Selasa, 29 Mei 2018

PERSIAPAN WADAH DAN MEDIA BUDIDAYA ROTIFERA (PAKAN ALAMI)


 Rotifera adalah zooplankton yang biasa digunakan untuk pakan alami ikan, terutama untuk larva ikan yang ukurannya sangat kecil, seperti pada larva ikan malas (ikan betutu). Rotifera merupakan pakan awal larva Ikan. Untuk keperluan budidaya Rotifera, kita perlu membudidayakan Chlorella sp terlebih dahulu. Apabila kepadatan Chlorella sp. telah mencapai kepadatan tertinggi maka inokulasi bibit Rotifera ke dalam wadah Chlorella sp. dapat dilakukan.

 Gambar 1. Rotifera

Budidaya zooplankton, dalam hal ini Rotifera, merupakan pakan awal larva Ikan. Untuk keperluan budidaya Rotifera, kita perlu membudidayakan Chlorella sp terlebih dahulu. Apabila kepadatan Chlorellasp. telah mencapai kepadatan tertinggi maka inokulasi bibit Rotifera ke dalam wadah Chlorella sp. dapat dilakukan. Atau sebagian Chlorella sp. dipanen dan dipindahkan ke wadah budidaya Rotifera.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan memberi pakan berupa ragi roti pada Rotifera. Berdasarkan penelitian–penelitian yang sudah dilakukan, ternyata Rotifera yang diberi pakan ragi roti dapat menghasilkan populasi sepuluh kali dibandingkan dengan yang diberi fitoplankton. Kedua cara budidaya di atas dapat dilakukan, sebab Rotifera termasuk zooplankton yang bersifat filter feeder yaitu cara makannya dengan menyaring partikel makanan dari media tempat hidupnya.
Beberapa persyaratan lingkungan yang diperlukan Rotifera, antara lain suhu media tidak terlalu tinggi, yang baik sedikit di bawah suhu optimum. Suhu optimum untuk Rotifera Brachionus sp. adalah 25oC, walaupun dapat hidup pada suhu 15–31oC. Selanjutnya pH air di atas 6,6 di alam, namun pada kondisi budidaya biasanya 7,5; ammonia harus lebih kecil dari 1 ppm; oksigen terlarut >1,2 ppm.
Untuk cara budidaya dengan menggunakan Chlorella sp. sebagai pakan Rotifera, maka prosedur penyiapan wadah dan media sama seperti pada budidaya Chlorella sp. Wadah budidaya Rotifera dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Pada saat kepadatan Chlorella sp. mencapai puncak maka dilakukan inokulasi Rotifera; dan sehari (sesaat) sebelumnya pemupukan ulang perlu dilakukan. Tujuannya adalah agar supaya Chlorella sp. segera mendapatkan mineral sebelum populasi fitoplankton kekurangan mineral.

