 mm, diukur pada bagian terlebar mulai tepi kanan hingga tepi kiri. Pada karapas masih terlihat rostrum yang tajam dan menonjol ke depan dengan panjang berkisar setengah dari antena. Periopod 1 berbentuk capit sedangkan abdomen menjadi lebih pendek dan terlihat kaku. Salah satu ciri bahwa megalopa telah melakukan metamorfosis adalah timbulnya kanibalisme. Pada fase megolopa tidak terdapat sub stadia seperti pada zoea dan sudah bersifat menetap di dasar substrat (benthik). Setelah 5 – 6 hari maka megalopa akan berubah menjadi crab atau rajungan muda.
Crab 1 ditandai dengan panjang karapas yang lebih pendek dibanding lebarnya. Dua ruas terminal yaitu propodus dan dactylus pada pasangan periopod ke-5 sudah sangat memipih dan berfungsi untuk berenang. Abdomen sudah terlihat mengecil dan terlipat di bagian bawah cephalothorax. Crab muda terlihat suka membenamkan diri dalam substrat pasir.

Selama proses tumbuh menjadi dewasa, rajungan akan mengalami beberapa kali pergantian kulit atau moulting. Pergantian kulit terjadi karena rangka luar pembungkus tubuhnya tidak lagi dapat membesar sehingga perlu dibuang dan diganti dengan yang lebih besar. Rajungan yang baru berganti kulit, tubuhnya masih sangat lunak sehingga diperlukan beberapa waktu untuk dapat membentuki kulit pelindung yang keras. Frekuensi ganti kulit akan berkurang apabila rajungan telah bertelur. Umumnya hanya berlangsung sekali setahun atau bahkan mungkin hanya sekali dalam beberapa tahun. Pada rajungan dewasa, aktivitas ganti kulit dihentikan dan akan berlangsung aktivitas reproduksi atau pertumbuhan somatik.
Persyaratan Teknis

a. Sumber Air
Sumber air yang digunakan untuk operasional kegiatan adalah air laut. Air laut yang digunakan harus bersih bebas dari bahan pencemar, jauh dari kegiatan industri (pabrik, pelabuhan dll), sebaiknya dipilih lokasi pesisir pantai berkarang atau berpasir dan tidak berlumpur. Bila kondisi perairan berlumpur diperlukan bak pengendapan untuk mendapat air yang sesuai kelayakan hidup rajungan. Penggunaan system sand filter disrankan untuk mengurangi bakteri pathogen yang merugikan. Perairan yang mengandung kadar besi tinggi tidak disarankan karena memerlukan biaya operasional lebih untuk perlakuan awal. Air sebaiknya dialirkan dengan cara gravitasi namun bila tidak memungkinkan sebaiknya dibuat sistem tandon/ penampungan air.

b. Lokasi
Lokasi pembenihan sebaiknya dekat dengan akses jalan raya, telepon, listrik (PLN) dan kawasan budidaya perikanan untuk memudahkan pemasaran hasil pembenihannya. Untuk mengurangi biaya operasioanal sebaiknya lokasi di pesisir pantai sehingga memudahkan dalam pemompaan air laut yang merupakan kebutuhan utama operasioanal pembenihan rajungan. 

c. Peralatan Perikanan Peralatan yang dibutuhkan untuk kegiatan pembenihan meliputi pompa dan sistem aliran air, hiblow atau blower untuk sumber aerasi,peralatan sistem aerasi, baskom, ember, timbangan, tabung oksigen dan regulator, thermometer, refraktometer, pH meter (optional), DO meter (optional), dan mikroskop (optional).

d. Bahan Perikanan
Bahan perikanan yang digunakan untuk proses pembenihan rajungan meliputi : induk jantan dan betina, pakan induk, artemia, alga (Nannochloropsis sp.) dan rotifer (Brachionus sp.), pakan buatan, obat – obatan/probiotik dan formalin.
e. Wadah
Proses pengelolaan induk memerlukan wadah berupa bak beton ukuran 5 m X 2 m X 1 m yang dilengkapi penyekat dan substrat pasir putih setinggi 30 cm. ataupun dapat mengguanakan bak fiber persegi ukuran 5 m X 1 m X 1 m yang dilengkapi penyekat dan substrat pasir putih, proses pemijahan/ penetasan induk dapat menggunakan fiber bulat kapasitas 500 Liter warna gelap. Wadah pemeliharaan larva dapat berupa fiber glass konikal kapasitas 250 liter warna gelap atau bak beton ukuran 5 m X 2 m X 1 m. Corong penetasan artemia kapasitas 20 – 30 liter. Bak plankton berupa bak beton ukuran 10 m x 4 m x 1,5 m sebanyak 4 buah dan bak kultur rotifer ukuran 3 m X 1,5 m X 1 m sebanyak 6 – 8 buah. Sedangkan untuk hatchery skala rumah tangga (HSRT/ backyard) umumnya bak pemeliharaan larva hanya ditutup dengan terpal.

Tabel 1. Spesifikasi Wadah / Bak Pembenihan Rajungan
Bak pemeliharaan larva stadia zoea sebaiknya menggunakan bak fiberglass konikal volume 250 L. Bak konikal mempunyai beberapa keunggulan antara lain: lebih efektif dalam pengontrolan dan pengeluaran kotoran, kepadatan larva dapat lebih tinggi, kebutuhan pakan alami terutama Brachionus dapat dioptimalkan.

f. Panti Benih
Panti benih dapat berupa bangunan permanen atau semi permanen. Secara prinsip, bangunan harus dapat memanfaatkan panas secara alami dan pemanasan buatan hanya digunakan bila kondisi darurat. Pemanfaatan panas alami dapat dilakukan dengan pengaturan tinggi dan atap bangunan. Tinggi bangunan cukup disesuaikan dengan kebutuhan lalu lintas pelaksana pembenihan dan wadah pembenihan. Atap bangunan dapat menggunakan bahan fiberglass tembus cahaya yang disesuaikan dengan kebutuhan kelayakan hidup benih rajungan. Ruang indoor harus dapat mempertahankan suhu ruang agar cukup tinggi dengan kisaran 36 – 42oC (suhu air media pemeliharaan larva/benih berkisar antara 28-31 C). Suhu cukup o tinggi/optimal tersebut akan menunjang laju pertumbuhan lebih cepat, konversi pakan lebih kecil, serta resiko terserang penyakit lebih rendah. Untuk bak-bak larva/benih pada hatchery skala rumah tangga (HSRT/backyard) umumnya cukup menutupnya dengan terpal.

Gambar 3. Contoh skema layout pembenihan Rajungan
Prosedur Teknis / Standar Operasional Prosedur (SOP)
Teknologi pembenihan rajungan (Portunus pelagicus) merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dari kegiatan persiapan sarana prasarana dan sterilisasi air, pemilihan dan pemeliharaan induk, penetasan larva, pemeliharaan larva, pengelolaan pakan, kultur dan pengkayaan pakan alami, pemeliharaan megalopa dan crablet, pengelolaan kualitas air, pemilahan ukuran (grading) dan panen. Rangkaian kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan dalam pelaksanaan penerapan teknologi pembenihan rajungan (Portunus pelagicus).

Adapun penerapan masing – masing rangkaian kegiatan tersebut sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) adalah sebagai berikut :

a. Persiapan Sarana Prasarana dan Sterilisasi Air
Persiapan sarana, prasana dan sterilisasi air merupakan langkah awal pada proses pembenihan untuk menunjang keberhasilan kegiatan yang akan dilaksanakan. Persiapan sarana prasarana meliputi kegiatan persiapan pada bak tandon air, bak induk, bak penetasan dan bak pemeliharaan larva. Persiapan dilakukan dengan mencuci dan menggosok dengan larutan kaporit 15 ppm atau menggunakan deterjen. Selanjutnya dibilas dengan air streril. Aerasi dan kelengkapannya serta semua peralatan yang akan digunakan pada proses produksi direndam dalam larutan formalin 100 ppm selama 24 jam. Peralatan tersebut kemudian dibilas dengan air steril hingga bersih. Peralatan tersebut kemudian dikeringkan minimal 24 jam sebelum digunakan. Air yang digunakan dalam proses produksi merupakan hasil dari proses filtrasi menggunakan metode sand filter. Filter tersebut bertingkat mulai dari lapisan batu kali, arang, ijuk dan pasir kwarsa, kemudian ditampung dalam bak penampungan. Air bersih sebelum masuk ke bak pemeliharaan larva disterilkan menggunakan radiasi lampu ultraviolet. Penyinaran lampu ultraviolet ini bertujuan untuk membunuh bakteri patogen yang mungkin masih ada dalam air.

b. Pemilihan dan Pemeliharaan Induk
Induk yang digunakan pada pemeliharaan rajungan adalah induk alam hasil tangkapan nelayan yang diperoleh dari pengumpul. Induk – induk tersebut kemudian diseleksi dengan persyaratan : organ tubuh lengkap, tidak cacat, gerakan lincah, berat induk antara 150 – 250 gram dengan panjang karapas antara 5-8 cm dan lebar karapas 10-13 cm. Induk setidaknya telah mencapai tingkat kematangan ovarium (TKO) II yang berwarna putih buram saat diamati dari sambungan (joint) antara karapas dengan abdomen terakhir. Induk yang telah diseleksi kemudian dibawa ke lokasi pembenihan. Setelah sampai di lokasi pembenihan semua induk rajungan diadaptasikan dengan kondisi lingkungan pembenihan. Sterilisasi dan pencegahan terhadap infeksi penyakit dan parasit dilakukan dengan merendam induk dalam larutan formalin sebelum dimasukkan ke bak pemeliharaan. Tiap induk dimasukkan dalam wadah/waskom yang diisi air laut 10 Liter dengan kandungan 25 ppm larutan formalin. Perendaman dilakukan selama 15 – 30 menit, serta diaerasi terus menerus. Induk kemudian dimasukkan kedalam bak pemeliharaan induk ukuran 1,5 m x 2 m x 1 m dengan kepadatan 1 - 2 individu /m2. Perbandingan antar induk jantan dan betina adalah 1 : 1. Ketinggian air pemeliharaan induk berkisar 20 – 30 cm. Air yang digunakan adalah air steril dengan salinitas 30 – 33 ppt. Kanibalisme antar induk dicegah dengan sekatsekat bambu yang berisi 1 individu induk dalam satu sekat. Sekat – sekat dibuat dengan ukuran 60 X 60 X 60 cm. Sekat diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan dalam pengontrolan. Sekat pemeliharaan induk dapat terbuat dari bambu atau kayu.

Dasar bak berisi hamparan substrat pasir koral setinggi kurang lebih 10 – 15 cm. Pada subtrat diletakkan potongan pipa PVC dengan diameter berkisar 20 - 30 cm. Sebagai sumber oksigen di dalam air, bak dilengkapi dengan aerasi. Batu aerasi dipasang setinggi 5 cm di atas permukaan pasir agar tidak menyebabkan dasar pasir teraduk. Pengamatan induk dilakukan setiap hari untuk mengetahui induk tersebut telah siap memijah atau belum. Selama masa pemeliharaan induk diberi pakan cumi – cumi, kerang dan ikan rucah dengan perbandingan 70 % : 30 %. Jumlah pakan antara 10 – 15 % dari bobot tubuh setiap hari. Pakan diberikan dua kali sehari pada pagi dan sore hari dengan perbandingan 30 % : 70 %. Pakan yang tidak termakan disiphon keluar dari bak pemeliharaan. Pergantian air dilakukan setiap pagi hari sebelum pemberian pakan sebanyak 100 – 200 % dengan sistem air mengalir. Pemberian pakan tambahan berupa kerang, tiram dan cacing laut sangat dianjurkan dengan prosentase berkisar 5 – 10%.

c. Penetasan Larva
Induk yang telah memijah ditandai dengan keluarnya telur yang menempel pada lipatan abdomen. Perkembangan telur selalu diamati setiap hari dan perubahan warna akan terlihat dari warna kuning, oranye, coklat kemudian berwarna hitam. Induk yang telurnya telah berwarna hitam segera dipindahkan ke bak penetasan larva volume 100 Liter. Kepadatan yang digunakan adalah satu individu induk dalam tiap wadah penetasan. Pada keadaan normal, telur akan menetas pada malam hari atau pagi hari satu hari setelah induk dipelihara dalam wadah penetasan. Setelah semua telur menetas, aerasi dalam bak penetasan dimatikan. Larva yang sehat akan berkumpul dekat permukaan air. Induk yang telah menetas diambil dan dikembalikan ke bak pemeliharaan induk. Induk rajungan setelah menetaskan telurnya dapat digunakan lagi untuk penetasan berikutnya. Melalui pemberian pakan yang berkualitas dan lingkungan pemeliharaan yang optimal induk tersebut dapat menghasilkan bertelur hingga 2 - 3 kali. Induk rajungan dengan berat 150 – 250 gram dapat menghasilkan sekitar 450.000 – 900.000 larva. Cara menseleksi larva yang bermutu baik dilakukan dengan mengamati warna yang transparan dan cerah, pergerakan yang aktif, respon terhadap cahaya, mengumpul pada bagian tertentu dan tidak mengendap pada dasar bak penetasan. Larva yang kurang bagus umumnya akan mengendap di dasar bak, gerakan kurang aktif dan kurang respon terhadap cahaya. Larva yang sehat kemudian diambil secara perlahan - lahan dengan serok panen ukuran 200 µm. Larva layak dipelihara sebaiknya jika yang mengendap kurang dari 20%. Larva yang telah diseleksi kemudian ditampung dalam wadah volume 10 Liter dan diberi aerasi kemudian dihitung jumlahnya.

d. Pemeliharaan Larva
Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan larva rajungan dapat berupa bak plastik, fiber glass ataupun bak beton. Ukuran bak pemeliharaan larva rajungan dapat bervariasi mulai dari 2.000 – 10.000 m3 ataupun fiber glass ukuran 300 – 1000 m3. Pada pemeliharaan zoea, sangat dianjurkan untuk mempergunakan wadah berukuran antara 100 – 250 Liter untuk lebih memudahkan penanganan dan pengawasan serta mencegah kontaminasi penyakit individu. Bak pemeliharaan larva dilengkapi sistem aerasi yang berfungsi untuk meningkatkan kandungan oksigen terlarut. Aerasi juga berfungsi menciptakan sirkulasi air pada media pemeliharaan serta untuk mempercepat proses penguapan gas beracun hasil proses pembusukan sisa pakan dan kotoran. Jumlah titik aerasi diatur sesuai dengan besaran bak pemeliharaan yang digunakan. Kekuatan aerasi juga harus diatur sedemikian rupa sehingga tekanannya tidak terlalu kuat atau lemah. Air media pemeliharaan yang digunakan adalah air laut dengan salinitas 30 – 32 ppt. Zoea yang telah dipanen dari bak penetasan dipindahkan ke bak pemeliharaan untuk menghindari stress akibat terlalu padat pada wadah penampungan. Sebelum ditebar, larva disterilisasi dengan formalin 20 ppm selama 10 – 15 detik untuk menghindari kontaminasi patogen. Padat penebaran larva sebaiknya antara 50 – 60 individu/Liter. Sebelum larva ditebar, aklimatisasi sebaiknya dilakukan untuk menghindari stres pada larva akibat perbedaan lingkungan pemeliharaan dan bak penetasan. Larva ditebar secara perlahan – lahan dengan memasukkan air media pemeliharaan ke dalam wadah selama kurang lebih 5 – 15 menit. Setelah mampu beradaptasi, maka larva dapat ditebar pada bak pemeliharaan.

e. Pengelolaan Pakan
Kebutuhan akan zooplankton adalah sesuatu yang mutlak sebagai sumber energi pada pemeliharaan larva rajungan. Pakan yang diberikan sangat berpengaruh untuk menunjang aktifitas pertumbuhan larva. Pakan alami yang diberikan selama stadia zoea adalah rotifer (Brachionus plicatilis), Artemia dan pakan buatan. Pakan buatan diberikan sebagai penunjang untuk melengkapi nutrisi yang dibutuhkan larva rajungan ataupun sebagai pengganti pakan alami. Hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan pakan buatan adalah disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi, bukaan mulut dan nafsu makan larva. Pakan buatan yang tidak termakan akan berpotensi menurunkan kualitas lingkungan media pemeliharaan dan menyebabkan stres pada larva.
Rotifer Brachionus plicatilis diberikan dengan kepadatan 10 – 15 individu/ml mulai stadia zoea 1. Selain rotifer, pakan buatan ukuran 150 µm mulai diberikan dengan dosis 0,3 ppm. Memasuki stadia zoea 2, naupli Artemia salina mulai diberikan dengan kepadatan 0,5 – 5 individu/ml dan meningkat seiring pertumbuhan dan pergantian stadia pada larva. Rotifer dan naupli artemia tidak mempunyai kandungan asam lemak EPA dan DHA yang cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan larva. Upaya optimalisasi nutrisi perlu dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi larva sehingga dilakukan pengkayaan pada pakan alami. Hasil kajian yang dilakukan di BBAP Takalar menunjukkan bahwa pengkayaan pakan alami menggunakan asam lemak dengan dosis 200 ppm memberikan hasil yang signifikan pada pertumbuhan dan sintasan larva.

Pada stadia megalopa, pakan yang diberikan adalah naupli artemia yang telah diperkaya. Pemberian rotifer (Brachionus plicatilis) dihentikan karena sudah tidak sesuai dengan ukuran mulut megalopa. Artemia diberikan dengan kepadatan 3 – 5 individu/Liter, sedangkan pakan buatan yang diberikan berukuran 200 – 300 µm dengan dosis pakan buatan yang diberikan adalah 1 ppm. Dosis dan frekuensi pemberian pakan pada pemeliharaan larva rajungan dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Dosis pakan selama pemeliharaan larva rajungan

f. Kultur dan Pengkayaan Pakan Alami
1. Kultur pakan alami
Larva rajungan pada stadia awal membutuhkan pakan alami untuk tumbuh dan berkembang. Pada habitatnya, pakan alami diperoleh dengan berburu zooplankton. Kebutuhan akan zooplankton pada perkembangan larva merupakan sesuatu yang mutlak sebagai sumber energi. Zooplankton yang sering digunakan pada pemeliharaan larva rajungan adalah rotifer, dan artemia.

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pakan alami sebagai makanan bagi larva rajungan adalah :
1. Mempunyai bentuk dan ukuran yang sesuai bukaan mulut larva
2. Mempunyai kandungan gizi tinggi dan bentuk morfologi mudah larva
3. Mempunyai kemampuan berkembang biak dengan cepat
4. Mempunyai toleransi tinggi terhadap perubahan lingkungan
5. Tidak mengeluarkan bahan beracun saat dilakukan kultur massal
6. Pergerakan tidak terlalu aktif sehingga mudah ditangkap oleh larva
Artemia sp mempunyai lapisan eksoskleton yang tipis sehingga mudah dicerna oleh larva, mengandung asam lemak jenis 3 HUFA tinggi serta protein kasar yang dapat mencapai level 54,4 %. Akan tetapi, pada stadia nauplii artemia terjadi defisiensi asam amino terutama histidine, methionine, phenylalanine,dan threonine sedangkan saat dewasa, defisiensi tersebut sudah dapat dilengkapi. Penambahan komposisi asam amino tersebut diperoleh dari pakan alami berupa phytoplankton yang terdapat habitat perairan, misalnya Chlorella sp atau Nannochloropsis sp. Rotifer dan artemia merupakan organisme non selektif plankton feeder. Kandungan nutrisi dalam tubuh tergantung dari nutrient dari lingkungan, baik dari plankton yang dikonsumsi maupun dari pertukaran ion mineral dalam air. Peningkatan nutrisi dapat dilakukan dengan kultur pada media chlorella tipe air laut (Nannochloropsis), pemberian pakan microencapsulated yang mengandung 3 HUFA atau pemberian gabungan suplemen yang terdiri dari vitamin, asam amino dan elektrolit. Hasil kajian yang dilakukan di BBAP Takalar menunjukkan bahwa larva yang diberi pakan alami yang telah diperkaya mempunyai laju pertumbuhan dan sintasan yang lebih baik.

2. Pengkayaan Rotifer dan Artemia
Saat ini, bahan-bahan pengkaya pakan alami telah dapat diperoleh secara bebas di pasaran. Selain bahan - bahan tersebut, pengkayaan (enrichment) rotifer dan artemia juga dapat dilakukan dengan metode perendaman dengan memberikan larutan emulsi minyak hati ikan cod, cuttlefish atau material hewani lain yang mengandung 3 HUFA tinggi. Metode lain adalah dengan melakukan perendaman kista artemia dengan 30% 3 HUFA dalam larutan aseton selama 7 hari pada suhu 23-30°C. Perlakuan tersebut dapat meningkatkan kandungan 3 HUFA dari 3% menjadi 11%. Kultur rotifer atau artemia dilakukan pada media berdasar kerucut, agar cangkang atau kotoran dapat mengendap. Proses dekapsulasi sebaiknya dilakukan sebelum kultur artemia. Dekapsulasi bertujuan mengikis lapisan chorion sehingga waktu kultur akan lebih singkat. Proses tersebut dilakukan dengan mengaduk kista artemia dalam larutan kaporit atau soda api selama lebih kurang 5 - 10 menit. Hal yang perlu diperhatikan adalah suhu larutan sebaiknya berada di bawah 40ºC agar tidak mematikan kista. Jika suhu semakin meningkat maka segera ditambahkan air ke dalam larutan dekapsulasi. Hasil dekapsulasi yang baik adalah warna kista berubah dari coklat ke oranye, kista masih berbentuk butiran halus serta mempunyai tekstur kenyal. Kista yang didekapsulasi akan menetas pada kisaran 15 – 16 jam setelah dikultur, sedangkan bila tanpa dekapsulasi berkisar 24 – 28 jam.

Dosis pemberian bahan pengkaya umumnya berkisar antara 15 – 20 ppm. Kepadatan pakan alami nauplii rotifer atau artemia yang akan diperkaya berkisar 400 – 600 individu/mL. Setengah dari dosis tersebut dilarutkan dalam air tawar, diaduk kuat hingga larut. Larutan yang telah homogen tersebut kemudian di tebar merata dalam wadah pengkayaan rotifer atau artemia. Prosedur tersebut diulang kembali untuk dosis yang ke-2 agar proses pengkayaan berjalan dengan optimal. Perendaman pada stadia nauplii dilakukan selama 6-8 jam. Selanjutnya, rotifer dan artemia yang telah diperkaya siap dipanen dan diberikan pada larva. Panen rotifer atau artemia dari wadah kultur sebaiknya dengan cara siphon atau menggunakan saringan halus. Saringan halus rotifer berkisar 300 mikron. Saringan halus untuk artemia umumnya menggunakan saringan 100 – 150 mikron. Penyaringan dapat dilakukan 2 kali, menggunakan saringan yang lebih besar kemudian dilanjutkan dengan menggunakan saringan yang lebih kecil. 

Tujuan penyaringan tersebut adalah mendapatkan ukuran pakan alami yang sesuai dengan bukaan mulut larva. Pemanenan yang dilakukan dengan cara membuka kran pada bagian bawah wadah kultur sangat tidak dianjurkan. Panen dengan cara demikian akan menyebabkan tekanan air merusak organ tubuh dari pakan alami tersebut. Rusaknya organ tubuh akan menyebabkan kandungan nutrisi terbuang dalam air (leaching), sehingga larva tidak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang. Selanjutnya pakan alami diberikan sesuai dosisnya.

g. Pemeliharaan Megalopa dan Crablet
Setelah larva mencapai stadia megalopa, pelindung (shelter) segera dipasang. Shelter dapat berupa waring hitam yang dipasang pada dasar dan digantung pada kolom air (shelter dasar dan gantung). Shelter dipotong – potong ukuran 1 m (1 x 1 m).2 Pemberian shelter ini sangat berhubungan dengan sifat megalopa yang kanibal. Shelter diharapkan dapat memperluas permukaan substrat dan menjadi tempat persembunyian dari pemangsaan megalopa lain, terutama pada saat ganti kulit (moulting). Megalopa yang telah berubah menjadi crablet dipindah ke bak pendederan. Sebelum dipindah pada bak pendederan, seluruh crablet dihitung untuk mengetahui tingkat keberhasilan pemeliharaan. Shelter dasar dan gantung dipasang pada bak pendederan sebelum crablet ditebar. Crablet dipelihara dengan kepadatan 0,5 individu/L dan dipelihara hingga crablet hari ke-30, atau ukuran karapas berkisar 1- 1,5 cm. Pakan stadia crab dapat berupa biomass artemia, udang rebon, jambret ataupun rebon. Pakan diberikan pagi dan sore hari disesuaikan dengan kebutuhan crablet. h. Pengelolaan kualitas Air

Lingkungan yang optimal pada media pemeliharaan sangat diperlukan untuk menunjang proses pemeliharaan larva. Sumber air yang digunakan pada produksi larva adalah air laut yang telah disaring dengan sand filter dan disterilisasi menggunakan sinar ultraviolet. Probiotik diberikan untuk menekan kepadatan bakteri yang merugikan dan peningkatan laju penguraian bahan organik. Probiotik digunakan setiap 3 hari sekali dengan dosis 3 – 5 ppm. Prinsip kehati-hatian harus tetap diperhatikan dalam penggunaan antibiotik agar tidak menimbulkan strain bakteri yang lebih resisten. Pergantian air mulai dilakukan pada stadia zoea II sebanyak 10 – 20%/hari dan meningkat sampai 80%/hari pada stadia megalopa. Menjelang pergantian stadia menjadi crab, pergantian dapat ditingkatkan menjadi 100%/hari. Pengamatan terhadap parameter kualitas air dilakukan setidaknya setiap tiga hari untuk mengetahui perubahan salinitas, pH, alkalinitas, ammonia, nitrit dan nitrat yang akan berpengaruh pada larva.

I. Pemilahan Ukuran (Grading) Pemilahan ukuran (Grading) dilakukan pada stadia crablet. Grading bertujuan untuk keseragaman ukuran benih dan menekan angka kanibalisme. Grading sebaiknya dilakukan setiap 2 kali/minggu. Bila grading tidak dilakukan, maka populasi akan menurun hingga 50% dalam waktu 7 hari.

j. Panen Crablet yang telah mencapai ukuran lebar karapas (internal carapace width) mencapai 1,5 – 2 cm dapat dipanen dan ditebar di tambak. Crablet sebaiknya dipuasakan dulu sebelum dipanen. Panen dilakukan dengan menyurutkan air yang ada di bak. Crablet diambil dengan serok panen dan ditampung dalam wadah yang diaerasi. Setelah panen selesai dilakukan penghitungan sesuai dengan kebutuhan. Sistem pengemasan pada transportasi jarak dekat dapat dilakukan dengan sistem terbuka dengan cara memasukkan crablet dimasukkan dalam waskom yang diberi potongan-potongan shelter kecil. Bila benih akan ditransportasikan lebih dari 8 jam, maka digunakan kantong plastik kapasitas 5 liter. Satu kantong diisi air 5 Liter dan diberi potongan shelter kecil dan diisi crablet dengan kepadatan 200 – 250 individu/kantong. Setelah diberikan oksigen dan air laut dengan perbandingan 2 : 1, maka kantong plastik diikat rapat dengan karet gelang kemudian dimasukkan dalam styrofoam. Perubahan suhu yang ekstrem dihindari dengan memberikan es batu dalam kantong plastik. Es batu tersebut dibungkus dengan kertas koran dan di atur dalam styrofoam hingga suhu berkisar 20ºC. Styroform kemudian ditutup dan diplester rapat, selanjutnya benih siap ditransportasikan.

Uji Kaji Terap Teknologi
Uji kaji terap teknologi pembenihan rajungan (Portunus pelagicus) telah dilakasanakan di BBAP Takalar dan beberapa hatchery skala rumah tangga (backyard) di wilayah sekitarnya. Hasil dari penerapan teknologi pembenihan rajungan menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan setiap tahunnya. Penerapan teknologi sudah berhasil memproduksi secara massal dengan sintasan rata – rata mencapai 45 %. Adopsi penerapan teknologi telah dilakukan beberapa institusi maupun perorangan dengan melakukan magang teknis teknologi pembenihan rajungan antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Jatim mengirimkan perwakilan 3 instansi Unit Pelaksana Teknisnya (UPTD), Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, Dinas Kelautan dan Perikanan Tanjung Redep Kaltim, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Banten, Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi DKI Jakarta, BPPP Ambon, BPPP Aertembaga Sulut, The Philippines Bureau of Fisheries and Aquatic Resources (BFAR) and The Philippine Association of Crab Processors, Inc. (PACPI), Kementerian Perikanan Sri Lanka, dan perusahaan Swasta dari Malaysia, Taiwan, Jepang dan USA. Hasil dari teknologi pembenihan rajungan berupa benih (crablet rajungan) juga telah dimanfaatkan oleh stakeholder melalui kegiatan restocking/culture based fisheries (CBF) antara lain restocking/culture based fisheries (CBF) benih rajungan 100.000 ekor bersama Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI) di Teluk Laikang Takalar, restocking/culture based fisheries (CBF) benih rajungan ke 1.000.000 ekor oleh Menteri Kelautan dan Perikanan di Makassar, Kerjasama Pengembangan Budidaya Rajungan ditambak dengan ACIAR dan Perusahaan Swasta Pengolahan Rajungan Kemilau Bintang Timur (KBT) Makassar.

KEUNGGULAN TEKNOLOGI
Keunggulan teknologi pembenihan rajungan hingga saat ini tingkat keberhasilan pembenihan rajungan BBAP Takalar merupakan pembenihan dengan tingkat keberhasilan dengan sintasan paling tinggi di dunia yaitu mencapi rata – rata 45 %. Hal tersebut terbukti dengan adanya institusi atau perorangan magang teknis dari berbagai negara seperti Philipina, Jepang, Malaysia, Taiwan, USA dan Srilanka serta beberapa instansi Dinas Kelautan dan Perikanan. Selain itu keunggulan dari pengembangan teknologi pembenihan rajungan antara lain sebagai berikut :
a. Segmentasi usaha baru di bidang perikanan 
b. Dapat dikembangkan dalam skala kecil/rumah tangga (backyard) dan skala besar /industri (hatchery)
c. Tenaga kerja dapat dilakukan anggota keluarga
d. Lokasi dapat memanfaatkan halaman rumah (skala kecil/backyard) terutama pada daerah pesisir/kampung nelayan/pembudidaya 
e. Teknologi yang digunakan sederhana sehingga mudah diadopsi dan diaplikasikan 
f. Siklus produksi relatif singkat hanya 25 -30 hari Dalam aplikasi penerapan teknologi pembenihan rajungan cukup ramah lingkungan. Teknologi pembenihan rajungan tidak menggunakan bahan kimia berbahaya atau sintetis yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan. Bahan baku produksi sebagian besar merupakan bahan lokal yang mudah diperoleh serta limbah hasil proses produksi dengan pengolahan/ treatment yang tepat terlebih dahulu sehingga tidak menyebabkan kerusakan/pencemaran lingkungan. Selain itu penerapan biosecurity secara ketat dan konsisten dapat meminimalisir dampak negatif kerusakan lingkungan sekitarnya.

LOKASI PENELITIAN /PENGKAJIAN
Pengembangan kegiatan pembenihan Rajungan telah dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau Takalar Desa Mappakalompo Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan mulai tahun 2005 sampai dengan sekarang. Sedangkan pengembangan teknologi pembenihan ini kedepannya dapat dilaksanakan di seluruh wilayah pesisir Indonesia mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, NTT, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Papua.

KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Kemungkinan dampak negatif teknologi pembenihan rajungan hampir tidak ada selama mengikuti teknologi anjuran dengan penerapan cara pembenihan ikan yang baik (CPIB), penerapan standar operasional prosedur (SOP) dan biosecurity secara baik dan benar. Kemungkinan dampak negatif dari hasil pembenihan untuk kegiatan culture based fisheries (CBF) berupa stocking yang tidak sehat atau penurunan kualitas genetis dapat dicegah dengan seleksi ketat dan benar mulai dari pemilihan, pemeliharaan induk dan larva serta monitoring pertumbuhan secara periodik dan terkontrol.

TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI :
Komponen material produksi yang digunakan merupakan sebagian besar bahan lokal / dalam negeri sedang material impor/produksi luar negeri yang digunakan adalah pakan larva artemia. 

KELAYAKAN FINANSIAL
Usaha pembenihan rajungan ini merupakan usaha kecil menengah yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat pembudidaya dan nelayan sebagai usaha skala rumah tangga/sampingan dengan tenaga kerja dari anggota keluarga. Adapun biaya operasional kegiatan untuk skala rumah tangga (backyard) untuk 1 unit usaha dibutuhkan biaya investasi Rp. 45.802.500 biaya operasional pertahun dengan 4 siklus produksi sebesar Rp. 26.570.000 per tahun. Dengan hasil produksi diperkirakan sintasan 20% akan menghasilkan 240.000 ekor benih dengan harga benih per ekor Rp. 300 diperoleh hasil persiklusnya Rp. 3.917.579 atau pendapatan pertahun mencapai Rp. 23.505.475 atau pendapatan bersih per bulan mencapai Rp. 1.598.790. Dari segi kalayakan finansial cukup layak dengan B/C ratio mencapai 1,48, rentabilitas ekonomi 88,47 % dengan payback period mencapai 3,19 tahun.
1. Komponen Fasilitas Pembenihan Rajungan skala Rumah Tangga (backyard) meliputi:
a. Bak pemeliharaan larva sebanyak 3 buah ukuran 5 X 2 X 1 m
b. Bak penampungan air kapasitas 20.000 liter
c. Bak kultur Nannochloropsis kapasitas 40.000 liter (bak ukuran 5 X 2 X 1 m sebanyak 2buah)
d. Bak kultur Brachionus kapasitas 4000 liter (bak beton ukuran 2 X 2 X 1 m sebanyak 2buah)
e. Bak kultur artemia kapasitas 20 liter sebanyak 4 buah.
f. Bak pemeliharaan larva menggunakan tutup terpal plastic
2. Penebaran awal larva sebanyak 300.000 ekor (kepadatan 50 ekor/liter dan volume bak 6000 L) ditebar pada satu bak pemeliharaan kemudian memasuki stadia megalopa dijarangkan kepadatannya dengan membaginya dalam 3 bak pemeliharaan 
Sumber:
Raharjo S., Usman E.N.S., Sujaka S., dan Kasturi. 2013. Pembenihan Rajungan (Portunus pelagicus). Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Rabu, 09 Mei 2018

Teknologi pembenihan ikan hias laut ikan klown (Amphiprion percula)

DESKRIPSI TEKNOLOGI

Tujuan Dan Manfaat Penerapan Teknologi
Memproduksi ikan hias laut klown hasil budidaya sehingga tekanan terhadap populasi alam oleh penangkapan dapat ditekan.
Menerapkan teknik produksi benih ikan hias clownfish di hatchery masyarakat.
Menganekaragamkan usaha budidaya laut
Menunjang ekspor ikan hias yang bersertifikat
PENGERTIAN-DEFINISI
Teknologi pembenihan adalah hasil serangkaian penelitian yang telah dilakukan dan kemudian dikompilasi sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh untuk memproduksi benih. Ikan Klown adalah ikan hias laut dengan nama umum true clownfish, di Indonesia biasa disebut ikan klown, nemo, giru dengan nama latin Amphiprion percula. Hatchery adalah tempat pemeliharaan calon induk, induk dan pemeliharaan larva hingga benih. Benih adalah larva ikan klown yang sudah bermetamorfosa menyerupai ikan dewasa dengan ukuran panjang total 1,2-3,0 cm
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS
Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi
Tersedia fasilitas air laut, air tawar, listrik, filter pasir.
Tersedia hatchery ikan laut
Tersedia sarana transportasi yang memadai
Tersedia pakan alami (Nannochloropsis, rotifer, kopepod)
Rincian Teknologi
Pembenihan ikan klown (A. ocellaris) telah dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut sejak tahun 2005. Sedangkan pembenihan ikan klown biak (A. percula) dilakukan pada tahun 2010. Induk dipelihara dengan diberi pakan buatan, cacing Nereis, udang mysids (jembret) dan kopepoda untuk memperbaiki pemijahan induk. Induk jantan yang produktif umumnya berukuran pada kisaran panjang total 4,6 – 6,2 cm. Induk ikan betina yang memijah ukurannya berkisar pada panjang total 6,8 - 9,5 cm. Induk ikan klown yang produktif biasanya memijah 3-4 kali/bulan. Jumlah telur yang dihasilkan sangat bervariasi dari 20 butir- 1.900 butir. Berbagai pengkayaan rotifer pada pemeliharaan larva dan benih ikan klown tidak berpengaruh nyata terhadap sintasan dan pertumbuhannya. Begitu juga dengan warna benih yang dihasilkan. Awal pergantian air dengan sistem air mengalir maupun dengan membuang air lama dan diganti dengan air baru dapat dilakukan dari umur larva 5 hari. Pada pemeliharaan benih ikan klown di KJA, penambahan shelter daun kelapa, rumput laut dan kontrol dapat mempercepat perkembangan baik pola warna belang putih maupun warna hitam pada tepi sirip dorsal, pectoral, anal dan caudal daripada dengan penambahan shelter anemone. Tetapi sintasan yang dihasilkan pada perlakuan anemone memberikan sintasan yang lebih tinggi daripada perlakuan lainnya. Pemeliharaan larva dan benih dapat dilakukan di lingkungan indoor dan outdoor. Pemeliharaan larva dengan menggunakan kopepod dan rotifer sangat mendukung pertumbuhan larva dan peningkatan kualitas warna benih yang dihasilkan.
Teknik produksi massal benih ikan klown
Proses alami membuat induk jantan dan betina berpasangan dilakukan berdasarkan ukuran panjang tubuh. Ikan klown (A. ocellaris) berukuran lebih kecil dengan panjang total 4,6 - 6 cm menjadi calon pejantan, sedangkan induk yang besar dengan panjang total > 6,6 cm menjadi induk betina. Pada ikan klown biak (A. percula) induk jantannya memiliki kisaran panjang total 4,6- 6,2 cm dan induk betina berukuran panjang total 6,8-9,5 cm. Disamping panjang tubuh sebagai penentu jenis kelamin, secara morfologi jantan terlihat lebih kurus dan umumnya ikan jantan berwarna lebih cerah. Ikan betina tampak lebih gemuk. Dalam pemilihan warna induk hendaknya diperhatikan pola warna yang bagus. Dengan warna induk yang bagus diharapkan warna benih yang dihasilkanpun akan bagus. Induk dipelihara dalam akuarium 60 x 30 x 30cm3 yang dilengkapi dengan pipa air masuk dan keluar, aerasi dan tempat penempelan telur.
Beberapa teknik membuat induk berpasangan secara buatan :
1. Calon induk dipisahkan menurut ukuran lalu diaklimatisasi dengan perendaman air tawarsekitar 3 menit dan dapat pula ditambahkan obat anti bakterial erubaju 5 ppm .
2. Induk jantan dimasukkan ke dalam akuarium terlebih dahulu kemudian diikuti induk betina.
3. Selama induk berpasangan harus diamati. Jika tampak induk ikan beriringan berarti keduaikan berjodoh tetapi jika terlihat adanya saling menyerang berarti tidak berjodoh dan harus segera dipisahkan atau dicarikan calon induk betina atau jantan yang baru.
4. Sepasang induk ikan klown dapat memijah secara alami setelah 3-6 bulan masapemeliharaan dengan frekuensi 1-4 kali setiap bulannya (interval pemijahan 8-13 hari).Untuk mempercepat pemijahan dapat juga digunakan pasangan induk dari alam.
Dalam pemeliharaan induk diperlukan sistem air mengalir dengan persentasi penggantian air 200 %/hari. Pakan yang diberikan dapat berupa pakan buatan komersial atau pakan segar seperti: kopepod, udang jembret, dan cacing laut. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari dan penyiponan dilakukan minimal tiap minggu.
Pemijahan ikan klown dapat terjadi pada pagi, siang, sore maupun malam hari. Betina yang memijah akan menempelkan telur pada sarang berupa bidang segitiga semen, pipa pvc, maupun pada sudut akuarium dan pejantan akan mengikuti induk betina untuk kemudian segera membuahi telur. Telur kemudian dijaga oleh induk jantan dan betina dengan cara mengibaskan ekor dan sesekali membersihkan telur menggunakan mulutnya hingga telur menetas.
Masa inkubasi telur adalah 6 - 7 hari. Pemanenan dilakukan pada hari ke-enam, untuk menghindarkan kanibalisme induk terhadap larva yang baru menetas. Pasangan induk yang produktif mampu memijah hingga lebih dari 50 kali secara terus menerus dalam satu tahun. Jumlah telur yang dipijahkan berkisar antara 137 hingga 1.720 butir. Pemeliharaan Larva Setelah telur diinkubasi 6-7 hari, dilakukan pemanenan telur. Proses pemanenan telur dilakukan dengan cara melepas telur dari substratnya menggunakan pisau bedah secara perlahan. Proses pemanenan ini memerlukan ketrampilan khusus agar telur tidak rusak saat dilepas dari substratnya. Kemudian telur ditebar dalam wadah pemeliharaan larva yaitu bak polycarbonate atau fiberglass yang berbentuk bulat dengan kapasitas 200 l (diameter 64 cm dan tinggi bak 70 cm).
Ke dalam media pemeliharaan larva ditambahkan fitoplankton Nannochloropsis ± 100.000 sel/ml, rotifer 5-10 ind/ml, naupli kopepod 20 ind./l. Rotifer dan kopepod adalah pakan bagi larva ikan klown, sedangkan Nannochloropsis berfungsi menurunkan kecerahan media dan menjadi pakan bagi rotifer. Pemberian Nannochloropsis dan rotifer dilakukan mulai hari pertama menetas hingga hari ke-15. Nannochloropsis ditambahkan setiap pagi, sedangkan pemberian rotifer dapat dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari disesuaikan dengan jumlah rotifer yang tersisa pada media pemeliharaan. Kepadatan rotifer pada media pemeliharaan dipertahankan minimal 5 ind/ml. Naupli artemia diberikan mulai hari ke-7 hingga panen, sebanyak 5- 20 ind/ larva/hari, sesuai dengan tingkat konsumsi dan pertambahan umur dan ukuran larva. Pembersihan dasar bak pemeliharaan mulai dilakukan pada hari ke-5 dengan metode siphon. Pembersihan berikutnya dilakukan dalam selang 5 hari sekali. Pergantian air mulai dilakukan pada hari ke-5 sebanyak 30% dari volume media pemeliharaan. Pergantian air berikutnya dilakukan setiap pagi minimal sebanyak 50%. Pergantian air dapat dilakukan dengan cara membuang air lama terlebih dahulu baru mengganti dengan air baru, atau dengan sistem air mengalir (dengan aliran yang sekitar 20ml/menit), atau kombinasi dari keduanya.
Pemeliharaan larva dilakukan selama 15 - 20 hari.
Pemeliharaan Benih I
Pemeliharaan benih berukuran 1,2 - 2,5 cm dilakukan dengan menggunakan berbagai wadah seperti akuarium, box plastik, bak fiber, maupun bak beton dengan kepadatan 5 ekor/liter. Pakan buatan yang diberikan sebaiknya telah diberi astaxanthin untuk meningkatkan kecerahan warna ikan. Prosentase pakan buatan yang diberikan berkisar 3-5 % /berat tubuh. Frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Selain itu pada pemeliharaan benih dapat pula ditambahkan pakan alami (kopepod) atau artemia dengan kepadatan 200-400 ind artemia/ekor benih ikan. Pemeliharaan benih ini dilakukan selama 1-2 bulan.
Pemeliharaan Benih II
Setelah benih berukuran 2,5cm, benih sebaiknya dipelihara di outdoor agar mendapat sinar matahari penuh. Benih dipelihara dalam jaring berukuran 1x1x1 m3. Pakan yang diberikan yaitu pakan buatan dan kopepod. Prosentase pakan buatan yang diberikan berkisar 3-5 % /berat tubuh. Frekuensi pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari. Selain itu pada pemeliharaan benih dapat pula ditambahkan pakan alami (kopepod) kepadatan 200-400 ind/ekor benih ikan. Pemeliharaan di lingkungan outdoor dilakukan sekitar 3-4 bulan. Benih yang dipelihara di lingkungan yang mendapat sinar matahari penuh memiliki warna jingga, hitam, putih yang cerah.
Kultur kopepod
Kultur kopepod dilakukan pada bak 2 ton berukuran pxlxt = 2x1x1 m3. Kepadatan kopepod awal 20-100 ind/l. Pakan yang diberikan berupa plankton Nannochloropsis dan pakan buatan.
Bak fiber 2 m diisi 3 N. oculata sebanyak 25 % dari volume bak, kemudian ditambahkan air laut yang sudah disaring sebanyak 25 % dari volume bak. Tambahkan pakan buatan 250 gram ke dalam bak, biarkan larut dalam air media selama 2 hari, kemudian masukkan bibit copepoda yang sudah dihitung.
Setelah tiga hari ditambahkan N. oculata 25 % dari volume bak bersama pakan ikan buatan sebanyak 250 gram. Biarkan selama tiga hari dan ditambahkan air laut 25 % dari volume bak dan ditambahkan pakan ikan buatan 250 gram Setelah kultur satu minggu copepoda dipanen. Kegiatan diseminasi ikan klown biak (true clownfish) baru dilakukan pada tahun 2013. Sampai saat ini induk sudah bertelur, pemeliharaan larva sedang berlangsung, pemeliharaan benih ukuran 2,5 cm dilakukan dibak reservoar (limpahan air dari bak induk)
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
Teknologi Pembenihan Ikan Klown
 Tidak memerlukan modal yang besar
 Dapat dilakukan dalam skala rumah tangga
 Dapat dilakukan secara individu dan bahkan dapat dilakukan oleh nelayan penangkap ikan hias
 Sumber calon induk mudah didapatkan
 Tingkat reproduksi yang cepat
 Sintasan benih dapat mencapai 50% sehingga dapat diproduksi benih ikan hias yang tinggi untuk memenuhi permintaan pasar internasional yang cukup tinggi.
Keberhasilan teknologi
 Pemijahan induk dapat dilakukan dengan manipulasi pakan (pakan buatan + supplemen, dan pakan alami (jembret, copepod, dan lain-lain).
 Ikan klown mempunyai pola warna yang bervariasi.
 Perbaikan kualitas warna dapat dilakukan dengan pemberian copepod dan pemeliharaan di lingkungan outdoor.
 Larva dan benih dapat dipelihara pada salinitas 10-40 ppt.
 Benih dapat dipelihara dengan sistem resirkulasi
Mudah diterapkan dalam sistem usaha kelautan dan perikanan
 Secara ekologi keberhasilan pembenihan ikan hias ini akan berdampak positif terhadap ekosistem terumbu karang
 Mendukung program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat pesisir
 Tidak membutuhkan sarana yang luas dan banyak biaya
 Keberhasilan perbenihan ikan ini akan meningkatkan devisa Negara melalui ekspor ikan hias
LOKASI PENELITIAN DAN WILAYAH/DAERAH REKOMENDASI
Perbenihan ikan hias laut klown ini dapat dilakukan di lokasi yang mempunyai hatchery bandeng/kerapu, atau ikan laut/payau, sehingga menghemat dalam penyediaan pakan alami (Nannochloropsis, rotifer, copepod). Lokasi yang telah diuji coba pada tahun 2013 adalah di desa Sanggalangit, Kec. Gerokgak, Buleleng-Bali dalam program disseminasi hasil penelitian. Ke depan teknologi ini dapat dikembangkan di lokasi penghasil ikan hias yang mempunyai fasilitas hatchery ikan laut untuk diversifikasi budidaya laut. Selain lokasi yang sudah berjalan, kegiatan ini merupakan kegiatan yang ramah lingkungan dan tidak ada dampak negatif.
TINGKAT KOMPONEN DALAM NEGERI
Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan hatchery dan peralatannya, seluruhnya dapat diperoleh di dalam negeri. Pakan alami yang digunakan dapat dikultur sendiri.
Sumber:
Setiawati K.M., Kusumawati D., Hutapea J.H., , Boer D.R., 2013. Teknologi pembenihan ikan hias laut ikan klown (Amphiprion percula). Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2013. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.

Senin, 07 Mei 2018

Penentuan Calon Kawasan Konservasi Sumberdaya Pesisir dan Perairan Umum (Studi Kasus : Teluk Cempi, NTB)

DESKRIPSI TEKNOLOGI

Isu konservasi dewasa ini telah menjadi perhatian global sekaligus menjadi isu strategis di berbagai negara tidak terkecuali di Indonesia. Tersedianya potensi sumberdaya ikan yang melimpah di Indonesia mendorong dilakukannya langkah pengelolaan sumberdaya tersebut secara efektif dan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Sebagai langkah pengelolaan maka perlu diketahui katagori jenis kawasan konservasinya. Konservasi kawasan pada dasarnya tidak hanya berupa penetapan zona tetapi juga hendaknya dilengkapi dengan langkah-langkah pengelolaan yang lebih jelas dan bisa diterima oleh semua pihak yang terkait.
Dalam menentukan langkah pengelolaan tersebut diperlukan pedoman praktis untuk menentukan jenis calon kawasan konservasi sumberdaya ikan. Pedoman ini menjadi “tools” yang membantu para pelaksana teknis dan pemangku kebijakan yang terkait baik di daerah maupun di tingkat pusat untuk menyamakan pandangan dan pemikiran serta analisa dalam penentuan calon kawasan konservasi atau mengevaluasi kawasan konservasi yang telah ada.
Pedoman Penentuan Calon Kawasan Konservasi Sumberdaya Pesisir merupakan output dari kajian 3(tiga) kriteria yaitu : Ekologi, Sosial-Budaya dan Ekonomi (secara terinci dibahas di persyaratan teknis penerapan teknologi). Selanjutnya untuk mempermudah penggunaan pedoman dibangun sebuah aplikasi. Aplikasi ini akan menghasilkan nilai yang memenuhi kriteria jenis kawasan konservasi perairan. Sebagai studi kasus, Pedoman Penentuan Calon Kawasan Konservasi Sumberdaya Pesisir telah dipakai dalam mengevalusi perairan Teluk Cempi, Kabupaten Dompu, Propinsi NTB.
Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu telah membagi perairan Teluk Cempi menjadi beberapa zona, dimana perairan dengan ekosistem mangrove ditentukan menjadi kawasan konservasi. Penentuan kawasan konservasi tersebut belum dilengkapi dengan jenis kawasan, yang akan menentukan langkah pengelolan selanjutnya. Pengelolaan yang dimaksud adalah membagi kawasan konservasi menjadi zona inti, zona penyangga dan zona pemanfaatan perikanan yang berkelanjutan.
Teluk Cempi sebelum tahun 2000 merupakan penghasil induk udang Penaeus monodon dan produsen komoditi udang terbesar di Nusa Tenggara Barat, dengan jenis udang unggulan yaitu Penaeus monodon (udang king/kebalu) dan P. merguensis (udang manis) yang melimpah, serta berbagai jenis udang ekonomis lainnya seperti Acetes spp. (rebon), Metapenaeus affinis (udang kayu) dan Metapenaeus dobsoni (udang banana). Menurut Sumiono dan Prisantoso (1991), produksi udang Teluk Cempi mencapai 104,8 ton. Tingginya aktivitas penangkapan trawl sebelum tahun 1980an, diikuti dengan pengalihfungsian lahan mangrove telah menyebabkan terjadinya penurunan produksi udang yang cukup signifikan di masa kini. Udang-udang Penaeus dan jenis udang lain menjadikan mangrove sebagai habitat untuk nursery, feeding dan spawning ground. Penurunan produksi udang (ton) terlihat dari kajian yang dilakukan oleh BP2KSI pada 2011-2012 yang dibandingkan dengan penelitian oleh Sumiono dan Prisantoso (1991). Kesadaran masyarakat pesisir Teluk Cempi akan pentingnya keberlanjutan sumberdaya udang sudah cukup tinggi. Hal ini terbukti dengan penggunaan alat tangkap jaring udang (trammel net) dan pelarangan terhadap penggunaan trawl untuk menangkap udang. Selain itu pula, dilakukan pengawasan penggunaan alat tangkap yang mengancam sumberdaya ikan seperti bagan kapal dan bahan beracun dan bom. Berdasarkan penerapan pedoman ini, diketahui bahwa Teluk Cempi merupakan Suaka Perikanan.
TUJUAN DAN MANFAAT PENERAPAN TEKNOLOGI :
Penerapan teknologi berupa Pedoman Penentuan Calon Kawasan Konservasi Sumberdaya Pesisir bertujuan untuk mengetahui jenis kawasan konservasi perairan, yang diharapkan dapat :
 Memudahkan para pelaksana lapangan menilai suatu perairan dalam menentukan kawasan konservasi baru atau menilai efektivitas kawasan konservasi yang sudah ada.
 Dapat dimanfaatkan bagi para pemangku kebijakan dalam menentukan suatu peraturan yang terkait tentang pelaksanaan langkah konservasi perairan untuk mendukung kelestarian sumberdaya alam.
PENGERTIAN/ISTILAH/DEFINISI
 Konservasi sumber daya ikan adalah upaya perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya ikan, termasuk ekosistem, jenis, dan genetik untuk menjamin keberadaan, ketersediaan, dan kesinambungannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragaman sumber daya ikan.
 Konservasi ekosistem adalah upaya melindungi, melestarikan, dan memanfaatkan fungsi ekosistem sebagai habitat penyangga kehidupan biota perairan pada waktu sekarang dan yang akan datang.
 Kawasan konservasi perairan adalah kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan.
 Suaka Perikanan adalah kawasan perairan tertentu, baik air tawar, payau, maupun laut dengan kondisi dan ciri tertentu sebagai tempat berlindung/berkembang biak jenis sumber daya ikan tertentu, yang berfungsi sebagai daerah perlindungan.
 Zonasi adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui penetapan batasbatas fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya dukung serta proses-proses ekologis yang berlangsung sebagai satu kesatuan dalam ekosistem pesisir.
 Kriteria penentuan calon kawasan konservasi meliputi kriteria ekologi, sosial budaya dan ekonomi yang masing-masing terdiri dari sub kriteria tertentu.
 Kriteria ekologi meliputi sub kriteria keanekaragaman hayati, kealamiahan, keterkaitan ekologis, keterwakilan, keunikan, produkvitas, daerah ruaya, habitat ikan langka, daerah pemijahan ikan, dan daerah pengasuhan.
 Kriteria sosial budaya meliputi sub kriteria dukungan masyarakat, dukungan pemerintah/legalitas; potensi konflik kepentingan, potensi ancaman, dan kearifan lokal serta adat istiadat.
 Kriteria ekonomi meliputi sub kriteria nilai penting perikanan, potensi rekreasi dan pariwisata, estetika, dan kemudahan mencapai kawasan.
RINCIAN DAN APLIKASI TEKNIS/PERSYARATAN TEKNIS YANG DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABKAN:
1. Persyaratan Teknis Penerapan Teknologi Penerapan teknologi berupa Pedoman Penentuan Calon Kawasan Konservasi Sumberdaya Pesisir dapat dipenuhi dengan beberapa persyaratan :
a. Badan air meliputi ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang yang sudah atau belum ditetapkan sebagai kawasan konservasi.
b. Intensitas aktivitas penangkapan yang tinggi.
c. Populasi sumberdaya ikan, yang mengalami penurunan produksi. Berdasarkan studi kasus di teluk Cempi, sumberdaya ikan yang mengalami penurunan produksi adalah udang ekonomis penting (Penaeus). Sebagai gambaran, produksi udangudang ekonomis penting seperti udang king (Penaeus monodon) dan udang manis (Penaeus merguensis) sebelum tahun 2000 tinggi. Tetapi, jenis udang tersebut pada saat penelitian dilaksanakan (2011-2013) sudah jarang tertangkap.
d. Parameter kesesuaian perairan untuk kawasan konservasi sebagai dasar dalam penentuan jenis kawasan konservasi adalah :
 Ekologi : oseanografi, sumberdaya udang (larva, juvenile, dewasa), vegetasi mangrove (jenis, luasan, kerapatan).
 Sosial budaya : dukungan masyarakat, potensi konflik kepentingan, potensi ancaman, dan kearifan lokal serta adat istiadat.
 Ekonomi : aktivitas penangkapan, nilai ekonomi sumber daya udang.
e. Pemetaan kawasan pesisir dan perairan berupa peta citra ataupun peta perubahan lahan yang telah terjadi.
f. Pelaksanaan sosialisasi dan Fokus Grup Diskusi.
g. Monitoring dan Evaluasi dari awal perencanaan, selama kegiatan dan setelah aplikasi teknologi.
2. Uraian secara lengkap dan detail SOP, mencakup:
(1) Inventarisasi data dan informasi sumberdaya udang (jenis, kelimpahan dan kepadatan, dari fase larva, juvenil serta udang dewasa) di Teluk Cempi. Alat tangkap (Gambar 1 - 4 c) yang digunakan untuk inventarisasi ini merupakan alat tangkap yang umum digunakan dalam setiap penelitian tentang berbagai fase siklus hidup udang sehingga sangat mudah didapatkan oleh semua pelaksana lapangan. Identifikasi udang menggunakan metode Chan (1998).
(2) Inventarisasi data dan informasi parameter lingkungan perairan sumberdaya udang (plankton, suhu, kedalaman air, kecerahan, salinitas, konduktivitas, pH, oksigen terlarut, kandungan nutrien dan klorofil). Pengukuran berbagai parameter perairan secara insitu bisa dilakukan dengan menggunakan alat pengukur kualitas air yang umum digunakan. Dalam penelitian ini digunakan WQC YSI 85 (suhu, oksigen dan pH), turbidimeter (kekeruhan), depthmeter (kedalaman) dan refraktometer (salinitas) yang telah terkalibrasi. Pengambilan sampel plankton dilakukan dengan menggunakan planktonet (APHA, 2005), sedangkan konsentrasi nutrien dan klorofil diketahui dengan melakukan pengamatan di laboratorium pengujian (metode spektrofotometri) pada sampel air yang diambil (500 ml untuk nutrien, 250 ml untuk klorofil) (Gambar 5).
(3) Inventarisasi data dan informasi aktivitas perikanan (alat tangkap; armada; jumlah dan komposisi tangkapan; jumlah nelayan) dan kondisi masyarakat di sekitar badan air yang menjadi bahan dalam kriteria sosial, budaya, ekonomi. Informasi ini umumnya bisa didapatkan dari dinas perikanan kelautan setempat sehingga bisa menjadi data sekunder dan dipertajam dengan mengumpulkan data harian tangkapan nelayan berbasis enumerator (Gambar 6) serta wawancara langsung terhadap para pemangku kepentingan yang terkait (pemerintah setempat, nelayan, petambak, konsumen) berdasarkan kuisioner yang telah dibuat sebelumnya (Gambar 7).
(4) Identifikasi jenis vegetasi, luasan serta perubahan lahan mangrove dengan membandingkan karakteristik lahan peta citra. Identifikasi mangrove sebaiknya dilakukan oleh ahli ekologi yang bisa mengidentifikasi mangrove. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan buku identifikasi mangrove, salah satunya Noor et al (2006). Penyebaran mangrove dengan pengolahan peta dilakukan oleh ahli GIS.
(5) Analisis kesesuaian perairan kawasan asuhan sebagai kawasan konservasi sumberdaya udang dilakukan dengan melakukan studi literatur parameter-paramater bioekologi yang sesuai untuk kelangsungan hidup udang dari berbagai referensi yang saat ini bisa didapatkan secara online.
(6) Penentuan jenis kawasan konservasi berdasarkan kriteria Ekologi, Sosial Budaya dan Ekonomi sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan KP No.17 tahun 2008 dan No. 2 tahun 2009. Skor diberikan pada setiap subkriteria dari Ekologi, Sosial Budaya dan Ekonomi 1 (kurang), 2 (cukup) dan 3 (baik). Masing-masing kriteria diberikan bobot 4 (Ekologi), 3 (Sosial Budaya) serta 3 (Ekonomi) (Lampiran 1. Kepentingan sub kriteria jenis kawasan konservasi perairan). Nilai-nilai yang diperoleh dituliskan dalam software aplikasi “Penentuan Jenis Kawasan Konservasi Perairan”.
(Lampiran 2. Aplikasi “Penentuan Jenis Kawasan Konservasi Perairan”) juga diilustrasikan berikut ini.

Penggunaan Aplikasi “Penentuan Jenis Kawasan Konservasi Perairan” sebagai berikut : 1. Diaktifkan terlebih dahulu Add In Analysis Tool Pack – VBA. 2. Klik options pada file excel “Penentuan Jenis Kawasan Konservasi Perairan” kemudian klik Enable this content dan klik OK 3. Setelah aplikasi dibuka, setiap kolom diisi angka sesuai dengan hasil skor dan bobot, jika tidak ada penilaian diisi angka 0, 4. Total Nilai didapatkan dengan klik Hasil pada frame Skor Hasil Survei. 5. Kriteria Jenis Kawasan Konservasi Perairan didapatkan dengan klik Hasil pada frame Kriteria Hasil.
(7) Pembagian zonasi kawasan konservasi sumberdaya udang (inti, penyangga, pemanfaatan terbatas) dan dituangkan dalam bentuk peta zonasi. Zona inti merupakan daerah dengan tingkat kerusakan mangrove terendah (kerapatan tinggi) serta tingginya potensi sumberdaya udang pada fase juvenil (siklus awal udang yang kelangsungan hidupnya bergantung pada kesehatan ekosistem mangrove). Zona penyangga ditetapkan pada daerah mangrove dengan tingkat kerusakan sedang dan masih bisa direhabilitasi dengan sumberdaya udang yang masih berlimpah. Zona pemanfataan terbatas merupakan daerah penangkapan udang dewasa.
(8) Penyusunan Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) berdasarkan karakteristik perairan, potensi sumberdaya, serta aspek sosial ekonomi dan budaya setempat yang didapatkan dari hasil penelitian.
(9) Sosialisasi hasil penelitian kepada para pengguna (dinas terkait, nelayan, petambak, LSM, tokoh masyarakat).
(10) Fokus grup diskusi (FGD) yang melibatkan Dinas terkait, nelayan, petambak, pemangku kebijakan, LSM, tokoh masyarakat dalam langkah penetapan Rencana Pengelolaan Perikanan (RPP) untuk mencapai suatu kesepakatan pengelolaan Teluk Cempi.
(11) Monitoring dan evaluasi. Kegiatan monitoring dilakukan pada perencanaan, selama dan setelah penerapan teknologi, dan dari hasil monitoring dilakukan evaluasi untuk mengkaji keberhasilan ataupun kegagalan penerapan teknologinya.
3. Uraian dan jumlah kaji terap yang sudah dilakukan di beberapa daerah beserta hasilnya Penentuan calon kawasan konservasi sumberdaya udang berdasarkan teknologi ini telah dilakukan di perairan Teluk Jakarta pada tahun 2009-2010 (Nastiti et al., 2010). Penelitian ini mencalonkan kawasan asuhan udang sebagai kawasan konservasi yang terletak di kawasan timur Teluk Jakarta yaitu Muara Gerobak (05o 64’ 941” LS dan 107o 01’ 762” BT), Muara Beuting (05o 55’ 559” LS dan 107o 05’ 424” BT) dan Muara Bungin (05o 44’ 939” LS dan 107o 02’ 502” BT) dengan total luas kawasan asuhan udang sebesar 53,92 hektar.
KEUNGGULAN TEKNOLOGI
1. Modifikasi teknologi penentuan calon kawasan konservasi perairan yang dilakukan di Teluk Cempi didasarkan pada kondisi karakteristik perairan (ekologi), sosial, budaya, ekonomi, pemetaan, sosialisasi dan forum diskusi kelompok (FGD), serta monitoring evaluasi dilakukan pada perencanaan, selama dan setelah penerapan teknologi.
2. Teknologi penentuan calon kawasan konservasi di Teluk Cempi yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu (DKP Kabupaten Dompu, 2010), hanya berdasarkan kajian singkat saja (berdasarkan pengamatan kondisi perairan dan kegiatan nelayan/masyarakat sekitar Teluk Cempi). Modifikasi teknologi penentuan calon kawasan konservasi yang dilakukan oleh BP2KSI, memiliki keunggulan teknologi baik dalam kajian dan hasil nya. Kajian dilakukan secara time series (tahun 2011-2013) dengan hasil sebagai berikut :
a. Kondisi terkini Teluk Cempi sebagai kawasan sumberdaya udang.
 Estimasi kelimpahan larva udang sebanyak 29-36.564 ind/1.000 m3
 Estimasi kelimpahan juvenil sebanyak 6.480-1.297.297 ind/km2
 Produksi udang sebesar 13,8 kg/trip/kapal/hari.
 Perubahan luas kawasan mangrove terlihat dari berkurangnya luas mangrove Teluk Cempi pada tahun 2000 yang berjumlah 2.388,853 ha menjadi 754,12 ha pada tahun 2012 (Gambar 8a dan 8b).
b. Kesesuaian perairan Teluk Cempi sebagai kawasan konservasi Kesesuaian perairan didapatkan dari data dan informasi tentang ketersediaan dan kelimpahan sumberdaya udang pada berbagai siklus hidup beserta karakteristik perairan dimana biota tersebut hidup disesuaikan dengan kriteria karakteristik perairan dari berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya berdasarkan referensi yang telah ada. Hasil penelitian ini menjadi database mutakhir tentang karakteristik perairan Teluk Cempi beserta sumberdaya udangnya, dimana penelitian terdahulu dilakukan sebelum tahun 2002 (Arifin, 2002).
c. Diketahuinya jenis kawasan konservasi Pengkajian sebelumnya yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu menentukan Teluk Cempi sebagai kawasan konservasi. Melalui software aplikasi “Penentuan Jenis Kawasan Konservasi Perairan” maka mendapatkan hasil dan mengkategorikan kawasan konservasi Teluk Cempi sebagai suaka perikanan sebagai berikut.
d. Zonasi dan luasan kawasan konservasi Berdasarkan pengkajian sumberdaya udang (larva, juvenil dan udang dewasa) maka diusulkan zonasi dan luasan kawasan konservasi yang dibagi antara daerah asuhan sebagai zona inti dan penyangga serta daerah tangkap sebagai zona pemanfaatan terbatas Teluk Cempi (Gambar 9), yang dilengkapi dengan usulan langkah pengelolaan pada masingmasing zona sebagaimana berikut :
 Zona inti meliputi daerah Nowa, Mbawi, sebagian Jambu (Gambar 10, warna merah) dengan luasan sekitar 3634 Ha pada posisi 8o 39.199’ LS - 118o 25.043’ BT sampai 8o 38.162’ LS - 118o 23.812’ BT.
Langkah pengelolaan kawasan konservasi untuk zona inti di Teluk Cempi yang diusulkan diantaranya :
- Menjadikan zona inti dengan semi close area system (sistem area semi tertutup), artinya menggunakan alat tangkap selain jaring seperti bubu atau pancing untuk menangkap kepiting atau ikan.
- Pelarangan penangkapan dengan bahan beracun seperti potas.
- Pelarangan pemasangan perangkap (waring) di sepanjang kawasan mangrove. - Tidak adanya alih fungsi hutan mangrove menjadi tambak (tidak menambah luas tambak).
- Pembatasan kawasan dilengkapi dengan pembatas dan papan informasi.
- Rehabilitasi mangrove, dengan jarak dari tambak ke pantai minimal 400 meter.
 Zona pemanfaatan terbatas (penyangga) meliputi daerah Woja dan Lara (Gambar 10, warna kuning) dengan luasan 2.996 Ha pada posisi 8o 38.603’ LS - 118o 23.686’ BT sampai 8o 37.904’ LS - 118o 21.800’ BT. Langkah pengelolaan kawasan konservasi untuk zona penyangga di Teluk Cempi :
- Kegiatan penangkapan udang dilakukan secara terbatas, yaitu hanya pada bulan April dan Mei (produksi tinggi) menghidupkan kembali kearifan lokal (awig-awig). - Pelarangan penangkapan dengan bahan beracun seperti potas.
- Pelarangan pemasangan perangkap (waring) di sepanjang kawasan mangrove.
- Alih fungsi lahan tambak tidak aktif menjadi hutan mangrove, dengan jarak minimal dari pantai ke lahan tambak sebesar 400 m.
- Merubah sistem penggunaan tambak tradisional menjadi tambak dengan sistem silvofishery.
- Pembuatan tambak baru hendaknya dilakukan dengan mengkaji potensi mangrove yang ada sebagai habitat organisme akuatik.
 Zona pemanfaatan perikanan tangkap berkelanjutan meliputi daerah perairan Jala dan sebagian perairan Jambu dengan luasan 7.735 Ha. Kondisi alam Teluk Cempi menuntut para nelayan untuk membatasi waktu penangkapan pada setiap bulannya, dimana sering terjadi ombak tinggi dan cuaca buruk yang mengganggu aktivitas penangkapan nelayan di Teluk Cempi. Kondisi ini menguntungkan bagi kelangsungan hidup sumberdaya udang.
Teknologi ini
1) layak : dapat digunakan pada tipe perairan sejenis,
2) ekonomis : penetapan calon kawasan konservasi tetap mempertimbangkan kestabilan pendapatan masyarakat,
3) efisien : tidak hanya mendapatkan jenis kawasan konservasi tetapi juga bisa mengetahui zonasi dan luasan kawasan konservasi perairan yang menjadi target secara nasional.
3. Mudah diterapkan dalam sistem usaha kelautan dan perikanan secara berkelanjutan sesuai dengan daerah pengembangan (ekologi, sosial budaya, ekonomi, teknis, infrastruktur, fiskal, hukum dan kelembagaan) Teknologi penentuan calon kawasan konservasi perairan menggunakan aplikasi “Penentuan Jenis Kawasan Konservasi Perairan” mudah diterapkan oleh para pelaksana lapangan dengan memperhatikan ketentuan yang ada di dalam kriteria yang tercantum dalam SOP sehingga mendapatkan hasil yang optimal.
4. Ramah lingkungan Hasil penerapan modifikasi teknologi penentuan calon kawasan konservasi dinilai ramah lingkungan karena penerapan teknologi ini memberikan ruang dan waktu bagi sumberdaya udang untuk menyelesaikan siklus hidupnya.
WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN, PENGKAJIAN, PENGEMBANGAN, PENERAPAN DAN WILAYAH/DAERAH YANG DIREKOMENDASIKAN :
1. Penelitian dilakukan di perairan Teluk Cempi, Kabupaten Dompu, Propinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2011-2013. Kegiatan penelitian, pengkajian, pengembangan dan penerapan dibagi menjadi beberapa tahapan :
 Tahun 2011 : Identifikasi masalah, survei lapangan (inventarisasi data dan sumberdaya udang di kawasan mangrove Teluk Cempi serta habitatnya), penyusunan SOP kawasan konservasi Teluk Cempi
 Tahun 2012 : Penentuan kesesuaian daerah asuhan sumberdaya udang, pengumpulan data tangkapan SDI dan kondisi lingkungan, pengkajian hasil tangkapan nelayan udang (data enumerator), penentuan Luasan mangrove dan pengembangan database kawasan Teluk
 Tahun 2013 : Bahan penyusunan zonasi kawasan konservasi (kawasan asuhan dan tangkapan di Teluk Cempi, kawasan inti dan kawasan penyangga) dan usulan Pengelolaan Teluk Cempi berbasis masyarakat melalui FGD FGD yang disepakati para perwakilan stakeholders menghasilkan suatu rumusan yang diharapkan dapat meningkatkan kepedulian mereka terhadap pentingnya pengelolaan sumberdaya udang secara lestari serta menghasilkan rencana tindak lanjut yang diperlukan bagi penataan dan pengelolaan sumberdaya perikanan di Teluk Cempi.
2. Penerapan teknologi ini bisa dilakukan pada berbagai kawasan pesisir di Indonesia yang memenuhi persyaratan teknis.
KEMUNGKINAN DAMPAK NEGATIF
Penerapan teknologi ini dapat berdampak negatif terhadap kondisi sosial budaya masyarakat setempat yang berpotensi munculnya konflik jika belum dicapainya suatu kesepakatan tentang pemanfaatan sumberdaya ikan (karena terjadi pengurangan areal tangkapan), pembagian lahan dan kearifan lokal.
KELAYAKAN FINANSIAL
a. Penerapan teknologi kriteria penentuan kawasan konservasi di Teluk Cempi akan berdampak pada meningkatnya produksi udang di masa yang akan datang sehingga pendapatan masyarakat diharapkan juga akan bertambah. Peningkatan produksi ini akan tercapai dengan estimasi peningkatan pendapatan dengan ketentuan penting yang harus diperhatikan dan dipatuhi oleh stakeholders sebagai berikut :
- Rehabilitasi lahan mangrove. Jika lahan mangrove yang telah dialihgunakan (Gambar 11) saat ini ditanam kembali maka akan menambah luasan mangrove Teluk Cempi yang menjadi habitat bagi udang-udang Penaeidae untuk berlindung dan berkembang biak, dengan uraian sebagai berikut :
Estimasi peningkatan pendapatan, tidak hanya berlaku bagi sumberdaya udang, tetapi juga semua biota yang bergantung terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove serta perairan di sekitarnya sebagai nursery, feeding dan spawning ground. Penanaman kembali mangrove pada tambak-tambak yang aktif berdasarkan sistem silvofishery juga akan meningkatkan kesehatan tambak sehingga meminimalisir kematian biota budidaya.
- Pelarangan pemasangan perangkap pantai (beach trap) di kawasan mangrove (Gambar 12), dimana jenis alat tangkap tersebut pada kenyataanya tidak hanya menangkap ikan dan udang ukuran besar tetapi lebih banyak biota dengan ukuran kecil dan anakan. Biotabiota ini kemudian tersangkut dan mati dengan sia-sia. Jika anak-anak ikan banyak yang mati, maka jumlah ikan/udang yang menjadi dewasa pasti akan berkurang. Kondisi ini tentunya akan mengurangi produksi tangkapan serta mengganggu siklus hidup dari biota tersebut.
b. Selain dengan bertambahnya produksi, peningkatan pendapatan masyarakat juga bisa didapatkan dengan menjadikan kawasan konservasi Teluk Cempi sebagai destinasi wisata (ekowisata). Potensi ekowisata Teluk Cempi sangat tinggi dan mudah dijalankan dimana saat ini Pantai Lakey (ujung Teluk Cempi) telah dikenal masyarakat mancanegara, untuk wisata surfing.
Sumber:
Nastiti A.S., dkk, 2014. Penentuan Calon Kawasan Konservasi Sumberdaya Pesisir dan Perairan Umum (Studi Kasus : Teluk Cempi, NTB). Buku Rekomendasi Teknologi Kelautan dan Perikanan 2014. Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta.