Selasa, 06 Desember 2016

Pendinginan dan Pembekuan Ikan

Pendinginan dan Pembekuan

Pertumbuhan bakteri di bawah suhu 100C akan semakin lambat dengan semakin rendahnya suhu. Pada saat air dalam bahan pangan membeku seluruhnya, maka tidak ada lagi pembelahan sel bakteri. Pada sebagian bahan pangan air tidak membeku sampai suhu –9,50C atau di bawahnya karena adanya gula, garam, asam dan senyawa terlarut lain yang dapat menurunkan titik beku air.

Lambatnya pertumbuhan mikroba pada suhu yang lebih rendah ini menjadi dasar dari proses pendinginan dan pembekuan dalam pengawetan pangan. Proses pendinginan dan pembekuan tidak mampu membunuh semua mikroba, sehingga pada saat dicairkan kembali (thawing), sel mikroba yang tahan terhadap suhu rendah akan mulai aktif kembali dan dapat menimbulkan masalah kebusukan pada bahan pangan yang bersangkutan.

Pendinginan

Pendinginan umumnya merupakan suatu metode pengawetan yang ringan, pengaruhnya kecil sekali terhadap mutu bahan pangan secara keseluruhan. Oleh sebab itu pendinginan seperti di dalam lemari es sangat cocok untuk memperpanjang kesegaran atau masa simpan sayuran dan buah-buahan. Sayuran dan buah-buahan tropis tidak tahan terhadap suhu rendah dan ketahanan terhadap suhu rendah ini berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Sebagai contoh, buah pisang dan tomat tidak boleh disimpan pada suhu lebih rendah dari 130C karena akan mengalami chilling injury yaitu kerusakan karena suhu rendah. Buah pisang yang disimpan pada suhu terlalu rendah kulitnya akan menjadi bernoda hitam atau berubah menjadi coklat, sedangkan buah tomat akan menjadi lunak karena teksturnya rusak.

Pembekuan

Pembekuan adalah proses penurunan suhu bahan pangan sampai bahan pangan membeku, yaitu jika suhu pada bagian dalamnya paling tinggi sekitar –180C, meskipun umumnya produk beku mempunyai suhu lebih rendah dari ini. Pada kondisi suhu beku ini bahan pangan menjadi awet karena mikroba tidak dapat tumbuh dan enzim tidak aktif. Sayuran dan buah-buahan umumnya diblansir dahulu untuk menginaktifkan enzim sebelum dibekukan. Bahan pangan seperti daging dapat disimpan antara 12 sampai 18 bulan, ikan dapat disimpan selama 8 sampai 12 bulan dan buncis dapat disimpan antara 12 sampai 18 bulan.

Pertumbuhan bakteri di bawah suhu 100C akan semakin lambat dengan semakin rendahnya suhu. Pada saat air dalam bahan pangan membeku seluruhnya, maka tidak ada lagi pembelahan sel bakteri. Pada sebagian bahan pangan air tidak membeku sampai suhu –9,50C atau di bawahnya karena adanya gula, garam, asam dan senyawa terlarut lain yang dapat menurunkan titik beku air.

Lambatnya pertumbuhan mikroba pada suhu yang lebih rendah ini menjadi dasar dari proses pendinginan dan pembekuan dalam pengawetan pangan. Proses pendinginan dan pembekuan tidak mampu membunuh semua mikroba, sehingga pada saat dicairkan kembali (thawing), sel mikroba yang tahan terhadap suhu rendah akan mulai aktif kembali dan dapat menimbulkan masalah kebusukan pada bahan pangan yang bersangkutan.

Pendinginan

Pendinginan umumnya merupakan suatu metode pengawetan yang ringan, pengaruhnya kecil sekali terhadap mutu bahan pangan secara keseluruhan. Oleh sebab itu pendinginan seperti di dalam lemari es sangat cocok untuk memperpanjang kesegaran atau masa simpan sayuran dan buah-buahan. Sayuran dan buah-buahan tropis tidak tahan terhadap suhu rendah dan ketahanan terhadap suhu rendah ini berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Sebagai contoh, buah pisang dan tomat tidak boleh disimpan pada suhu lebih rendah dari 130C karena akan mengalami chilling injury yaitu kerusakan karena suhu rendah. Buah pisang yang disimpan pada suhu terlalu rendah kulitnya akan menjadi bernoda hitam atau berubah menjadi coklat, sedangkan buah tomat akan menjadi lunak karena teksturnya rusak.

Pembekuan

Pembekuan adalah proses penurunan suhu bahan pangan sampai bahan pangan membeku, yaitu jika suhu pada bagian dalamnya paling tinggi sekitar –180C, meskipun umumnya produk beku mempunyai suhu lebih rendah dari ini. Pada kondisi suhu beku ini bahan pangan menjadi awet karena mikroba tidak dapat tumbuh dan enzim tidak aktif. Sayuran dan buah-buahan umumnya diblansir dahulu untuk menginaktifkan enzim sebelum dibekukan. Bahan pangan seperti daging dapat disimpan antara 12 sampai 18 bulan, ikan dapat disimpan selama 8 sampai 12 bulan dan buncis dapat disimpan antara 12 sampai 18 bulan.

Pengertian Pendinginan atau Pemekuan

Penyimpanan pada suhu rendah dapat menghambat kerusakan makanan, antara lain kerusakan fisiologis, kerusakan enzimatis maupun kerusakan mikrobiologis. Pada pengawetan dengan suhu rendah dibedakan antara pendinginan dan pembekuan. Pendinginan dan pembekuan merupakan salah satu cara pengawetan yang tertua.

Pendinginan atau refrigerasi ialah penyimpanan dengan suhu rata-rata yang digunakan masih di atas titik beku bahan. Kisaran suhu yang digunakan biasanya antara – 1oC sampai + 4oC. Pada suhu tersebut, pertumbuhan bakteri dan proses biokimia akan terhambat. Pendinginan biasanya akan mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau beberapa minggu, tergantung kepada jenis bahan pangannya. Pendinginan yang biasa dilakukan di rumah-rumah tangga adalah dalam lemari es yang mempunyai suhu –2oC sampai + 16oC.

Pembekuan atau freezing ialah penyimpanan di bawah titik beku bahan, jadi bahan disimpan dalam keadaan beku. Pembekuan yang baik dapat dilakukan pada suhu kira-kira –17 oC atau lebih rendah lagi. Pada suhu ini pertumbuhan bakteri sama sekali berhenti. Pembekuan yang baik biasanya dilakukan pada suhu antara – 12 oC sampai – 24 oC. Dengan pembekuan, bahan akan tahan sampai bebarapa bulan, bahkan kadang-kadang beberapa tahun.

Perbedaan antara pendinginan dan pembekuan juga ada hubungannya dengan aktivitas mikroba.
1. Sebagian besar organisme perusak tumbuh cepat pada suhu di atas 10 oC
2. Beberapa jenis organisme pembentuk racun masih dapat hidup pada suhu kira-kira 3,3oC
3. Organisme psikrofilik tumbuh lambat pada suhu 4,4 oC sampai – 9,4 oC

Organisme ini tidak menyebabkan keracunan atau menimbulkan penyakit pada suhu tersebut, tetapi pada suhu lebih rendah dari – 4,0 oC akan menyebabkan kerusakan pada makanan.

Jumlah mikroba yang terdapat pada produk yang didinginkan atau yang dibekukan sangat tergantung kepada penanganan atau perlakuan-perlakuan yang diberikan sebelum produk itu didinginkan atau dibekukan, karena pada kenyataannya mikroba banyak berasal dari bahan mentah/ bahan baku. Setiap bahan pangan yang akan didinginkan atau dibekukan perlu mendapat perlakuan-perlakuan pendahuluan seperti pembersihan, blansing, atau sterilisasi, sehingga mikroba yang terdapat dalam bahan dapat sedikit berkurang atau terganggu keseimbangan metabolismenya.

Pada umumnya proses-proses metabolisme (transpirasi atau penguapan, respirasi atau pernafasan, dan pembentukan tunas) dari bahan nabati seperti sayur-sayuran dan buah-buahan atau dari bahan hewani akan berlangsung terus meskipun bahan-bahan tersebut telah dipanen ataupun hewan telah disembelih. Proses metabolisme ini terus berlangsung sampai bahan menjadi mati dan akhirnya membusuk. Suhu dimana proses metabolisme ini berlangsung dengan sempurna disebut sebagai suhu optimum.

Penggunaan suhu rendah dalam pengawetan makanan tidak dapat mematikan bakteri, sehingga pada waktu bahan beku dikeluarkan dan dibiarkan hingga mencair kembali (“thawing“), maka pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba dapat berlangsung dengan cepat. Penyimpanan dingin dapat menyebabkan kehilangan bau dan rasa beberapa bahan bila disimpan berdekatan.

PENANGANAN CRUSTASEA HIDUP

I. PENDAHULUAN

Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari 13.667 pulau terletak di antara Samudera Pasifik dan Hindia. Keadaan beriklim tropis menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara Asia Tenggara yang memiliki ekosistem pantai yang sangat produktif di dunia dan sangat sesuai bagi usaha budidaya air payau dan pemanfaatan hasil laut lainnya. Kekayaan sumber daya alam memberikan status bagi Indonesia sebagai produsen budidaya perairan maupun potensi pengembangannya secara alamiah.

Udang merupakan salah satu produk hasil laut yang disukai dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat walaupun ada diantara konsumen yang peka (alergi) terhadapnya. Dibandingkan dengan binatang darat, daging udang mempunyai eating quality yang lebih baik karena tidak liat, homogen serta tidak mengandung pembuluh – pembuluh darah yang besar dan otot – otot.

Udang sangat digemari dipasaran karena rasanya yang khas, oleh karena itu pemasaran udang dalam bentuk segar sangat disukai oleh konsumen. Salah satu cara untuk mempertahankan mutu dan kesegaran dari udang yang hendak dipasarkan adalah dengan cara pembekuan. Bagian addomen merupakan bagian tubuh udang yang diperdagangkan dalam keadaan beku. Oleh karena itu dalam perdagangan dikenal udang headless yaitu udang tanpa kepala.

Karena kandungan proteinnya yang tinggi, maka udang termasuk komoditas yang mudah rusak yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatn enzim dan bakteri, oleh karena itu penanganan udang sangat mempengaruhi mutu hasil olahan. Untuk menjaga agar mutunya tetap baik telah ada standarisasi mutu yang mencakup bahan baku, metode penanganan, metode pendinginan dan sanitasi, baik yang dilaksanakan dalam pabrik maupun dalam pemasaran dan distribusi. Kualitas dan kesegaran udang harus tetap dijaga dengan baik sehingga udang tersebut sampai ke pasar atau ke tangan konsumen. Penanganan hasil panen merupakan tindakan teknis, yaitu penanganan secara fisis mekanis berkaitan dengan proses lebih lanjut.
Penanganan udang hasil panen harus dilakukan dengan cepat, karena kualitas udang mudah rusak. Kesalahan atau keterlambatan penanganan mengakibatkan udang tidak bisa diharapkan menjadi komoditas ekspor.

Untuk mempertahankan agar mutu udang tetap baik, harus ditangani dengan hati–hati dan jangan sembarangan, penanganan tersebut yang harus diperhatikan adalah kebersihan peralatan yang digunakan, penanganan harus cepat dan cermat, hindarkan terkena sinar matahari secara langsung, mencuci udang dari kotoran dan lumpur dengan air bersih memasukkan ke dalam keranjang, ember atau tong dan disiram dengan air bersih, lebih baik lagi dari mulai awal menggunakan es batu untuk mendinginkannya, dan mengelompokkannya menurut jenis dan ukurannya.

Seperti telah dijelaskan di atas, udang merupakan salah satu komoditas ekspor. Umumnya konsumen lebih menyukai udang segar, dikarenakan proses selanjutnya dapat lebih bervariasi. Oleh karena itu penanganan udang terutama ditujukan agar udang setelah ditangkap tetap segar. Ini dapat dicapai dengan pendinginan dan pembekuan.

Pengertian udang beku adalah udang segar yang telah dicuci bersih, didinginkan untuk mempertahankan suhu udang sekitar 0 ºC, kemudian baik langsung maupun setelah mengalami perlakukan pendahuluan, segera dibekukan pada suhu rendah maksimum -45ºC sehingga suhu pusat produk akhir menjadi maksimum -18ºC dan kemudian disimpan pada tempat penyimpanan dengan suhu maksimum -25 ºC dengan fluktuasi suhu1º C. Metode yang digunakan adalah air blast freezing dan contact plate freezing.
Penerimaan dan penimbangan adalah kegiatan awal dalam pengadaan bahan baku, yang dilakukan di indutri pengolahan pada saat udang dipasok dari suplier. Kegiatan yang berkaitan dengan hal ini membutuhkan kompetensi pegawai yang memahami tentang keselamatan dan kesehatan kerja, kebiasaan berproduksi yang baik dan SOP terkait yang berlaku untuk bahan yang ditangani. mampu mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan sesuai syarat yang telah ditentukan.

Selama melakukan pemeriksaan dan penimbangan harus dilakukan dengan benar dan jujur serta melaporkan dalam format yang baku sesuai hasil pemeriksaan terhadap berat dan mutu barang yang diterima. Kunci utama pekerjaan ini adalah kejujuran, pengetahuan tentang spesifikasi dan mutu bahan, pengetahuan tentang kontrak pengadaan bahan serta kepatuhan untuk segera melaporkan pada atasan terhadap masalah yang dihadapi untuk dikonfirmasikan dan diselesaikan.

Bahan yang telah diterima sesuai dengan prasyarat penerimaan segera ditangani, mengingat udang adalah komoditas yang mudah rusak. Kegiatan penanganan yang dilakukan meliputi mencuci dari kotoran, membuang bagian yang tidak diinginkan sesuai standar produk misalnya membuang kepala udang dan kotoran. Pekerjaan ini harus dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku di perusahaan.

Apabila kegiatan penanganan membutuhkan waktu yang lebih banyak karena sediaan barang melebihi kapasitas kerja, maka yang harus dilakukan adalah menimbun hasil penanganan. Penimbunan dilakukan bila bahan yang masuk melebihi kapasitas bagian penanganan atau kondisi udang masih sangat sulit untuk dihilangkan kepala karena masih segar (fresh).

Penguasaan kompetensi di atas sangat penting karena dapat menjamin keajegan suatu produksi. Kegiatan penerimaan dan penimbangan, penanganan bahan serta menimbun hasil penanganan yang dilakukan secara baik dan tepat akan memperkecil gangguan produksi. Gangguan pada proses produksi akan mengakibatkan pada kualitas produk yang diterima konsumen, menganggu kelancaran pemasaran, menghilangkan kepercayaan terhadap perusahaan yang bersangkutan.

II. KEAMANAN PRODUK PERIKANAN BERUPA UDANG

Produk perikanan yang secara standar kesehatan yang berlaku di masyarakat adalah aman untuk dikonsumsi atau secara empiris dan pengujian adalah layak untuk dikonsumsi tanpa membawa efek yang langsung maupun tak langsung kepada orang secara umum. Pengertian kualitas dan keamanan dimaksud adalah hampir sama, pada dasarnya akan dibahas bahwa udang yang dibudidayakan akan menjadi produk yang berkualitas tinggi termasuk bahwa produk tersebut aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Selain itu pengertian di atas juga lebih dikaitkan dengan peluang produk untuk dapat dipasarkan dengan mudah dan harga yang memadai.

Kegiatan budidaya udang meliputi beberapa tahapan kegiatan yang masing-masing tahap saling berkaitan untuk mendukung keberhasilan dalam rangka menghasilkan suatu pruduk yang aman dan berkualitas tinggi. Dapat digambarkan bahwa tiap tahap kegiatan yang berurutan saling berkaitan ibarat suatu rantai yang dibentangkan. Apabila terdapat satu mata rantai yang tidak memenuhi persyaratan maka akan menyebabkan hilangnya fungsi dari rantai secara keseluruhan. Bila ada satu saja tahap kegiatan yang tidak baik maka pruduk yang dihasilkan akan menjadi tidak aman atau berkualitas rendah.

Ada beberapa kriteria bagi produk udang untuk dapat disebut aman dan berkualitas, antara lain adalah ditinjau dari sebagai berikut:

1. Penampakan :
• Tingkat kerusakan fisik
• Perubahan warna
• Keseragaman jenis dan ukuran
2. Bau dan Rasa :
• Tingkat bau busuk
• Tingkat bau chlorine
• Tingkat bau minyak bumi
• Tingkat bau lumpur
• Kehilangan bau khas produk
3. Tekstur :
• Daging menjadi lunak
• Cangkang/kulit menjadi lunak (pada udang dan kepiting)
4. Kandungan bahan berbahaya :
• Antibiotik
• Pestisida
• Logam berat
• Bakteri penyakit bagi manusia dan biota lain

III. TEKNIK PENANGANAN UDANG

A. Penanganan Pasca Penangkapan

Penanganan udang tanpa kepala dilakukan segera setelah udang tertangkap dan sampai di atas kapal, kepala udang dipisahkan. Sementara itu udang yang berukuran kecil dan ikan yang tercampur bersama – sama dipisahkan juga. Udang tanpa kepala lalu dicuci beberapa kali dengan air laut atau tawar yang bersih dan dingin dengan jalan menambahkan bongkahan es kedalam air pencuci. Pencucian dilakukan sampai air pencuci tidak keruh lagi.

Secepatnya udang lalu di-es dengan es hancuran yang cukup halus supaya es itu tidak melukai badan udang, atau udang tanpa kepala diaduk dengan es sehingga seluruh badan diliputi es. Cara lain untuk meng-es udang adalah dengan jalan berlapis antara udang dan es, yaitu lapisan pertama es lalu lapisan udang, lapisan es lagi dan seterusnya.

Udang yang sudah di-es lalu disimpan dalam palka, atau bila pembekuan dapat dilakukan di atas kapal, udang langsung dibekukan segera selesai dicuci. Selama dalam palka harus selalu dijaga agar udang yang di-es di dalam peti atau keranjang jangan sampai kekurangan es. Udang segar itu harus selalu tertutup oleh lapisan es.

Penanganan udang utuh dilakukan segera setelah udang sampai di atas kapal, lalu dipilih untuk memisahkan udang yang berukuran besar dari campuran ikan dan udang kecil. Disamping itu pemilihan juga dilakukan untuk mengumpulkan jenis udang yang sama. Pemilihan ini antara lain dimaksudkan untuk memisahkan udang yang sudah rusak dari udang-udang yang utuh.

Udang utuh itu lalu dicuci bersih beberapa kali, kemudian dimasukkan ke dalam wadah kedap air ( misalnya drum plastik ) yang sudah berisi air laut atau air tawar yang diberi bongkahan es. Drum-drum berisi udang itu lalu disimpan ditempat yang teduh atau di dalam palka. Selama kapal berlayar bila air didalam drum sudah terlihat keruh, lalu diganti dengan air yang masih bersih dan ditambah es. Udang di dalam drum harus selalu dijaga dalam keadaan dingin dengan air yang bersih sampai udang itu sampai ke darat atau dijual.

B. Penanganan Pasca Panen

Penanganan udang saat panen di tambak :
 Pemanenan dilakukan pada saat suhu udara tidak terlalu panas (pagi/sore)
 Udang ditampung pada wadah/jaring tempat air dikeluarkan
 Usahakan wadah/jaring ada airnya selama pemanenan
 Siapkan bak/wadah pencucian air bersih
 Masukan udang ke dalam bak penampungan yang diberi air dan es
 Segera dengan cepat dilakukan penyortiran
 Segera masukkan ke wadah pengangkutan yang telah diberi es dan susun
 Semua pekerjaan dilakukan di bawah atap/tidak terkena matahari langsung

Cara-cara pendinginan udang yaitu menurunkan suhu udang segar dengan cara :
 perendaman dengan air atau air laut yang dingin
 penyimpanan dalam kamar pendingin
 pemberian es, cara ini sering dilakukan saat pemanenan di tambak atau di kapal

Cara pemberian es yang baik :
 Jumlah es yang digunakan harus mencukupi
 Cara menambah/mencapur es pada hasil perikanan
 Waktu/lamanya pemberian es
 Ukuran wadah yang digunakan
 Menghindari/jangan melakukan peng-es-an udang yang masih kotor/luka
Jumlah es yang digunakan :
-wadah tanpa insulasi/permukaan kayu/plastik, perbandingan es : udang = 1 : 1,5
-wadah yang berinsulin perbandingan es dan udang = 1 : 2
-wadah berinsulin dengan pendinginan, maka 1 : 3

Cara memberi es / menambah es :
 usahakan seluruh udang dapat tersentuh dengan es
 bila esnya bongkahan besar harus diberi air, agar semua udang tersentuh dingin
 Sebaiknya digunakan es curah yang tidak tajam karena akan melukai udang
 susunlah udang dan es secara berlapis-lapis bergantian

C. Penanganan selama Transportasi

Untuk transportasi udang hidup jarak jauh (terutama ekspor),
penggunaan transportasi sistem kering dirasakan merupakan cara
efektif meskipun resiko mortalitasnya cukup besar. Dalam transportasi
sistem kering udang dikondisikan dalam keadaan metabolisme,
respirasi, dan aktivitas rendah. Dengan kondisi tersebut, udang
memiliki kemampuan tinggi untuk bertahan hidup di luar konsisi
habitat hidupnya. Salah satu metode untuk imotilisasi adalah dengan
menggunakan suhu rendah. Cara dan peralatan yang digunakan sederhana sehingga mudah diterapkan oleh siapa saja.

Bahan yang diperlukan untuk transportasi udang hidup dengan system kering adalah:
– Udang hidup ukuran komersial untuk konsusmsi
– Air laut untuk penampungan, pembugaran, imotilisasi
– Es air laut untuk imotilisasi
– Serbuk gergaji lembab dingin
– Kemasan berdaya insulasi tinggi
– Bahan bantu lain (kantong plastik, kertas koran, flashband, dsb)
Peralatan yang diperlukan dalam transportasi udang hidup sistem
kering adalah peralatan Untuk penampungan dan untuk imotilisasi.

a. Sistem Penampungan

Karena berbagai alasan, udang yang baru dipanen tidak dapat langsung
diekspor, tetapi perlu ditampung lebih dulu, misalnya menunggu penjadwalan ekspor, lokasi yambak yang terpisah, udang kurang/tidak bugar sehingga perlu dibugarkan. Untuk penampungan digunakan bak penampungan bertingkat yang

dilengkapi sistem sirkulasi, aerasi, dan filtrasi air sehingga kondisi air penampungan dapat dipertahankan tetap tinggi dan sekaligus menghemat air.

Ada dua macam filter pada sistem filtrasi, yaitu filter pasir untuk memisahkan partikel kotoran, dan bakteriofilter untuk mereduksi hasil metabilit dan sisa pakan. Pada bakteriofilter digunakan media filter batu kolar atau batu karang jahe yang sudah mati yang sering ditemukan di pantai-pantai. Jika sistem filtrasi bekerja dengan baik, kondisi air dapat dipertahankan tetap baik hingga berbulan-bulan tanpa perlu pergantian air.

Air yang sudah difiltrasi disirkulasikan kembali ke bak bertingkat.
Kecepatan sirkulasi diatur agar mampu memasok kebutuhan oksigen
udang. Aerasi dapat digunakan untuk mernbantu pasokan oksigen. Pada
awal penampungan ada kenderungan terjadi perubahan warna udang
menjadi agak kemerahan yang kemudian akan normal kembali setelah
udang ganti kulit.

b. Peralatan imotilisasi
Peralatan ini digunakan untuk mengimotilkan udang sehingga tenang dengan metabolisme, respirasi, dan aktivitas rendah. Peralatan imotilisasi tersiri dari :
– Bak air dingin berinsulasi untuk menampung air laut dingin dan es air laut.
– Bak untuk mengimotilkan udang yang dilengkapi sistem aerasi dan sirkulasi air.
Peralatan tersebut disusun dengan bak penampung air laut pada posisi lebih tinggi dari bak imotilisasi sehingga air laut dingin dapat mengalir ke bak imotilisasi untuk mendinginkan air dalam bak imotilisasi. Kecepatan penurunan suhu air dalam bak imotilisasi dapat diatur dengan mengatur jumlah air dingin yang mengalir ke bak imotilisasi dengan mengatur bukaan keran. Bak imotilisasi dilengkapi dengan sistem aerasi untuk memasok oksigen dan sirkulasi air.

1. Persiapan dan Penanganan
Transportasi sistem kering merupakan sistem transportasi dengan menggunakan media pengangkutan bukan air. Karena tidak menggunakan air, udang diimotilisasi dengan menggunakan suhu rendah sehingga tenang dan berada pada tingkat metabolisme dan respirasi rendah. Akan tetapi, sebelum diimotilisasi diperlukan beberapa tahap persiapan yang meliputi pemeriksaan kesehatan krustase, pemugaran, pemberokan, dan persiapan media serta kemasan untuk transportasi.

a. Persyaratan
Udang yang akan ditransportasikan hidup dengan sistem kering harus memenuhi persyaratan tertentu yaitu :
 Ukuran udangkomersial untuk konsumsi dan tidak lebih dari 70
gram/ekor
 Kondisi sehat, bugar, tidak ganti kulit
 Tidak cacat fisik
Udang yang ganti kulit (moulting) dan kurang/tidak bugar memiliki
dayatahan hidup rendah dan peluang mati selama transportasi tinggi.

b. Pemeriksaan Kebugaran
Pengamatan dan pembugaran udang yang akan ditransportasikan merupakan tahapan pertama yang perlu dilakukan di dalam transportasi udang hidup. Pemeriksaan kebuganan udang dilakukan dengan mengamati aktivitas dan perilaku udang di dalam maupun di luar air.
– Udang sehat sangat gesit, sangat responsif, dan sangat aktif, posisi tubuh tegak dengan gerakan kaki renang aktif dan cepat
– Udang meloncat-loncat jika diangkat dari air
Apabila udang kurang/tidak bugar perlu dibugarkan. Udang yang sehat
kemudian dipisahkan untuk dipuasakan paling tidak 18-24 jam.

c. Persiapan media dan kemasan
Media transportasi yang digunakan untuk transportasi udang hidup sistem kering adalah serbuk gergaji (sergaji) dari jenis kayu yang tidak menghasilkan racun, tidak berbau tajam, bersih, dan tidak mengandung bahan berbahaya lain.
Sergaji dibersihkan dari benda-benda asing (kawat, paku, potongan kayu, dan sebagainya) kemudian dicuci bersih untuk mengurangi tar dan bahan berbahaya lain yang ada. Sergaji ditiriskan dan dijemur sampai kering.
Sergaji kering dilembabkan dengan air laut (salinitas disesuaikan dengan salinitas asal udang) sebanyak 50% dari berat sergaji atau sampai kadar air sergaji sekitar 45-60%. Sergaji didinginkan sampai suhu sekitar 140C.
Kemasan yang digunakan adalah kotak stirofom atau poliuretan yang memiliki daya insulasi tinggi dan kotak kardus sebagai pengemas sekunder. Bahan lain yang disiapkan adalah hancuran es (0,5 kg) dibungkus kantong plastik, dan kertas koran.

2. Imotilisasi
Ada dua metoda imotilisasi dengan suhu rendah, yaitu imotilisasi pada
suhu rendah langsung dan imotilisasi dengan penurunan suhu bertahap.
a. Imotilisasi dengan penurunan suhu bertahap
Dalam metoda ini udang hidup diimotilisasi dengan menurunkan suhu air habitat udang secara bertahap sampai suhu tertentu dan dipertahankan selama waktu tertentu. Adapun caranya adalah sebagai berikut.
 Suhu air diturunkan sampai mencapai 140-150C dengan kecepatan penurunan suhu 50C/jam
 Suhu dipertahankan stabil selama 10-20 menit atau sampai udang imotil yang dapat ditandai dengan posisi tubuh udang roboh, gerakan kaki jalan dan kaki renang lemah atau perlahan.
Udang dikemas di dalam media sergaji suhu 140C.

b. Imotilisasi langsung pada suhu rendah
Udang diimotilisasi dengan menempatkan udang langsung di dalam habitat bersuhu rendah selama waktu tertentu
Udang langsung dimasukkan ke dalam air (salinitas diatur sama dengan salinitas air penampungan) dingin suhu 170-190C dan dipertahankan selama 5-20 menit atau sampai udang imotil.
Udang imotil diangkat untuk dikemas di dalam media sergaji suhu
140C.

3. PENGEMASAN

Pengemasan untuk transportasi udang hidup dengan sistem kering dilakukan sebagai berikut.
Disiapkan kotak stirofom dan ke dalamnya dimasukkan hancuran es (0,5 kg) yang dibungkus kantong plastik, kemudian ditutup kertas koran untuk mencegah rembesan air dari es. Di atas koran dimasukkan selapis sergaji (140C) sekitar setebal 10 cm.

 Es ditutup kertas koran untuk mencegah rembesan air es, dan diatas koran dimasukkan selapis sergaji setebal 15 cm.
 Udang dimasukkan dan disusun satu lapis berseling seling dengan posisi tubuh telungkap.
 Di atas udang dimasukkan selapis sergaji lembab dingin setebal 5-10cm. Demikian seterusnya, udang dan sergaji lembab dingin disusun lapis demi lapis secara berseling seling sampai kemasan penuh. Lapisan paling atas diisi sergaji sedikit lebih tebal (10-15 cm).
 Kemasan diitutup rapat dan direkat dengan flasband. Kotak stirofon dapat dimasukkan ke dalam kotak kardus untuk melindungi stirofom dari kerusakan fisik.
 Kemasan kemudian dapat ditransportasikan untuk ekspor ke luar negeri.
Penggunaan ruangan bersuhu sejuk (suhu ruang sekitar 170-190C)
selama transportasi sangat disarankan untuk menekan perubahan suhu
sehingga tingkat ketahanan hidup udang lebih tinggi dan daya jangkau
transportasinya lebih jauh.

D. Penanganan Udang Pada Saat Pengolahan

Prinsip yang dianut dalam penanganan/pengolahan udang adalah mempertahankan kesegaran udang selama mungkin dengan cara memperlakuan udang dengan cermat dan hati-hati; segera dan cepat mendinginkan udang sampai mencapai suhu sekitar 0oC; memperlakuan udang secara bersih, dan sehat serta selalu memperhatikan faktor waktu (kecepatan bekerja) selama penanganan rantai dingin. Faktor kebersihan yang dimaksud tidak hanya terhadap es, air, udang, tetapi juga termasuk kebersihan, alat yang dipergunakan, pekerja dan lingkungan tempat bekerja. Selama penanganan, udang harus dilindungi dari kemungkinan terjadinya perembesan oleh panas ke dalam wadah (misal peti dan palka). Adapun contoh penanganan yang dapat menurunkan mutu udang seperti : penyusunan udang yang terlalu rapat, tumpukan udang terlalu tinggi, dan udang tidak seluruhnya ditutupi oleh hancuran es.
Hal-hal yang diperhatikan dalam penanganan udang antara lain :

1. Persediaan Air
Air yang digunakan adalah air yang mutunya baik dan bersih.

2. Pemilihan Es
Es yang digunakan sebaiknya es yang berasal dari bahan baku (air) yang memenuhi persyaratan konsumsi, untuk jenis es air tawar. Sedangkan es dengan bahan baku air laut sebaiknya dipilih yang mutunya baik, bersih dan tidak tercemar. Penggunaan es haruslah diperhatikan bentuk dan ukurannya. Pecahan es yang terlalu besar dapat menyebabkan tergencetnya udang, tetapi apabila terlalu kecil, es cepat mencair. Demikian juga bentuk pecahan es yang tajam dapat melukai udang sehingga dapat menjadi penyebab turunnya mutu udang.. Jumlah es yang digunakan sebaiknya diperhatikan terutama pada saat penyimpanan sementara maupun selama pengangkutan. Karena es tersebut tidak saja untuk mendinginkan udang, tetapi juga digunakan untuk mempertahankan suhu tetap rendah. Jadi jumlah es yang digunakan sebaiknya jangan kurang tetapi cukup untuk menjaga kesegaran udang. Biasanya perbandingan antara udang dan es untuk penyimpanan adalah minimal 1:1.

3. Pencucian udang
Agar kotoran dan bahan-bahan asing lainnya benar-benar hilang, sebaiknya pencucian dilakukan dalam air mengalir, dengan harapan dapat mengurangi kerusakan pisik dan dapat mengurangi kandungan bakteri yang ada pada udang.
  1. Pemotongan kepala
Susunan tubuh udang mempunyai hubungan erat dengan masa simpannya. Bagian kepala merupakan bagian yang sangat berpengaruh terhadap daya simpan karena bagian ini mengandung enzim pencernaan dan bakteri pembusuk.

Pemotongan kepala dan pembersihan genjer dilakukan dengan tangan. Cara pemotongan kepala adalah dengan menarik sambil mematahkan dari arah bawah kepala ke atas dan bagian yang dipotong dari batas kelopak penutup kepala hingga batas leher.

Udang yang telah potong kepala segera direndam dengan menggunakan air dingin (maksimum 5oC). Selama pemotongan kepala, udang yang belum dipotong kepalanya harus selalu ditaburi dengan es curah secara merata untuk menjaga kesegarannya. Kepala udang dan kotoran lain, sebaiknya dikumpulkan dalam suatu wadah agar tidak mengkontaminasi udang lainnya.
Gambar pemotongan kepala :
  1. Penentuan ukuran (grading)
Penentuan ukuran (grading) biasanya hanya dilakukan dengan menggunakan tangan (manual). Dalam melakukan pekerjaan ini sebaiknya dilakukan di atas meja yang berlapis alumunium (bahan anti karat) dengan selalu memberikan hancuran es yang cukup.
  1. Penyusunan udang
Udang yang sudah dipotong kepala (headless) segera dimasukan ke dalam bok. Cara penyusunan udang di dalam peti ada dua macam :
  • Tumpukan : udang dimasukkan ke dalam peti dengan cara mencampur antara udang dan es
  • Berlapis    : alas peti diberi hancuran es setebal kira-kira 10-15 cm kemudian udang disusun di atasnya. Demikian seterusnya sampai udang habis dimasukkan. Lapisan udang paling atas diberi es satebal 5 cm.
  1. Peti (cold box)
Peti atau kotak pendingin (cold box) yang baik untuk menyimpan udang adalah peti atau tempat yang dapat melindungi udang dari benturan, penetrasi panas dari luar, mempunyai drainase dan mudah untuk diangkat. Jenis peti yang dapat digunakan ada dua yaitu peti yang terbuat dari fiberglass dan peti berinsulasi (Gambar 2). Peti berinsulasi leibh baik digunakan daripada peti fiberglass.
  1. Pengangkutan
Untuk mengangkut udang baik dari tambak ke tempat pengumpul maupun dari pengumpul ke tempat pembekuan sebaiknya menggunakan alat pengangkut berupa mobil truck atau pickup yang pada bagian atasnya ditutup dengan plastik atau apapun yang berguna untuk mencegah (mengurangi) penetrasi panas ke dalam peti udang yang sedang diangkut.

I. KESIMPULAN

Kesimpulan dari makalah ini yaitu penanganan krustasea hidup terutama jenis udang-udangan perrlu diperhatikan dengan baik, mulai dari pasca penangkapan sampai di tangan konsumen mengingat kondisi udang yang cepat membusuk.

DAFTAR PUSTAKA
Laporan Penelitian Lembaga Teknologi Perikanan, No. 1, 1973, Jakarta dalam Sofyan Ilyas. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan. Jilid I. Teknik Pendinginan Ikan

NAVIGASI LAUT

PENDAHULUAN

Navigasi merupakan pengetahuan untuk mengetahui keadaan suatu medan yang akan dihadapi atau posisi kita di alam bebas dan menentukan arah serta tujuan perjalanan di alam bebas.
Navigasi laut adalah ilmu yang mengajarkan cara-cara mengemudikan kapal dari suatu tempat ke tempat lain dengan aman dan ekonomis. Secara umum, navigasi ada 3 (tiga) :
1. Ilmu pelayaran datar
Ilmu pelayaran yang didasarkan pada benda-benda duniawi sebagai pedoman pelaksanaannya (burung, gunung, tanjung, pulau kecil).
2. Pelayaran astronomi
Ilmu pelayaran yang didasarkan pada benda-benda angkasa sebagai pedoman pelaksanaannya (matahari, bulan, bintang).
3. Navigasi elektronik
Ilmu pelayaran yang didasarkan pada benda-benda elektronik sebagai pedoman pelaksanaannya.
Navigasi Darat
Dalam navigasi darat kita memerlukan penggunaan peralatan seperti :
1. Penggunaan kompas
2. Pembacaan peta
3. Penggunaan tanda-tanda alam yang membantu kita dalam menentukan arah
Pengetahuan tentang navigasi darat ini merupakan bekal yang sangat penting bagi kita bila berada di alam bebas seperti , gunung hingga rimba belantara. Untuk itu memerlukan alat-alat terebut.

Peralatan yang biasa digunakan dalam navigasi darat terutama bila kita sedang menjelajahi hutan, gunung atau rimba belantara meliputi :
1. Penggaris
2. Kompas
3. Peta topografi
4. Pensil
5. Altimeter
6. Busur derajat
7. Konektor

PETA TOPOGRAFI

Peta adalah gambaran dari permukaan bumi yang diperkecil dengan skala tertentu sesuai dengan kebutuhan. Peta digambarkan di atas bidang datar dengan sistem proyeksi tertentu. Peta yang digunakan untuk kegiatan alam bebas adalah Peta Topografi.  Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang terlihat dari atas dare diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan secara proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk Garis-Garis Kontur.
Dalam menggunakan peta topografi harus diperhatikan kelengkapan petanya, yaitu:
  1. Judul Peta
Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas lain yang menonjol.
  1. Keterangan Pembuatan
Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di bagian kiri bawah dari peta.
1. Nomor Peta (Indeks Peta)
Adalah angka yang menunjukkan nomor peta. Dicantumkan di bagian kanan atas.
2. Pembagian Lembar Peta
Adalah penjelasan nomor-nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan interpretasi suatu daerah yang lebih luas.
  1. Sistem Koordinat
Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat adalah:
a. Koordinat Geografis
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co 120° 32′ 12″ BT 5° 17′ 14″ LS.
b. Koordinat Grid
Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid. Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke utara dan barat ke timur dari titik acuan.
c. Koordinat Lokal
Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat dibuat garis-garis faring seperti grid pada peta.
Skala bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta. Kedua sistern koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional. Namun dalam pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat dibuat sederhana atau tidak dibaca seluruhnya. Misal: 72100 mE dibaca 21, 9° 9700 mN dibaca 97, dan lain-lain.
  1. Skala Peta
Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan atau lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan  JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN
Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis). Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 25 m di medan yang sebenarnya.

MENGGUNAKAN PETA

Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah tentu titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelurn berjalan catatlah:
  1. Koordinat titik awal (A)
  2. Koordinat titik tujuan (B)
  3. Sudut peta antara A – B
  4. Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A – B
  5. Berapa panjang lintasan antara A – B dan berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A -B.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalah
  1. Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta.
  2. Gunakan tanda medan yang jelas balk di medan dan di peta.
  3. Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita, apakah sudah sesuai dengan tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.
  4. Perkirakan berapa jarak lintasan. Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60 menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.
  5. Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.
  6. Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan. Misalnya dari pnggungan curam menjadi punggungan landai, berpindah punggungan, menyeberangi sungai, ujung lembah dan lain-lainnya.
  7. Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuat lintasan dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.
PLOTTING DI PETA
Plotting merupakan proses membuat gambar atau membuat titik, membuat garis dan tanda-tanda tertentu di peta. Plotting sangat berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim Bum berada pada koordinat titik A (3986 : 6360) + 1400 m dpl. SMC memerintahkan Tim Buni agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 mdpl. Maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :
  1. Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimuali dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).
  2. Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tank garis dari A ke T, kemudian dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A – T dari titik A ke arah garis AT. Pembacaan sudut menggunakan Sistem Azimuth (0″ -360°) searah putaran jarum Jam. Sudut ini berguna untuk mengorientasi arah dari A ke T.
  3. Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T. Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipaharni betul bentuk garis garis kontur.
Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tempuh :
  1. Kemiringan lereng
  2. Panjang lintasan
  3. Keadaan dan kondisi medan (misal hutan lebat, semak berduri atau gurun pasir).
  4. Keadaan cuaca rata-rata.
  5. Waktu pelaksanaan (yaitu pagi slang atau malam).
  6. Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa.
PENUTUP

Navigasi adalah ilmu yang mengajarkan cara-cara mengemudikan kapal dari suatu tempat ke tempat lain dengan aman dan ekonomis. Secara umum, navigasi ada 3 (tiga) :
1. Ilmu pelayaran datar
Ilmu pelayaran yang didasarkan pada benda-benda duniawi sebagai pedoman pelaksanaannya (burung, gunung, tanjung, pulau kecil).
2. Pelayaran astronomi
Ilmu pelayaran yang didasarkan pada benda-benda angkasa sebagai pedoman pelaksanaannya (matahari, bulan, bintang).
3. Navigasi elektronik
Ilmu pelayaran yang didasarkan pada benda-benda elektronik sebagai pedoman pelaksanaannya.

Senin, 28 November 2016

Mutiara, Biota Laut Yang Termashyur Di Dunia

Tidak hanya menjadi rumah bagi populasi biota – biota laut yang termashyur di dunia, namun hasil – hasil laut yang diproduksi dari Indonesia memiliki kualitas yang terbaik. Salah satunya adalah mutiara laut yang merupakan mutiara laut terbaik di dunia.

Perairan Indonesia merupakan tempat yang ideal untuk memproduksi mutiara terbaik di dunia, yaitu South Sea Pearl. Joseph Taylor, seorang ahli biota laut asal Australia menyatakan bahwa Indonesia merupakan pusat mutiara laut selatan (South Sea Pearl) terbesar di dunia. South Sea Pearl adalah jenis mutiara yang secara umum berukuran lebih besar dari mutiara – mutiara lainnya dan memiliki kilau cahaya yang unik dengan pantulan yang lembut.

Karena keunikannya, mutiara South Sea Pearl dinobatkan sebagai yang terbaik di dunia, mengungguli mutiara – mutiara jenis lain yaitu Black Pearl, Akoya atau Mikimoto serta mutiara air tawar China.
“Mutiara south sea pearl memiliki keindahan seperti kilau yang abadi, namun mutiara air tawar China hanya bertahan satu hingga dua tahun kemudian warnanya berubah,” demikian diungkapkan Mulyanto, seorang ahli mutiara dari Sekolah Tinggi Perikanan seperti dikutip dari laman cnnindonesia.com.

Keunggulan dari cahaya pantulan yang ada di mutiara South Sea Pearl disebabkan oleh ukuran trombosit agagonite yang dimiliki oleh kerang. Ukuran tersebut akan membentuk mutiara yang lebih besar dengan lapisan luar yang tebal serta rata. Karena itu, mutiara ini seringkali dipatok dengan harga yang lebih mahal dari mutiara lainnya.

Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa produksi  South Sea Pearl di seluruh dunia berjumlah 12 ton setiap tahunnya. Dari produksi tersebut, sebanyak 6,74 ton mutiara dihasilkan oleh Indonesia. Karena itu, bisa dikatakan bahwa lebih dari 50 persen mutiara jenis ini berasal dari indonesia. Kualitas mutiara laut asal indonesia memang sudah dikenal di seantero dunia.

Harganya pun tidak main – main. Mutiara South Sea Pearl yang biasanya berukuran 8mm sampai 22mm dengan warna putih keemasan ini memiliki kisaran harga 2,6 juta rupiah per butirnya. Dengan produksi yang cukup besar itu, nilai ekspor yang dihasilkan juga mencapai angka yang fantastis, yaitu 60 – 70 juta US dollar dari total nilai ekspor global yang mencapai 200 juta US dollar

Kerang mutiara yang memiliki nama latin Pinctada maxima ini hidup di perairan Indonesia, Filipina Selatan, Myanmar dan Australia. Di Indonesia sendiri, penyebaran spesies kerang ini cukup merata di berbagai pulau. Kerang – kerang ini tumbuh baik karena perairan indonesia mampu untuk memberikan nutrisi yang sempurna baik pertumbuhan kerang tersebut. Jenis air laut yang hangat serta memiliki banyak kandungan plankton menjadi keunggulan tersendiri dalam perkembangan kerang Pinctadamaxima.

Senin, 07 November 2016

Budidaya Ikan Nila

Budidaya Ikan Nila

Cara budidaya ikan nila memang berbeda dengan ikan lele yang telah saya bahas sebelumnya, ikan lele yang harus diternak dalam kolam dengan terpal juga peternakannya yang harus jauh dari pemukiman warga, nah untuk pembudidayaan ikan nila ini anda tidak usah ribet seperi itu cara nya mudah anda tinggal menyiapkan kolam tanah dan tempat ternaknya pun tidak harus selalu jauh dari pemukiman warga jadi anda lebih sering memantaunya. Untuk kandungan gizinya pun tidak usah ditanyakan lagi ikan nila ini memilki kandungan nutrisi yang cukup bagi tubuh terlebih bagi pertumbuhan anak.
Cara pembudidayaan ikan nila ini sangat mudah dikembangkan sekali baik dibudidayakan dalam skala kecil bahkan besar-besaran. Dan untuk pemasarannya anda jangan khawatir jenis ikan yang satu ini sangat berkembang pesat dipasaran bahkan sampai ke luar negeri sekalipun yakni diantaranya jepang dan singapura, nah dilihat dari prospek penjualannya apakah anda tidak ingin memulai bisnis budidaya ikan nila ini? Disini saya akan berbagi tips dan cara mengenai budidaya ikan lele yang menguntungkan, yang dapat anda praktekan dalam bisnis usaha budidaya ikan nila.

Cara budidaya atau ternak ikan nila yang menguntungkan dan sederhana

  1. Penempatan lokasi (kolam)


cara budidaya ikan nila
Kolam untuk budidaya ikan nila
Kolam merupakan sarana utama yang perlu disiapkan dalam pembudidayaan ikan nila, jenis-jenis kolam untuk ikan nila ini ternyata juga berbeda-beda diantaranya yaitu :
  • Kolam pemeliharaan benih
Jenis untuk kolam ini tidak lebih dari 50 – 100 meter persegi dalam pembuatannya, kedalaman air kolamnya pun mencapai 30 – 50cm sedangkan untuk jumlah ikannya sendiri 5-50 ekor per meter persegi, lama pemeliharaan dalam kolam ini kira-kira 3 – 4 minggu, yaitu pada saat si ikan berukuran 3 – 5 cm.
  • Kolam pemeliharaan imduk
Kolam ini merupakan kolam yang berfungsi sebagai pemijahan, koalm ini sebaiknya berupa kolam tanah yang luasnya berkisar antara 50 – 100 meter persegi dan kepadatan kolam induknya hanya 2ekor per meter persegi. Untuk syaratnya kolam yang berfungsi sebagai pemijahan ini harus memiki suhu air antara 20 – 22 derajat celcius dasar kolamnya pun harus berpasir.
  • Kolam pembesaran
Kolam pembesaran ini berfungsi sebagi tempat untukmembesarkan dan memeilihara ikan nila selepas dari kolam pendederan.
  • Kolam (tempat pemberokan)
Pembesaran ikan nila dapat pula nada lakukan pada jaring apung berupa hapa yang berukuran 1 x 2 m sampai 2 x 3 m dengan kedalaman 75 – 100cm, ukuran hapa ini dapat anda sesuaikan dengan besar kolam yang akan anda buat.
  1. Peralatan
budidaya ikan nila
peralatan budidaya ikan nila


Peralatan-peralatan yang digunakan dalam pembudidayaan ikan nila dalam usaha pembenihan ini adalah waring, hapa, jala, seser, ember dalam berbagai ukuran, baskom, timbangan sklaa kecil dan besar, pisau, arit sertapiring secchi untuk mengukur kekeruhan pada air nah sedangkan untuk peralatan yang lainnya dapat anda gunakan sebagi alat penangkap atau memanen ikan seperti waring atau ayakan halus
  1. Persiapan media
Persiapan media untuk ternak ikan nila
Persiapan media untuk ternak ikan nila


Hal selanjutnya yang harus anda lakukan adalah menyiapkan berbagai media untuk peeliharaan ikan pastinya, terutama pada tahap pemupukan dan pengeringan. Dalam menyiapkan media pemeliharan ini yang perlu anda lakukan adalah pengeringan kolam selama beberapa hari dan dan selama proses pengeringann itu lakukan pengapuran untuk memerantas hama penyakit yang akan mengganggu ternak ikan nila anda sebanyak 25 -200 gram/ meter persegi dan diberi pemupukan berupa pupuk buatan yaitu urea dan TSP dengan kadar masing-masing pupuk 50 – 70/meter perseginya
  1. Pembibitan
Pembibitan untuk budidaya ikan nila
Pembibitan untuk budidaya ikan nila


Pemilihan bibit dan induk
Ciri-ciri bibit bila yang unggul diantaranya yaitu :
  • Pertumbuhannya sangat pesat
  • Resisten terhadap serangan hama penyakit
  • Dapat hidup dan tumbuh dnegan baik pada lingkungan yang relatif buruk
  • Mampu memproduksi benih dalam jumlah besar dan kualitas yang baik
  • Sedangkan untuk ukurannya pun, ukuran ikan nila yang baik yakni berkisar antara 120 – 180 gram lebih per ekor yang berumur sekitar 4 – 5 bulan.
Adapun untuk mengetahui jenis ikan jantan dan betina adalah sebagai berikut :
Ciri-ciri ikan nila jantan :
  • Warna perut lebih gelap yakni kehitam hitaman
  • Warna dagu kehitam-hitaman dan kemerah-merahan
  • Ujung sirip berwarna kemerah-merahana terang dan jelas
  • Pada alat reproduksinya terdapat dua lubang yakni anus dan lubang sperma yang merangkap lubang urine.
  • Jika perut distri[ping akan mengeluarkan cairan.
Ciri-ciri ikan betina
  • Warna peut lebih putih
  • Warna dagu kemerah merahan pucat tidak jelas
  • Warna dagu berwarna putih
  • Jika perut distriping tidak mengeluarkan cairan
  • Terdapat tiga buah lubang pada alat reprosduksinya yakni dubur lubang pengeluaran telur dan lubang urine
  1. Penebaran benih ikan nila
Penebaran benih ikan nila
Penebaran benih ikan nila


Untuk ukuran ikan nila yang siap ditebar adalah jenis ikan nila yang sudah berukuran 8 – 12 cm atau ukuran berat 30gram per ekornya, dengan padat tebar 5 – 10 ekor per meter persegi.
  1. Pemberian pakan
Pemberian pakan ikan nila
Pemberian pakan ikan nila


Tumbuhnya fitoplankton, zooplankton, ataupun hewan-hewan lainnya yang hidup diperairan seperti cacing, siput dan  jentik-jentik nyamuk dapat menjadi sumber makanan alami bagi ikan nila namun tidak hanya sebatas makanan alami itu saja ikan nila ini juga perlu makanan tambahan berupa pelet yang mengandung 30 – 40 persen protein dengan kandungan lemaknya yang tidak lebih dari 3 persen. Pembentukan telur pada ikan memerlukan bahan protein yang cukup didalam pakannya. Perlu pula ditambahkan vitamin E dan C yang berasal dari daun daunan atau sayuran didaun iris.
  1. Penyakit pada ikan nila
cara ternak ikan nila
Penyakit pada ikan nila


Penyakit dari ikan nila kebanyakan adalah yang berasal dari kondisi lingkungan kolamnya itu sendiri bisa karena terlalu padat, kekurangan makanan dan kondisi kolamnya yang tidak terpelihra. Adapun hama dan penyakit yang menyerang ikan nila ini yakni seperti ular, kodok, lingsang, ucrit, dan bebeasan sedangkan beberapa penyakit yang dapat menyerang ikan nila adalah penyakit pada permukaan kulitnya dengan gejala bintik-bintik berwarna merah berubah warna dan tubuh si ikan berlendir, selain pada kulit juga pada insang berupa gejala pada tutup insang yang membengkak dan lembar insangnyapun pucat putih.
  1. Pemanenan
Pemanenan dari budidaya ikan nila
Pemanenan ikan nila


Setelah masa umur ikan berumur 4 – 6 bulan maka ikan nila panen ini sudah dapat anda panen  nah pada saat panen tital biasanya ikan nila ini berkisar antara 50 gram per ekornya, namun ada pula yang dibawah dan diatas beratnya. Sistem pemanenan ini dapat dilakukan secara bertahap dimana yang dipanen nya hanya jenis ikan yang sudah siap dipasarkan, pada tahap pertama dengan emnggunakan jaring dan setiap bulan berikutnya secar bertahap. Nah untuk tekhnik pemanenan yang mudah dan cepat anda bisa menggunakan tekhnik yang satu ini yakni dengan mengeringkan kolam secara total atau sebagiannya, nah selama proses pemanenan air segarpun perlu anda aliran agar tidak ada ikan yang mati. buat kamu yang belum tahu asal usul informasi lengkap mengenai ikan nila ini silakan baca 
Dan setelah panen selesai, kolam pemeliharaan dikeringkan dan dilakukan persiapan kembali untuk proses pembudidayaan selanjutnya.
Wah ternyata banyak juga yah prosedur dalam pembudidayaan atau ternak ikan nila ini, semoga informasi yang saya share ini dapat bermanfaat bagi anda yanbg esdang mencariinf mengenai cara pembudidayaan ikan nila yang menguntungkan, semoga dapat bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi anda untuk memulai pembudidayaan ikan nila ini
Terimakasih dan semoga bermanfaat.

 

PENANGANAN IKAN SEGAR

PENANGANAN IKAN SEGAR
 
Ikan merupakan salah satu bahan makanan yang mudah membusuk. Hal ini dapat dilihat pada ikan-ikan yang baru ditangkap dalam beberapa jam saja kalau tidak diberi perlakuan atau penanganan yang tepat maka ikan tersebut mutunya menurun.
Penanganan ikan basah harus dimulai segera setelah ikan diangkat dari air tempat hidupnya, dengan perlakuan suhu rendah dan memeperhatikan faktor kebersihan dan kesehatan.


Penanganan Ikan Basah di Laut
* Ikan hasil tangkapan segera disemprot dengan air laut bersih sesaat tiba di geladak, kemudian dipisahkan dan dikelompokkan menurut jenis serta ukurannya.
* Perlakuan yang dikenakan harus dapat mencegah timbulnya kerusakan fisik (ikan tidak boleh diinjak atau ditumpuk terlalu tinggi).
* Ikan harus dilindungi terhadap terik matahari.
* Pendinginan dilakukan dengan menyelubungi ikan dengan es hancuran dan suhu ikan dipertahankan tetap pada sekitar 0°C selama penyimpanan.
* Tinggi timbunan ikan dalam wadah penyimpan maksimal 50 cm ( tergantung jenis ikan) agar ikan tidak rusak.
* Jika pendinginan dilakukan dengan menggunakan air laut yang didinginkan, harus dilakukan sirkulasi air, baik secara mekanik maupu manual, agar terjadi perataan suhu dan terhindar dari penimbunan kotoran.
* Penyimpanan tidak boleh lebih dari 4 hari.
Cara Pembongkaran Hasil Tangkapan
* Sewaktu membongkar muatan, hendaknya dipisahkan hasil tangkapan yang berbeda hari atau waktu penangkapannya.
* Harus dihindarkan pemakaian alat-alat yang dapat menimbulkan kerusakan fisik, seperti sekop, garpu, pisau dan lain-lain.
* Pembongkaran muatan harus dilakukan secara cepat dengan mengindarkan terjadinya kenaikan suhu ikan.
Penanganan Ikan Basah di Darat
* Pada saat dibongkar dari perahu, kapal atau kendaraan, sebelum dilelang atau dijual, sebaiknya ikan dalam wadah masih diselimuti es, agar tidak meningkat suhunya.
* Ikan tidak boleh dicuci dengan air kotor atau air tercemar lainnya.
* Di tempat pendaratan, pengumpulan, pelelangan dan pengepakan, selama menunggu perlakuan berikutnya, ikan tidak boleh diletakkan di lantai dan sebaiknya ikan ditaburi es.
* Setelah selesai penjualan atau pelelangan, ikan harus segera dikelompokkan menurut jenis, ukuran dan mutu kesegarannya.
* Jika ikan disiangi, maka sepanjang kegiatan penyiangan dan pencucian harus digunakan es hancuran yang cukup agar ikan tidak membusuk karena kenaikan suhu.
* Jika ikan disimpan dalam waktu yang lama karena menunggu pengiriman, sebaiknya es diganti dengan es yang baru kemudian ditata ulang kembali.
Penanganan Selama Pengangkutan dan Distribusi
* Selama pengangkutan dan distribusi, suhu ikan harus senantiasa rendah, alas wadah harus dilapisi es halus kemudian lapisan ikan yang ditaburi es disusun diatasnya.
* Diatas dan dibawah tumpukan peti ikan harus diberi lapisan es yang lebih tebal.
* Usahakan kondisi termperatus didalam fom 0°C
Ciri-ciri Ikan Segar
1. Rupa dan warna ikan secara keseluruhan masih cerah, mengkilap spesifik sesuai jenis ikan.
2. Lendir yang tipis, bening dan encer menyelubungi tubuh ikan baunya normal dan khas jenis ikan.
3. Sisik melekat kuat-mengkilat dengan warna atau tanda khusus sesuai jenis ikan.
4. Mata cemerlang, cembung, bening, pupil bitam dan tidak banyak berdarah.
5. Daging kenyal, jika dipijat, bekas pijatan tidak nampak.
6. Insang berwarna merah cerah khas menurut jenis ikan, tertutup lendir yang tipis, bening dan berbau segar.
7. Bagian perut masih kuat, tidak pecah dan lubang dubur tertutup.
Ciri-ciri ikan yang jelek :
1. Warna insang pucat dan berbau busuk
2. Lendir alami yang menutupi permukaan ikan hilang atau mengering atau menjadi pekat atau lengket
3. Warna kulit menjadi pudar, kulit ikan akan mengering dan retak
4. Sisik-sisiknya banyak yang lepas
5. Dagingnya lunak dan kehilangan elastisitasnya

Pendinginan Ikan dengan Menggunakan Es

A.      Pendinginan Ikan
Pengawetan ikan dengan suhu rendah  merupakan suatu proses pengambilan atau pemindahan panas dari tubuh ikan ke bahan lain. Adapula yang mengatakan, pendingunan adalah proses pengambilan panas dari suatu ruangan yang terbatas untuk menurunkan dan mempertahankan suhu di ruangan tersebut bersama isinya agar selalu lebih rendah dari pada suhu di luar ruangan. Selain itu Pendinginan juga merupakan satuan operasi dimana suhu makanan berkurang menjadi antara -1sampai 8C.
Kelebihan dari pengawetan ikan dengan pendinginan adalah sifat-sifat asli ikan tidak mengalami perubahan tekstur, rasa, dan bau. Efisiensi pengawetan dengan pendinginan sangat tergantung pada tingkat kesegaran ikan sebelum pendinginan. Pendinginan yang di lakukan sebelum rigormortis lalu merupakan cara yang paling efektif jika di sertai dengan teknik yang benar. Sedangkan pendinginan setelah proses autolisis berlangsung tidak akan banyak membantu.
Pendinginan ikan 0°C dapat memperpanjang kesegaran ikan antara 12-18 hari dari sejak ikan ditangkap dan mati. Sebagai contoh pengaruh pendinginan terhadap mutu ikan kakap dapat dilhat pada table dibawah ini.
Ikan kakap yang disimpan pada
Tidak layak dimakan lagi sesudah
16o C
1-2 hari
11o C
3 hari
5C
5 hari
0C
14-18 hari
B.       Cara Pendinginan Ikan Dengan Es
Petani ikan dan nelayan pada umumnya melakukan proses pendinginan ikan dengan menggunakan es batu karena alasan kemudahan. Cara penanganan ikan dengan es sangat beragam tergantung tempat, jenis ikan, dan tujuan pendinginan. Faktor yang penting dalam proses pendinginan ikan adalah kecepatan. Semua pekerjaan harus dilakukan secara cepat agar suhu ikan cepat turun. Es yang digunakan harus berukuran kecil, makin kecil ukuran es maka makin banyak permukaan yang bersinggungan dengan es sehingga proses pendinginan akan berlangsung lebih cepat.
Cara ideal mencampur ikan dengan es yaitu membuat lapisan es pada dasar, kemudian diatasnya selapis ikan, dilanjutkan dengan lapisan es lagi, demikian seterusnya.
Fungsi es dalam hal ini :
a.  Menurunkan suhu daging sampai mendekati 0˚C.
b.  Mempertahankan suhu ikan tetap dingin.
c.  Menyediakan air es untuk mencuci lendir, sisa-sisa darah, dan bakteri dari permukaan badan ikan.
d.  Mempertahankan keadaan berudara (aerobik) pada ikan, selama disimpan dalam palka.
Ada dua cara pendinginan ikan dengan menggunakan es batu. Yaitu:
a.    Tumpukan
Es batu yang telah disiapkan segera ditebarkan ke dasar wadah penyimpanan ikan sehingga membentuk lapisan es setebal 5 cm. Kemudian ikan yang telah dicampur es batu dimasukkan ke dalam wadah tersebut. Pada lapisan ikan paling atas ditutupi dengan hancuran es batu setebal 7 cm, lalu wadah ditutup agar tidak terjadi kontaminasi dengan udara diluarnya. Es batu dan ikan ditumpuk sedemikian rupa sehingga semua ikan tertutup es batu.
b.    Berlapis
Es batu ditaburkan ke dasar wadah penyimpanan ikan hingga membentuk lapisan es setebal 5 cm. Selanjutnya diatasnya disusun ikan secara teratur degan bagian perur menghadap ke bawah agar cairan es batu yang meleleh tidak tergenang di bagian perut ikan. Di atas lapisan ikan tersebut ditaburkan es setebal 3-5 cm. Usahakan agar seluruh tubuh ikan tertutup lapisan es tersebut. Penyusunan lapisan es dan ikan tersebut dilanjutkan terus hingga mencapai permukaan wadah. Pada bagian paling atas ditaburkan kembali lapisan es setebal 7 cm dan kemudian tutup wadah sebaik mungkin agar tidak terjadi kontaminasi dengan lingkungan sekelilingnya.
C.      Cara Penyusunan Ikan
Penyusunan ikan dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai cara berikut.
a.    Bulking
Bulking dilakukan dengan cara es batu disusun selapis demi selapis dalam sebuah wadah. Bagian dasar dan bagian tepi wadah harus diberi lapisan es batu setebal 5 cm untuk mencegah perambatan panas dari udara di bagian luar. Tebal antara ikan dan lapisan es batu sebaiknya sama dan usahaka agar setiap tubuh ikan tertutup lapisan es.
Bila jumlah ikan yang akan di dinginkan sangat banyak, untuk mempermudah penyusunan ikan, sebaiknya wadah dilengkapi dengan sekat hidup (sekat yang dapat dibongkar pasang) terbuat dari kayu.
b.    Shelfing
Prinsip kerja ini sama dengan bulking yang dilengkapi dengan sekat hidup. Jarak antar sekat sekitar 20 cm dan setiap sekat hanya menampung satu lapis ikan.
Penyusunan ikan ini dianggap dapat menghabiskan waktu, tenaga, dan tempat sehingga biasanya hanya digunakan untuk penyimpanan ikan berukuran besar. Namun demikian, dengan cara ini mutu ikan tetap baik dan kehilangan berat karena tertekan dapat dikurangi.
c.    Boxing
Boxing adalah proses penyusunan ikan dengan menggunakan kotak (box) terbuat dari alumunium atau plastik.
Ikan yang disusun dalam kotak harus terlebih dahulu dicampur dengan es batu, agar tingkat kesegarannya dapat dipertahankan lebih lama.
Cara ini dianggap lebih menguntungkan karena:
1.  Dengan cara ini tubuh ikan tidak akan mengalami luka karena tekanan. Berat ikan tidak banyak berubah sebab tingkat penyusutannya rendah.
2.  Tingkat kesegaran maupun kualitas ikan tidak banyak mengalami perubahan.
3.  Dengan cara ini penyusunan dan pembongkaran ikan dari dalam kotak dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat.
D.      Prosedur pendinginan ikan
1.  Ikan yang akan di dinginkan dipisahkan menurut ukuran, jenis, dan tingkat kesegarannya.
2.  Ikan besar harus disiangi terlebih dahulu dan dibuang isi perut maupun insangnya. Ikan kecil tidak perlu disiangi, cukup dicuci hingga bersih.
3.   Sisik ikan dibersihkan dengan menggunakan sikat kawat, dimulai dari ekor terus  ke arah kepala.
4.  Ikan yang telah dibersihkan dan dibuang isi perut maupun insangnya segera dicuci dengan air bersih agar lendir, darah maupun kotoran yang masih menempel hilang.
5.  Kemudian ikan disusun didalam wadah pendingin yang telah disiapkan.
Peralatan yang biasa dipergunakan dalam penanganan dan penyimpanan ikan pada proses pendinginan.
*        Alat:
-    Wadah pendinginan ikan (coolbox)
-    Palka
*        Bahan:
       -    Es batu
       -    Air bersih
       -    Ikan yang siap ditangani
E.       Pendinginan Ikan Pada Suhu Sub Zero
Suhu sub zero maksudnya adalah suhu dibawah 0°C. Berarti ikan sementara dalam proses pembekuan.
Selama proses pembekuan berlangsung, terjadi pemindahan panas dari tubuh ikan yang bersuhu lebih tinggi ke refrigerant yang bersuhu rendah. Dengan demikian kandungan air di dalam tubuh ikan akan berubah bentuk menjadi kristal es.
Secara singkat, proses pembekuan cairan dalam tubuh ikan dapat dibagi menjadi 3 fase, yaitu:
1.  Terjadi penurunan suhu wadah penyimpanan yang segera diikuti dengan penurunan suhu tubuh ikan. Proses pembekuan pada tubuh ikan baru akan terjadi setelah suhu tubuh ikan mencapai 0°C dengan ditandai terbentuknya kristal-kristal es.
2.  Penurunan suhu lebih lanjut akan meningkatkan pembekuan cairan tubuh. Biasanya akan berhenti pada suhu -12°C (kisaran suhu ini disebut daerah kritis atau critical zone). Untuk menurunkan suhu ikan dari 0 sampai -12°C diperlukan waktu yang cukup lama, karena selain panas yang harus dilepaskan, kristel es yang terbentuk pada permukaan tubuh ikan juga akan menghambat proses pembekuan dalam tubuh ikan. Waktu yang diperlukan untuk mengubah suhu tubuh dari 0 sampai-12°C disebut periode pembekuan (thermal arrest period) yaitu waktu yang diperlukan untuk melewati daerah kritis.
3.  Pada fase sebelumnya banyak cairan dalam tubuh ikan yang sudah membeku maka pada fase ini proses pembekuan akan berlangsung lambat. Meskipun suhu terus diturunkan hingga mencapai -30°C.
F.       Jumlah es yang digunakan
Jumlah es yang di gunakan harus di sesuaikan dengan jumlah ikan yang akan di tangani akan di peroleh suhu pendinginan yang optimal. Jika jumlah es terlalu sedikit dibandingkan jumlah ikannya maka suhu pendinginan yang dihasilkan tidak cukup dingin untuk mempertahankan kesegaran ikan dalam waktu yang di tentukan. Sebaiknya, bila jumlah es terlalu banyak dapat menyebabkan ikan kerusakan fisik karena himpitan atau tekanan dari bongkahan es. Es yang di tambahkan harus dapat menurunkan suhu ikan sampai 0ºC dan suhu tersebut dapat dipertahankan selama penyimpanan dalam waktu yang ditentukan.
Perbandingan es dan ikan yang dipergunakan selama pendinginan bervariasi antara 1 : 4 sampai 1 : 1. Perbandingan tersebut tergantung pada waktu penyimpanan yang diperkirakan, suhu udara diluar kemasan, dan jenis wadah penyimpanan.
Ketebalan lapisan ikan berpengaruh terhadap kecepatan penurunan suhu tubuh ikan. Semangkin tipis lapisan ikan, kecepatan penurunan suhunya semangkin cepat. Waktu yang diperlukan untuk mencapai 1,5ºC dari suhu awal tubuh ikan 10ºC dari berbagai perlakuan.
Tabel. Waktu yang diperlukan untuk mencapai suhu 1,5ºC dari 10ºC pada berbagai ketebalan lapisan ikan.
               Tebal lapisan ikan (cm)              
Waktu (jam)
2,5
2
10
4
12,5
6,5
15
9
25
24
60
120
G.      Lama pemberian es
Perkiraan lama pendinginan ikan dengan es harus di perhitungkan dengan cermat. Hal yang menyangkut jumlah es yang digunakan untuk mengatasi es yang mencair. Kecepatan es mecair atau melebur di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
1.    Volume kotak atau wadah yang di gunakan.
2.    Bahan atau material wadah.
3.    Penggunaan isolasi dan jenis isolasi.
4.    Suhu lingkungan di luar wadah atau kotak pendinginan.
H.      Ukuran dan jenis wadah yang digunakan
Volume kotak yang lebih luas akan mempercepat pencairan es. Hal ini dengan jumlah panas yang masuk ke dalam kotak melalui permukaannya. Semakin besar luas permukaan maka panas yang masuk ke dalam kotak semakin besar pula.
Jenis material kotak peng-es-an yang sering sering di gunakan saat ini oleh para pelaku penanganan ikan di Indonesia antara lain: kayu, plastik polietilen, fiberglass, dan Styrofoam. Dari berbagai macam kemasan tersebut urutan jenis kemasan yang dapat memperlambat peleburan es adalah Styrofoam, kemudian di ikuti dengan plastik polietilen, fiberglass, dan kayu. Namun, dalam praktiknya kotak atau wadah untuk pendinginan ikan dengan es umumnya di buat dari kombinasi berbagai jenis material, misalnya Styrofoam dengan kayu dan plastik dengan kayu. Penggunaan isolasi dalam wadah pendinginan di maksudkan untuk memperkecil jumlah panas yang masuk dari luar kemasan ke dalam kemasan sehingga es menjadi lebih lama untuk melebur. Suhu luar kemasan yang tinggi akan menyebabkan panas yang masuk kedalam kemasan juga besar sehingga peleburan es semakin cepat.
I.         Kondisi fisik ikan
Kondisi fisik ikan sebelum penanganan ( sebelum di es-kan ) harus di perhatikan. Ikan-ikan yang kondisi fisiknya jelek, misalnya lecet-lecet, memar, sobek, atau luka pada kulit, sebaiknya dipisahkan dari ikan yang kondisi fisiknya baik. Hal ini di sebabkan darah dari ikan yang luka akan mencemari atau mengontaminasi ikan yang masih baik kondisinya.
J.        Pendistribusian Ikan Segar
Ikan segar merupakan bahan mentah yang paling baik dan fleksibel untuk segala macam keperluan, seperti dibuat menjadi ikan kaleng, ikan pindang dll. Untuk keperluan apapun, ikan yang lebih segar adalah lebih baik dan tentu pula lebih tinggi harganya. Itulah sebabnya dianjurkan agar ikan diperlakukan sebaik-baiknya sejak pertama ditangkap sampai diperdagangkan ke konsumen.
BA