Cara di atas menggunakan wadah budidaya Rotifera yang sama dengan wadah budidaya Chlorellasp. Cara ini mempunyai kelemahan, yaitu dengan adanya pemupukan ulang maka hal ini akan menyebabkan kualitas air kurang baik untuk Rotifera. Cara yang lebih baik adalah dengan membudidayakan Rotifera pada wadah terpisah, dan fitoplankton serta medianya dipanen dari wadah fitoplankton dan dimasukkan ke wadah budidaya Rotifera setiap hari.
Kegiatan pertama untuk budidaya Rotifera adalah menyiapkan wadah yang bersih dan sudah disanitasi. Adapun cara penyiapan wadah dan air untuk budidaya Rotifera ini sama dengan persiapan dan air padabudidaya Chlorella. Jika populasi fitoplankton sudah mencapai puncak maka sebagian fitoplankton bersama media dipindahkan ke wadah Rotifera. Wadah fitoplankton yang sudah berkurang volume airnya, biasanya ditambahkan 50% kembali air tawar, lalu dipupuk ulang.
Penambahan fitoplankton ke wadah Rotifera dilakukan setiap hari. Penambahan dilakukan sampai hari ke 4 dan biasanya pada hari ke 5 panen Rotifera dapat dilakukan. Pada pemindahan Chlorella sp. perlu digunakan saringan berupa kantong penyaring (plankton net) yang lubangnya 100 mm, untuk mencegah kemungkinan terbawanya copepoda, yang nantinya akan memakan Rotifera.
Pada budidaya Rotifera dengan menggunakan Chlorella sp. sebagai pakannya diperlukan wadah/bak budidaya Chlorella sp. dan wadah/bak budidaya Rotifera sebanyak 6 : 1 (dalam volume). Artinya untuk menyiapkan makanan Rotifera dalam satu wadah diperlukan 6 wadah fitoplankton. Hal ini dilakukan karena populasi Chlorella sp. harus disediakan setiap hari untuk makanan Rotifera. Populasi Chlorella sp. akan mencapai puncak 5-6 hari, dan Rotifera 2–3 hari. Artinya untuk satu siklus budidaya Rotifera diperlukan tiga kali panen Chlorella sp., supaya budidaya Rotifera berlanjut maka diperlukan wadahChlorella sp. 2 x 3 wadah, yaitu 6 wadah (volume). Budidaya Rotifera dengan menggunakan Chlorella sp. sebagai pakannya umum dilakukan di Panti Benih ikan karena biayanya murah.

MEMAHAMI KONSEP MAKANAN IKAN DAN ILMU PENDUKUNGNYA


Dalam memberikan makanan ikan, pelaku budi daya harus memahami karakteristik ikan sehingga makanan tersebut dapat termakan, dicerna, dan dapat menghasilkan energi untuk pertumbuhan. Untuk itu, sangat penting bagi pembudidaya ilmu makanan ikandan pendukungya.

A. Arti Penting Makanan Bagi Ikan
Salah satu ciri makhluk hidup yang membedakan dari benda mati adalah terjadinya proses metabolisme, yaitu proses pertukaran molekul yang berlangsung secara terus-menerus. Pertukaran molekul tersebut dapat terjadi di antara bagian-bagian tubuh makhluk hidup itu sendiri dan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Proses metabolisme terdiri dari 2 proses, yaitu proses anabolisme dan katabolisme. Anabolisme merupakan proses pembentukan (sintesis) bahan-bahan atau subtansi sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks. Proses katabolisme merupakan proses pemecahan substansi yang kompleks menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana.
Pada proses anabolisme membutuhkan bahan baku yang berasal dari energi dalam makanan. Pada proses katabolisme menghasilkan sejumlah energi yang didahului dengan pemecahan bahan kompleks menjadi bahan yang lebih sederhana. Energi ini dapat diubah menjadi energi panas, energi mekanik, energi kimia, atau energi listrik yang dibutuhkan oleh tubuh ikan. Agar proses katabolisme berlangsung terus-menerus, dibutuhkan bahan bakar yang berasal dari bahan makanan. Proses anabolisme dan katabolisme akan menghasilkan bahan-bahan sisa (limbah) yang dibuang keluar tubuh organisme berupa kotoran.
Sejumlah besar organisme membutuhkan penyediaan materi dan energi yang berasal dari molekul organik yang dimakannya. Nutrisi atau zat makanan yang berupa molekul organik dan telah terbentuk sebelumnya disebut heterotrofik. Organisme yang memanfaatkan makanan jenis ini disebut organisme heterotrof. Mikroorganisme, tanaman yang tidak berklorofil, dan semua hewan, termasuk ikan bersifat heterofik sehingga supaya tetap hidup organisme yang memanfaatkan nutrisi yang berkloforil termasuk organisme golongan ini.
Semua makanan yang akan diberikan pada ikan harus memperhatikan beberapa syarat, seperti jenis makanan, bentuk, ukuran, keras dan lunak, bau, rasa, serta kandungan gizinya. Ilmu yang mempelajari berbagai hal yang berhubungan dengan makan, makanan, dan cara makan ikan disebut ilmu makanan ikan (fish nutrition).
B. Pentingnya Mempelajari Ilmu Makanan Ikan
Ikan dapat tumbuh optimal jika memperoleh makanan dalam jumlah yang cukup dan gizi seimbang. Dengan kata lain, ikan membutuhkan makanan yang lengkap dalam jumlah yang cukup.
Dalam budi daya perikanan saat ini terjadi kecenderungan bahwa semakin besar perusahaan maka perusahaan tersebut akan dikelola semakin intensif. Artinya, pada lahan yang kapasitas volumenya sama, padat penebarannya semakin bertambah banyak agar hasil produksinya meningkat. Namun, pengelolaan pada tingkat padat penebaran tinggi dilakukan dengan biaya produksi yang rendah. Untuk mencapai hal tersebut, ikan harus diberi makanan ikan, terutama pakan buatan.
Tujuan penggunaan pakan buatan adalah untuk meningkatkan produksi dengan waktu pemeliharaan yang singkat, ekonomis, dan masih memberikan keuntungan meskipun padat penebarannya tinggi. Oleh karena itu, bahan baku pakan yang digunakan harus bergizi tinggi, harganya murah, mudah didapat, dan tersedia secara berkesinambungan dalam jumlah memadai. Bahan baku yang memenuhi syarat untuk dgunakan sebagai bahanmakanan ikan adalah bahan-bahan sisa atau hasil samping dari indutri atau dari pertanian, seperti dedek halus, bungkil kelapa, bungkil kacang, ampas tahu, peperutan (jeroan) ikan, kepala udang, kepompong ulat sutera, isi perut hewan ternak, dan darah hewan ternak. Supaya ekonomis dan menguntungkan, penggunaan bahan pakan tersebut harus efesien. Efisien yang dimaksud adalah dalam hal jumlah pemberian ransum dan komposisi gizi pakannya. Kedua faktor tersebut erat sekali hubungannya dengan kebutuhan nutrisi ikan yang dipelihara. Jumlah ransum dan komposisi gizi dibutuhkan oleh seekor ikan berbeda-beda dan selalu berubah. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh jenis ikan, umur ikan, dan ketersediaan makanan ikan alami di dalam tempat peliharaannya. Semua masalah tersebut di atas perlu dikaji secara seksama.
C. Ilmu-Ilmu Pendukung
Dalam mempelajari dan mengembangkan ilmu makanan ikan, banyak ilmu-ilmu lain yang diperlukan untuk mendukungnya, seperti biologi ikan, biologi perikanan, kimia, biokimia, gizi, fisika, mikrobiologi, matematika, statistika, teknik, dan sosial ekonomi.
Biologi ikan berkaitan dengan jenis makanan ikan dan perubahan makanan ikan sesuai dengan perubahan umur atau ukuran, cara makan, sistem pencernaan, serta konsumsi harian. Biologi perikanan berhubungan dengan pengkajian-pengkajian terhadap ikan sebagai suatu populasi. Misalnya, laju pertumbuhan, laju kematian, dan migrasi (ruaya).
Ilmu kimia digunakan untuk melakukan analisis mengenai komposisi kimia pakan dan bahan bakunya. Biokimia diperlukan untuk menganalisis proses metabolisme. Ilmu fisika berguna untuk mempelajari pengaruh faktor-faktor fisik pakan, lingkungan, transfer energi terhadap proses fisiologis perubahan mutu pakan yang diakibatkan aktivitas mikroorganisme (jasad renik) dan juga untuk mempelajari organisme parasit pada ikan,
Matematika berguna dalam membuat perhitungan-perhitungan berdasarkan rumus-rumus tertentu, sedangkan statistik dapat membantu membuat kesimpulan-kesimpulan dengan membandingkan data-data yang ada. Ilmu teknik sangat berperan dalam desain dan penciptaan alat-alat modern yang digunakan untuk kelancaran kegiatan usaha budi daya ikan.
Ilmu sosial berkaitan dengan pertimbangan kompetisi dalam penggunaan bahan baku dengan konsumsi manusia. Jika tejadi persaingan maka perlu dibatasi penggunaannya dan dicarikan bahan pengganti atau substitusinya. Ilmu ekonomi berkaitan dengan pertimbangan untung-ruginya dalam pengadaan maupun penggunaan pakan yang bersangkutan. Keuntungan dan kerugian ditinjau dari pihak produsen maupun petani selaku pengguna pakannya.
Semakin baik penguasaan akan ilmu-ilmu pendukung tersebut, pemahaman terhadap ilmu makanan ikan juga akan meningkat. Hal tersebut dikarenakan ilmu makanan ikan adalah ilmu terapan (applied science) maka baik dan tidaknya akan langsung terlihat di dalam penggunaannya secara praktis di lapangan.

Senin, 28 Mei 2018

TEKNIK PEMIJAHAN IKAN

Pemijahan adalah suatu peristiwa pertemuan antara ikan jantan dengan ikan betina yang bertujuan untuk pembuahan telur oleh spermatozoa. Di kolam, pemijahan ikan nilem dapat dilakukan sepanjang tahun dengan cara mengatur kondisi lingkungan, perlu dilakukan manipulasi lingkungan yaitu dengan pengeringan dasar kolam dan pemberian air baru yang mengalir.
Ikan nilem betina mulai dapat dipijahkan pada umur 1,5 tahun dengan berat badan sekitar 100 gr.Untuk ikan nilem jantan sudah dapat dipijahkan sekitar umur 8 bulan. Induk ikan betina dapat dipijahkan sekitar 3 atau 4 bulan sekali.
Untuk membedakan induk ikan nilem jantan dan betina dapat dilakukan dengan cara memijit pada bagian perut ke arah anus. Pada induk ikan nilem jantan akan mengeluarkan cairan putih susu dari lubang genetalnya,sedangkan ikan betina tidak. Induk ikan nilem betina yang sudah matang telur dapat dilihat dengan perutnya yang relatif membesar dan lunak apabila diraba, serta dari lubang genetalnya akan keluar cairan kekuningan bila bagian perut dipijit perlahan-lahan ke arah anus.
Kondisi ekologis sebagai faktor luar yang berperan penting terhadap pemijahan ikan adalah cahaya, suhu, oksigen, dan derajat keasaman. Aliran air juga memegang peranan penting dalam proses pemijahan. Sebagian ikan memijah pada sore hari menjelang malam dan sebagian lagi memijah pada dini hari menjelang pagi. Selain faktor lar tersebut, faktor dari dalam (internal) juga beperan penting dalam proses pemijahan ikan. Faktor internal tesebut antara lain kematangan telur dan ketersediaan hormon tertentu di dalam tubuhnya.
Terdapat beberapa sistem dalam proses pemijahan ikan nilem yaitu
  1. Sistem tradisional
Dalam sistem tradisional dibagi atas 2 yaitu  sistem kurungan dan kantong. Sistem kurungan tidak memerlukan kolam khusus untuk pemijahan, kolam pemijahan berlaku juga sebagai kolam penetasan. Ruang penetasan ditempatkan pada salah satu sudut kolam dekat dengan aliran air dan diberi rumput-rumputan atau ijuk. Setelah induk ikan memijah, segera dipindahkan dari kolam pemijahan dan ditutup dengan kurungan dari kain kasa yang berbingkai atau menggunakan daun kelapa. Hal tersebut dimaksudkan untuk melindungi telur-telur ikan dari kemungkinan dimakan induknya. Sebagai peneduh dalam kolam pemijahan dapat diletakkan daun kelapa atau daun pisang. Proses pemijahan biasanya berlangsung pagi hari.
Pemijahan menggunakan sistem kantong diperlukan sebuah kolam untuk pemijahan dan 1 kolam untuk prosese penetasan telur. Kolam pemijahan memiliki dasar kerikil dan berpasir, kolam penetasan dibuat 2 kolam yang bisa bergantian agar tidak terlalu lama dalam menunggu masa pergantian pemijahan pada tahap berikutnya. Pada proses pemijahan kolam pemijahan dapat ditutup dengan lapisan rumput atau ijuk, ikan memijah dengan bantuan aliran air deras, telur akan mengalir ke dalam kolam penetasan (Handayani, 1988).
  1. Sistem Tradisional yang Diperbaiki
Pada prinsipnya tidak berbeda jauh dengan sistem tradisional. Pada cara ini dasar kolam diberi hapa untuk memudahkan memindahkan telur ke kolam penetasan atau ke corong penetasan. Hapa adalah tempat pemijahan ikan yang ditempatkan ke dalam kolam yang terbuat dari kainkasa yang halus agar pergerakan ikan dapat dibatasi. Segera setelah induk ikan nilem memijah hapa diangkat dan telur-telurnya dapat dipindahkan (Handayani, 1988).
  1. Sistem Kawin Suntik (Induce breeding)
Sistem ini adalah usaha untuk memproduksi benih ikan secara optimal yang tidak tergantung pada musim. Disamping itu metode ini dapat digunakan untuk memproduksi benih ikan dari induk yang tidak mau memijah secara alami, sehingga dalam proses pemijahan harus dirangsang dengan kelenjar hipofisa atau dengan hormon buatan. Hal  yang perlu diperhatikan dalam penyuntikan yaitu pemilihan hormon dosis yang tepat bagi induk, waktu dan frekuensi penyuntikan, serta penanganan induk. Tingkat keberhasilan pemijahan dengan cara ini sangat ditentukan oleh tingkat kematangan gonatnya. Apabila kematangan gonatnya kurang, maka hasilnya juga kurang bagus, bisa-bisa malah tidak memijah .

Jumat, 25 Mei 2018

Seleksi Indukan Ikan Patin

Ikan patin adalah jenis ikan yang sangat diminati karena rasa dagingnya yang lezat. Oleh karena itu menjadi peluang usaha yang menjanjikan dalam budidaya ikan. Untuk melakukan budidaya ikan patin, terlebih dahulu harus melakukan pembenihan. Untuk melakukan pembenihan, terlebih dahulu harus melakukan seleksi indukan.
Seleksi adalah kegiatan memilih atau memisahkan antara induk-induk yang sudah matang gonad, atau matang telur dengan yang belum. Tujuannya untuk mendapatkan induk-induk yang siap mijah, dimana telur bisa dibuahi dan spermanya bisa membuahi. Kegiatan ini dilakukan setelah pematangan gonad dan sebelum pemijahan.

Sebelum seleksi air kolam disurutkan hingga setinggi 5 cm. Induk ditangkap satu persatu, lalu dilihat kematangan gonadnya. Induk yang matang gonad dimasukan dalam plastik atau karung yang halus dan basah, kemudian diangkut ke bak pemberokan, sedangkan induk yang belum matang gonad dikembalikan lagi ke kolam.
Tanda-tanda induk yang sudah matang atau siap memijah dapat dilihat dari keadaan perut, lubang kelamin dan gerakannya. Induk betina yang siap memijah ditandai dengan perutnya yang gendut, lubang telur membengkak, berwarna kemerahan dan gerakannya yang lamban.
Sedangkan induk jantan yang matang kelamin ditandai dengan warna tubuh lebih cerah, alat kelamin berwarna kemerahan, kemudian bila diurut keluar cairan berwarna putih susu. Pengurutan harus hati-hati dan pelan agar spermanya tidak terlalu banyak keluar. Selain itu juga agar induk jantan tidak stress.
Selain ciri-ciri diatas, induk patin yang akan dipijahkan harus sehat dan tidak luka. Induk yang sakit atau terluka dapat menghambat proses pemijahan. Kadang-kadang induk-induk itu tidak memijah. Karena itu seleksi ini harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak sembarangan. Untuk menjaga agar tidak menular kepada induk-induk yang lain, maka Induk-induk yang sakit atau luka harus dipisahkan.

Indukan ikan patin bisa dipijahkan setelah umur 2 sampai 3 tahun sehingga telah memiliki berat badan 3-5 kg per ekor.


Ciri-ciri indukan betina ikan patin adalah:
  1. memiliki bentuk urogenital bulat
  2. perut relatif lebih mengembang dibandingkan induk jantan.
Ciri-ciri indukan betina ikan patin adalah:
  1. memiliki papila
  2. bagian perut lebih ramping.
Cara Gampang Seleksi Indukan Ikan Patin untuk Pembenihan

Induk betina ikan patin yang matang gonad mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  • bagian perut membesar ke arah lubang genital berwarna merah, membengkak dan mengkilat agak menonjol serta jika diraba bagian perut terasa lembek.
Ciri-ciri induk jantan ikan patin yang dapat dipijahkan adalah sebagai berikut:
  • bila bagian perut diurut ke arah anus akan keluar cairan putih dan kental.
Indukan ikan patin yang telah diseleksi selanjutnya diberok (dipuasakan) selama 1-2 hari. Selama pemberokan induk ikan, air terus menerus dialirkan ke kolam/wadah pemberokan.

Tujuan pemberokan indukan ikan patin adalah untuk mengurangi kadar lemak pada saluran pengeluaran telur. Oleh sebab itu selama pemberokan induk ikan tidak diberi makan.

Bila bagian perut induk ikan betina masih tampak membesar setelah pemberokan, induk ikan tersebut dikanulasi (dilakukan penyedotan telur ikan dengan kateter) untuk menetukan apakah induk ikan tersebut sudah siap dipijahkan.

Kanulasi bertujuan untuk mengetahui derajat kematangan gonad induk betina dengan mengukur keseragaman diameter telur.

Kanulasi dilakukan dengan cara:
  1. Menyedot telur dengan menggunakan selang kecil (kateter) berdiameter 2-2,5 mm.
  2. Selang kecil tersebut dimasukkan ke dalam lubang urogenital sedalam 4 - 6 cm ke dalam ovarium.
  3. Ujung selang yang lain dihisap dengan mulut selanjutnya selang tadi ditarik keluar dari lubang urogenital, lalu ditiup untuk mendorong telur keluar dari selang.
  4. Telur yang keluar dari selang ditampung pada lempeng kaca tipis atau pada wadah lain.
  5. Selanjutnya telur tersebut diukur garis tengahnya menggunakan penggaris.
  6. Bila 90-95% telur memiliki garis tengah 1,0-1,2 mm, berarti induk betina tersebut dapat dipijahkan.
  7. Selain itu ciri-ciri telur yang telah matang adalah akan cepat mengering atau saling berpisah bila diletakkan dipunggung tangan.

Kamis, 24 Mei 2018

Syarat Memilih Indukan Ikan Nila Berkualitas baik

Pemilihan indukan dalam pembenihan budidaya ikan merupakan kegiatan yang sangat penting untuk keberhasilan budidaya ikan, karena induk adalah salah satu faktor utama penentu kualitas dan kuantitas benih yang dihasilkan.

Pemilihan indukan ikan harus berdasarkan sifat dan kebutuhan induk supaya mampu hidup dan berkembang biak secara maksimal. Agar usaha pembenihan ikan menjadi lebih efisien maka harus dilakukan 3 hal, yaitu:
  1. pengadaan induk
  2. pemeliharaan calon induk
  3. peningkatan dan mempertahankan mutu induk
2 hal yang harus diperhatikan dalam usaha pembenihan ikan adalah:
  1. kuantitas calon induk
  2. kualitas calon induk
Cara Mudah Seleksi Indukan Ikan Nila sebagai Bibit

Perhitungan untuk menentukan berapa jumlah induk yang harus tersedia dalam suatu unit pembenihan, agar dapat menghasilkan benih sesuai dengan peluang atau pangsa pasar yang ada, maka dalam menghitung jumlah induk harus mempertimbangkan 4 aspek, yaitu:
  1. Skala usaha, yaitu satuan unit usaha terkecil dalam pembenihan ikan nila yang secara ekonomis masih mampu memberikan efisiensi dan keuntungan yang optimal.
  2. Kuantitas dan kontinuitas produksi, yaitu banyaknya produk (benih) yang harus dihasilkan sesuai dengan kriteria yang ditentukan dalam periode dan interval waktu tertentu secara terus menerus sesuai dengan target yang telah ditentukan.
  3. Produktifitas induk, yaitu kemampuan induk betina dari setiap pemijahan untuk menghasilkan benih ikan nila sesuai dengan kriteria yang ditentukan.
  4. Mortalitas induk, yaitu prosentase jumlah induk yang hilang selama pemeliharaan (umur produktif) baik yang disebabkan oleh kematian/hilang atau sesuatu hal sehingga induk tersebut tidak berproduksi untuk menghasilkan telur.
Berdasarkan aspek di atas secara praktis jumlah induk ikan nila pada suatu kolam pemijahan ditentukan oleh induk jantan dan ukuran induk. Hal ini disebabkan sifat ikan nila memijah adalah di mana induk jantan akan membuat suatu daerah teritorial yang tidak boleh digangggu ikan lain. Dengan demikian jumlah ikan betina umumnya lebih banyak dari pada ikan jantan agar mudah memberi kesempatan pada jantan untuk dapat menemukan betina yang matang gonad.

Ciri-ciri induk betina ikan nila adalah sebagai berikut:
  1. Dagu relatif kecil berwarna putih.
  2. Sirip dada berwarna hitam dan pendek.
  3. Perut melebar berwarna putih.
  4. Bila perut diurut dari dada ke genitalia keluar cairan bening.
Ciri-ciri induk jantan ikan nila adalah sebagai berikut:
  1. Dagu menonjol berwarna merah.
  2. Sirip dada berwarna coklat kemerahan dan relatif panjang.
  3. Perut pipih warna hitam.
  4. Bila perut diurut dari dada ke genitalia tidak keluar cairan.
Berikut beberapa syarat Memilih Indukan Ikan Nila Berkualitas baik.
1. Indukan nila jantan maupun betina harus sudah benar-benar matang gonad, ciri-cirinya sudah berumur sekitar 5-6bulan, sisik teratur perilaku yang normal, tubuh tidak di tempeli parasit, tidak menunjukan adanya gejala penyakit klinis, tutup insang normal, berlendir normal serta induk betina biasanya perutnya membesar dan urogenitalnya berwarna merah.
2. Untuk pematangan gonad, ikan nila bisa di tebar terpisah dengan padat tebar 1-2 ekor/meter di beri pakan dengan kandungan protein 20 – 30 %. Setelah 20 -30 hari, lebih dari 75% ikan harusnya sudah matang gonad dan siap di pijahkan.
3. Bobot induk jantan minimum 250 gram dan betina minimum 200 gram. Panjang standar indukan ikan nila 25 cm untuk jantan, dan 22 untuk betina.
4. Kondisi sisik besar dan kasar (ctnoid). Indukan mempunyai pola sisik yang normal.
5. perbandingan antara tinggi dan panjang standar indukan adalah 1:2,1 hingga 1:2,7.
Idealnya, dalam memijahkan ikan nila di butuhkan induk betina dan jantan dengan perbandingan 3:1. Artinya tiga ekor betina dengan satu ekor pejantan. Padat tebar ideal adalah 3 ekor/meter.

Selasa, 22 Mei 2018

Seleksi Induk Ikan Mas

Cara Menyeleksi Indukan Ikan Mas

Induk ikan Mas yang akan dipijahkan sebaiknya dipelihara dalam tempat 100 yang terpisah antara jantan dan betina agar pertumbuhan induk ikan opimal dan tidak terjadi perkawinan yang tidak diinginkan. Dalam
pemeliharaan induk ikan Mas harus dilakukan dengan baik dan benar agar diperoleh induk yang siap dan
unggul untuk dikawinkan.



Pemeliharaan induk ikan Mas merupakan salah satu aspek penting yang harus dilaksanakan dalam program pengembangbiakan ikan Mas. Induk ikan Mas yang dipelihara dengan baik akan menghasilkan telur dan benih ikan dalam jumlah dan kualitas yang diharapkan. Induk ikan yang baik sebaiknya dipelihara dari masa benih, hal tersebut dapat dilihat dari gerakan yang incah, tumbuh bongsor, sehat dan mempunyai nafsu makan yang baik. Pemeliharaan benih calon induk sebaiknya dilakukan sejak pemanenan, benih umur 1 bulan. Dalam pemeliharaan calon induk ini harus diberi pakan yang cukup dan bergizi. Calon-calon induk yang dipelihara tersebut selanjutnya di seleksi kembali pada saat berukuran 100-200 gram. Calon induk jantan dan betina dipilih berdasarkan ciri-iri morfologisnya yang baik, diantaranya adalah:
  • Calon induk harus mempunyai karakter morfologis dengan kriteria sebagai berikut: bentuk tubuh kekar, pangkal ekor kuat dan lebar, sisik besar dan teratur, warna cerah, kepala lancip dan lebih kecil dari lebar tubuh (1 : 1,5), daerah perut melebar dan datar, badan tebal dan berpunggung tinggi.
  • Calon induk harus berasal dari keturunan yang berbeda, baik jantan maupun ikan betina.
  • Calon induk harus mempunyai sifat cepat tumbuh, sehat, tahan terhadap penyakit dan perubahan lingkungan serta responsive terhadap pakan.
Calon-calon induk yang telah di seleksi dipelihara di kolam pemeliharaan induk sampai siap untuk dipijahkan. Agar diperoleh induk yang berkualitas dan dapat menghasilkan telur dalam jumlah yang maksimal, yang harus
diperhatikan adalah:
  • Pemeliharaan pakan yang teratur, pakan yang diberikan harus mempunyai kadar protein 30- 35%, jumlah pakan yang diberikan per hari berkisar antara 2-3% dan frekuensi pemberian pakan sebanyak 2-3 kali.
  • Kondisi kolam pemeliharaan harus optimal, yaitu kandungan oksigen terlarut minimal 5 ppm, suhu air berkisar25-300C dan air tidak tercemar.
  • Padat penebaran calon induk berkisar antara 0,1 kg/m2 – 0,25 kg/m2.
Calon-calon induk tersebut dipelihara sampai mencapai ukuran tertentu untuk dipijahkan. Induk ikan Mas jantan lebih cepat matang gonad dibandingkan dengan ikan Mas betina. Umur ikan Mas jantan 10-12 bulan dengan bobot 0,6-0,75 kg sudah sampai matang kelamin, sedangkan induk betina yang ideal mencapai  matang gonad pada umur 1,5-2 tahun dengan berat 2-3 kg.

Induk ikan Mas yang akan dipijahkan 101 harus benar-benar dapat dibedakan antara jantan dan betina. Adapun ciri-ciri induk jantan dan betina ikan Mas dapat dilihat pada Tabel berikut


Induk ikan Mas jantan dan betina harus dipelihara dalam kolam yang terpisah agar ikan cepat matang kelamin dan tidak terjadi perkawinan liar. Induk yang dipelihara dengan baik akan dapat mencapai matang
gonad. Adapun ciri-ciri induk ikan Mas yang matang gonad dapat dilihat pada Tabel dan gambar berikut: